The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Marah Byan untuk Feby



Byan dan Tanaya kini tengah berada rumah Byan, sebenarnya Byan tak ingin menginjak rumahnya yang kelewat sepi, tapi sedari tadi Tanaya terus memohon-mohon padanya, ia sungguh bosan mendengarnya, jadi tak apa ia berbaik hati sesekali.


"Hmmm," dehem Tanaya ketika melihat cuplikan video dimana saat ia katanya hendak diperkosa.


"Ih, Kak Byan dapat ide kayak gini dari mana sih?" tanya Tanaya ketika video berakhir.


"Dari kepala sekolah." jawab Byan asal, ia juga tak tahu kenapa bisa sampai kesana.


"Emmm, soal Dean ..., Kak Byan gak ak---"


Tanaya tidak melanjutkan ucapannya, Byan kini sudah menatapnya dingin, mungkin Byan marah, tapi' kan ia hanya ingin memastikan sahabat plus mantan pacarnya itu baik-baik saja sekarang.


"Kamu punya kakak laki-laki?" tanya Tanaya mengganti topik.


"Emangnya berapa saudara?" tanya Tanaya lagi ketika Byan hanya mengangguk.


"Tiga." jawab Byan singkat, padat tetapi jelas.


"Berapa cewek berapa cowok?" tanya Tanaya semakin penasaran.


"Farel Ardianta, 21 tahun, aku sendiri, sama adik perempuan aku yang nyulik kamu waktu itu." terang Byan bersandar disofa.


"Nama adik kamu siapa?"


Byan memutar bola matanya malas "Febyana Herlita, dia sebaya sama kamu." balas Byan dengan nada kesal.


"Ouh, video ini aku hapus aja yaa, kan udah gak dipake, yang ada nanti malah gak sengaja diliat orang trus salah paham." ucap Tanaya hendak menghapus video itu dari ponsel Byan.


Hap!


Byan merampas ponselnya kasar, ia mengembalikannya ke layar utama, Tanaya belum sempat menghapusnya tadi.


"Barangkali kamu gak ada pilihan selain pergi, aku bisa pakai ini Tanaya. Ini juga untuk kepentingan kita, mungkin aja ada masalah yang membuat kita harus berpisah, ini nantinya berguna." jelas Byan menjauhkan ponselnya dari Tanaya.


"Ya tapi kalo diliat orang gimana Kak Byan?" Tanaya tak setuju dengan jalan fikiran Byan.


"Nanti dipindahin, udah kamu gak usah takut, ini aman di aku." Byan mencoba meyakinkan.


"Iya, aku gak keluar-keluar sayang,"


Byan dan Tanaya menoleh ke arah pintu, terlihat Reno dan Feby yang baru saja sampai.


"Kalo aku dengar kamu keluar kita gak usah dekat-dekat dulu satu minggu." Feby melipat tangannya, ia berucap dengan manja.


"Iya sayang, nanti kita video call seharian, okay?"


Feby mengangguk senang "yaudah, aku masuk yaa, hati-hati." ucapnya ketika Reno hendak pergi.


"Kamu bilang, adik kamu gak tinggal disini, kamu gimana sih? Gak jelas banget." omel Tanaya ketika melihat Feby.


"Memang, tapi itu kemarin, sekarang aku pindah kesini, biar bisa dekat sama pacar." Feby menghampiri Byan dan Tanaya yang duduk disofa.


"Trus mama kalian gak pindah kesini?" tanya Tanaya tampak serius.


"Lebih tepatnya kapan pulang kesini." Byan memperbaiki pertanyaan Tanaya.


"Bunda disana karena urusan kerja, kalo udah kelar, pasti pulang, cuma lebih sering disana, tapi bukan tinggal disana." jelas Feby membuat Tanaya hanya mengangguk paham.


"Besok pakai rok atau celana yang panjang dikit, Reno gak bisa jaga kamu!" peringat Byan melihat rok mini yang dipakai adiknya.


"Rese! Cewek lo aja pakai yang pendek." jawab Feby tak sopan.


"Gak sependek kamu, ini pas dilutut, kamu ..., sepaha!" Feby mengerucutkan bibirnya, ini dia yang ia khawatirkan kalo tinggal dengan kakaknya.


"Baju juga ntah model apa, robek sana sini!" Byan kembali protes dengan pakaian yang dipakai Feby.


"Lu anjing!" umpat Feby langsung berlari ke arah tangga dan masuk ke kamarnya.


"Didapur banyak makanan, ambil yang kamu suka, kalo gak pesan aja." Byan melepaskan genggaman tangan Tanaya dari tangannya, ia segera berjalan menyusul Feby.


Brak!


Kini pintu itu sudah rusak, sekali tendangan saja Byan mampu mendobraknya, terlihat Feby yang duduk di ranjang sambil nyengir.


"Kakak mau pilus?" tanya Feby menyodorkan jajanan pada Byan yang semakin mendekatinya.


"Kamu ngomong apa tadi," Byan mencengkeram dagu Feby kuat.


"Mau aku gantung kayak waktu itu?" tanya Byan membuat Feby menggeleng cepat.


"Untung ada Tanaya ya, kalo enggak kamu udah kakak gantung ditangga!"


"Kamu fikir gak susah ngelewatin dia kalo liat kakak gantung kamu!" Byan menghempaskan dagu Feby kuat.


"Apa tadi kamu bilang, video call?" tanya Byan yang tidak dijawab oleh Feby.


Byan mengambil ponsel Feby yang terletak diatas ransel, ia juga mendekati meja belajar dan mengambil laptopnya milik Feby.


"Kak, jangan dong. Pliss, Feby minta maaf," pinta Feby menahan Byan membawa ponsel dan laptopnya.


"Tidur!" perintah Byan menoleh kearah Feby, ia sudah diambang pintu, tetapi Feby terus saja menariknya.


"Tapi kak ...,"


Cklek!


Byan mengunci pintu dari luar, ini masih hukuman pembuka, ini sama sekali belum selesai, Byan membawa barang-barang Feby ke kamarnya, meletakkan disana dan segera turun menghampiri Tanaya.


"Aku minta kembaliin hp dia."


Byan mengerutkan sebelah alisnya, ia menuruni anak tangga, menatap Tanaya yang berkacak pinggang dibawah sana.


"Kamu mau ikutan dikurung?" tanya Byan yang kini sudah sampai dibawah dan tengah berdiri dihadapan Tanaya.


"Kalo kamu tega, pokoknya balikin hp dia, hp punyaku juga, balikin!" ketus Tanaya meminta ponsel Feby dan ponsel miliknya kembali.


"Yaudah, ikut aku." Byan membalikkan badannya, ia kembali menaiki tangga, Tanaya mengekor di belakangnya, Tanaya tampak tersenyum senang, ini lebih mudah dari yang ia fikirkan.


Byan masuk ke kamarnya, diikuti Tanaya dari belakang, dengan sigap Byan menarik Tanaya hingga terlempar jauh kedalam kamar, untung tak sampai jatuh.


"Kamu juga tidur, aku punya CCTV disini, kalo kamu gak tidur, kamu bakal dapat hukuman." ancam Byan mengunci pintu kamarnya, Tanaya sempat memukul-mukul pintu, berharap Byan kasihan padanya.


Byan menuruni anak tangga dengan riang, ia berjalan keluar rumah, untung dia sudah menyimpan seluruh ponsel dan laptop dilemarinya, dan itu dikunci, jadi tak akan ada alat komunikasi yang bisa Tanaya pakai.


"Gue bentar lagi sampe Bang." ucap Byan mengangkat telepon dari seseorang.


Itu dari kakak laki-lakinya, saudaranya itu akan pulang hari ini kerumah, ia masih ingin berduaan dengan Tanaya, namun tak ingin gadis itu melihat abangnya yang lumayan tampan, jadi ia mengunci Tanaya dikamarnya.


Kini ia punya dua keuntungan,yang pertama, Tanaya masih akan bertemu dengannya, yang kedua, abangnya dan Tanaya tidak akan saling pandang, ia tak mau keduanya bertemu dan mungkin akan menyimpan sebuah rasa, memang susah kalo punya pacar cantik dan abang tampan.


Bukannya tak percaya diri, tapi abangnya itu baik, berbanding balik dengannya yang kasar, ia tak mau Tanaya berpaling gara-gara itu.


*


*


*


*


Butuh komentar😌