
"Pernikahan adalah sebuah hubungan sakral yang tidak bisa dilepaskan begitu saja, butuh perjuangan yang menguras kesabaran, emosi dan pikiran yang harus selalu positif pasti nya karna jika semua itu sirna maka kehancuran sudah pasti menanti di depan mata"
🌺Happy Reading🌺
Deru langkah beberapa pasang kaki terdengar cepat, denyit suara roda pun terdengar nyaring beriringan. peluh di kening keluar bercucuran, menandakan sang empu yang sudah cukup kelelahan
"Siapa suami dari sang pasien?" tanya seorang suster yang tadi ikut membantu mendorong brankar menuju ke dalam ruangan
"Saya sus" jawab Adrian sigap
"Silahkan tuan ikut menemani di dalam dan yang lain nya mohon tunggu di luar" ucap sang suster yang mempersilahkan Adrian untuk menemani Malika di dalam lalu menutup pintu, sedangkan Pak Tama dan Ashya nampak khawatir menunggu di depan ruang bersalin sebuah rumah sakit swasta ternama di Jakarta yang tak jauh dari kediaman mereka. karna semenjak Malika sudah memasuki trimester akhir, mereka di minta sang ayah untuk tinggal bersama yang merasa khawatir jika anak dan menantunya hanya tinggal berdua di apartemen terlebih akan datang nya saat seperti ini
Tak berapa lama suara langkah kaki mengalihkan pandangan mereka, nampak tuan Permana dan nyonya Nadine datang dengan tergesa-gesa
"Gimana keadaan Malika Tam? apa Malika akan segera melahirkan? terus Adrian ada dimana sekarang?" tanya Permana yang nampak khawatir dengan keadaan menantu dan calon cucu nya itu
"Tenang Dhi, Adrian ada di dalam menemani Malika. InshaAllah kita doa kan saja supaya persalinan nya berjalan lancar" ucap tuan Tama
"Aamiin" hampir bersamaan kedua mertua Malika mengucapkannya dan semuanya pun kembali duduk dengan perasaan was-was bercampur aduk
"Ya Allah, Lindungi dan selamatkan lah menantu dan cucu ku" doa Permana dalam hati nya
perasaan cemas dan khawatir pun campur aduk yang dirasakan oleh keluarga Adrian dan Malika yang tengah setia menunggu kelahiran sang cucu pertama penerus keluarga Permana dan Adhitama itu. tak berapa lama suara tangisan bayi pun terdengar dari balik ruang persalinan
"Alhamdulillahirabbilallamin" puji syukur serentak mereka ucapkan, dan tampak wajah yang sejak tadi mengharap cemas berubah sumringah mendengar tangisan sang bayi
"Cucu kita sudah lahir mah" ucap Permana kepada sang istri
"Iya pah selamat, sekarang kita sudah menjadi kakek dan nenek" jawab Nadine haru dengan mata yang berkaca-kaca
"Ya Allah, makasih banyak cucu ku telah lahir semoga Malika pun baik-baik saja" ucap Pak Tama seraya mengeratkan rangkulannya kepada Ashya
"InshaAllah kak Malika pasti baik-baik saja yah, dan sekarang kita kedatangan anggota keluarga baru" ucap Ashya meyakinkan sang Ayah
"Iya benar Shya, rasa nya sudah nggak sabar mamah pengen gendong baby Malika dan Adrian" Nadine sangat antusias mengucapkan nya
"Iya aku juga sama mah, pasti anak kak Malika dan kak Adrian cakep deh. tapi kira-kira mirip siapa ya?" tebak Ashya yang penasaran dengan wajah sang keponakan yang baru lahir
"Yang pasti nggak mirip kamu ya" celetuk Jihan yang baru saja datang
"Jihan?" ucap Ashya yang kaget melihat kedatangan sang sahabat
"Hai sayang, kapan sampai?" tanya sang mamah yang langsung memeluk Jihan
"Baru aja mah, aku pas sampai rumah sepi terus kata bibi papah dan mamah sedang menunggu kak Malika melahirkan. jadi cuss deh Jihan langsung ke sini sekalian pengen lihat keponakan aunti Jihan" ucap Jihan penuh percaya diri
"Aunti? Bu'le kali. hahaaaa gaya loe pera Jie" cibir Ashya
"Huh, sirik aja loe" jawab nya sambil mencubit kedua pipi Ashya yang chaby yang membuat para orang tua pun menggeleng kepala setiap kali duo ceriwis ini bersama, suara pintu ruang bersalin pun terbuka dan tanpa dikomando pandangan mereka semua pun beralih ke sana
Seperti harapan palsu yang diberikan gebetan, wajah mereka pun nampak kecewa karna yang keluar hanya seorang suster yang nampak terburu-buru dengan wajah panik nya.
"Permisi pak, ibu. apakah di keluarga ada yang memiliki golongan darah O Rhesus +?" tanya sang perawat membuat semua nya pun bingung bercampur cemas
"Sebenarnya ada apa sus?" tanya pak Tama khawatir
"Mohon maaf pak, ibu Malika sekarang sedang membutuhkan transfusi darah karna beliau mengalami pendarahan saat melahirkan dan kebetulan stok darah tersebut di rumah sakit sedang kosong" ucap sang suster menjelaskan
"Astaghfirullah aladzim" pak Tama nampak frustasi mendengar penjelasan sang suster
"Terus bagaimana keadaan anak saya sekarang sus?" pak Tama semakin panik
"Sabar Tam" Permana pun mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan menepuk pundak Tama
"Saat ini ibu Malika pingsan setelah melahirkan pak, dan kami harap pihak keluarga bisa membantu demi keselamatan ibu Malika" ucap sang suster yang tersirat kekhawatiran pada wajah nya itu
"Kebetulan darah saya O sus, jadi saya siap diambil darahnya demi keselamatan putri saya" suara pak Tama bergetar saat menawarkan diri bukan karna ia takut akan jarum suntik, tapi rasanya ia tak tahan mendengar sang putri yang tengah bertaruh nyawa bahkan ia pun rela jika darahnya diambil semua demi kesembuhan sang putri tercinta
"Saya juga golongan darah nya O sus, jadi ambil darah saya aja. tapi saya nggak tau Rhesus positif atau negatif nya" Jihan pun menawarkan diri untuk membantu Malika
"Emang kamu nggak apa-apa sayang, kan baru aja sampai belum istirahat juga" tanya om Tama pada Jihan
"Kalau begitu silahkan bapak dan mbak nya ikut saya keruang pendonor untuk kami kami cek kesehatan nya, dan jika kondisi bapak dan mbak baik maka akan kami ambil darah nya agar bisa segera ditransfusikan ke pasien" ajak sang suster
"Ayo om" ajak Jihan yang sudah siap mendonorkan darahnya untuk Malika sang kakak ipar yang sudah ia anggap kakak nya sendiri
"Iya sayang" raut wajah khawatir keduanya pun sedikit berubah melihat kegigihan Jihan yang berhati mulia membantu sang kakak ipar, padahal mereka pun sama-sama tahu penerbangan dari Paris ke Jakarta cukup lama dan pasti sangat melelahkan bagi nya. tapi bukan Jihan namanya yang memang cukup keras kepala dengan pendiriannya
"Ashya juga mau ikut temani ayah dan Jihan, pah Permana dan mamah Nadine nggak apa-apa kan Ashya tinggal sebentar?" tanya Ashya yang merasa khawatir dengan kondisi sang ayah yang bersikeras mendonorkan darahnya untuk sang kakak meskipun usianya sudah tak muda lagi
"Iya sayang kamu temani ayah aja, biar mamah dan papah yang disini" jawab Nadine
"Makasih mah" lalu Ashya pun menyusul Jihan dan sang ayah yang sudah berjalan duluan menuju ruang tempat mereka akan mentransfusi darah
☘️☘️☘️
"Makasih sayang kamu udah berkorban untuk melahirkan anak kita, mas seneng banget akhirnya bisa punya keturunan dari kamu seperti mimpi mas selama ini" Adrian berucap sambil tak henti-hentinya mengecup kening dan pipi Malika yang tengah memeluk anak mereka
"Iya mas, Lika juga seneng banget akhirnya bisa melahirkan anak kita dengan selamat. makasih juga selalu siap dan jadi suami siaga buat Lika dan baby" ucap Lika sambil menatap manik mata Adrian yang saling berkaca-kaca karna mereka terharu,bahagia sekaligus masih tidak percaya bahwa status mereka kini menjadi orangtua dan sebuah ketukan pintu menyadarkan dari keharuan yang tengah mereka rasakan
"Assalamualaikum" kompak Keluarga mereka pun satu persatu memasuki ruang rawat Malika saat ini
"Selamat ya sayang, sekarang Lika sudah menjadi ibu dan wanita yang sangat beruntung bisa dikaruniai baby boy yang tampan ini" mamah Nadine memeluk dan memuji Malika
"Baby nya boleh mamah gendong sayang?" tanya Nadine memastikan
"Boleh dong mah, ini kan cucu mamah juga" jawab Lika tersenyum lalu menyerahkan baby yang tengah ia gendong kepada ibu mertua nya itu
"Uuu sayang, lucu nya cucu Oma" mamah Nadine gemas melihat tingkah baby Malika yang tengah ngulet dan mengerjapkan matanya saat pindah ke gendongan Oma Nadine
"Ih iya mah lucu dan nggemesin banget ya, rasanya Jie pengen nyubit pipi gembulnya deh" ucap Jihan yang dibenarkan oleh Ashya
"betul, rasanya tuh pipi kayak bakpau ya Jie. pengen gue gigit malah" celetuk Ashya gemas tak mau kalah
"Wah cari perkara nih sama bapak nya" Adrian pura-pura tak terima jika ancaman bertubi-tubi duo ceriwis itu layangkan untuk anak nya
"Hahaaaa" semuanya pun tertawa kompak
"Oh iya kamu sudah punya nama yang cocok untuk anak mu Dri?" tanya pak Permana yang mewakili penasaran semua yang hadir
"Iya ka nama nya siapa?" tanya Jihan dan Ashya kompak
"emm,, kira-kira namanya siapa ya sayang?" Adrian melirik Malika yang hanya tersenyum melihat sang suami sengaja membuat kedua adiknya itu semakin penasaran
"Huftt, mulai deh kak Adrian. cepetan siapa namanya kak? atau kalau nggak Jie panggil si gembul aja ya" celetuk Jihan tak tahan
"Iya cocok juga tuh, atau kalau nggak kita panggil si bakpau Jie" usul Ashya tak mau kalah yang membuat Adrian tak terima dengan pemberian nama asal-asalan itu
"Enak aja, anak kakak yang ganteng ini masa dipanggil nya si gembul atau si bakpau entar kalian manggilnya bul-bul atau pau-pau lagi" protes Adrian sambil menjewer telinga kedua sahabat itu yang membuat Tama dan Permana tertawa melihat tingkah konyol anak-anak nya itu
"Ya sudah kamu kasih tau aja Dri biar duo ceriwis ini nggak penasaran" ucap sang mertua
"Sebenarnya Adrian dan Malika sudah punya nama yang cocok yah tapi kami masih bingung dengan nama belakang nya, ditambahkan Adhitama atau Permana ya? kalau kami pilih salah satu takutnya ayah atau papah nanti tersinggung" ucap Adrian ragu
"Iya benar, bahkan sampai sekarang pun kami masih ragu" ucap Malika menambahkan
"Hahaaaa, kalian ini ada-ada saja. masalah nama itu kewenangan kalian sebagai orangtua, kalau menyangkut nama belakang ikut papah atau ayah Tama sih papah rasa kita fine-fine aja ya Tam? intinya kan baby gembul ini cucu kami berdua mau dia pakai nama belakang apa pun nggak akan mengurangi rasa sayang dan cinta kami padanya nak" ucap Permana yang sempat kaget karna anak dan menantu nya sampai berpikiran seperti itu demi tidak menyinggung perasaan salah satu bahkan kedua orangtua mereka
"Iya betul Dhi, silahkan kalian pilih nama yang baik dengan keputusan yang baik pula. ayah dan papah mu ini pasti setuju dan Inshaallah tidak akan merasa iri satu sama lain" Tama pun sependapat dengan besan sekaligus sahabat nya itu
"Yang penting namanya jangan aneh-aneh ya Dri" tegur sang papah dan dibarengi tawa mereka, Malika dan Adrian pun saling bertatapan seperti mengisyaratkan agar Adrian memberitahukan nama yang telah mereka pilih, karna merasa terdesak akhirnya ia pun memberitahukan kepada seluruh keluarga
"Cepetan dong kak kasih tau, lelet banget nih. pasti sengaja bikin kita-kita penasaran kan?" desak Jihan yang tak sabar
"Iya bawel"
"Nama nya Raynka Putra (dibacanya rayenka) perpaduan nama Adrian dan Malika, gimana bagus nggak?" ucap Adrian
"Raynka? nama yang unik dan bagus menurut Ayah" sang mertua pun memberi komentar
"Bener Tam, namanya unik dan mungkin jarang yang menyamai. papah setuju nama ini Dri" ujar sang papah menimpali perkataan sahabat nya itu
"Ya bener kita setuju ya Jie? baby Rayn.." duo ceriwis kompak menyetujui nama itu
"Hai baby Rayn, welcome to the World sayang" sapa mamah Nadine sambil mengecup pipi gembul anak Malika yang dilahirkan dengan bobot 4 kilograms itu yang membuat pipi nya nampak penuh seperti bakpau, bayi tampan berkulit putih itu pun nampak berbinar dengan mata coklat pekat serta rambut hitam legam yang lebat semakin menambah aura kegantengannya. duh gemes nya sama baby Rayn...
🌹 Assalamualaikum para raeders, mohon maaf author baru sempet update lagi karna banyak banget ujian yang harus author hadapi. salah satunya dari ayah yang reaktif covid 19, tahun ajaran baru anak TK, belum lagi anak pertama yang sudah mulai masuk SD, ditambah harus sakit bergantian karna pandemi ini rentan banyak virus serta penyakit dan banyak lagi ujian-ujian lainnya. sekali lagi author minta maaf ya sudah mengecewakan kalian,🥺🙏
Terimakasih masih setia menunggu kelanjutan kisah antara Malika dan Adrian ini, semoga kedepannya bisa author selesaikan dengan baik.. wassalam, love u all💐