
"Tuhan pasti punya maksud lain dari setiap cobaan/ujian yang kita hadapi, karena hakikat nya setiap manusia pasti akan selalu menghadapi setiap ujian dalam hidupnya dan hanya akan bisa berhenti ketika kehidupan pun berakhir. jadi pergunakan lah sebaik-baiknya hidup mu agar berguna bagi orang lain terlebih bagi diri mu sendiri"
๐บ Happy Reading ๐บ
"Dasar wanita s*al*n, bangun kamu" suara teriakan seketika membangunkan seisi rumah Abah Koswara
"Prak prak, bugh. Auu sakit" suara tamparan di susul rintihan Malika kembali mengagetkan semua nya, Adrian yang baru sadar sepenuhnya pun sangat kaget dibuatnya. terlebih ketika melihat wanita yang dicintainya itu tengah mengaduh kesakitan karena dijambak oleh Sheila yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam kamar tamu tempat ia menginap di rumah Abah Koswara itu
"Lepasin aku Sheil, kamu jangan bertindak bodoh" ucap Malika mencoba membujuk Sheila yang tengah ke s*tanan itu
"Diam kamu perempuan j*l*ng" bentak nya
"Sheila, lepaskan Malika" teriak Adrian menahan emosi nya dan satu persatu penghuni rumah pun berdatangan ke kamar itu
"Astagfirullah Aladzim, Aya naon ieu" tanya Abah Koswara yang tak mengerti dengan apa yang di lihat nya
"Minggir kalian, atau kalian ingin melihat Malika mati di sini hah?" ancam Sheila yang berusaha keluar rumah Abah Koswara dengan membawa Malika, seketika seluruh penghuni rumah pun panik pasal nya Sheila membawa sebilah pisau ditangan yang sedang ia arahkan tepat di leher Malika. ujung bibir Malika pun nampak mengeluarkan tetesan darah akibat tadi Sheila sempat menamparnya beberapa kali saat diri nya tengah tertidur pulas
"Aku mohon lepasin Sheil, kita bisa omongin ini secara baik-baik" bujuk Adrian
"Apa kamu bilang, omongin baik-baik? kalau dari awal kamu mau ninggalin dia dan nikahin aku pasti semua nya nggak akan seperti ini. sekarang semua nya udah terlambat, hidup ku sudah hancur jadi kalau kamu nggak bisa jadi milikku, orang lain pun nggak akan bisa miliki kamu Adrian" teriak Sheila dengan nada tinggi meluapkan segala emosi di hati nya
"Aaauu sakit Sheil, lepasin gue" rintih Malika yang mencoba melepaskan tangan Sheila dari rambut nya
"Diam Malika, apa kamu mau mati lebih cepat?" ancam Sheila yang membuat Malika pun terdiam
"Mbak Sheila, tolong lepasin mba Malika. mba Sheila nggak mau kan kalau nanti dapat hukuman yang lebih berat dan nasib anak mba Sheila terlantar jadi nya? jadi saya mohon lepasin mba Malika ya?" kali ini Pram mencoba membujuk Sheila agar mau melepaskan Malika yang masih di sandra nya
"Enak aja loe bilang lepasin, dia ini cewek s*al*n yang selama bertahun-tahun buat Adrian nggak bisa mencintai gue dan karna dia juga yang bikin hidup gue menderita seperti ini" ucapnya penuh penekanan karna telah menahan sakit hati yang sangat lama akibat sikap Adrian yang dingin kepada nya dan ia merasa itu semua karena Malika
Sheila pun melangkahkan kaki nya mundur sambil menyeret Malika keluar dari rumah Abah koswara, kemudian membawa Malika masuk kedalam mobil Adrian yang tadi telah ia ambil di atas nakas dekat tempat tidur sebelum akhirnya menyandra Malika
"Pram cepat ambil kunci mobil kamu" perintah Adrian, dengan cepat Pram pun berlari masuk ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Adrian dan malika. lalu ia pun mengambil kunci nya dan kembali keluar rumah
"Maaf bah, kami akan mengejar Sheila" ucap Adrian pamit sebelum masuk kedalam mobil
"Abah ikut Jang, ibu, jelita Jeung cempaka tunggu di rumah nya sambil berdoa" perintah Abah yang di setujui seluruh keluarga nya lalu ikut masuk kedalam mobil di bagian kursi belakang
"Iya bah, hati-hati ya bah" pesan bu Asih
"Ayo cepet Pram, kita kejar mereka" perintah Adrian
"Baik mas" Pram pun segera menancap gas dengan kecepatan penuh, nampak dari jauh masih terlihat lampu mobil Sheila dan dengan cepat Pram pun mencoba menyusul nya
"Please, Sheila lepasin gue. harus nya loe itu sadar Sheil, kasian anak loe di rumah nungguin loe" ucap Malika
"Kasian loe bilang? kalau emang loe kasian sama anak gue mestinya loe tinggalin Adrian. buat dia kembali berkumpul bersama keluarga yang sebenarnya dan kami pasti bahagia bersama" oceh Sheila tak tahu malu
"Keluarga yang sebenarnya? bahagia bersama? ya Allah smSheila, mas Adrian itu udah punya bukti tes DNA yang asli kalau Sean itu bukan anak nya. dan gue selalu percaya kalau mas Adrian itu nggak pernah mengkhianati cinta nya sama gue" balas Malika yang membuat Sheila seketika terdiam dan berpikir sejenak
"Hahahaa, gimana bisa dia tes DNA sedangkan bertemu sendiri dengan anak gue secara langsung aja dia nggak bisa? gue tahu itu cuma akal-akalan dia doang buat ngeb*d*hin loe" ucap Sheila menampik ucapan Malika
"Sheil, kita kan sama-sama tahu kalau mas Adrian itu laki-laki yang sangat pintar dan punya kekuasaan. biasa nya kalau bos itu nggak akan turun tangan sendiri, karna banyak anak buah nya yang bisa jadi kaki atau tangan nya untuk mencari" ucap Malika
"Gue sangat percaya dengan tes DNA yang dia berikan karna mas Adrian itu jujur serta tulus mencintai gue, dan asal loe tahu walaupun dia berbohong sekali pun gue akan tetap menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia punya. jadi percuma loe ngelakuin hal b*d*h lain nya karna itu nggak akan berdampak apa-apa buat hubungan kami" timpal Malika yang membuat Sheila tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, seketika Sheila pun menghentikan laju mobil nya di tepi jurang dengan hamparan daun teh di sebelah kanan nya
kemudian Sheila menarik Malika keluar, dan memaksa nya untuk ikut. ia membawa Malika menanjak ke atas dengan hamparan kebun teh yang hanya cocok ditanam di dataran tinggi itu
"Loe mau bawa gue kemana Sheil?" tanya Malika yang mulai panik jika Sheila kembali melakukan tindakan yang bodoh
"Gue mau ajak loe menikmati hidup yang sebenarnya" jawab Sheila penuh makna tersirat dari kata-kata nya itu
"Lepasin gue Sheil, loe harus nya mikirin kebahagiaan anak loe Sheil. dia butuh loe" ujar nya lagi
"Gue calon ibu juga Sheil dan gue yakin nggak ada seorang ibu sekali pun yang pengen lihat anak nya menderita. dan sekarang anak loe tu butuh loe Sheil" ucap Malika yakin dengan tatapan tulus nya kepada Sheila
"Bullshit, nggak usah sok peduli loe sama anak gue. yang anak gue butuhin sekarang itu sosok ayah sebagai penyemangat hidup nya dan itu cuma ada di Adrian" Sheila kembali menaikkan nada bicara nya
"Sebenarnya yang butuh mas Adrian itu loe apa anak loe? anak loe itu pasti butuh perhatian dari seorang ibu yang melahirkan nya, dan bukan seorang ibu yang sibuk mencari-cari ayah untuk nya. please Sheila akhiri semua ini, fokus sama anak loe dan jangan ganggu keluarga gue lagi" pinta Malika
"Oke, gue akhiri sekarang sesuai kemauan loe" ucap Sheila yang mengangkat pisau nya dan hendak mengayunkan ke tubuh Malika, Malika pun bertindak cepat berlari meninggalkan Sheila yang terus mengejar nya
Malika sempat terjatuh karena Medan yang menurun dan banyak akar pohon teh dimana-mana serta Susana yang lumayan gelap hingga membuat nya tersandung, Sheila yang kini tepat berada di depannya pun semakin menggila dan beberapa kali menghunus pisau ke tubuh Malika. akhirnya Malika memilih menghadapi nya, ia memang pernah ikut latihan beladiri namun tidak seperti Ashya yang lebih menekuninya karna saat itu ia tengah fokus ujian kelulusan sekolah tapi cukup untuk sekedar menjaga diri dari para preman
Tapi masalahnya kini ia tengah mengandung, jadi tidak bisa leluasa dalam mengambil gerakan terlebih tendangan adalah kemahirannya saat berlatih. ia pun hanya menangkis serangan pisau Sheila, hingga akhirnya ia pun memilih memukul sekali bagian perut namun hal itu membuat Sheila tersungkur tak berdaya dan menjerit kesakitan
"Akhhh" jerit Sheila kesakitan
Malika yang sempat berlari menuruni dasar kebun teh yang curam pun merasa aneh, kenapa Sheila bisa tak berdaya seperti itu sedangkan pukulan nya tidak terlalu besar dan berbahaya. akhirnya berbalik dan mencoba melihat keadaan Sheila
"Astagfirullah Aladzim, Sheila" Malika yang kaget melihat darah ditangan Sheila, karna malam itu cukup gelap dan penerangan hanya pada lampu di pinggir jalan tapi posisi mereka kini cukup dekat ke bahu jalan jadi masih bisa terlihat darah yang mengalir dari perut Sheila. ternyata saat Malika memukul membuatnya jatuh tersungkur, pisau yang ia pegang berbalik menghunus perut nya namun sudah berhasil Sheila cabut dan tergeletak di tanah
Malika pun memapah Sheila mendekati mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada, ia berniat membawa nya ke rumah sakit karna khawatir jika Sheila kekurangan darah maka akan berbahaya bagi nyawa nya. Malika membuka pintu penumpang bagian depan sambil memapah Sheila yang tengah menahan sakit, ia pun mencari-cari baju atau apa pun itu untuk memperlambat aliran darah yang terus keluar dari perut Sheila.
Beruntung Malika menemukan kotak p3k di kursi belakang yang memang telah di siapkan oleh nya di mobil sang suami untuk berjaga-jaga saat Adrian sendiri atau pergi bersama-sama dengan nya yang membutuhkan obat atau pertolongan pertama saat diperlukan, disana ia mengambil alkohol dan menuangkannya di tisu yang memang selalu ada di dashboard mobil lalu menaruhnya ke perut Sheila
"Auu, ssshh" pekik Sheila yang merasa perih dan kesakitan saat luka nya terkena alkohol
"Loe tahan ya Sheil, mudah-mudahan ini bisa menyumbat darah yang keluar" ucap Malika
Belum sempat ia menutup pintu mobil tiba-tiba mobil Pram pun datang, sebenarnya mereka sempat tertinggal karna saat mengejar mobil mereka terhalang lampu merah. beruntung Adrian telah mengatur aplikasi pelacak cincin Malika di handphone nya sehingga tidak perlu menggunakan laptop ia dapat mengetahui keberadaan sang istri
"Sayang, kamu nggak apa-apa" Adrian yang panik pun berlari keluar dari mobil dan memeluk Malika
"Nggak apa-apa mas, tapi Sheila mas.." jawab Malika bingung karena sama-sama panik
"Kenapa Sheila? sekarang dimana dia?" tanya Adrian yang semakin panik melihat noda darah di baju piyama sang istri, begitu pun dengan Pram dan Abah Koswara yang bingung dengan apa yang terjadi karena mereka tidak melihat keberadaan Sheila
"Kita harus buru-buru kerumah sakit mas, Sheila tertusuk pisau diperut nya" ucap Malika membuka pintu mobil Adrian yang belum tertutup rapat
"Astagfirullah Aladzim" hampir bersamaan mereka berucap
"Ayo cepat Jang, kita bawa kerumah sakit" perintah Abah Koswara
"Pram kamu bawa mobil sendiri di depan mencari jalan rumah sakit terdekat, biar Abah dan Malika bareng saya di mobil membawa Sheila ke rumah sakit" Adrian memberi komando
"Oke mas" ucap Pram
"Mas, tapi kita pindahin dulu Sheila di kursi belakang biar posisi nya nyaman dan menhambat darah nya keluar" usul Malika
"Iya benar, tidurkan di kursi belakang saja" ucap Abah menimpali ucapan Malika, saat Adrian menggotong Sheila Malika pun berinisiatif duduk di kursi belakang agar kepala Sheila bisa bersandar di pangkuannya. setelah itu Adrian duduk di kemudi dan Abah Koswara duduk di kursi samping nya, sedangkan Pram segera melajukan mobil nya tepat didepan mobil Adrian sebagai penunjuk jalan sambil menyalakan GPS menuju rumah sakit terdekat
Tak sampai sepuluh menit mereka pun telah sampai di rumah sakit, kini Sheila tengah mendapat penanganan dari tim medis di ruang UGD dan Malika pun berada di ruang perawatan karna tanpa ia sadari ada rembesan darah yang mengalir di kaki nya saking ia fokus menolong Sheila
Adrian tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan sang istri dan calon anak mereka, wajah nya memerah menahan emosi, air mata yang bercampur menjadi satu dengan kepanikan dan rasa cemas yang kini melanda nya
Adrian pun tak henti-hentinya melihat jam yang menunjukkan pukul 2:35 menit berada di atas pintu ruangan rumah sakit, rasa nya waktu berjalan sangat lambat. ia yang masih tak tenang tanpa terasa berjalan lalu duduk kembali dan terus berulang melakukan itu, Abah Koswara yang melihat nya hanya duduk menemani karna mengerti betul kondisi Adrian yang sedang cemas. sedangkan Pram memilih membeli minum sambil menghubungi seluruh keluarga Adhitama dan Permana mengenai kejadian yang di alami Malika saat ini..
-BERSAMBUNG-
๐น Assalamualaikum para readers setia ku, gimana masih lancar puasa nya? Alhamdulillah hari ini author bisa update bab terbaru dari novel The ceo's wedding secret ini karna author sudah libur mengajar. horeeee, sedikit cerita awal nya sih author mikir bisa menjalani semua nya dengan baik di saat Ramadhan tapi ternyata nggak segampang yang author bayangkan, dari mulai nggak bisa tidur cepet karna punya usaha kecil juga dirumah dan my baby sudah mulai bisa berjalan jadi kalau malam nangis karna kecapean jadi author kurang tidur, belum lagi harus sahur dan pagi nya ngajar anak-anak TK untuk home visit karna sekolah kami tidak memberlakukan daring sebab takut anak-anak saat melanjutkan sekolah tingkat sekolah dasar banyak tidak tahu nya. dan siang nya author ketiduran lah, belanja lah dan lain sebagai nya sampai-sampai agak susah buat sekedar berlama-lama memegang handphone.
terimakasih sekali lagi buat para readers yang mengerti dan memaklumi kondisi author saat ini, karna dari awal nya author menulis untuk iseng-iseng mencari kesibukan di saat pandemi tapi kini jadwal mulai kembali normal dan kesibukan semakin padat. maklum yah nama nya juga ibu-ibu dengan segala macam pekerjaan yang harus di kerjakannya dan setiap hari nggak ada habis nya, semangat buat para ibu-ibu hebat..kalian kuarter biasa๐ช๐
Oh iya novel kedua author sudah lulus riview loh, judul nya *Guru BK yang Tampan". semoga novel-novel yang author buat bisa disukai dan menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat khusus nya para ibu dirumah, jangan lupa untuk selalu like/vote dan komen bijak nya ya.. love u all๐