
"Ketika hidup mu di penuhi rasa bersyukur dan saling mengasihi kepada sesama maka hidup mu akan semakin bahagia, akan tetapi jika hidup mu di penuhi dendam dan kebencian kepada orang lain maka semua nya akan berakhir dengan keterpurukan. maka berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan..!"
🌺 Happy Reading 🌺
"Plaaak" sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Adrian
"Adrian bagaimana bisa semua hal buruk ini terjadi, dan kamu benar-benar sudah bikin papah malu di depan Tama. mau di taruh di mana muka papah ini Dri? sekarang kamu lihat kan jangankan untuk mendengar omongan papah, melihat wajah papah saja om Tama sampai nggak sudi. ini semua karena kebodohan kamu, coba dari dulu kamu dengar omongan mamah Nadine untuk menjauhi Sheila nggak mungkin terjadi hal buruk seperti ini" emosi pak Permana tak dapat di bendung lagi
"Pah, Adrian nggak pernah ngelakuin hal itu sama Sheila. Adrian akan buktikan itu semua fitnah dan anak itu bukan anak Adrian. tolong papah percaya sama Adrian" Adrian memohon kepada sang papah
"K-kamu bener-bener bikin papah kecewa aaa" tiba-tiba pak Permana merasakan sakit di jantung nya kemudian ia pun pingsan, buru-buru Adrian beserta mamah Nadine dan Jihan langsung membawa sang papah kerumah sakit
"Pah, maafin Adrian pah" Adrian menggendong sang papah memasuki mobil dan Pram yang mengemudikan mobil sedangkan Jihan berada di samping supir dan mamah Nadine ikut menemani Adrian memangku sang suami di kursi belakang
"Pah, bertahan pah. papah pasti kuat" tak henti-hentinya mamah Nadine berucap agar sang suami bisa sadar dan berharap mendengar ucapan nya itu sedangkan Jihan yang sejak di restoran tadi hanya bisa menjadi penonton karna ia bingung harus berbuat apa semua nya terjadi begitu cepat dengan kejadian-kejadian yang mengagetkan mereka
Mobil Adrian tiba di depan ruang ICU, para tenaga medis pun langsung memberikan pertolongan setelah Pram masuk dan meminta bantuan kepada mereka. tubuh tuan Permana pun dipindahkan ke brankar rumah sakit, dengan dipasang selang oksigen sebagai alat bantu pernafasan dan mereka pun membawa nya kedalam ruang ICU agar segera mendapat tindakan medis yang diperlukan
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini" tangis mamah Nadine tak tertahan begitu juga dengan Jihan yang sedih melihat sang papah yang kembali mengalami serangan jantung padahal seperti baru kemarin sang papah sadar dari koleps nya
"Kurang ajar, semua ini gara-gara Sheila. gue bakal bales semua perbuatan loe Sheil, gue jamin nggak akan tenang hidup loe" maki Adrian sambil memukul tembok rumah sakit yang membuat beberapa goresan ditangan nya
"Kak, sabar kak. kakak harus ingat sekarang papah ada di dalam lagi meregang nyawa, seharus nya kakak itu berdoa demi kesembuhan papah bukan nya teriak-teriak nggak jelas. kasian papah kak" akhirnya Jihan tak tahan untuk memarahi Adrian yang sudah kelewat emosi kepada Sheila
"Maafin kakak Jie, kakak nggak tega lihat papah seperti ini lagi" ucap Adrian yang memeluk sang adik dan menumpahkan air mata nya karna perasaan emosi dan sedih yang bercampur aduk
"Jihan juga sama kak, tapi yang terpenting kita harus tenang dulu pikirin kesembuhan papah. masalah Sheila nanti kita bikin perhitungan sama-sama kak" ucap Jihan yang percaya bahwa Adrian tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang difitnahkan pada nya
"Iya Jie" angguk Adrian menyetujui ucapan sang adik dan Adrian pun kembali tenang dan duduk di ruang tunggu depan ICU lalu Jihan kembali menemani sang mamah yang nampak masih sedih
"Mas, minum dulu" ucap Pram yang menyodorkan botol air mineral kepada Adrian setelah sebelumnya telah memberikan dua botol kepada nyonya Nadine dan Jihan, Pram memang baru datang setelah mendaftarkan tuan Permana di resepsionis lalu ia pergi membeli minuman dan makanan ringan karna memang mereka sejak tadi belum banyak makan saat berada direstoran sehingga tidak sempat melihat kemarahan Adrian tadi
"Makasih Pram" dan Adrian pun meminum beberapa teguk kan yang membasahi tenggorokan nya yang memang terasa kering itu
"Mas Adrian tangan mas terluka?" tanya Pram yang melihat luka pada jari-jari tangan Adrian
"Nggak apa-apa Pram, hanya luka sedikit entar juga kering" jawab Adrian yang tak ingin mempermasalahkan luka kecil nya itu, sebuah dering telpon mengalihkan pandangan Adrian dan dilihat nya tertera nama Malika pada layar
"Ehmm, Halo sayang" Adrian pun berdehem sebelum mengangkat telpon Malika karna ia tidak mau jika Malika mendengar suara nya yang sehabis menangis itu
"Halo mas Adrian, apa benar kata mas Andre yang dapet kabar dari mas Pram kalau papah masuk rumah sakit mas?" tanya Malika khawatir dan Adrian pun menengok sebentar pada Pram yang hanya mengangguk menandakan bahwa benar ia yang memberitahu Andre
"Iya sayang, ini sekarang mas ada di rumah sakit" jawab Adrian
"Astagfirullah, gimana bisa terjadi mas?" tanya Malika penasaran
"Papah kesal dan marah sama mas, sampai emosi nya tak terkendali membuat jantung nya mendadak sakit kemudian pingsan dan mas langsung bawa ke rumah sakit" singkat adrian menjawab pertanyaan Malika
"Ya Allah papah, sekarang gimana mas keadaan papah?" tanya Malika penasaran
"Mas juga belum tahu, sekarang papah masih dalam penanganan dokter. doain ya sayang semoga semua nya baik-baik saja" ucap Adrian
"Iya mas, papah pasti kuat dan bisa melewati masa kritis nya. maaf ya mas, Lika nggak ada di situ buat nemenin mas" ucap Malika sedih
"Nggak apa-apa sayang, sekarang lebih baik Lika tidur dan beristirahat ini sudah larut malam nggak baik buat ibu hamil" perintah Adrian
"Tapi mas"
"Nggak ada tapi-tapi, sekarang Lika tidur ya nanti kalau ada perkembangan papah pasti mas kabarin" bujuk Adrian
"Ya udah kalau gitu, tapi ingat ya langsung kabarin keadaan papah nanti" pinta Malika
"Iya sayang, pasti mas kabarin. selamat tidur ya sayang" ucap Adrian menyudahi sambungan telpon nya
"M-mas maafin ucapan ayah tadi ya, ayah cuma butuh waktu aja mas inshaallah nanti Lika coba jelaskan baik-baik dengan ayah" ucap Malika mencoba menenangi pikiran sang suami
"Iya sayang, mas ngerti kok sikon nya ayah sekarang. pasti semua orang tua akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi ayah saat ini, yang terpenting Lika tetap percaya sama mas itu udah menjadi semangat terbesar buat mas menyelesaikan semua masalah ini. terimakasih ya sayang" ucap Adrian seperti mendapat asupan energi mendengar suport dari Malika
"Ya sudah kalau gitu Lika istirahat dulu, mas juga jaga kondisi badan dan jangan lupa makan karna mungkin beberapa hari ke depan kita akan sulit bertemu. selamat istirahat mas Adrian" pesan Malika
"Iya sayang, Lika juga jangan lupa minum vitamin dan jaga kondisi badan jangan capek-capek ya. titip baby kita ya sayang, mas janji sebentar lagi kita akan kembali berkumpul bersama. selamat tidur sayang" ucap Adrian
"Iya mas, Wassalamu'alaikum" salam Malika sebelum ia menutup telpon
"Waalaikum salam" jawab Adrian dan sambungan telpon pun terputus, akhirnya dokter yang menangani pak Permana pun keluar dari ruang ICU buru-buru Adrian, Jihan, mamah Nadine dan Pram pun mendekati sang dokter
"Bagaimana dok keadaan papah saya?" tanya Adrian khawatir
"Mohon maaf mas Adrian keadaan tuan Permana tadi sempat kritis namun akhir nya bisa normal kembali, tapi.." sang dokter nampak ragu mengatakannya
"Mohon maaf tapi sekarang tuan Permana dalam keadaan koma, dan entah sampai kapan akan siuman. sekali lagi maaf kan kami mas Adrian, kami sudah berusaha semampu kami" ucap sang dokter, seketika bagaikan di sambar petir Adrian dan sekeluarga mendengar ucapan dokter jantung sang ayah
"Ya Allah papah koma?" tiba-tiba mamah Nadine pun lemas setelah mendengar perkataan dokter hingga Jihan dan Pram membawa nya keruang periksa karna kondisi Nadine yang lemah, namun Adrian tetap berusaha tegar sambil menengok sang ayah ke dalam ruang ICU menggunakan baju khusus
🍁🍁🍁
Pagi mulai menyinari hari, Malika pun sudah rapih dengan setelan blazer dan celana panjang warna maroon nya berjalan menyusuri tangga menuju meja makan untuk sekedar mengisi perut dan meminum vitamin demi menjaga kondisi nya agar tetap sehat selama bekerja di tengah kehamilan nya ini
"Pagi yah" sapa Malika kepada sang ayah yang sedang menikmati sarapan nya
"Pagi sayang, kamu mau kemana?" tanya sang ayah serius
"Lika mau kerja yah" jawab Malika
"Nggak boleh, kamu tidak ayah boleh kan kerja sampai kapan pun apa lagi bertemu dengan Adrian" bentak sang ayah
"Tapi yah?"
"Nggak ada tapi-tapi, setelah sarapan kamu kembali ke kamar" perintah pak Tama
"Ayah jahat, kenapa sih ayah nggak mau denger sedikit aja penjelasan mas Adrian dan lebih percaya kata-kata wanita itu?" gerutu Malika sambil berlalu ke kamar
"Jadi kamu lebih memilih mendengarkan kata-kata Adrian di banding kata-kata ayah?" tanya pak Tama yang mulai bernada tinggi
"Lika, Lika papah belum selesai bicara" teriak pak Tama yang nampak gusar karena Malika pergi meninggalkan nya
"Yah, kenapa sih ayah harus marah seperti itu dengan kak Malika? ayah kan tahu setelah menikah perempuan memang harus lebih berbakti kepada suami nya karna tanggung jawab nya telah di gantikan sang suami dan bukan di pikul ayah lagi. lagian benar kata kak Malika dari kemarin ayah tidak memberi kesempatan kepada kak Adrian untuk menjelaskan dan lebih mempercayai wanita yang baru kita kenal itu, seharus nya ayah bisa lebih adil yah" oceh Ashya panjang lebar
"Sekarang kamu sudah berani menceramahi ayah Shya?" tanya sang ayah kesal
"Ashya nggak bermaksud menceramahi ayah yang lebih banyak ilmu nya di banding Ashya, tapi ayah sendiri kan yang mengajarkan kami untuk selalu percaya kepada keluarga sendiri terutama berbakti kepada suami kami kelak dan sekarang kenapa ayah seperti menyuruh kak Malika untuk tidak mempercayai suami nya?" tanya Ashya yang tak habis pikir dengan perubahan sikap sang ayah
"Yah, Ashya tahu ayah sayang banget sama kami dan nggak mau anak-anak ayah tersakiti. tapi ayah juga nggak bisa menutup mata jika kak Malika sudah bersuami dan ia butuh perhatian terutama di saat sedang hamil, ayah juga nggak mau kan kalau kak Malika stres dan berdampak kepada cucu ayah sendiri? Ashya mohon yah tolong beri kebebasan kak Malika untuk bahagia, seenggak nya ayah dengarkan penjelasan mereka" Ashya akhirnya memohon kepada sang ayah demi kebahagian Malika dan Adrian namun pak Tama hanya diam tak bergeming
"Ashya harap ayah nanti nggak nyesel dengan keputusan yang ayah buat sendiri, ingat yah untuk sekarang kebahagiaan kak Malika yaitu berada di sisi suami nya bukan bersama kita terus. Huhh, klo gitu Ashya pamit yah, Assalamualaikum" ucap Ashya lalu ia pun pamit pergi ke kampus setelah mencium tangan sang ayah yang masih tetap terdiam tak menanggapi kata-katanya itu
Setelah kepergian Ashya yang memang selalu masuk kelas pagi di kampus nya, pak Tama pun mulai memikirkan kata-kata sang anak. benar apa yang dikatakan Ashya ia memang selalu mengajarkan anak-anak agar setelah menikah mereka mematuhi, mempercayai serta menghormati sang suami tapi entah mengapa rasa kecewa dan emosi yang membuat nya seolah melupakan ajaran atau tuntunan agama yang selama ini ia ajarkan itu
Ditengah kebimbangan pak Tama muncul lah Andre yang memang selalu mengantar dan menjemput nya sebagai seorang sekertaris pribadi, dan ia pun akhirnya memilih meminta pendapat sang sekertaris mengenai masalah keluarga yang sedang mereka hadapi ini
"Maaf pak mobil sudah siap, kita berangkat sekarang?" tanya Andre yang melihat kebingungan pada wajah atasan nya itu
"Oh iya, ehm kebetulan kamu ada di sini Ndre. ada yang saya ingin obrolkan sebentar" ucap pak Tama ragu
"Iya pak?" ucap Andre yang menunggu pak Tama melanjutkan omongan nya
"Emm menurut kamu bagaimana seharusnya sikap saya menghadapi masalah Adrian dan Malika ini Ndre?" akhirnya pak Tama pun melanjutkan ucapan nya
"Maksud nya masalah yang berhubungan dengan Sheila pak?" Andre berbalik tanya takut ia salah mengartikan
"Iya, masalah dengan wanita yang mengaku-ngaku di hamili Adrian itu" tanya nya lagi
"Mohon maaf sebelumnya pak saya tidak memberitahukan hal ini terlebih dahulu, tapi masalah Sheila dan anak kecil yang ia katakan adalah anak Adrian itu saya, Pram, Chris dan Alan sudah mengetahui masalah ini sejak kepulangan mereka dari bulan madu pak" ucap Andre yang membuat pak Tama kaget
"Jadi kalian sudah tahu lama? termasuk Malika juga sudah mengetahui nya sebelum wanita itu datang kemarin malam?" tanya pak Tama
"Benar pak, kami sudah mengetahui nya dari Adrian yang menceritakan semua kejadian saat Sheila datang ke apartemen dan mengatakan fitnah itu di depan Malika" ucap Andre tanpa keraguan
"Kenapa kamu tidak menceritakan nya kepada saya Ndre?" pak Tama mulai kesal
"Mohon maaf sekali lagi pak, sesuai permintaan Adrian kami harus merahasiakan nya dari seluruh keluarga Adhitama dan keluarga Permana sampai ia dapat menyelesaikan semua permasalahan ini. karna Adrian tidak ingin membuat seluruh keluarga khawatir terlebih melihat kondisi kesehatan pak Permana yang kurang baik" Andre mencoba membela Adrian
"Ya Allah, sampai segitu nya Adrian memikirkan keluarganya terlebih kepada kamu Adhi. anak mu itu benar-benar menjaga diri mu dengan baik" gumam pak Tama namun terdengar jelas oleh Andre
"Oh iya mohon maaf pak, semalam saya ingin mengabarkan namun takut mengganggu istirahat Anda. pak Permana kena serangan jantung dan sekarang beliau koma di rumah sakit" ucap Andre memberitahukan pak Tama mengenai kondisi sahabat nya itu
"Astagfirullah Aladzim, Adhi koma Ndre? dari kapan?" tanya pak Tama kaget
"Sejak semalam pak, setelah pulang dari sini di rumah pak Permana memarahi Adrian lalu beliau kena serangan jantung. menurut info dari Pram kondisi pak Permana sempat kritis namun kondisi nya kembali normal tapi kemudian beliau dinyatakan koma dan sekarang masih dirawat intensif di ruang ICU" ucap Andre menjelaskan informasi yang ia dapatkan dari Pram
"Kalau gitu sekarang kita ke rumah sakit Ndre, aku ingin melihat keadaan Adhi saat ini" ucap pak Tama yang merasa bersalah semalam sudah berlaku kasar kepada sahabat nya itu, mereka pun akhirnya tidak jadi pergi ke kantor melainkan memilih untuk ke rumah sakit terlebih dahulu melihat kondisi pak Permana yang masih koma di rumah sakit..
- BERSAMBUNG -
🌹 Alhamdulillah hari ini bisa update kembali, doain ya semoga kedepan nya author tetap bisa mengupdate novel The ceo's wedding secret ini dengan baik tanpa ada hambatan lagi. terimakasih banyak ya atas support dan dukungan para readers semua kepada author, semoga kesehatan, kasih sayang dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua..aamiin aamiin ya rabbalallamin 🤲🏻💐