
"Ketika cinta tak lagi menyapa maka rindu akan mendera dan ketika pujaan hati jauh disana maka rasa kangen bergejolak dalam dada"
๐บ Happy Reading ๐บ
"Malika?" ucap Adrian menyangka jika sosok wanita yang keluar dari rumah itu adalah istrinya
"Maaf cari siapa kang?" tanya gadis bernama cempaka itu menghampiri mereka yang tengah berada di depan teras rumah pak Koswara
"Subhanallah, ganteng-ganteng pisan" puji Cempaka dalam hati nya
"Ehm punten neng, akang hayang naros. anjeun terang jalma ieu?" tanya Adrian yang sedikit mengerti bahasa kelahiran sang bunda dengan gaya cool nya
"Oh eta teh, teh Malika nya?" ucap cempaka spontan, saat melihat foto Malika di handphone Adrian yang memang sengaja di perlihatkan pada nya
"Iya bener, kenal neng?" tanya Adrian antusias merasa seperti mendapatkan angin segar
"Aduh maaf kang, tadi jam sembilan pagi teh Malika teh sudah dianter Abah jeung teh Jelita katanya mah mau kembali ke hotel" ucap Cempaka yang akhirnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia meski masih dengan logat sunda nya, karna ia tidak ingin menyulitkan mereka
"Ya Allah, kenapa jadi berselisih jalan gini sih?" Adrian menepuk kepala nya
"Gara-gara loe sih Pram tadi dateng nya kelamaan" ujar Adrian melampiaskan kekesalan nya pada Pram
"Lah kok salah saya mas?" protes Pram yang tak terima dipersalahkan
"Terus menurut kamu ini salah siapa?" ucap Adrian yang menekankan perkataan nya itu
"I-iya deh ini salah saya, maaf ya mas" mau tidak mau Pram akhirnya mengalah, karna sudah sering ia lah yang akan menjadi pelampiasan amarah bos nya itu
"Sudah kang nggak usah berantem, mendingan akang-akang duduk dulu. nanti cempaka coba hubungi Abah" cempaka memberi solusi yang tidak dipikirkan mereka berdua, akhirnya mereka pun menuruti perkataan cempaka dan memilih beristirahat di teras rumah yang bergaya panggung itu
"Oh iya kenalkan saya Pram asisten pribadi pak Adrian suami dari mba Malika, mohon maaf kami jadi merepotkan kamu" ucap Pram yang memperkenalkan diri dengan bahasa baku nya
"Kaku banget sih" celetuk Adrian
"Oh akang teh suami nya teh Malika?" tanya Cempaka
"Iya" jawab Adrian singkat
"Kenalin saya teh Cempaka, anak nya abah Koswara dan ibu Asih pemilik rumah ini" ucap cempaka gadis belia yang berusia 16 tahun itu sambil menyalami tangan Pram dan Adrian bergantian
"Boleh kami numpang istirahat di sini sebentar?" tanya Adrian
"Boleh kang"
"Oh iya sebentar ya kang, cempaka ambil minum dan handphone dulu" ucap cempaka langsung ngeloyor ke dalam rumah sebelum Adrian sempat menolak nya
Beberapa menit kemudian cempaka pun keluar, ia membawa dua gelas besar es teh manis dan cemilan kue kacang di dalam sebuah toples yang dibawa nya dengan nampan
"Silahkan kang di minum, cempaka mau telpon Abah dulu" cempaka pun memilih duduk di tangga depan rumah nya lalu segera menghubungi sang Abah dan Jelita namun handphone mereka tidak aktif, karna sinyal yang kurang baik di sana
"Kenapa Cempaka?" tanya Adrian yang melihat kegelisahan pada wajah mungil gadis itu
"Maaf kang, jaringannya jelek jadi nggak nyambung telpon nya" ucap Cempaka menghampiri Adrian dengan tak enak hati
"Huft, ya udah nggak apa-apa. mudah-mudahan mereka cepat kembali kesini" Adrian menghela nafas karna merasa ada saja ujian nya saat ia sedikit lagi dapat bertemu sang istri
"Kalau begitu akang istirahat saja dulu di dalam, nanti cempaka coba telpon lagi" ucap nya
"Terimakasih ya cempaka, kami tunggu di teras aja adem suasana nya" ucap Adrian
"Sama-sama kang, kalau gitu Cempaka ke dalem dulu ya lanjutin tugas. kalau perlu apa-apa panggil aja" cempaka pun akhirnya meninggalkan mereka dan kembali meneruskan tugas nya di ruang tengah karna ia yang sudah kelas 2 SMA memang masih bersekolah melalui daring atau online
Adrian nampak melihat-lihat suasana pedesaan yang masih nampak asri itu, rumah Abah Koswara memang cukup unik sebenarnya rumah ini sudah termasuk bergaya modern. namun Abah Koswara hanya ditambahkan teras panggung didepan nya, terlebih karna tanah di sini tidak rata dan berundak jadi cocok untuk rumah bergaya panggung seperti ini. Pram yang sudah capek dari semalam pun memilih memejamkan mata nya di bale atau dipan besar yang memang berada di pojok teras, sedangkan Adrian memilih duduk di kursi sambil memainkan gadget nya dan ia pun baru tahu jika ternyata Malika mengirim pesan melalui akun Jelita kakak dari Cempaka sebelum Adrian sempat membalas ada suara salam yang mengagetkannya
"Assalamualaikum" salam seorang ibu paruh baya menaiki tangga panggung rumah itu
"Waalaikum salam" jawab Adrian spontan yang membuat Pram pun terbangun
"Eh ada tamu, nyari abah Koswara nya?" tanya ibu Asih
"Kenalkan saya Adrian suami nya Malika bu, dan ini asisten saya" ucap Adrian memperkenalkan diri sambil bergantian dengan Pram menyalami bu Asih
"Oh ini teh suami nya neng Malika, ya Allah menih ganteng pisan. punten, neng Malika nya udah pergi Jang di anterin si Abah Jeung jelita balik ka hotel" ucap Bu asih yang memuji ketampanan Adrian
"Iya Bu tadi Cempaka sudah cerita, jadi kami minta izin menunggu Malika kembali ke sini" pinta Adrian
"Lah kok Cempaka sudah tahu tapi enteu ngahubungi si Abah nya?" ucap Bu asih dengan bahasa di campur-campur nya karna ia terbiasa menggunakan bahasa daerah
"Sudah Bu, tadi Cempaka sudah nelpon Abah dan kakak nya tapi nggak ada sinyal" jawab Adrian
"Ya Allah Gusti, punten nya Jang di sini teh emang sering begitu maklum nama nya juga di pelosok" Bu Asih kini merasa tak enak hati
"Nggak apa-apa bu, begini saja saya sudah sangat berterimakasih Bu dan Abah mau menolong istri saya" ucap Adrian
"Ya sudah kalau gitu ayo istirahat di dalam" ajak bu Asih
"Nggak usah Bu kita nunggu di sini aja" tolak Adrian
"Ya ampun, masa tamu nunggu nya di luar udah ayo sok masuk ka dalam" bu Asih pun menarik lengan Adrian dan pram untuk masuk kedalam rumah nya
"Sok istirahat di sini aja, ibu mau masak dulu nya di dapur" ujar bu Asih lalu meninggalkan Adrian dan Pram di sofa ruang tamu, sebelum melanjutkan tidur nya Pram berinisiatif mengambil tas dan handphone mereka yang tertinggal di luar karna tadi bu Asih langsung menarik mereka ke dalam rumah dan akhirnya mereka pun tertidur dalam posisi tak nyaman
๐๐๐
Malika, Jelita dan pak Koswara pun hanya bisa menelan pil pahit karna saat mereka telah sampai di Trans Luxury hotel ternyata Adrian dan Pram telah check out. Malika merasa sangat sedih bukan karena merasa di tinggalkan oleh sang suami tapi ia yakin saat ini Adrian tengah khawatir dan panik mencari nya kemana-mana, terlebih handphone nya pun hilang dan segala cara sudah ia tempuh tapi tidak ada titik temu bahkan di saat ia sudah bisa kembali ke hotel mereka pun sudah tidak ada di sana
"Sabar ya teh, sekarang kita kembali ke rumah lagi siapa tahu di jalan kita bertemu suami teteh" Jelita berusaha menghibur Malika
"Iya Ta, teteh cuma khawatir takut mas Adrian bingung kesana-kemari buat nyari kakak" ucap Malika yang semakin terisak tangis nya di pelukan Jelita
"Sudah neng, ayo kita keliling sambil cari suami neng nanti kalau sampai sore belum ketemu juga kita pulang dulu ya ke rumah Abah" ucap Abah Koswara dan Malika pun mengangguk menyetujui nya
"Iya makasih banyak ya bah, Ta. Lika nggak tau kalau bukan karena bantuan keluarga Abah sekarang mungkin Lika jadi kayak apa" ucap nya sedih
"Sama-sama neng, sesama manusia kan harus saling tolong menolong. udah jangan sedih lagi ayo kita cari sama-sama" ajak abah menggiring Malika dan Jelita untuk masuk ke dalam mobil. Mereka pun akhirnya berkeliling kota Bandung hingga malam datang, berharap bisa bertemu dengan Adrian yang ternyata telah menunggu nya di rumah
"Ckiiittttt" bunyi ban mobil di rem mendadak
"Aduuhhh, hati-hati atuh bah" protes Jelita yang kepala nya terantuk daskboard mobil karna ia sedang menghadap belakang, begitu pun juga Malika yang jidat nya membentur kursi depan supir saat tengah ngobrol dengan Jelita
"Maaf ya, itu di depan ada mobil yang sengaja menghalangi jalan kita" ucap Abah menunjuk mobil depan yang ternyata berada dalam posisi melintang di depan mobil Abah Koswara
"Astagfirullah Aladzim, seperti itu mobil Jhon bah. orang yang kemarin nyulik Lika" pekik Malika mulai panik dan gemetaran menggenggam kedua tangannya
"Yang bener teh, gimana bah?" tanya Jelita yang ikut panik
"Tenang-tenang kita jangan panik, nanti Abah coba hadapi mereka dulu terus Jelita hubungi mang Asep karna ini sudah masuk wilayah kita mereka pasti akan cepat datang menolong" ide Abah Koswara yang memang jeli membaca situasi, beruntungnya sekarang mereka sudah berada di kampung sendiri dan hanya berjarak kurang dari 1 kilo meter dari rumah
"Brak brak brak, turun kalian" Jhon menggedor pintu mobil abah
"Cepat turun, atau gue hancurkan kaca mobil loe" ucap Jhon yang sudah emosi bersama lima penjahat lainnya karna mereka masih bertahan di dalam mobil, Abah pun akhirnya memilih turun dari mobil setelah sebelumnya Jelita dan Malika menahan nya
"Bismillah, inshaallah Abah nggak akan kenapa-napa" ucap Abah mengenakan kedua nya
"Ceklek, ada apa kalian menghadang mobil saya?" tanya Abah Koswara lantang setelah turun dari mobil nya dan kesempatan ini dimanfaatkan Jelita untuk menghubungi mang Asep
"Jangan pura-pura deh tua b*ngka, cepet serahin Malika kalau loe nggak mau gue bikin babak belur" ancam Jhon
"Mohon maaf, Malika kini jadi tanggung jawab saya. jadi kalau kalian ingin membawa nya hadapin saya dulu" tantang Abah Koswara
"Hahahaa, sok jagoan banget nih aki-aki" Jhon meremehkan Abah
"Nyari mati dia bos"
"Udah hajar aja bos, kita bikin patah tangan dan kaki nya biar kapok" timpal anak buah Jhon bergantian
Jhon yang berperawakan tinggi, dengan badan kekar bak binaragawan pun melayangkan tinju nya ke arah Abah Koswara namun bisa dihindari. Jhon pun makin geram karna beberapa pukulannya bisa lolos dan tidak mengenai tubuh Abah sama sekali, dia pun menyerang Abah dengan membab* buta namun kini Abah bisa menangkisnya dan malah pukulannya mengenai perut Jhon hingga ia tersungkur
Anak buah Jhon pun bersamaan menyerang mereka dan Abah pun berusaha tetap tenang dengan menangkis dan sesekali membalas pukulan mereka, meskipun Abah dulu nya seorang jawara dan menguasai silat dengan baik namun usia yang sudah tak muda lagi pun menjadi faktor yang mempengaruhi tenaga dan kecepatan pukulannya hingga beberapa kali Abah pun terkena pukulan mereka yang berani nya keroyokan melawan orang tua seperti Abah Koswara ini
"Ya Allah Abah" teriak Jelita yang emosi kini nekat turun dan membantu sang ayah memukul para penjahat itu, tak sia-sia dari kecil Abah melatih Jelita dan Cempaka ilmu silat sebagai bekal menjaga diri saat harus menghadapi situasi yang tidak baik. bantuan Jelita lumayan membuahkan hasil, ia bisa menumbangkan dua orang anak buah Jhon namun kini ia pun terdesak karna mulai kehabisan energi. saat anak buah Jhon menghadapi Jelita dan Abah Koswara, Jhon pun mengambil kesempatan untuk memaksa Malika keluar dari mobil
"Tolong-tolong, auuu sakit. lepaskan, lepaskan saya Jelita, Abah" Malika berteriak saat Jhon memaksa menarik pergelangannya keluar dari mobil
"Bugh bugh" satu pukulan dan tendangan melayang mengenai wajah Jhon serta perut nya, hingga membuat nya pun jatuh terpental
"S*tan, berani-berani nya loe halangin gue" maki Jhon
"Jangan coba-coba loe sentuh istri gue dengan tangan kotor loe itu" ternyata Adrian yang datang menolong Malika bersama beberapa warga dan Pram yang telah menghajar para penjahat itu, Adrian pun beberapa kali menghadiahkan bogem mentah nya ke wajah dan perut Jhon hingga babak belur
"Bak, bugh, bak, bugh" Adrian menghajar Jhon
"Mas, alhmdulillah makasih mas" ucap Malika yang refleks memeluk Adrian setelah sang suami selesai menghajar Jhon
"Maaf ya sayang, hampir aja mas datang terlambat" ucap Adrian mencium pucuk kepala Malika
"Nggak mas, mas dateng tepat waktu kok" ucap nya menangis haru dan tangan Adrian pun menghapus air mata Malika yang membasahi kedua pipi nya itu
Tak berapa lama mobil polisi pun datang, karna memang sebelumnya Pram telah menyuruh salah satu warga untuk menghubungi polisi terdekat. satu persatu para penjahat itu pun digelandang memasuki mobil polisi yang bersekat kawat itu, kini mereka pun merasa lega karena para penjahat itu sudah tertangkap dan tinggal menunggu informasi penangkapan Sheila yang sebentar lagi akan masuk ke dalam penjara
"Mas kangen sayang" bisik Adrian di telinga Malika
-BERSAMBUNG-
๐นThanks para readers yang tetap setia, mohon maaf jika ada kata yang salah dalam penulisan bahasa daerah nya maklum itu bukan bahasa kelahiran author. jangan lupa ya untuk like/vote dan komen bijak nya.. love u all๐ (tetap semangat menjalankan ibadah puasa)