The Ceo'S Wedding Secret

The Ceo'S Wedding Secret
BAB 30 - AKHIRNYA PAPAH SIUMAN



"Segala hal yang baik datangnya dari sang khalik, sedangkan yang buruk itu datang nya karna perbuatan kita sendiri. karna segala sesuatu nya sudah digariskan namun tergantung bagaimana kita juga yang menentukan jalan"


🌺 Happy Reading 🌺


Sore telah berganti malam dan hiruk pikuk kendaraan sudah mulai berkurang, jutaan manusia telah kembali pulang melepas penat yang dirasakan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. berbeda dengan Malika yang masih setia menemani Adrian menunggu sang calon mertua siuman di rumah sakit, setelah berjamaah menjalankan kewajiban kepada sang pencipta Adrian pun kembali bermanja-manja dengan Malika.


"Makasih ya sayang sudah mau nemenin mas Adri dsni, kamu pasti capek selepas pulang kerja langsung ke sini" Ucap Adrian yang sedari tadi menggenggam erat tangan dan menyenderkan kepala nya dibahu malika, mereka yang tengah duduk disofa ruangan pak Permana dirawat.


"Iya mas, nggak apa-apa kok. kebetulan Lika juga lagi nggak capek jadi kesini deh nemenin mas nungguin paman" jawab nya sambil mengusap wajah Adrian, lalu Adrian mengangkat kepala nya dan memegang tangan Malika serta menatap nya dalam.


Malika merasa aneh kenapa Adrian menatap nya seperti itu, tatapan Adrian yang lembut dan seperti haus akan kasih sayang membuat Malika pun canggung untuk membalas tatapan nya. ia pun menundukkan pandangan berusaha menetralkan rasa deg-degan dalam dada nya saat ini, karna jika berdekatan seperti ini dengan Adrian hati nya sangat senang dan jantung nya akan lebih cepat berpacu dari biasa nya.


Tiba-tiba tangan kanan Adrian memegang tengkuk kepala Malika dan mendekatkan wajah nya beberapa senti ke wajah Adrian. Adrian hendak mendekat kan bibirnya untuk mencium Malika, namun tiba-tiba sang asisten pun datang.


"Maaf mas saya kelamaan" ucap Pram yang nyelonong masuk ke dalam ruang rawat inap pak Permana tanpa mengetuk pintu dulu dengan membawa semangkuk bubur pesanan Adrian untuk sang papah jika siuman dan dua tas berisi pakaian ganti milik Adrian dan pak Permana sedangkan Jihan dan Nadine akan menyusul nya nanti. dan Pram pun harus melihat momen Adrian yang hendak mencium Malika namun seperti nya gagal karena kedatangan nya.


Malika pun refleks mendorong tubuh Adrian karna malu pada Pram yang melihat saat Adrian ingin mencium nya, dan suasana pun menjadi canggung begitu pun dengan Pram yang merasa momen kedatangannya kali ini kurang pas dan alhasil si boss nanti akan sangat marah.


Adrian yang melihat kedatangan Pram saat momen yang tidak pas itu hanya bisa mengusap wajah nya kasar dan menampakkan ekspresi kesal nya kepada Pram yang sudah pasti merasa sangat bersalah itu


"Awas loe Pram" gumam Adrian kesal


"Emm s-sudah malam mas, kalau gitu Lika pulang dulu ya" ucap Malika yang merasa malu dengan apa yang barusan terjadi dan segera mengambil tas nya


"Tunggu dulu Lika, mas antar ya?" Adrian menahan Malika dan menawarkan diri mengantar nya pulang


"Nggak usah mas, Lika bawa motor kok. Lebih baik mas disini aja nunggu paman, nanti kalau paman siuman terus butuh mas adrian kan jadi gampang. Assalamualaikum" tolak Malika yang tersenyum pamit kepada Adrian dan Pram setelah mereka menjawab salam nya dan kemudian ia pun keluar kamar, turun menggunakan lift dan menuju parkiran lalu mengendarai motor nya pulang ke kediaman keluarga Adhitama


🍁🍁🍁


Suasana malam ini terasa mencekam bagi Pram, tidak ada sepatah kata pun yang terucap hanya tatapan sinis yang terasa menusuk jantung nya. Kini Adrian tengah menatap nya tajam semenjak kepergian Malika, nampak sekali raut wajah kesal dan kecewa yang dirasakan Adrian dan itu tidak bisa ia jelaskan kepada seorang jomblo macam Pram yang hanya memprioritaskan adrian dan pekerjaan nya saja.


"Puas sekarang kamu Pram?" tanya Adrian


"M-maaf mas, tadi saya benar-benar tidak sengaja" ucap Pram menyesal kenapa ia harus terlibat masalah seperti ini, seharusnya tadi ia ketuk pintu dulu dan tidak ceroboh. alhasil nanti Adrian bisa uring-uringan seharian kepada nya


"Bilang aja kamu iri" sindir Adrian


"Iri mas? m-maaf mas tapi saya be.."


"Udah nggak usah ngelak deh, kamu ngiri kan kalau sekarang saya sudah punya calon istri dan sebentar lagi akan menikah sedangkan kamu masih jomblo. jadi kamu seneng kan sudah bisa menganggu momen ku dengan Malika" ucap Adrian yang masih kesal jika mengingat yang terjadi tadi


"Sekali lagi saya minta maaf mas" ucap Pram walau pun memang bukan kesalahan ia sepenuhnya, lmdalam benak Pram ia tak habis pikir ada-ada saja tuan nya ini ayah nya sedang terbaring tak sadarkan diri dia malah mencari-cari kesempatan mencium nona Malika. dasar kalau orang yang tengah kasmaran bisa seedan itu ya tanpa melihat tempat serta kondisi saat ini, maka nya Pram lebih memilih fokus bekerja dan tak memperdulikan apa itu cinta. karna bagi Pram prioritas utama nya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Adrian harus sesuai yang diinginkan dan pekerjaan adalah hidup nya.


Belum selesai interogasi Adrian kepada Pram tiba-tiba pak Permana mengigau dan memanggil-manggil mamah atau sebutan untuk Nadine dalam mimpi nya


"Mah, mah jangan tinggalin papah mah"


"Mah, mamah papah nggak mau kehilangan lagi mah, mamah jangan pergi dengan nya" igau pak Permana


Adrian dan Pram yang melihat itu pun segera menghampiri pak Permana, Adrian pun mencoba membangunkan sang papa agar sadar dari igauan nya.


"Pah, papah bangun pah. Ini Adri pah" ucap Adrian sambil menepuk pelan lengan sang papah, berupaya membangunkan nya. kemudian Adrian pun menyuruh Pram untuk memanggil dokter langsung, karna ia tidak sabar sedangkan mereka sudah memencet tombol Nurse call beberapa kali namun suster maupun dokter belum juga datang.


Pram yang baru keluar dari pintu kamar rawat pun langkah nya terhenti, karena ia melihat dokter dan perawat tengah berlari menuju kamar rawat pak Permana saat ini. Dokter pun masuk kekamar rawat dan suster menyuruh Adrian maupun Pram untuk menunggu di luar.


Adrian merasa panik karena sang papah tadi tidak merespon panggilan nya dan masih memejamkan mata sedangkan mulut nya tetap meracau memanggil Nadine agar tidak meninggalkannya seperti orang yang sangat takut kehilangan.


"Dok, bagaimana keadaan papah saya? apa papah saya sudah sadar dok? dan sekarang bisa kan saya menemui nya?" tanya Adrian yang sangat panik dan ia pun sama merasa takut kehilangan, terutama pak Permana adakah orang tua satu-satunya yang saat ini ia miliki


"Tenang mas Adrian, Alhamdulillah papah mas baik-baik saja dan beliau sudah siuman. silahkan mas boleh melihat beliau tapi mohon maaf saya sarankan jangan di ajak bicara banyak-banyak ya mas dan jangan mengatakan hal-hal yang membuat nya syok" ucap dokter yang bernama Calvin itu memperingatkan Adrian


"Baik dok, dan terimakasih banyak" ucap Adrian sembari menjabat tangan dokter Calvin yang seperti nya seumuran dengan nya itu


"Sama-sama mas Adrian, memang sudah kewajiban saya dan panggil saja saya Calvin karna seperti nya kita seumuran" ucap dokter Calvin


"Baik Calvin, semoga kita bisa berteman baik dan panggil saya juga Adrian tanpa embel-embel mas" ucap Adrian tersenyum


"Inshaallah mas, maaf maksud saya Adrian" jawabnya lagi


"Kalau begitu saya permisi dulu untuk mengecek kondisi pasien lain, senang berteman dengan anda" ucap dokter Calvin dan dibalas senyuman oleh Adrian, lalu ia pun pergi melanjutkan pekerjaan nya sedangkan Adrian segera masuk keruang rawat sang papah di ikuti Pram yang sedari tadi berada tak jauh dari nya


"Pah, papah" dan pak Permana pun menoleh ke arah suara Adrian yang kemudian menggenggam tangan sang papah


"Iya dri" ucap nya lirih


"Papah makan dulu ya?" tanya Adrian


"Nggak Dri, papah lagi nggak nafsu makan" jawab pak Permana


"Pah, papah nggak boleh gitu. makan sedikit aja ya sebelum minum obat, emang nya papah mau begini terus? sebentar lagi Adrian akan menikah dan papah harus sehat ya" bujuk Adrian


"Iya Dri papah mau makan, tapi sedikit aja ya" pinta nya


"Nah gitu donk, kebetulan ini bubur yang dibawa Pram buatan bi Ani pah. tapi sudah agak dingin karna Pram membawa nya kelamaan" Adrian pun menyuapi sang papah sambil menyindir Pram dan Pram pun refleks menggaruk tengkuk nya yang tak gatal karna merasa serba salah


"Maaf tuan" ucap Pram


"Nggak apa-apa Pram, terimakasih kamu sudah dibuat repot adrian sampai malam begini belum pulang" ucap pak Permana membela Pram


"Yah itukan termasuk kerjaan nya juga pah, jadi wajar aja dia masih disini" ucap Adrian sinis karna sang papah malah membela Pram, dan benarkan Adrian masih saja uring-uringan dengan Pram karna masalah tadi.


"Gimana rasa nya pah, apa papah sudah merasa baikan?" Adrian menanyakan keadaan sang papah saat ini yang hanya memakan beberapa suap bubur saja lalu meminum obat nya


"Masih sedikit sakit disini Dri dan kepala papah juga masih agak pusing" ucap Permana menunjuk bagian dada dan kepala nya yang masih dirasa sakit


"Ya sudah sekarang papah istirahat aja dulu" pinta Adrian


"Mamah Nadine dan Jihan mana Dri?" tanya sang papah yang mencari-cari keberadaan mereka karna dari awal ia bangun mereka tidak ada


"Oh Tante Nadine dan Jihan, mereka masih di rumah pah mengganti baju dan sebentar lagi juga akan sampai" ucap Adrian yang tidak mau sang papah khawatir


"Masalah Anthonius Dri.."


"Nanti aja kita bahas nya ya pah, yang penting sekarang papah istirahat dulu" ucap Adrian memotong pertanyaan sang papah mengenai Anthonius, karna ia tidak mau jika sang papah kepikiran dan membuat nya kolabs lagi


"Ya udah papah istirahat dulu ya Dri, kamu dan Pram pulang saja kerumah nanti biar mamah dan Jihan yang temani papah disini" pinta sang papah dan Adrian pun menuruti permintaan sang papah untuk pulang kerumah setelah Jihan dan Tante Nadine datang untuk menemani papah malam ini..


- BERSAMBUNG -


🌹Thank you atas semua suport, like/vote dan komen bijak dari para readers, oh ya ada pergantian cover untuk novel ini ya readers jadi jangan lupa untuk selalu menunggu kelanjutan author dalam menulis kelanjutan cerita the Ceo's wedding secret ini ya.. love u all πŸ’