The Ceo'S Wedding Secret

The Ceo'S Wedding Secret
BAB 68 - CERITA CINTA JIHAN DAN ASHYA



"Tuhan menciptakan manusia berpasangan-pasangan, bahkan banyak diibaratkan jika wanita terbuat dari tulang rusuk laki-laki yang akan menjadi suami nya kelak. Dan semua yang terjadi bukan karena kemungkinan tapi karna tuhan telah mengatur takdir seluruh makhluk ciptaan nya"


๐ŸŒบ Happy Reading ๐ŸŒบ


"Shya, kok ngelamun? mikirin apa sih?" tanya Ibrahim sang kekasih yang biasa di panggil Ibra itu


"Oh, nggak mikirin apa-apa kak ibra. sudah selesai ke toilet nya kak?" tanya Ashya yang nampak menutupi kegundahan hati nya setelah Ibra kembali dari toilet hotel tempat diselenggarakan nya acara perusahaan Ibra sedangkan Ashya memilih menunggunya di dalam mobil


"Kamu kenapa sih Shya? nggak kayak biasa nya kamu begini?" tanya Ibra lagi penasaran, melihat tingkah Ashya yang biasa nya ramai dan ceria kini tiba-tiba mendadak pendiam seperti memikirkan sesuatu


"Nggak kayak biasa nya gimana sih kak? Ashya gi mikirin tugas dari dosen aja kok dan besok harus segera dikumpulkan" jawab nya yang tidak sepenuh nya berbohong, karna ia memang mempunyai tugas yang harus segera di selesaikan namun ada hal yang lebih mengganjal dalam pikiran nya yaitu mengenai Amara yang mencintai Ibrahim walaupun Ibrahim hanya menganggap nya sebagai teman kerja


Flashback ke belakang Amara adalah rekan sekantor Ibra dan dulu mereka satu sekolah saat di tingkat menengah atas, namun Amara yang melanjutkan sekolah ke Australia sedangkan Ibrahim kuliah di universitas negri ternama dan merupakan kakak tingkat Ashya di kampus nya. Ternyata Amara telah lama mencintai Ibra, namun Ibra seperti cuek dan dingin terhadap nya yang selalu berpenampilan seksi juga modis bak sosialita tanah air itu. Amara pun di buat kecewa saat Ibrahim membawa Ashya di acara ulang tahun kantor mereka tadi dan ia perkenalkan sebagai kekasih nya, nampak sekali raut wajah kebencian yang di tampilkan nya saat Ashya mengulurkan tangan memperkenalkan diri. bahkan di saat Ibrahim memberi sambutan ke podium sebagai perwakilan marketing Amara sengaja mendekati Ashya dan berkata yang tidak enak tentang hubungan mereka


"Kalian sejak kapan kenal?" tiba-tiba Amara duduk di kursi yang tadi di tempati Ibra, sambil bergantian menatap nya dan Ibra seperti memberitahu maksud dari pertanyaan nya itu


"Oh, kami kenal sejak kak Ibra masih kuliah. kebetulan kak Ibra itu kakak tingkat saya di kampus mba" Ashya berusaha menjawab sebiasa mungkin, walaupun ia tahu pandangan Amara tengah mengintimidasi nya saat ini namun ia tetap berusaha melihat ke arah Ibra sambil sesekali ikut bertepuk tangan mengikuti para hadirin yang lain padahal ia tidak fokus dengan apa yang di katakan sang kekasih di atas podium sana


"Oh jadi Ibra itu kakak tingkat loe? dulu gue juga satu SMA sama Ibra dan kami berpisah saat melanjutkan kuliah, dan ternyata tuhan mempertemukan kami kembali di perusahaan ini" Amara berkata ambigu sengaja membuat Ashya agar mencurigai nya dan Ibra dulu mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman, namun Ashya yang paham betul maksud Amara mencoba tak terpancing


"Alhamdulillah, kalau gitu mba jadi lebih nyaman bisa bekerja dengan teman lama donk. kalau saya jadi mbak Amara sih pasti seneng banget bisa bekerja dengan teman jadi lebih gampang menyesuaikan diri" Ashya berpura-pura polos dan lugu


"Yah itulah takdir tuhan, dan gue rasa Tuhan punya maksud lain dengan mempertemukan kami kembali" ucapan Amara semakin memancing Ashya


"Maksud mba?" Ashya masih tetap bersikap lugu


"Seperti nya kami berjodoh, dan gue yakin lambat laun hubungan loe dan Ibra akan kandas seperti pacar-pacar sebelum nya" bisik Amara yang kemudian pergi karna melihat Ibra sudah selesai memberikan sambutan nya dan alhasil membuat Ashya hanya tertegun tak membalas ucapan Amara, Ibra pun nampak tersenyum ke arah nya dan Ashya yang mencoba menutupi kegundahan hati nya pun hanya membalas senyuman Ibra


"Gimana sayang sambutan kakak tadi?" tanya Ibra setelah kembali duduk di kursi nya


"Oh, iya bagus kok kak" Ashya berusaha menutupi kegundahan nya, ia pun mencoba bersikap biasa seperti sebelum nya dan menikmati makanan dan pesta yang sedang berlangsung namun pikiran nya entah kemana memikirkan perkataan-perkataan Amara pada nya


"Pacar-pacar kak Ibra sebelum nya? emang kak Ibra punya berapa pacar sih? apa dia termasuk seorang player, tapi nggak mungkin ah" banyak tanya yang berseliweran di kepala Ashya terutama saat ia di dalam mobil menuju pulang kerumah, hingga akhirnya pertanyaan Ibra tadi membuyarkan lamunan nya


"Ehmm, kak Ibra dan mba Amara dulu satu sekolah ya?" Ashya mencoba memberanikan diri mencari informasi seberapa dekat nya hubungan mereka


"Oh dengan Amara, iya kakak dulu satu SMA sama dia tapi pas lulus kita kuliah masing-masing. emang nya kenapa sayang? tumben nanyain kayak gini?" Ibra mengelus kepala Ashya dengan lembut menggunakan tangan kiri nya sedangkan tangan yang satu nya lagi mengendalikan kemudi


"Nggak apa-apa kan kak kalau Ashya pengen tau aja masa-masa sekolah Kaka dulu?" Ashya mencari alasan


"Iya nggak apa-apa sih, tapi tumben aja. biasa nya kamu tuh paling cuek dengan kakak dulu berteman dengan siapa, bagaimana lah tapi sekarang tiba-tiba aja nanyain Amara" ucap Ibra yang merasa aneh dengan sikap Ashya semenjak pulang dari pesta perayaan ulang tahun kantor nya tadi


"Ck, di bilangin nggak ada apa-apa kak, cuma pengen tau aja. siapa tahukan dulu kalian pernah punya hubungan jadi Ashya bisa antisipasi kalau misal nya cinta lama belum kelar terjadi" ucap Ashya penuh penekanan pada akhir-akhir kalimat nya


"Hahahaa, kamu ada-ada aja deh Shya?" bukan nya jawaban yang di dapat Ashya tapi malah tertawaan yang keluar dari mulut Ibrahim


"Ishh, ngeselin banget malah diketawain lagi" Ashya menghentakkan kaki nya karna merasa kesal dan cemberut di buat nya, Ibra yang menyadari hal itu pun buru-buru menepikan mobil nya ke sebuah taman kota yang pasti mereka lewati itu


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


"Mau ngapain?" tanya Ashya tak habis pikir dengan sikap Ibra, bukan nya membujuk pacar yang sedang merajuk dia malah membukakan pintu dan mengajak nya ke taman


"Ayo sayang, ikut kakak dulu yuk" ajak Ibra menarik tangan Ashya keluar mobil dan mengajak nya duduk di bangku taman, Ashya pun hanya pasrah dan mengikuti langkah kekasih nya itu. sebenarnya ada perasaan senang saat Ibra mengandeng tangan nya mesra, namun lagi-lagi gengsi mengalahkan segala nya


"Sebentar ya, mas beli minum dulu" Ibra pun menghampiri seorang ibu penjual minuman keliling, ia membeli dua botol air mineral setelah itu kembali duduk di samping Ashya


"Ini sayang" Ibra menyodorkan sebotol air mineral yang di beli nya tadi kepada Ashya


"Ayo donk sayang diminum dulu biar pikiran nya jernih" pinta Ibra setengah memaksa sambil menyerahkan botol air mineral kerangan ashya


"Emang pikiran Ashya lagi kotor gitu?" Ashya kembali tersulut kata-kata yang dilontarkan Ibra, namun ia pun menuruti nya dan meneguk hampir sebagian isi dari botol mineral itu sedangkan Ibra hanya meminum air nya sedikit


"Haus bu?" goda Ibra melihat cukup banyak Ashya meminum air mineral itu, namun Ashya hanya terdiam tak menanggapi. entah karena masih kesal atau malu dengan tingkah nya sendiri


"Sebenarnya kamu kenapa sih sayang?" Ibra mulai bernada serius sambil menggenggam tangan Ashya dan sesekali merapikan rambut sang kekasih yang tertiup angin malam


"Nggak ada apa-apa kok kak" jawab Ashya lirih karna kekesalan Ashya pun mulai mereda, ia merasa tidak adil bersikap barusan kepada Ibra yang memang tidak mengerti dengan maksud dari sikap nya itu


"Apa Ashya sedang cemburu?" tanya Ibra memastikan, namun Ashya hanya menunduk serta diam tak menjawab


"Cemburu sama siapa sayang?" tanya Ibra menangkuo wajah Ashya dengan kedua tangan kanan nya agar bisa melihat wajah cantik sang kekasih yang berpenampilan lain dari biasa nya, memang khusus untuk malam ini Ashya sengaja berbelanja baju dan pergi ke salon untuk merias rambut dan wajah nya karna ia belum mengerti sepenuhnya menggunakan alat-alat make up seperti wanita lain pada umum nya


"Kak Ibra nggak mau loh, saat kebersamaan kita ini terlebih dengan penampilan Ashya yang sangat sangat cantik malam ini rusak karna sebuah kesalah pahaman" Ibra berucap dengan penuh kesungguhan yang dapat Ashya lihat dari kedua manik mata nya itu


"Maafin Ashya kak yang membuat suasana kita jadi tak enak seperti ini" lirih nya membuat Ashya kembali menundukkan wajah nya, mencoba menahan buliran air menetes ke pipi nya


"Nggak sayang, Ashya nggak salah mungkin memang kak Ibra lah yang nggak bisa mengerti maksud Ashya saat ini" Ibra mencoba mengahalau rasa bersalah sang kekasih


"Nggak kak, Ashya yang salah. dan dengan bodoh nya berpikir kalau kak Ibra dan mba Amara itu pernah menjalin hubungan" Ashya pun tanpa sengaja mengungkapkan rasa cemburu nya masih dengan menundukkan wajah nya tanpa memandang Ibra yang nampak kebingungan


"Jadi Ashya cemburu dengan kedekatan kakak dan Amara?" Ibra mencoba menebak dan menerka ucapan Ashya dan hanya di jawab anggukkan


"Ya Allah Shya, mas dan Amara itu hanya teman, rekan kerja dan nggak lebih. dari zaman kami masih sekolah dan sekarang pun kak Ibra hanya menganggap nya seperti itu dan nggak akan berubah" Ibra menarik Ashya ke dalam pelukannya dan perlahan meyakinkan sang kekasih


"Tapi, kata-kata mbak Amara tadi seperti.." Ashya kembali mengingat kata-kata Amara di pesta tadi dan ia baru sadar seperti nya Amara sengaja mempunyai maksud tak baik agar ia dan Ibra bertengkar


"Jadi Amara bicara tak baik tentang kakak dan tentang hubungan kita" potong Ibra yang seperti mengetahui jika Amara berbicara yang tidak-tidak kepada Ashya dan lagi-lagi Ashya pun menganggukkan kepala nya


"Terus Ashya percaya Amara atau lebih percaya kak Ibra?" tanya Ibra yang tiba-tiba memwgang kedua lengan Ashya agar dapat menatap dan mendengar jawaban nya langsung dari mulut sang kekasih


"A-ashya percaya sama kakak, tapi ada perasaan takut kalau ternyata.." buliran bening kembali mengalir dari kedua mata Ashya dan Ibra pun menghapus nya dengan sangat lembut, sebelum Ashya menyelesaikan ucapan nya Ibra pun mencium bibir sang kekasih


"Cup" Ashya pun terdiam kaku mendapat ciuman dari Ibra yang sangat tiba-tiba itu, ia tak menyangka jika ciuman pertama nya itu diambil oleh sang kekasih


"Ihhh, kak Ibra apa-apaan sih" Ashya refleks mencubit bibir Ibra yang membuat kekasih nya itu mengaduh lalu menutup bibir nya yang memang hanya sebentar di kecup oleh Ibra, Ashya pun kembali ngambek dan Ibra kembali di buat serba salah


"Aduh, kok bibir kak Ibra di cubit sih Shya? sakit tau" Ibra mulai protes


"Lagian kak Ibra maen cium-cium aja, ini kan ciuman pertama Ashya" Ashya pun kembali menangis dan menutup wajah nya dengan kedua tangan yang terdengar sangat sedih dan membuat Ibra yang kaget mendengarnya pun merasa bersalah


"Shya, maafin kak Ibra Shya. kakak nggak tau kalau ini ciuman pertama Ashya" Ibra kembali meminta maaf dan mencoba melepaskan tangan Ashya yang menutupi wajah nya, perlahan Ashya pun membuka tangan nya dan Ibra menghapus air mata yang masih mengalir di pipi kekasih yang sangat ia cintai itu


"Maafin kak ibra ya sayang, kakak nggak ada maksud lain tadi nya supaya bikin tangisan Ashya berhenti. tapi malah jadi kayak gini" Ibra mencium kedua tangan Ashya tanpa melepaskannya


"Udah malem, kita pulang yuk kak" Ashya pun bangun dari duduk nya hingga membuat genggaman tangan mereka pun terlepas, Ibra yang masih meras bersalah pun hanya mengikuti kemauan Ashya karna jam di arloji nya telah menunjukkan waktu hampir pukul sepuluh malam sesuai janji nya kepada pak Tama yang akan mengantar pulang Ashya tepat waktu. mobil yang mereka tumpangi pun kembali melaju menuju kediaman Adhitama dan tepat di jam sepuluh mereka pun sampai di depan gerbang rumah Ashya, sebelum Ashya turun Ibra menahan nya dan kembali mengucapkan maaf karena selama perjalanan tadi Ashya hanya diam tanpa mengucap sepatah katapun


"Sayang, maafin kakak ya. kak Ibra janji nggak akan melakukan hal itu lagi tanpa persetujuan dari Ashya" Ibra berniat serius dalam hubungan nya dengan Ashya terlebih Ashya merupakan wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita-wanita yang ia kenal selama ini, bahkan untuk sebuah ciuman sekalipun Ashya masih bisa menjaga nya apalagi dengan kehormatan wanita lain nya sudah pasti akan sangat ia jaga. karna ia tahu jika Ashya menguasai beladiri dan beruntung saja tadi ia hanya di cubit bibir nya dan bukan di tonjok atau di buat babak belur. sesuai janji nya Ibra pun mengantarkan Ashya dan menemui sang calon mertua untuk melapor jika diri nya telah mengembalikan sang putri tanpa kurang sedikit pun terkecuali sebuah ciuman yang telah ia ambil tentu nya tanpa sepengetahuan sang ayah..


-BERSAMBUNG-


๐ŸŒนHai para readers, masih setia menunggu kan? karna beberapa episode kedepannya adalah episode terakhir jadi author akan pelan-pelan ya meng-upload cerita nya agar sesuai dan pas dengan alur dari novel The ceo's wedding secret ini, jangan lupa juga untuk selalu like/vote dan komen bijak nya ya.. terimakasih all๐Ÿ’๐Ÿฅฐ