
"Rese! Rese! Rese!" kesal Tanaya berteriak, sesekali ia menjulurkan lidahnya pada foto Byan yang terpampang jelas diatas sana.
"Byan jelek, Byan bodoh! Apa?! Mau marah karna gue gak manggil Kak?!" bentaknya pada foto itu yang jelas tidak melakukan apa-apa.
"Lo jahat, lo stres, sakit jiwa! Demam berdarah! Panuan! Suka modus! Jelek! Jelek! Jelekk ...!" teriaknya lagi, kali ini ucapannya benar-benar ngawur.
"Dasi sialan! Gue gak sudi disentuh elo! Arghhh!!!" pekiknya berteriak hebat, Byan yang berdiri dibalik pintu kamarnya tersenyum lebar, bukannya marah ia malah senang dikatai seperti itu oleh Tanaya.
Tapi ia dalam sedetik berubah datar ketika mengingat ucapan Tanaya saat dirumah sakit, bagaimana jika Eman benar-benar sadar? Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi.
Byan tak hanya menaruh pelacak di ponsel Tanaya, tapi juga pada arloji yang Tanaya kenakan setiap harinya, ia sebenarnya hanya iseng membukanya, tapi malah mendapati Tanaya berada dirumah sakit.
Sedang diaduk emosi, ia malah mendengar ucapan Tanaya yang sepertinya tidak bercanda, siapa yang tidak marah mendengar pacarnya menawarkan diri untuk menjadi pacar orang lain?
Dengan menahan amarah ia menyeret Tanaya keluar dari rumah sakit, tidak bicara sedikitpun juga tidak menanggapi segala ucapan permohonan maaf dari Tanaya.
Amanda? Ia tahu gadis itu akan mencoba menyelamatkan Tanaya, jadi ia membawa Zean agar bisa menahannya.
Sesampainya dirumah, Byan tak ingin melampiaskan emosinya yang nantinya akan membuat Tanaya terluka, oleh sebab itu ia memilih mengikat Tanaya dikursi menggunakan dasinya yang ia gantung didinding kamarnya.
Setelah selesai, ia meninggalkannya disana, hendak meringankan fikiran terlebih dahulu, kira-kira lima menit ia kembali, namun mendengar Tanaya mengoceh tak jelas tentang dirinya, ia mendengarkannya sembari tersenyum-senyum sendiri.
"Hei! Kenapa pacar lo itu dari tadi berteriak, bisa liat gue lagi kerja?" Farel tampak menyembulkan kepalanya dari dalam kamarnya.
"Apa-apaan?!" kesal Farel saat Byan memberikan ia jari tengah dan langsung masuk ke kamarnya, Byan memang tak bisa sopan.
"Ngapain lo kesini?! Gue gak nerima tamu!" ketus Tanaya enggan menatap Byan.
"Kamu boleh pergi kalo bosan," Byan berbaring di kasurnya, memainkan ponselnya dan mengacuhkan Tanaya seolah ia hanya seorang diri disana.
Sekitar sepuluh menit, Byan sadar ternyata Tanaya sudah menghilang dari tempatnya, bagaimana bisa? Ia yakin tadi sudah mengikatnya dengan ketat.
Dilain sisi, Tanaya asyik melahap beberapa paha ayam yang tersaji khusus untuknya, ia melihatnya di dapur, jadi ia ambil saja, tak perduli jika ini adalah makan malam keluarga Byan.
"Dari pada aku kabur keluar rumah mending makan, kalo kabur terlalu jauh bisa mati aku, bi." ucap Tanaya berbicara pada pembantu dirumah itu.
"Tadinya itu pesanan non Feby, tapi dia bilang simpan atau buang saja, tidak tahu apa alasannya." terang sang bibi ikut duduk dimeja makan.
"Yaudah, segera makan punya bibi, nanti diminta orang lain."
"Disini rupanya."
Bibi itu segera bangkit dengan tergesa, ia segera menunduk kemudian membawa piringnya ke arah dapur.
"Bi! Kenapa pergi?" tanya Tanaya menghentikan makannya.
Tidak ada respon, Tanaya memutar kepalanya menatap Byan sinis, Byan tampak berpakaian rapi dan memakai jaket, karena tadi pemuda itu hendak mencari Tanaya keluar rumah.
"Kenapa bisa bebas?" tanya Byan ikut duduk dimeja.
Plak!
Tanaya menyingkirkan sekaligus menghempas tangan Byan dengan kasar, pasalnya Byan hendak mengambil paha ayam yang ada dihadapannya.
"Ini punya aku! Punya kamu goreng sendiri!" ketus Tanaya menjauhkan piringnya dan pindah kursi untuk menjauh dari Byan.
"Siapa yang bebasin kamu tadi?" tanya Byan sembari membuka jaketnya.
"Bisa gak kalo aku ngomong, jangan diajak makan!"
"Kebalik sayang," protes Byan menyalahkan ucapan Tanaya.
"Ya atur mana baiknya diotak kamu."
Byan menghela nafas mencoba sabar, ia akan berusaha untuk tidak marah kali ini, menebus perlakuannya yang mungkin tadi berlebihan.
.
.
.
.
maaf telat up, lupa kalo saya author