The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Kehamilan akal-akalan Byan



"Kayaknya bakal ada yang jatuh cinta beneran ni." ledek Zean menatap Byan kemudian beralih pada Tanaya yang berjalan mendekati mobil mereka.


Dia itu cuma wahana tempat gue bermain Ze!" tegas Byan mengalihkan pandangannya dari Tanaya.


"Kakak bawa mereka?" tanya Tanaya melihat Zean, Revan dan Afdi yang duduk di jok tengah.


"Kenapa? Mereka tau tentang kita." balas Byan datar.


Tanaya duduk di kursi depan, mobil itu perlahan melaju meninggalkan daerah perumahan Yang disana.


"Lo kan alim, banyak berdoa dong supaya pingsannya lo itu pertanda penyakit lain, bukan hamil." Byan berujar santai.


"Kakak juga harusnya berdoa, kalau aku hamil, kakak mau lari kemana? kakak harusnya ikut hancur juga' kan dalam masalah ini." jawab Tanaya sinis.


"Lagian pertanda hamil itu lebih ke mual, bukan pingsan." Tanaya menegaskan suaranya.


"Lo memang gak hamil, tapi asal lo tau, bukan Byan namanya kalo gak bisa ngancurin hidup orang. Gue nyentuh lo aja kagak, gimana mau jadi." batin Byan tersenyum miring.


Sesampainya di rumah sakit, keempat pemuda itu dengan Tanaya yang perempuan sendiri menyusuri gedung itu.


Meski Tanaya yakin ia tidak hamil, tapi tetap saja ia takut, bagaimana jika hamil yang ini berbeda dengan hamil pada umumnya.


"Wahh, selamat ya, kalian akan jadi orangtua, bayinya belum terdeteksi jenis kelaminnya, usia memasuki hampir tiga minggu." penuturan dokter tersebut membuat Tanaya melotot sempurna, apa yang ia takutkan sejak kejadian itu benar-benar terjadi.


"Dok, t-tolong jangan main-main, kami baru melakukannya sekali, dan ..., dan efek kehamilan ini tidak ada selain saya pingsan itupun hanya dua kali, tidak ada gejala apapun layaknya ibu hamil pada umumnya!" protes Tanaya kalang kabut.


Byan tersenyum mendengar penuturan sang dokter, ia tak salah menyewa orang.


Sebenarnya dokter itu sama sekali bukan dokter, ia hanya penjaga dirumah Byan yang ia suruh bersandiwara didepan Tanaya, bahkan ruangan rumah sakit tempat mereka memeriksa kandungan, mereka berbohong pada pihak rumah sakit dengan alasan akan mengadakan syuting kecil untuk tugas sekolah, bahkan Byan membuat surat izin yang membuat pihak rumah sakit percaya.


"Baiklah dokter, terimakasih, kami harus pulang sekarang." Byan menarik tangan Tanaya keluar dari sana, Tanaya hanya mengusap air matanya yang hampir jatuh.


"Bagaimana ini kak, bahkan aku belum genap sebulan masuk SMA, tapi udah hamil aja." Tanaya menatap Byan sendu membuat hati Byan tergerak sebentar, namun ia menepisnya rasa simpatinya jauh-jauh, dari awal' kan memang ini tujuannya.


"Apa mau digugurkan?" tanya Revan bermimik serius.


"Tapi dia gak salah, ini kesalahan kami." jawab Tanaya dengan menggeleng.


"Gue gak mau ikut campur, urus aja sendiri tuh bayi." Byan berjalan duluan, disusul para sahabatnya, Tanaya yang mendengarnya semakin hancur, ia akan pulang sendiri, ucapan Byan menyimpulkan tak mau bertanggungjawab bukan?


Tanaya mengambil jalan yang berbeda, Byan yang sadar kehadiran Tanaya tidak ada, mulai mencari gadis itu.


"Kemana dia?" tanya Byan mencari SD sekeliling.


"Yaudahlah, biarin dia pulang sendiri, biar semakin sempurna ketidak pertanggungjawaban lo!" tutur Afdi memutar bola matanya.


"Baiklah, ayo ke tempat biasa, biar dia jalan kaki pulang kerumah, itukan pilihannya." Byan menggidikkan bahunya, memilih tidak perduli pada Tanaya.