
Byan mengetuk pintu rumah Tanaya, kali ini ia tak sendiri, ia membawa Alrafa untuk bertemu Ranaya, kakak Tanaya.
Kalo kamu Tanaya, suruh kak Ranaya yang buka, kamu masuk kamar aja." ucap Byan ketika mendengar suara pintu yang hendak dibuka.
"Kak Ranaya sibuk Kak, lagian pacarnya kak Byan' kan aku, bukan kak Ranaya." balas Tanaya dari balik pintu.
"Tanaya, aku bawa cogan, meskipun karatan tapi tetap aja kamu gak boleh cuci mata, masuk kamar aku bilang."
Rafa memutar bola matanya, bahaya juga jika Byan jatuh cinta, bucinnya tingkat dewa.
"Yaudah, dasar Byan pecicilan!" ejek Tanaya kembali mengunci pintu, ia berlari menuju kamar sang kakak.
"Kak, ada Kak Byan diluar," Tanaya mengetuk pintu.
"Kakak dah cantik belum Nay, kakak buat kamu pangling gak?" tanya Ranaya membuka pintu kasar.
"Kakak ngapain, itu alisnya ketebalan, udah kayak tante-tante." ujar Tanaya membuat Ranaya panik setengah mati.
"Yaudah, bukain dulu pintunya sana." perintah Ranaya kembali masuk ke kamarnya, ia segera menghapus dan mengukir ulang pensil alis di alisnya.
"Kata Kak Byan, aku gak boleh liat tamunya, soalnya cogan, aku disuruh masuk kamar." adu Tanaya duduk ditepi ranjang.
"Kalo sekarang, udah?" tanya Ranaya lagi.
"Natural, rambutnya oke, style nya juga oke, sepatunya cocok, make up nya sempurna, perfect, kakak udah siap." tutur Tanaya membuat Ranaya tersenyum kegirangan.
"Kakak mau kencan?" tanya Tanaya tak tahu apa-apa soal kakaknya yang naksir dengan pria yang datang bersama Byan.
"Mau kerja." jawab Ranaya sedikit berlari kearah pintu, ie menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka pintu perlahan.
"Hai Ranaya." sapa Rafa menjulurkan tangannya.
"Hai Raf," balas Ranaya membalas uluran tangan Rafa.
"Kita bahas di kafe aja yaa, beri ruang mereka pacaran." ajak Rafa melirik Byan sekilas.
"Ouh, bahas diluar, bentar yaa ambil hp sama tas dulu." pamit Ranaya berusaha kalem, sementara jantungnya, sudah darurat mau retak.
"Jagain adek calon pacar gue." Rafa menepuk bahu Byan.
"Ntah jadi ntah enggak." Byan memutar bola matanya.
"Ayankkk!" panggilnya meledek Rafa, ia masuk kedalam rumah dan menghampiri kamar Tanaya.
"Ih, jijik sumpah." ejek Rafa geli sendiri melihat tingkah Byan.
"Diam lo, tempe busuk!" balas Byan sebelum membuka pintu kamar Tanaya.
Rumah itu sederhana, tidak bertingkat, semua ruangan berdekatan, jadi teriak sedikit saja pasti terdengar di seluruh ruangan.
"Aku siap." Ranaya menghampiri Rafa yang tampak bersandar dipintu.
"Kita berangkat?" tanya Rafa menatap mata Ranaya tanpa berkedip.
Ranaya mengangguk, keduanya berjalan berdampingan, namun masih saling canggung dan agak menjaga jarak, keduanya tak tahu bahwa masing-masing menyimpan rasa yang begitu dalam dari waktu yang lama.
Kembali pada Byan dan Tanaya.
"Tanaya, buka pintunya." ucap Byan ketika panggilannya tidak dijawab oleh Tanaya.
"Aku dobrak pintunya." Byan mengambil langkah mundur, ia hendak membuka paksa pintu itu.
Tanaya akhirnya membukanya, perempuan itu memasang wajah datar.
"Pulang, ini bukan rumah kakak." usirnya melipat tangan angkuh.
Drtt!
Drtt!
Byan langsung menatap ponsel Tanaya yang terletak diatas ranjang, ia segera mengambilnya dan melihat panggilan masuk dari seseorang.
"Dean gembel," Byan mengeja nama yang tertera dilayar itu.
"Angkat." ucapnya pada Tanaya yang tampak panik.
"Gak penting, tolak aja." Tanaya hendak merampas ponselnya.
"Angkat."
Tanaya menggigit bibirnya, ia mengangkat panggilan itu ragu-ragu, sungguh ia cemas sekarang.
"Kenapa lo un follow gue, neng?"
Tanaya semakin panik, ditambah tatapan Byan sungguh mematikan sekarang.
"Aku udah punya pacar, aku harus jaga perasaan dia." ucap Tanaya tenang.
"Ouh, karena punya pacar lo lupain sahabat lo yang paling manis ini? Sampai unfoll gue di IG, lo juga blok gue di WhatsApp, kenapa kayak gitu."
Tanaya meneguk ludahnya kasar, ia tak tau harus menjawab apa.
"Jangan lupa gue mantan elo, gue agak belum move on sih dari lo, meski pacaran kita dulu cuma cinta monyet, tapi susah banget lepasinnya dari ingatan."
Tanaya mengutuk mulut Dean, mantannya semasa SMP dulu, kali ini ia yakin ia akan mendapat masalah.
"Nay, Lo masih hidup? Selingkuh yuk, gue juga udah punya pacar kok, ntar kita putus lagi, barangkali kita bisa balikan beneran."
Tut!
Tanaya segera mematikan sambungan telepon, sifat celoteh Dean sama sekali tak lepas dari pemuda itu, dulu itu yang membuat ia suka pada Dean, pasalnya pemuda itu tak kehilangan ide pembicaraan.
Namun mereka putus kala ujian semester akhir mendekat, mereka memilih fokus untuk belajar terlebih dahulu.
Hubungan itu berjalan sekiranya dua bulan lebih.
"Mantan terindah?" tanya Byan ketika Tanaya salah tingkah dan hanya tersenyum paksa kala mungkin tak berani bicara.
"Bukan, dia sahabat aku." jawab Tanaya menggeleng cepat.
"Sahabatnya mau dibuat gak bisa jalan, apa gak bisa bicara, soalnya banyak ngoceh." tanya Byan sontak membuat Tanaya kembali menggeleng.
"Sesuai kata-kata gue semalam waktu dimobil, lo ingat kan?" dingin Byan dengan tatapan datar.
"Kak Byan, itu' kan masa lalu. Apa pentingnya, lagian aku dah anggap dia sahabat, dia memang suka gitu, candanya kelewatan, aku mohon, kakak jangan apa-apain dia, nanti duit kakak abis dijalan kalo mau jumpa dia."
Byan tak bisa menahan senyum dibibirnya, penuturan akhir Tanaya mampu melunturkan amarahnya, apa katanya tadi, duit seorang Byan Albyansah habis dijalan?
"Kamu lucu ya." ucap Byan masih sedikit tersenyum.
"Hah? Cangkul?"