
"Berhati-hatilah dalam melakukan kejahatan atau perbuatan buruk, karna bisa jadi keburukan itu akan kembali ke diri kita sendiri"
🌺 Happy Reading 🌺
"Pak apa masih jauh rumah sakit nya" tanya Malika khawatir sambil sesekali memainkan handphone nya seperti menghubungi seseorang
"Sebentar lagi nyonya, oh iya ini silahkan di minum agar nyonya tidak dehidrasi karna menangis sejak tadi" laki-laki yang bernama Jhon pun menyodorkan sebotol air mineral kepada nya
"Makasih pak" ucap Malika sambil menerima air mineral itu lalu membuka tutup botol dan meminumnya namun sempat menyembur sedikit karna jalanan yang tidak rata sedangkan Jhon nampak mengamati nya dari kaca spion mobil
"Aduhhh, kenapa jadi ngantuk kayak gini sih?" celoteh Malika yang akhirnya memilih menyandarkan tubuh nya di kursi belakang
"Nyonya, nyonya Malika?" tanya Jhon memastikan Malika sudah tertidur atau belum, dan tidak ada jawaban dari Malika hingga membuat Jhon yakin bahwa kini Malika sudah tak sadarkan diri. ia pun menepikan mobil di pinggir jalan kemudian meraih ponsel nya dan menghubungi seseorang
"Halo bos, target sudah masuk perangkap. sekarang langkah selanjutnya gimana bos?" tanya Jhon
"Apa dia sudah tertidur pulas?" tanya suara dari balik sambungan telpon itu
"Sudah bos, malah seperti nya sudah tidak berdaya" jawab Jhon walaupun sebenarnya Malika masih bisa mendengar percakapan mereka meski setengah sadar
"Hahahaa, bagus kalau begitu. dia mati sekali pun akan lebih baik" suara wanita itu terdengar sangat senang
"Cepat bawa dia ke gudang, kunci di sana dan jangan sampai dia lolos" perintah wanita itu
"Baik bos Sheila, akan saya laksanakan" jawab Jhon segera mematuhi perintah Sheila, John pun memutuskan sambungan telpon dan kembali melajukan mobil nya menuju sebuah gudang yang berada di daerah Dago
sepuluh menit berlalu mobil yang di kendarai Jhon menuju sebuah gudang di perkebunan karet, mereka pun harus melewati jalan sempit dan terjal dengan bukit yang di kelilingi kebun teh di kanan dan kiri nya. Mobil pun mengerem mendadak karna sebuah mobil pick up yang biasa digunakan untuk mengangkut teh menghalangi jalan, Malika yang sempat tertidur karna tadi sempat meminum sedikit air yang tercampur obat tidur pun akhirnya terbangun. samar-samar akhirnya ia pun tersadar dan melihat Jhon keluar mobil dengan perasaan kesal
"Kesempatan" pikir nya, ia pun bergegas keluar mobil dengan hati-hati lalu berlari menghampiri mobil pick up pengangkut teh yang mengangkut beberapa orang karna hendak pulang kerumah nya setelah pekerjaan mereka selesai dengan masih memakai pakaian khas pemetik kebun dilengkapi caping penutup kepala yang diikatkan dileher mereka
"Tolong, tolong pak-bu orang ini ingin menculik saya" teriak Malika menghampiri mobil pengangkut teh tersebut
"Kurang ajar maneh, wani nyulik budak Batur" ujar seorang ibu yang bernama Asih itu yang turun dan memeluk Malika
"Maneh hayang ditempeleng nya?" tanya sang pengemudi yang ternyata suami ibu Asih yaitu pak Koswara turun dari mobil beserta seluruh penumpang lainnya
"Hayo kita hajar, biar kapok jelema" ucap salah satu laki-laki di antara mereka
"Betul juragan, urang kasih pelajaran" timpal salah satu dari mereka dan di setujui semua nya
Jhon yang kaget melihat Malika tiba-tiba tersadar dan berlari meminta pertolongan kepada orang-orang itu pun menjadi panik, tidak mungkin ia bisa melawan lima laki-laki dan empat orang perempuan yang berasal dari mobil pengangkut teh itu belum lagi dari kejauhan masih ada mobil pengangkut teh yang terlihat menuju ke arah mereka. sudah pasti jika Jhon meneruskan niat untuk membawa Malika itu akan menjadi kerugian terbesar dalam hidup nya, ia pun memilih untuk kembali ke dalam mobil nya menginjak gas dan memundurkan mobil lalu berbalik arah mencari tempat teraman untuk menghubungi Sheila dan terdengar sorakkan dari orang-orang itu yang kecewa belum sempat menghajar Jhon tapi ia keburu labur melarikan diri
"Parantos, hayo urang balik" ucap juragan Koswara yang mengajak mereka semua kembali naik mobil dan mereka pun menuruti semua ucapan sang juragan
"Hayu neng, naik ka mobil" ajak ibu Asih, Malika pun akhirnya menaiki mobil pick up itu di samping kemudi dengan berdesakan dengan bu Asih yang berada di samping pintu. sebenarnya ini bukan kali pertama Malika naik mobil pick up, dulu zaman masih sekolah ia pun pernah ikut teman laki-laki nya iseng ikutan nebeng bersama mereka walau pun sebenarnya ia punya ongkos pulang. tapi karna sikap nya yang memang tomboy dan setia kawan, uang nya pun ia traktir untuk beli minuman dan jajanan setelah mereka turun dari mobil Berutung sang ayah tidak mengetahui nya kalau tidak ia pasti kena hukuman membersihkan toilet rumah selama seminggu. masa-masa sekolah memang benar-benar tak terlupakan dan penuh keseruan ya, namun nebeng mobil itu tidak bagus juga untuk dicontoh karna bisa membahayakan jiwa kita dan orang lain
"Neng saha nami na?" tanya bu Asih
"Pakai bahasa Indonesia atuh bu, si neng mana ngerti" celetuk pak Koswara
"Eh iya bah, ibu sampai lupa" ucap bu Asih, sebenarnya Malika sedikit mengerti tapi ia hanya tersenyum mendengar percakapan Bu Asih dan pak Koswara itu
"Neng nama nya siapa dan asal nya darimana?" tanya bu Asih dengan bahasa Indonesia namun masih kentara dengan logat sunda nya
"Nama saya Malika, saya berasal dari Jakarta bu-pak" jawab Malika segan
"Oh dari Jakarta, kumaha eh maksud nya gimana sampai di culik gitu neng" tanya Bu Asih lagi penasaran
"Tadi laki-laki itu datang ke kamar hotel dan bilang kalau suami Lika kecelakaan dirawat di rumah sakit Hasan Sadikin, karna panik saya pun ikut dengan nya. saya sempat menghubungi suami tapi tidak ada jawaban lalu saya whatup asisten suami dan ia membalas agak lama kalau suami saya masih rapat setelah saya berada di dalam mobil laki-laki itu. kalau nggak salah laki-laki itu bernama Jhon, dia kasih saya minum dan saya yang sudah curiga pun hanya berpura-pura meminumnya tapi karna jalanan tidak rata air minum yang sudah diberi obat tidur itu akhirnya tertelan sedikit dan saya pun sempat tertidur dibuat nya" Malika menjelaskan kronologi kejadian awal nya
"Oh gitu, berarti ini sudah di rencanakan ya bah?" tanya Bu Asih kepada sang suami
"Sudah jelas lah bu, buktinya laki-laki siapa tadi nama nya?"
"Oh iya si Jhon bilang suami si neng kecelakaan tapi malah dibawa ke daerah sini, Hasan Sadikin kan udah kelewat dari sini mah atuh ya. sudah pasti direncanakan, Abah usul sih neng lapor ke polisi aja, hayu nanti Abah dan ibu yang anterin" Abah Koswara mengusulkan
"Iya bah, makasih banyak udah bantuin Lika" ucap Malika merasa tertolong karna ia yakin penculikan kali ini Sheila mempunyai maksud yang buruk terhadap ia maupun calon bayi di dalam kandungan nya
"Gimana kalau neng mampir ke rumah ibu dulu? nanti baru kita anterin kembali ke hotel?" tanya bu Asih
"Apa nggak ngerepotin Bu?" Malika sungkan menerima ajakan itu
"Nggak atuh neng, di sana nanti neng ditemani anak ibu nama nya Jelita dan Cempaka" ajak nya
"Makasih ya bu-abah" ucap Malika
"Sama-sama neng" jawab Abah dan Bu Asih hampir bersamaan
"Kalau gitu Lika telpon mas Adrian dulu, biar mereka nggak cemas nyariin Lika" lalu Malika pun merogoh tas mini nya namun tidak mendapati handphone yang ia yakin tadi di bawa nya sebelum pergi bersama Jhon, Malika pun mengingat-ingat dimana tadi ia menjatuhkan handphone nya itu dan ternyata ketika ia sempat pingsan/tertidur ia masih memegang handphone nya saat merekam pembicaraan Jhon dengan Sheila melalui voice note di whatup kepada adrian setelah itu ia tak sadarkan diri.sedangkan handphone masih di genggaman tangan nya, kemungkinan tertinggal di mobil penjahat itu atau terjatuh saat ia keluar mobil dan meminta tolong kepada Abah Koswara dan Bu Asih
"Kenapa neng?" tanya Bu Asih yang melihat Malika seperti orang kebingungan
"Itu bu, handphone Malika seperti nya jatuh" ucap Malika sedih
"Ya sudah kalau gitu sing sabar nya, sekarang neng mampir sebentar ke rumah ibu nanti langsung di anterin Abah dan jelita ke hotel biar suami neng nggak khawatir" bu Asih mengerti kegundahan hati Malika
"Iya bu" ucap Malika yang masih dengan berbagai pikiran jika Adrian pulang dan tak mendapati Malika di kamar hotel, ia takut sang suami akan khawatir
🍁🍁🍁
Pram masih merasa aneh dengan chat yang beberapa jam lalu di kirim Malika, bagaimana mungkin ia menanyakan keadaan suami nya sedangkan Malika tahu bahwa Adrian dan Pram sedang mengadakan rapat penting.
Malika : "Mas Pram bagaimana keadaan mas Adrian? kenapa kalian susah di hubungi?"
Pram : "Mas Adrian baik-baik saja dan sudah memakan sarapan nya. sekarang kami sedang berada dirapat penting"
Pram pikir Malika menanyakan keadaan Adrian apa sudah memakan sarapan yang tadi di siapkan nya atau belum, karna mereka memang bangun agak kesiangan setelah Adrian melancarkan aksi nya semalaman hingga jam 2 subuh. Malika pun berinisiatif membuatkan roti oles selai dan susu coklat panas dalam tubler untuk Adrian, karna kemarin setelah berjalan-jalan ia sempat berbelanja roti tawar dan selai coklat serta susu untuk cemilan nya malam hari maklum bumil kadang suka lapar dan tak ingat waktu. namun setelah Pram membalas chat nya Malika pun tak kunjung membalas hingga saat ini, ia pun mencoba menghubungi Malika tapi tak diangkat
"Baiklah terimakasih atas partisipasi dari anda semua, saya rasa rapat nya cukup sampai di sini dan bulan depan kita kembali mengadakan rapat di kantor pusat yang nanti jadwal nya akan di atur oleh sekertaris saya, dan Jangan lupa untuk datang nanti malam ke acara perjamuan perusahaan kita. terimakasih, wassalamu'alaikum" tepuk tangan pun bergema saat Adrian akhirnya menutup rapat bulanan para pemegang saham karna telah mencapai kesepakatan bersama dalam kelancaran program yang di canangkan nya, dan satu persatu para pemegang saham pun menjabat tangan Adrian dan kembali ke penginapan mereka masing-masing
"Ada apa Pram?" tanya Adrian yang sejak tadi melihat Pram sibuk menelpon saat diri nya menutup rapat
"Maaf mas, saya tidak fokus tadi karna masih memikirkan mba Malika yang sempat menghubungi dan mengirim chat aneh" ucap nya yang nampak ragu karna takut Adrian akan salah paham jika diri nya menelpon Malika
"Maksud kamu aneh gimana?" tanya Adrian tak percaya, lalu Pram pun menyerahkan isi chat yang di kirimkan Malika dan ia pun sependapat dengan Pram, ia pun bergegas mengeluarkan ponsel dari dalam saku nya sudah pasti jika ada hal penting sebelum menghubungi Pram sang istri akan menghubunginya terlebih dahulu. dan Malika hanya mengirim sebuah voice note kepada Adrian, ia pun membesarkan volume suara karna di ruang itu hanya tinggal mereka berdua
Betapa kaget nya Adrian dan Pram mendengar suara yang dikirimkan Malika berisi percakapan Sheila dan seorang pria, walaupun suara Sheila tak terlalu terdengar tapi laki-laki itu sudah jelas menyebut nama nya dan mereka telah merencanakan sesuatu kepada Malika
"Astagfirullah Aladzim, Malika dalam bahaya Pram" Adrian segera mengantongi handphone dan mereka pun segera merapihkan berkas-berkas karna ini bukan ruang kerja mereka yang seenak nya dapat mereka tinggalkan begitu saja, walaupun ini masih perusahaan Adrian tapi berkas-berkas penting ini jangan sampai jatuh ke tangan orang lain karna bisa merugikan perusahaan. setelah selesai Adrian serta Pram pun bergegas keluar kantor cabang kemudian menuju parkiran dan mengendarai mobil mereka mencari keberadaan Malika
Pikiran mereka berdua seolah entah kemana, terlebih Adrian yang sibuk menghubungi sang istri namun tidak kunjung diangkat, untuk memastikan segalanya mereka pun sepakat menuju hotel terlebih dahulu berharap jika Malika berada di sana dan baik-baik saja. namun sungguh di sayangkan Malika tidak berada didalam hotel, Adrian pun berinisiatif untuk mencari Malika dengan melacak gps Malika dan mereka mendapatkan titik handphone Malika berada di daerah Dago yang ditempuh dengan jarak setengah jam menurut petunjuk aplikasi peta tersebut
Adrian teringat jika dirinya pun menaruh alat pelacak pada cincin pernikahan mereka dan ia berharap itu masih berfungsi, jadi ia mencoba melacaknya lewat laptop yang ia bawa dan ternyata posisi cincin Malika berada ditempat yang berbeda. akhirnya Adrian mengambil kunci mobil diatas nakas, karna memang tadi ia pergi ke perusahaan menggunakan mobil Pram lalu mereka pun segera mencari keberadaan Malika dengan mengikuti petunjuk yang didapatkan
"Kita berpencar ya Pram, siapa tahu ini jebakan dari Sheila dan loe harus hati-hati karena dia perempuan yang sangat licik" ujar Adrian mengingatkan Pram saat mereka berada di depan lobby hotel untuk mengendarai mobil mereka tanpa harus ke parkiran atau menggunakan jasa paket parking karna hotel ini memang menyediakan VIP parking bagi tamu khusus
"Baik mas" ucap Pram dan kemudian mereka pun mengendarai mobil masing-masing dengan tujuan yang berbeda, semoga Malika dapat segera ditemukan itu lah doa yang sama-sama mereka ucapkan dalam hati..
- BERSAMBUNG -
🌹 Alhamdulillah, bagaimana para readers lancar puasa nya? semoga di bulan Ramadhan ini kita selalu diberi kesehatan, panjang umur, Rizky yang banyak dan selalu diberi kebahagiaan dengan apa pun keadaan yang sekarang kita jalani saat ini. aamiin🤲
Jadi jangan patah semangat dan terus melanjutkan hidup walau dengan perjuangan yang sangat keras ya readers, terimakasih banyak kalian masih setia menunggu kelanjutan novel The ceo's wedding secret yang memang on going ini. semoga kalian suka dengan alur cerita yang author buat dan jangan lupa untuk selalu like/vote dan komen bijak nya ya..selamat berpuasa bagi yang menjalankan💐🥰