
"Saat berjauhan dengan sang kekasih rasa rindu menggebu tak tertahan dan saat kembali dipertemukan melepas rindu sudah pasti menjadi pilihan"
πΊ Happy Reading πΊ
Malika pun mengeratkan pelukannya, ia sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan sang suami setelah hampir dua hari jauh dari nya
"Lika juga kangen banget sama mas Adrian" jawab nya
"Tapi mas lebih kangennnnn" ucap Adrian tak mau kalah
"Iya deh Lika ngalah, oh iya tapi ngomong-ngomong kok mas Adrian sama mas Pram bisa ada di sini?" tanya Malika yang baru ngeh bagaimana sang suami bisa berada di desa Abah Koswara secepat ini
"Cerita nya panjang sayang, nanti mas ceritain pas kita berdua di dalam kamar aja ya" goda Adrian mencubit hidung mancung Malika yang mempunyai maksud tertentu
"Ehem ehem" Pram berdehem sengaja membuyarkan kemesraan mereka exan z yang sudah pasti membuat nya merasa sakit mata karna melihat kebucinan pasangan itu
"Ganggu aja nih orang, ada apa sih Pram?" protes Adrian yang merasa kesenangannya berdua dengan sang istri terganggu
"Maaf mas,rzdd d, rtfcyy seperti nya mas kita harus segera pergi dari sini dan mas bisa melanjutkannya nanti" ucap Pram yang tak tahu harus berkata apa kepada atasannya yang sedang bucin ini, karna tidak melihat sikon sedang berada dimana
"Oh iya Abah Koswara dan Jelita ya? Kenalkan saya Adrian suami dari Malika, dan ini sekertaris atau asisten saya nama nya Pram" ucap Adrian saling bergantian menjabat tangan Abah Koswara dan Jelita
"Koswara panggil saja Abah" ucap Abah memperkenalkan diri
"Saya Jelita anak nya abah dan bu Asih" ucap Jelita memperkenalkan diri sambil menunduk malu
"Oh iya maaf ya bah, kami sampai lupa diri tadi saking senang nya bisa bertemu kembali" ucap Adrian yang merasa tak enak hati, karna bermesraan di depan orang banyak tanpa memperhatikan orang banyak
"Nggak apa-apa Jang, Abah juga dulu sama bu Asih begitu. berasa dunia milik berdua dan yang lainnya ngontrak" sindir Abah Koswara yang membuat seluruh orang disana pun tertawa, hanya menyisakan Adrian dan Malika yang tersenyum malu karena tak sadar situasi
"Oh ya hatur nuhun nya mang Asep dan para warga yang sudah membantu kami" ucap Abah Koswara kepada mang Asep dan warga yang telah membantu nya
"Sama-sama juragan" jawab mereka serentak
"Ya sudah kalau gitu, malam ini kalian menginap saja dulu di rumah Abah karna kasian pasti sudah sangat capek saling mencari kesana-kemari" ajak Abah Koswara, lalu pak Asep dan beberapa warga yang ikut pun membubarkan diri
"Nggak usah bah, kami langsung kembali ke hotel saja" tolak Adrian yang tak ingin lebih merepotkan lagi keluarga Abah Koswara
"Nggak usah sungkan kaya gitu Jang, anggap saja kalian menginap di rumah keluarga jauh" ucap Abah yang menekankan tak ingin mendapat penolakan yang kedua kalinya dari Adrian, mereka pun akhirnya sepakat untuk menginap dirumah Abah Koswara dan esok nya akan kembali ke hotel. Malika pun ikut di dalam mobil Adrian bersama Pram sedangkan Abah bersama Jelita di dalam mobil terpisah
Di dalam mobil Pram sudah feeling akan di mulai lagi deh kebucinan antara kedua nya, terlebih atasannya yang satu ini setelah menikah dan akan menjadi calon ayah lebih baperan bahkan sering ngambek nggak jelas jadi Pram lah yang selalu menjadi korban nya. terlebih ia pun harus melihat kemesraan pasangan tersebut yang kini sedang saling berangkulan, dengan posisi Malika menyenderkan kepala nya dibahu Adrian yang tengah mengusap-usap rambut istri dengan penuh perhatian. duh nasib jomblo selalu berakhir dengan tragis
πππ
"Jie, gimana apa kakak mu sudah memberi kabar?" tanya mamah Nadine penasaran
"Belum mah, mudah-mudahan kak Malika bisa segera di temukan dan dalam keadaan sehat ya mah. aamiin" jawab nya mendoakan keselamatan sang kakak ipar
"Aamiin, inshaallah sayang. Malika pasti bisa ditemukan karna ia wanita yang shalihah, kuat dan berakhlak baik sudah pasti Allah akan melindungi nya dimana pun diri nya berada" mamah Nadine memuji sang menantu yang memang sangat ia kenal sejak kecil itu
"Iya mah, Jihan yakin Allah pasti akan menolong kak Malika dan semoga saja si lampir Sheila cepat tertangkap dan menderita di dalam penjara karena perbuatannya" ucap Jihan yang di selipi makian kepada Sheila sang dalang yang hilang nya Malika
"Husst, jangan ngomong buruk kayak gitu donk. kita doakan saja semoga setelah mendapat ganjarannya Sheila bisa sadar dan bertobat, hingga menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya. aamiin" ucap mamah Nadine yang selalu berusaha bijak menyikapi segala hal
"Iya deh mah, Aamiin dan mudah-mudahan tuh orang nggak gangguin keluarga kita lagi ya" timpal Jihan
"Semoga saja" jawab mamah Nadine singkat lalu menghampiri sang suami yang masih terbaring lemah di atas kasur rumah sakit, sedangkan Jihan kembali sibuk mengerjakan tugas kuliah dengan laptop nya
βοΈβοΈβοΈ
"Halo Assalamualaikum, gimana Dri apa Malika sudah di temukan?" tanya pak Tama dari balik sambungan telpon nya
"Waalaikum salam, Alhamdulillah sudah yah. sekarang Lika sedang mandi dan malam ini kami menginap di rumah Abah Koswara yang telah menolong Malika" jawab Adrian memastikan agar sang mertua tidak khawatir lagi
"Benar sudah ketemu? Kamu jangan bohongin ayah ya Dri?" ucap pak Tama penuh selidik
"Demi Allah yah sudah ditemukan, sebentar ya kalau ayah masih nggak percaya" Adrian pun berjalan dari ruang tamu rumah Abah kemudian masuk ke dalam kamar tamu yang telah di siapkan untuk mereka berdua, lalu mengetuk pintu kamar mandi tempat Malika berada
"Sayang" panggil Adrian
"Iya mas, ada apa?" tanya Malika dari dalam kamar mandi dan tidak langsung membukakan pintu karna sedang keramas
"Ini ayah mau bicara sama Lika" jawab Adrian
"Sebentar ya mas, tanggung Lika lagi keramas" ucap nya setengah berteriak karna takut sang suami tak mendengar terlebih ia sedang menyalakan shower
"Gimana yah udah percayakan? setelah selesai mandi nanti Malika akan Adrian suruh untuk telpon ayah ya" ucap Adrian yang sengaja tidak mematikan telponnya saat memanggil Malika, hingga akhirnya pak Tama pun percaya setelah mendengar suara sang anak yang sudah di temukan
"Hemm, makanan nya pasti enak-enak banget nih" ucap Malika memuji masakan Bu Asih
"Sudah pasti donk teh, masakan ibu kami paling enak sejagat raya" puji Cempaka tak mau kalah
"Husst, kamu ni" timpal bu asih sambil menyikut Cempaka yang memang duduk di samping sang ibu
"Emang bener kok bu, kemarin malem saja Lika sampai suka banget sama pepes ikan yang ibu buat. rasa nya masakan Koki bintang lima pasti kalah deh, terlebih Lika jadi seperti di masakin mamah" ucap nya berkaca-kaca karna mengenang almarhum sang ibu, Adrian pun mengelus pundak sang istri memberinya kekuatan karna mereka sama-sama di tinggal oleh sang ibu dan ia merasakan apa yang dirasa oleh sang istri
"Jangan sedih neng, anggep aja ibu Asih seperti ibu neng Malika sendiri dan kalau mau apa-apa jangan sungkan nya" hibur bu Asih yang sangat tulus menghampiri dan memeluk Malika
"Makasih banyak bu atas ketulusannya kepada Malika, dan maaf ya bu, Abah, Jelita dan Cempaka kami jadi sangat merepotkan kalian" ucap Adrian merasa tak enak hati karna telah banyak merepotkan keluarga Abah Koswara
"Udah atuh dari tadi minta maaf terus sih jang, lebaran teh masih lama" celetuk Abah yang membuat semua nya pun tertawa
"Bisa aja si Abah" timpal Adrian yang merasa malu
"Ya sudah, ayu atuh di lanjutin makan nya" potong bu Asih lalu mereka pun makan dengan lahap, karna menu sayur asem dengan ikan gurame bakar disertai sambel dan lalapan yang membuat semua nya bersemangat menikmati nya diselingi canda tawa mendengar Abah bercerita
Setelah makan Abah mengajak Adrian dan Pram untuk ngobrol diteras rumah sambil bermain catur, Adrian yang memang sering menemani sang mertua pun sudah cukup mahir dan dapat mengalahkan Abah Koswara namun tidak demikian dengan Pram yang selalu kalah melawan Abah hanya dengan beberapa langkah saja
"Kayak nya kamu harus banyak belajar catur lagi ya Jang, jangan cuma kerja terus sekali-kali main catur sama si bos atuh" saran Abah kepada Pram yang lemah dalam permainan catur
"Iya bah, tapi sayang bos saya nggak pernah ngizinin saya belajar" sindir nya
"Wah, malah nyindir. kalau nggak bisa mah nggak bisa aja Pram, pake protes segala lagi" ledek Adrian yang membuat Abah tertawa mendengar nya
"Emang nggak bakat dia mah bah sama olahraga model kayak gini, dulu beberapa kali di ajak main catur, dan golf sama papah dia nggak bisa terus diajak main bowling malah jadi keseleo tangan nya" Adrian membuka kartu kelemahan Pram
"Yah emang udah dari sana nya mas, pake di bilangin segala lagi. kan malu saya sama Abah mas" protes Pram
"Hahahaa, terima apa ada nya aja Pram" celetuk Adrian lagi
"Mungkin si Ujang ini bakat nya di bidang lain, jadi nggak bisa kita samain juga nya" ujar Abah koswara setelah selesai menertawakan nya
"Emang bener bah, Pram ini kalau masalah game online dan ngebut-ngebutan paling jago nya. beda sama kita yang udah ke bapak-bapakkan" ucap Adrian yang seketika membuat Pram malu
"Oh ternyata bakat nya di situ, pantes permainan yang makan waktu lama nak Pram nggak suka" ucap Abah
"Hehehe, iya bah emang bisa nya itu aja" ucap Pram malu-malu dan pembicaraan mereka pun terhenti dengan kedatangan Jelita yang membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat beserta cemilan nya
"Silahkan diminum kang" ucap Jelita
"Makasih ya neng" Pram menerima gelas yang diberikan Jelita dan tanpa sengaja pandangan mata mereka pun saling beradu, Jelita pun memilih kembali masuk kedalam rumah karna tidak mau berlama-lama dalam Suasana canggung itu
"Oh iya Malika mana Ta?" tanya Adrian saat Jelita hendak masuk ke rumah
"Teh Jelita udah tidur kang, mungkin kecapean tadi seharian berkeliling" jawab Jelita lalu ia pun masuk kedalam rumah dan bergabung bersama bu Asih dan Cempaka yang baru selesai membereskan piring dan gelas bekas makan mereka
"Kalau gitu saya temani Malika ke kamar dulu, Abah nggak apa-apa kan di sini ditemani sama Pram?" ucap Adrian meminta izin pergi ke kamar tamu yang memang di sediakan untuk nya dan Malika
"Sok atuh temenin si Eneng, nggak apa-apa Abah di sini sama si ujang Pram sambil ngajarin catur juga" ucap Abah memberikan izin pada Adrian
"Iya mas nggak apa-apa, saya juga belum ngantuk banget jadi masih bisa nemenin Abah di sini" ucap Pram yang mengerti situasi Pram yang pasti nya ingin selalu dekat dengan Malika, namun ia tak enak dengan Abah Koswara
"Ya udah kalau gitu saya duluan ya bah, Pram" ucap Adrian setelah menghabiskan teh nya, kemudian masuk menuju ke dalam kamar tamu mereka. sedangkan Abah dan Pram kembali bermain catur sambil sesekali meneguk teh hangat buatan Jelita hingga larut malam
βοΈβοΈβοΈ
"Saya nggak bersalah, lepaskan" teriak Sheila ketika dua orang polisi wanita membawa nya keluar dari Scarlet Dago hotel kamar 205
Beruntung bagi Sheila karena waktu sudah tengah malam dan tidak banyak orang yang melihat kejadian diri nya di seret paksa beberapa polisi, jika kejadian itu terjadi di siang hari mungkin wajah nya akan terpampang dibeberapa akun media sosial para pengunjung hotel karna sudah pasti ada orang yang akan menjadikannya sebagai bahan postingan.
"Lepasin saya pak, saya bisa jalan sendiri" teriak nya
"Kami tidak akan mengambil resiko, jadi saya minta anda untuk kooperatif dan ikut dengan kami ke kantor" bentak pak kepala polisi yang ,seketika membungkam mulut Sheila
"Cepat bawa ke dalam mobil dan pastikan tidak sampai melarikan diri" perintah sang kepala polisi kepada anak buah nya
"Siap pak" jawab seluruh anggota kepolisian yang berada di sana dan mereka pun akhirnya berhasil membawa Sheila masuk kedalam mobil dengan panjagaan yang cukup ketat. bisa di pastikan kali ini Sheila akan menerima ganjaran atas semua perbuatan yang telah ia lakukan kepada Adrian dan Malika..
-BERSAMBUNG-
πΉ Terimakasih atas kesetiaan para readers menunggu author mengupdate bab terbaru novel The ceo's wedding secret ini, mohon maaf atas keterlambatan nya dikarenakan banyak urusan yang harus author kerjakan.
Terimakasih atas dukungan dari kalian dan itu menjadi penyemangat author dalam melanjutkan menulis novel ini, jangan lupa ya untuk selalu vote/like dan komen bijak nya..sekali lagi terimakasih banyak allπ