The Ceo'S Wedding Secret

The Ceo'S Wedding Secret
BAB 55 - MENDAPATKAN BUKTI KEJAHATAN SHEILA



"Kejahatan yang dilakukan bisa saja terencana, tapi kejahatan bisa di gagalkan dengan bukti-bukti yang ada dan dukungan dari orang-orang yang baik pastinya"


๐ŸŒบ Happy Reading ๐ŸŒบ


Seminggu sudah Malika selalu bersama Adrian, ia pun dengan setia menemani Adrian menginap di rumah sakit untuk menjaga sang mertua yang tengah koma. Malika yang menganggap pak Permana seperti ayah nya sendiri pun memperlakukan dan menjaga mertua nya itu dengan sangat baik, beruntung meski sedang hamil namun ia bisa menjalankan aktivitas nya seperti biasa hanya terkadang ia mengalami morning sickness yang tidak terlalu parah dan dapat diatasi dengan baik


"Assalamualaikum, selamat pagi kak" Jihan masuk keruang rawat sang papah


"Waalaikum salam" jawab Adrian dan Malika berbarengan


"selamat pagi juga Jihan" sapa Malika lagi


"Kak Lika dan kak Adrian sudah siap berangkat ke kantor? Ini kebetulan Jihan tadi beli makanan di depan, mendingan sekarang kakak sarapan dulu deh sebelum berangkat ke kantor" ucap Jihan yang menyodorkan dua kotak nasi uduk, ia pun akhirnya mengambil cuti kuliah demi menemani mamah Nadine yang sendirian menjaga sang papah di rumah sakit


"Ya Allah, makasih banyak ya sayang" ucap Malika memeluk Jihan dengan penuh kasih sayang, karna sejak kecil mereka memang dekat


"Sama-sama kak, sebagai aunty yang baik kan nggak mau kenapa-napa dengan kakak ipar dan keponakan ku ini" ucap Jihan


"Alhamdulillah, makasih ya adik kak Adrian yang baik hati ini. sering-sering aja ya" ucap Adrian meledek Jihan


"Ihhh di kasih hati malah minta jantung nih orang, lain kali mah beli sendiri" celetuk Jihan kesal


"Hahaaa, kalau baik jangan nanggung-nanggung donk tante" sindir Adrian


"Please deh kak Adrian, mendingan kakak cepetan makan gih sono terus buruan deh berangkat kerja. lama-lama akoh bisa pusing nih denger ocehan kakak" ucap Jihan bergaya bicara seperti anak alay


"Hahaaaa" Malika dan Adrian pun tertawa geli melihat tingkah Jihan yang lucu itu


"Bisa aja kamu Jie" ucap Malika sambil tertawa


"Cocok banget Jie, kamu kenapa nggak ikutan masuk di acara-acara stasiun tv aja sih? pasti dapet bayaran mahal deh" ledek Adrian


"Terus aja terus, ngeledek aja terus kerjaan nya" ucap Jihan yang kesal, setelah itu pun handphone Adrian pun berbunyi dan tertera nama Pram disana


"Sayang, sebentar mas angkat telpon Pram dulu ya?" ucap nya lalu ia berdiri dari sofa setelah Malika menganggukkan kepala nya dan ia pun keluar kamar rawat untuk mengangkat telpon dari sang asisten pribadi nya itu


"Halo Assalamualaikum, ada apa Pram?" tanya Adrian


"Halo Waalaikum salam mas Adrian, maaf sekarang posisi mas ada dimana?" ucap Pram yang malah berbalik tanya


"Saya masih di rumah sakit Pram sedang sarapan dengan Malika dan Jihan, emang nya ada apa? kamu sudah sampai kantor?" jawab nya


"Kebetulan saya juga masih dirumah mas, nanti setelah mas antar mba Malika ke kantor tolong mas dateng ke cafe Tea and Coffe ya kita ketemuan di sana. ada hal penting yang ingin saya bicarakan mengenai Sheila" pinta Pram sambi melihat jam tangan nya yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi


"Kenapa kita nggak ketemuan di kantor aja Pram?" tanya Adrian bingung


"Pagi ini saya janjian di cafe dengan Jay dan Jun yang mencari bukti-bukti tentang Sheila dan anak nya itu, jadi saya ingin mas pun bertemu mereka serta melihat dan mendengar semua bukti-bukti itu langsung" Pram menjelaskan maksud nya


"Oh seperti itu, oke nanti setelah mengantar Sheila saya langsung meluncur ke sana. Thanks ya Pram, kamu selalu bisa membantu saya" ucap Adrian berterimakasih kepada Aspri nya itu


"Sama-sama mas, itu memang bagian dari kerjaan saya" ucap Pram


"Ya sudah kalau gitu sampai ketemu di cafe Pram, Wassalamualaikum" ucap Adrian lalu menutup telpon setelah Pram menjawab salam nya, lalu Adrian pun masuk kembali kedalam kamar rawat sang papah dan melanjutkan sarapan nya yang sempat tertunda itu


"Kenapa mas, tumben mas Pram telpon pagi-pagi?" tanya Malika penasaran


"Oh itu mas harus ketemu orang penting di luar kantor, dan Pram minta mas nanti menyusul ke sana setelah mengantar istri ku ini ke kantor" jawab Adrian yang tak sepenuh nya berbohong pada sang istri, karna ia tidak mau jika Malika mengetahui bahwa mereka akan melihat bukti-bukti tentang Sheila maka ia akan memaksa untuk ikut, lalu kecapean dan kepikiran karna itu tidak baik bagi seorang ibu yang sedang hamil seperti nya


"Oh gitu, yaudah setelah habis sarapan nya kita langsung ke kantor aja ya mas. kasian nanti mas Pram nunggu nya kelamaan" ucap Malika yang memang tipe orang yang tidak enak kan


"Siap tuan putri" jawab Adrian


"Oh iya, Jihan nggak apa-apa kan kita tinggalin sendirian?" tanya Malika


"Nggak apa-apa kok kak, kalian berangkat aja" Jawab Jihan meyakinkan sang kakak ipar agar tidak khawatir, walau pun sebenarnya ia pun agak takut karena tadi saat menuju ke kamar rawat sang papah ia seperti melihat gerak-gerik mencurigakan dua orang yang seperti sedang mengawasi


"Kamu tenang aja sayang, nggak akan terjadi apa-apa kok" ucap Adrian menenangkan sang istri


"Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya Jie, kalau ada apa-apa kamu langsung kabarin kami" pesan Malika yang tiba-tiba merasa khawatir dengan adik ipar dan mertua nya itu


"Iya kak, hati-hati di jalan ya" ucap Jihan yang kemudian menyalami tangan kedua kakak nya itu lalu mereka pun pergi keluar dan Jihan memilih segera mengunci pintu dari dalam dan hanya membukakannya jika perawat, dokter atau orang yang di kenal nya yang datang


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Adrian melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, berhubung ia merupakan bos atau atasan perusahaan milik sang papah jadi tidak terburu-buru seperti karyawan lain pada umumnya. dan beruntung jalanan pagi ini tidak terlalu macet karena sebagian orang telah berada di tempat kerja nya masing-masing


"Mas, Lika kok tiba-tiba ngerasa khawatir ya sama Jihan dan papah?" ucap Malika yang memang nampak kekhawatiran di wajah nya


"Tenang aja sayang, Jihan dan papah nggak akan kenapa-napa kok" ucap Adrian yakin


"Kok kamu biasa aja sih mas? emang nggak ngerasa khawatir gitu kalau pagi cuma Jihan yang jagain papah sendirian?" tanya nya penasaran


"Inshaallah, nggak akan terjadi apa-apa" ucap nya kembali meyakinkan sang istri


"Soalnya mas udah suruh Pram buat menaruh beberapa orang di rumah sakit, untuk menjaga papah dan kita semua selama berada di sana" akhirnya Adrian menghilangkan kekhawatiran Malika


"Makasih ya udah khawatirin keluarga mas, tapi sekarang Lika udah nggak perlu khawatir lagi inshaallah semua nya aman dan kamu hanya perlu fokus sama kesehatan juga calon baby kita" ucap Adrian sambil mengelus-elus perut Malika yang sudah memasuki usia kandungan empat bulan itu


"Alhamdulillah kalau gitu mas, Lika jadi tenang denger nya" ucap nya


"Ya udah nanti setelah sampai kantor mas langsung pergi aja nyusul mas Pram ke cafe, nggak usah nganterin Lika sampai ke ruangan" usul Malika lagi


"Emang nggak apa-apa Lika langsung mas tinggalin gitu?" tanya Adrian khawatir


"Nggak apa-apa sayang, di kantorkan banyak orang dan security juga jadi mas nggak usah khawatir. lagian Lika kan naik lift bukan lewat tangga jadi nggak akan kecapean juga mas" ucap nya yakin


"Ya udah kalau gitu nanti mas langsung nyusul Pram dan setelah selesai mas langsung balik kekantor terus nemuin Lika buat makan siang bareng" kali ini Adrian yang memberikan usul


"Oke deh" ucap Malika menampilkan senyuman manis nya itu yang sangat di sukai oleh Adrian


Tak berapa lama mobil mereka pun sampai di depan lobby kantor, sebelum turun Malika mencium tangan Adrian dan Adrian pun membalas dengan mencium pipi dan kening Malika


"Hati-hati ya sayang, jangan ngebut-ngebut loh kata ibu-ibu kompleks pamali istri lagi hamil takut kenapa-napa" ucap nya mengikuti gaya ibu-ibu kompleks yang selalu bawel dan percaya akan mitos-mitos yang berkembang


"Hahaha, iya sayang. bisa aja kamu ngikutin mereka, ya udah mas pergi dulu ya Assalamu'alaikum" ucap Adrian yang tak menyangka jika Malika bisa mengikuti gaya ibu-ibu tukang gosip di area rumah keluarga mereka lalu pergi melajukan mobilnya setelah Malika menjawab salam dan masuk kedalam kantor nya


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


"Apa? yang bener loe Pram?" tanya Adrian tak percaya yang kini mereka sudah berada di sebuah cafe tak jauh dari kantor nya


"Benar mas, ini bukti-bukti yang sudah Jun dan Jay kumpulkan. bahkan Jay sampai mendekati pengasuh anak itu, lalu berpura-pura berpacaran dengan nya demi mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya" Pram menjelaskan


"Hebat kamu Jay, kalian benar-benar totalitas dalam mengerjakan semua nya. tapi ngomong-ngomong kamu jatuh cinta beneran nggak Jay sama pengasuh itu, siapa nama nya?" tanya Adrian menggoda Jay


"Ratih, nama nya Ratih tuan" ucap Jay yang malu-malu mengatakan nya


"Jangan tuan, tapi panggil aja mas atau Adrian juga boleh" pinta Adrian yang memang tidak ingin bersikap seperti seorang bos besar


"Oh nama nya Ratih, terus setelah penyelidikan ini selesai rencana nya kamu akan gimana dengan si Ratih ini Jay? masa kamu tega mutusin dia sih?" tanya Adrian yang memang paling hobby mengerjai orang dan Pram pun sudah hafal betul dengan kelakuan atasan nya itu


"Nggak tau juga tuan eh mas, saya masih bingung. dia kan anak buah mba Sheila yang berniat merusak rumah tangga mas Adrian dan mba Malika" jawab Jay ragu


"Kalau dia baik kenapa nggak kamu ajak serius aja Jay? kamu juga kan sudah waktu nya menikah kan? lagian kalau pun bos nya punya kelakuan buruk( Sheila maksud nya) belum tentu juga kan bawahan nya ikut-ikutan buruk juga" ucap Adrian memberi saran


"Iya mas, makasih atas saran nya saya akan pikirkan baik-baik" ucap Jay lega mendengar perkataan Adrian karna ia pun sempat ragu jika ingin melanjutkan hubungan nya dengan Ratih, sebab ia takut disangka berkhianat karna menikahi bawahan musuh keluarga Adrian yang notabene adalah bos yang selama ini membayar jasa penyelidikan mereka


"Tuh denger Jay udah dapet lampu hijau dari bos, jadi lanjutkan. masa hari gini masih ngejomblo aja?" celetuk Jun yang memang sudah menikah dan mempunyai seorang putra


"Ehem ehem" tanpa disadari Jun ucapan nya ternyata menyinggung Pram yang memang masih jomblo itu


"Kamu sih Jun kalau ngomong nggak di saring dulu, tuh ada jomblo yang tersinggung" ucap Adrian yang tertawa sendirian, sedangkan Jun dan Jay tidak berani tertawa karna Pram sudah melototi mereka


"Pram?" tegur Adrian yang mengetahui jika asistennya itu mengancam Jay dan Jun untuk tertawa


"Maaf mas" Pram pun akhirnya mengalah


"Maka nya cepetan cari pacar, jadi kamu nggak gampang tersinggung kalau orang lain ngobrolin masalah percintaan" ucap Adrian memberi usul


"Hadehh, gimana mau nyari pacar. kan gue sibuk ngurusin semua masalah-masalah dia" gumam Pram dalam hati nya


"Tapi semua bukti dan data-data yang kalian kumpulkan ini valid kan?" tanya Adrian kembali meyakinkan


"Inshaallah pasti valid mas, karna kami sudah menelusuri semua nya dan sesuai dengan bukti yang telah kami dapatkan" ucap Jun yakin


"Alhamdulillah kalau gitu, terimakasih atas semua bantuan yang telah kalian berikan selama ini dan sebagai bonus mulai hari senin kalian bisa bekerja di perusahaan kami" ucap Adrian serius


"A-apa mas?" tanya Jun dan Jay tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya


"Jadi menurut penuturan Pram selama ini, kalian lah yang membantu nya menyelidiki semua masalah yang telah menimpa keluarga saya. sedangkan di luar itu kalian hanya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tak menentu, terlebih kamu Jun yang sudah memiliki istri dan seorang anak pasti sangat berat untuk melakukannya ya? jadi sebagai balasan atau penghargaan atas kontribusi kalian selama ini, maka kami berniat merekrut kalian masuk dan jadi bagian dari perusahaan kami" ucap Adrian yang sengaja bertele-tele dan membuat perasaan kedua orang itu tak menentu saat mendengar ucapan nya


"Alhamdulillah" kedua nya mengucap syukur


"Makasih banyak mas Adrian dan mas Pram" ucap Jun dan Jay bergantian menyalami kedua nya


"Gimana seneng nggak denger nya? berkat siapa coba kalian bisa masuk ke Surya Permana grup tanpa tes yang rumit?" tanya Pram yang kini gantian menggoda mereka


"Seneng banget mas, makasih banyak ya mas Pram berkat mas akhirnya kami punya kerjaan tetap" ucap Jay haru sedangkan Adrian hanya tersenyum melihat Pram yang sok bergaya bos di depan Jun dan Jay itu


"Ya sudah kalau gitu, ayo Pram kita kembali ke kantor, terimakasih ya atas kerjasama kalian dan jangan lupa hari senin datang ke kantor kami membawa berkas lamaran" ucap Adrian hendak pergi meninggalkan cafe namun sebelum itu Jun dan Jay kembali menyalami tangan mereka dengan perasaan yang sangat senang, terlebih hari ini mereka mendapatkan dua hal yang sangat membahagiakan. yang pertama hari ini mereka mendapatkan transferan uang dari hasil penyelidikan dan yang kedua akhirnya mereka dapat pekerjaan tetap di sebuah perusahaan jasa terbesar di Indonesia bernama Surya Permana grup..


- BERSAMBUNG -


๐ŸŒนJangan lupa ya para readers untuk selalu memberi vote/like dan komentar bijaknya kepada author, terimakasih banyak atas kesetiaan kalian selalu menunggu update novel The ceo's wedding secret ini.. Thank you all๐Ÿ’