The Ceo'S Wedding Secret

The Ceo'S Wedding Secret
BAB 51 - MAAF KAN AKU SAHABAT



"Sahabat adalah orang lain yang sangat dekat kepada kita, akan tetapi ada juga sahabat melebihi dari saudara yang selalu bermain bersama, tetap setia dan selalu ada baik suka maupun duka. beruntunglah bagi yang memiliki sahabat berhati mulia karna tak sedikit sahabat yang berbuat jahat dan mengkhianati sahabat nya sendiri hanya demi keuntungan pribadi"


🌺 Happy Reading 🌺


Pagi ini jalanan nampak ramai seperti hari-hari biasa nya, hilir mudik para pekerja memenuhi hampir seluruh jalan ibukota. semua berpacu dengan waktu dan tak sedikit dari mereka yang tak sabar karna jam masuk kerja yang sudah mepet, hingga banyak para pengendara yang mencari jalur alternatif demi ingin cepat sampai ke kantor namun terkadang tak menghiraukan keselamatan diri nya mau pun orang lain


Mobil Alphard putih yang dikendarai Andre melaju menyusuri jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang, tentu nya pak Tama tidak mau jika niatan nya menjenguk orang sakit malah akan berakibat diri nya lah yang berbaring di sana karna terlalu mengebut dalam berkendara hingga menyebabkan hal-hal yang tak di inginkan


"Ndre, apa kamu percaya dengan Adrian bahwa anak itu bukan lah anak nya?" tanya pak Tama membuka kebisuan selama perjalanan menuju rumah sakit


"Seperti nya bukan hanya saya saja pak yang percaya, baik Alan, Chris dan Pram pun sangat tahu karakter Adrian. jadi kami rasa Adrian tidak akan melakukan hal bodoh itu, kalau dengan Malika mungkin bisa saja terjadi tapi ternyata waktu itu saja hanya sebuah kesalahpahaman dan Adrian bisa menahan nafsu nya terhadap Malika wanita yang jelas-jelas ia cintai sejak kecil" ungkap Andre lagi-lagi seperti memberi pembelaan kepada Adrian


"Terus kenapa ia membiarkan Sheila memfitnah nya tanpa membungkam nya terlebih dahulu?" tanya pak Tama


"Adrian bukan nya tidak ingin membungkam Sheila pak, tapi mengumpulkan bukti-bukti dalam penyelidikan butuh waktu tidak sebentar. terutama banyak kerjaan yang harus ia handle selama libur bulan madu kemarin terlebih Adrian pun harus meyakinkan Malika yang sempat ngambek karena ulah Sheila saat itu" jawab Andre panjang lebar


"Sepertinya kamu cukup mengenal Adrian ya Ndre? dan kamu pun berpihak pada nya" sindir sang atasan nya itu


"Mohon maaf pak bukan maksud saya membela Adrian, karna posisi nya kami telah mengetahui masalah ini sebelum nya dan kami pun cukup mengenal karakter masing-masing jadi menimbang dari segala hal seperti nya ini memang fitnah yang sengaja di tujukan untuk menghancurkan rumah tangga Adrian dan Malika. bisa saja kan karna Sheila selama ini masih mencintai Adrian sehingga ia melakukan segala cara demi kembali mendapatkan nya" ucap Andre yang berbicara dengan berdasarkan logika laki-laki


"Kalau pun memang itu anak nya Adrian, menurut kami kenapa tidak dari awal kehamilan ia membeberkan lalu minta pertanggung jawaban. kalau pun harus dengan alasan tertentu seharus nya Sheila sudah mempersiapkan tes DNA yang dibawa nya, yah walau pun kita masih meragui keaslian nya setidak nya hal itu sudah ia pikirkan matang-matang dan tidak seperti terburu-buru dalam melakukan tindakan" Andre kembali menjelaskan hasil analisa trio sekertaris yang memang membantu Adrian dalam mencari bukti-bukti selama ini


"Benar yang kamu bilang Ndre? lalu bagaimana langkah Adrian selanjutnya?" tanya Tama penasaran


"Adrian tetap mencari celah kelemahan Sheila melalui Pram dan anak buah nya, sedikit demi sedikit bukti-bukti kami kumpulkan untuk menjerat Sheila dan menjebloskan nya ke dalam penjara. kami pun masih mendalami nya apakah Sheila murni melakukan ini karna balas dendam dengan Adrian atau ada dalang dibalik semua rencana yang ia lakukan pak" jawab Andre yang masih fokus menyetir


"Baiklah kalau begitu, kamu kirim anak buah mu Ndre untuk membantu penyelidikan tanpa sepengaeahuan Adrian" ucap pak Tama


"Jadi pak Tama akan membantu Adrian?" tanya Andre tak percaya


"Iya Ndre, bagaimana pun juga Adrian adalah menantu ku dan rasa nya aku merasa bersalah tak memberi nya kesempatan untuk menjelaskan semua nya terlebih dahulu. jadi tolong kamu rahasiakan semua ini" pinta pak Adhitama


"Baik pak, akan saya tugas kan Boy dan Roy untuk membantu penyelidikan ini" jawab Andre senang mendengar pak Tama ingin membantu Adrian


🍁🍁🍁


Aroma khas rumah sakit menyeruak ke dalam hidung, alat pengukur detak jantung bernama elektrodiagram pun tak henti-hentinya berbunyi menampilkan grafik detak jantung pak Permana saat ini. Adrian yang sejak semalam menemani sang papah pun akhirnya tak dapat menahan rasa kantuk nya, ia tertidur di kursi tunggu di depan ruang ICU. Pram yang ikut menemani sejak semalam kini pergi mencari sarapan, sedangkan Jihan menemani sang mamah yang harus di rawat karna syok dan lemah saat mendengar dokter mengatakan pak Permana koma


"Dri, bangun Dri" suara Andre membangunkan Adrian yang tengah tertidur pulas


"Emm" Adrian hanya bergumam tanda ia sangat mengantuk dan lelah hingga sulit membuka mata


"Adrian, bangun. ada mertua mu nih" ucap Andre setengah berbisik namun masih bisa terdengar oleh pak Tama yang berdiri tak jauh dari nya


"Oh mas Andre, maaf mas saya ketiduran" ucap Adrian membuka mata dan masih setengah sadar itu


"Ada apa mas?" tanya Adrian yang mulai membenarkan duduk nya setelah tadi tertidur di kursi tunggu depan ICU


"Tuh" ucap Andre singkat sambil memajukan mulut nya memberi kode ke arah pak Tama yang masih berdiri di tempat nya sejak tadi


"Astagfirullah Aladzim, ayah? k-kapan sampai yah?" tanya Adrian yang seketika mata nya melek lalu menghampiri dan menyalami tangan sang mertua


"Sejak Andre membangunkan mu" ucap pak Tama


"Mas, kenapa nggak bilang sih ada ayah?" Adrian menyikut tangan Andre


"Tadi kan sudah mas Andre bilang kalau ada mertua kamu, kamu nya aja yangbkebluk Dri pake nyalahin mas lagi" ucap Andre membela diri


"Sudah-sudah jangan saling menyalahkan, gimana sekarang keadaan papah mu Andrian?" tanya pak Tama


"Alhamdulillah, keadaan papah sudah stabil yah. tapi sekarang papah koma dan dokter pun tidak tahu papah akan bangun entah sampai kapan" ucap Adrian sedih melihat keadaan sang papah saat ini


"Ya Allah Dhi kenapa kamu harus sampai seperti ini?" ucap pak Tama sedih melihat dari jendela sang sahabat tertidur di dalam ruang ICU dengan banyak nya alat yang terpasang di tubuh nya


"Ini semua salah Adrian yah, Adrian yang lalai dan membuat papah terkena serangan jantung hingga koma begini" Adrian terisak menyesali hal yang telah terjadi


"Maafin Adrian ya yah, Adrian benar-benar merasa jadi anak dan menantu yang nggak berguna" ucap Adrian memohon kepada sang mertua


"Sudah Dri, kita semua juga nggak mau ini terjadi. tapi mungkin ini memang sudah takdir nya Allah, jadi kamu harus kuat dan berpikir positif agar papah kamu juga bisa merasakan hal yang sama hingga bisa sadar dan kembali berkumpul bersama kita semua" ucap sang mertua menyemangati Adrian


"Iya yah, makasih ayah sudah meluangkan waktu menjenguk ayah kesini" ucap Adrian yang enggan untuk membicarakan masalah Sheila karna ia takut suasana hati sang mertua yang sedang baik akan menjadi buruk jika ia membahas nya


"Dri, Pram kemana? kata nya dia nemenin kamu nginep di sini?" tanya Andre yang memang dari tadi mencari sosok sekertaris Adrian itu namun tak juga muncul


"Oh Pram tadi sih pamit nya mau beli sarapan mas" jawab Adrian yang memang aneh kenapa Pram sedari tadi belum datang juga


"Yah, Adrian keluar sebentar ya cari Pram. ayah sama mas Andre tunggu di sini sebentar aja" pinta Adrian takut sang mertua tiba-tiba pergi


"Ya sudah kamu cari Pram, ayah juga mau temani Adhi dari sini" jawab pak Tama


"Siip oke" ucap Andre sembari mengacungkan jempol nya lalu Adrian pun pergi meninggalkan Andre dan pak Tama mencari keberadaan Pram yang entah ngeloyor kemana tapi sebelumnya ia mampir ke toilet sebentar untuk mencuci muka


"Mas, ngapain di sini? lagi nyari siapa?" tanya Pram yang aneh melihat Adrian celingak-celinguk seperti mencari sesuatu di depan rumah sakit


"Hadehh, kemana aja sih kamu Pram?" tanya Adrian kesal karna lumayan lama ia mencari nya kesana-kemari


"Ini mas beli bubur buat nyonya besar dan Jihan" jawab nya singkat sambil menunjukkan dua bungkus bubur yang berada dalam styrofoam itu


"Ya Allah beli bubur aja lama banget, terus sarapan buat saya mana?" tanya Adrian yang tidak melihat Pram membawa makanan lain selain dua bungkus bubur dan dua botol mineral


"Tadi saya beli nasi kuning dan kebetulan saya ingat Jihan dan nyonya besar kan ada di sini juga, jadi setelah itu saya mampir ke ruang rawat nyonya besar dan di sana Jihan minta dibelikan bubur juga air mineral untuk sarapan. jadi saya balik lagi beli bubur dan nasi kuning mas Adrian saya tinggal di kamar rawat nyonya besar" ucap Pram panjang lebar


"Ya Allah, kabarin kek Pram jadi saya nggak usah nyari-nyari kamu kayak begini" ucap Adrian kesal


"Maaf mas saya pikir mas masih tidur, terus mas Adrian beli apa itu?" tanya Pram yang penasaran melihat Adrian menenteng dua bungkus makanan dan dua botol air mineral


"Sarapan" ucap Adrian berlalu meninggalkan Pram yang bingung


"Kan saya sudah beli mas, nanti mubadzir donk" protes Pram


"Bodo amat, loe kelamaan sih" ucap Adrian kesal


"Tapi mas"


"Udah sana cepetan anterin bubur buat Jihan dan mamah Nadine, sekalian kamu ambilkan sarapan saya juga" perintah Adrian sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan tak mengindahkan Pram yang masih bingung dengan tingkah bos nya itu


"Hadehh, serba salah gue" gerutu Pram sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal itu


☘️☘️☘️


"Adhi bangun Dhi, kamu pasti tahu aku di sini.


Maafin atas sikap kasar ku semalam Dhi, aku janji akan mendengarkan semua kata-kata mu tapi kamu juga harus janji untuk segera bangun" Tama menyesali perkataan kasar nya semalam kepada Permana


"Aku mohon bangun Dhi, kita kan sebentar lagi akan menimang cucu dari Adrian dan Malika. kata nya kamu ingin melihat cucu-cucu kita jadi orang hebat" ucap pak Tama dengan linangan air mata melihat kondisi sang sahabat yang berbaring lemah tak berdaya rasa nya ia ingin sekali memeluk sahabat nya itu, namun karna prosedur kesehatan dan melihat kondisi Permana yang tak memungkinkan diri nya pun urung melakukan nya dan lebih memilih berbicara dari balik kaca jendela ruangan ICU


"Ayah duduk dulu, nanti ayah kelelahan terlalu lama berdiri" ucap Adrian membawa sang mertua untuk duduk di kursi tunggu


"Kapan papah mu bisa sadar ya Dri?" tanya nya


"Sama-sama kita berdoa ya yah, semoga secepatnya papah bisa sadar dan berkumpul bersama kita lagi" ucap Adrian mencoba menghibur Tama


"Ayah dan mas Andre sudah sarapan belum? ini Adrian kebetulan beli nasi kuning di depan" Adrian menyodorkan makanan itu kepada sang mertua dan Andre


"Ayo dimakan yah, mas" ucap Adrian


"Lah kamu sendiri nggak makan Dri? terus si Pram mana?" tanya pak Tama bingung


"Udah ayah makan aja, sebentar lagi juga dia datang" ucap Adrian yakin dan benar saja tak berapa lama Pram pun datang yang mempercepat langkah nya setelah melihat pak Tama dan Andre bersama Adrian di depan ruang ICU


"Tuan Tama dan mas Andre sudah dari tadi di sini?" tanya Pram yang baru menyadari pantesan aja Adrian bela-belain beli sarapan dan keluar dari rumah sakit meninggalkan pak Permana sendirian


"Lumayan setengah jam lah Pram, kamu habis darimana tumben biasa nya bareng terus sama Adrian" ucap pak Tama lalu menyuap nasi kuning kedalam mulut nya


"Maaf mas, ini nasi kuning nya" ucap Pram lagi sambil menyodorkan bungkusan nasi kuning kepada Adrian yang tadi sudah ia beli dan Adrian pun ikut bergabung makan bersama begitu pun Pram yang memang sudah menahan lapar nya dari tadi


"Saya tadi beli sarapan buat nyonya besar yang di rawat di sini juga tuan, jadi agak lama balik nya" ucap Pram menjelaskan setelah mengunyah nasi kuning di dalam mulut nya


"Dirawat? siapa maksud kamu Pram?" tanya Tama kaget dan menghentikan makan nya


"Nyonya Nadine tuan, semalam pas tahu tuan besar koma tiba-tiba nyonya syok dan hampir pingsan jadi langsung di infus serta di rawat di sini juga" jawab Pram


"Ya Allah, terus gimana keadaan Nadine sekarang?" tanya pak Tama lagi


"Alhamdulillah sudah agak baikan tuan, cuma masih kelihatan lemas dan kurang tidur aja" ucap Pram


"Dri kalau gitu setelah ini ayah ingin melihat keadaan Nadine sebentar, sehabis itu ayah langsung pamit ke kantor ya" ucap sang mertua dan kemudian mereka melanjutkan makan nya hingga habis dan kemudian di temani Adrian dan Andre menjenguk Nadine yang masih terbaring lemah


"Makasih ya yah sudah sempatin datang dan menjenguk ke sini" ucap Adrian senang bahwa ternyata pak Tama masih peduli dengan keluarganya


"Sama-sama Dri, kita ini kan memang keluarga jadi sudah seharusnya ayah menjenguk papah dan mamah mu juga. kalau gitu ayah pamit ke kantor ya, jangan lupa kabarin ayah kalau ada perkembangan mengenai kondisi papah mu" ucap pak Tama


"Inshaallah pah, pasti nanti Adrian kabarin" ucap Adrian menyalami tangan sang mertua yang kemudian pamit lalu masuk ke mobil yang di kendarai Andre melaju ke jalan dan meninggalkan rumah sakit menuju ke kantor..


- BERSAMBUNG -


🌹 Thanks you buat para readers yang masih tetap setia menunggu kelanjutan novel The ceo's wedding secret ini, jangan lupa untuk selalu like/vote dan komen bijak nya ya.. thanks you allπŸ’