The Ceo'S Wedding Secret

The Ceo'S Wedding Secret
BAB 58 - RENCANA SHEILA



"Ketika kita melakukan sebuah kejahatan, kita juga harus siap dengan konsekuensi yang akan di dapatkan. terutama kita harus siap menerima hukuman yang mungkin akan membuat hidup kita menjadi berantakan"


🌺 Happy Reading 🌺


Sesuai dengan apa yang telah Sheila rencanakan, maka ia pun menugaskan anak buah nya untuk mengawasi pak Adhitama selaku ayah dari Malika. Sheila meminta anak buah nya untuk mengawasi semua jadwal sang mertua Adrian itu dan mencoba mencari celah untuk bertemu dengan nya karna ia tahu jika Adrian sempat bersitegang dengan sang mertua, akhirnya Sheila pun mendapatkan kesempatan saat pak Tama selesai meeting dengan seorang klien di restoran sebuah hotel


"Selamat siang pak Adhitama" sapa Sheila dengan penuh percaya diri ketika pak Tama tengah keluar restoran


"Selamat siang, ada apa kamu menghalangi jalan saya?" tanya pak Tama menampakkan rasa tak suka nya kepada Sheila


"Saya ada perlu dengan pak Tama, apa kita bisa bicara sebentar?" Sheila mencoba mengajak pak Tama berbicara


"Mohon maaf pak Tama sibuk dan" belum sempat Andre yang memang berada di belakang atasan nya itu melanjutkan ucapann nya tapi pak Tama langsung mengangkat tangan kanan nya menandakan agar Andre berhenti berbicara


"Baik, hanya sebentar" ucap pak Tama menyetujui ke inginan Sheila itu


"Tapi pak, dia pasti punya mak..sud"


"Tenang Ndre, dia hanya ingin bicara sebentar dengan ku dan setelah selesai kita langsung pergi" ucap pak Tama yang membuat Andre mau tak mau mengikuti kemauan sang atasan nya itu, walau pun sebenarnya ia merasa akan ada suatu hal yang kurang baik dengan kedatangan Sheila ini


Sheila pun mengajak pak Tama untuk kembali ke restoran untuk berbicara dengan nya, dan pak Tama pun mengikuti nya dari belakang di susul oleh Andre dan ketiga bodyguard Sheila di belakang mereka. mereka pun kemudian duduk di sebuah meja yang kosong tak jauh dari meja tempat pak Tama meeting tadi


"Silahkan kamu bicara, karna waktu ku tak banyak" ucap pak Tama sinis


"Sabar pak Adhitama, bahkan kita baru saja duduk dan belum memesan apa-apa" ucap Sheila mengulur waktu


"Saya tidak haus apa lagi lapar, jadi kamu langsung saja pada pokok pembicaraan" kata-kata Tama barusan menyiratkan bahwa ia tak ingin berlama-lama berurusan dengan Sheila, terlebih ia adalah perusak rumah tangga anak nya sendiri


"Baiklah, saya tidak akan menyia-nyiakan waktu berharga pak Tama ini. jadi langsung saja" Sheila pun memberi kode anggukan kepala kepada sekertaris nya untuk memberikan apa yang ia siapkan sebelum nya dan pak Tama pun sempat bingung dan menerima sepucuk kertas yang kemudian ia baca isi nya dan membuat nya terbelalak


"Kurang ajar, Maksud kamu apa menyerahkan surat ini?" tanya pak Tama emosi


"Saya hanya ingin pak Tama membawa Malika pergi dari sisi Adrian, karna sudah jelas dari hasil tes DNA di surat itu menyatakan bahwa Sean adalah anak biologis dari Adrian dan sebentar lagi kami akan dipersatukan kembali" ucap Sheila penuh percaya diri, pak Tama yang sempat terpancing emosi mencoba menahan diri terlebih Andre yang sama-sama ikut melihat hasil tes itu pun tidak percaya


"Saya rasa ini tidak mungkin pak" ucap Andre yang jelas-jelas yakin dengan perkataan Adrian bahwa ia merasa tidak pernah menyentuh Sheila dalam keadaan sadar, termasuk waktu itu Adrian yang tak sadarkan diri karna seperti nya telah di masukkan sesuatu kedalam minumannya hingga ia pusing dan tak sadarkan jadi bagaimana mungkin saat itu Adrian melakukan hal yang di fitnah kan oleh Sheila


"Apa kamu yakin cinta mereka dapat di pisahkan hanya dengan selembar kertas ini?" tanya pak Tama yang membuat Sheila terkejut dengan reaksi yang di berikan oleh mertua Adrian itu


"Katakan lah jika anak mu itu adalah anak Adrian, tapi bisa jadi kan Malika tetap menerima dan memaafkan Adrian. karna cinta mereka sangat besar dan tulus, lalu bagaimana dengan nasib mu Sheila?" tanya pak Tama mencoba membalikan keadaan


"Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin sudah pasti Malika harus pergi dari kehidupan Adrian. maka dari itu, saya minta agar anda membawa Malika pergi dari sisi Adrian secepatnya sebelum semua nya terlambat" ucap Sheila yang mengandung ancaman pada perkataan nya barusan


"Jangan coba-coba kamu mengancam keluarga ku, jika kamu masih ingin hidup tenang Sheila. kita lihat saja apa yang akan kamu dapatkan, kemenangan mendapatkan Adrian atau malah kekalahan yang malah kamu dapatkan dan mendekam di balik hotel prodeo. saya rasa pembicaraan kita sudah cukup dan kamu pikirkan baik-baik perkataan saya barusan" ucap pak Tama yang berbalik mengancam Sheila lalu meninggalkan restoran bersama Andre menuju kantor nya, sedangkan Sheila merasa sangat marah ternyata tidak mudah untuk memprovokasi mertua Adrian ini. Sheila belum tahu bahwa sebenarnya kedua anak buah Andre telah mengawasi nya bersama ank buah Pram, dan mereka pun telah mendapat bukti-bukti fitnah yang telah ia lakukan terhadap Adrian selama ini jadi sekarang apa pun yang ia perbuat tidak berdampak apa-apa bagi keluarga Adhitama dan Permana


🍁🍁🍁


"Dasar wanita b*d*h, apa yang ia lakukan sekarang sudah pasti tak berguna. mereka bukan orang-orang sembarangan, karna anak buah mereka banyak dan sudah pasti dengan cepat mendapatkan bukti-bukti kebenaran itu" umpat Hillary begitu mendapatkan kabar dari anak buah nya bahwa Sheila telah menemui tuan Adhitama, ia berusaha memfitnah kembali Adrian namun gagal karena Adhitama sudah mengetahui kebenarannya


"Kasian dia, sekarang harus terlunta-lunta demi mendapatkan seorang laki-laki yang pantas di jadikan ayah untuk anak nya. semua ini karna laki-laki s*al*n bernama Anthonius itu, semua orang harus menderita seperti ini karna perbuatan nya. aku harap dia membusuk di penjara" Hillary kembali emosi karna teringat dengan semua fakta yang di kumpulkan sekertaris nya, dan ia benar-benar tidak habis pikir karna banyak sekali kejadian yang tak terduga yang telah di perbuat suami nya itu


"Donny tetap kami suruh anak buah mu untuk mengawasi Sheila, dan segera kabari aku jika ada hal penting lainnya" ucap Hillary


"Baik nyonya" jawab Donny sang sekertaris lalu Hillary pun memutuskan sambungan telpon nya


"Kasian dia, apa aku harus membantu nya?" gumam Hillary


☘️☘️☘️


Jihan izin dengan sang mamah untuk membeli makan siang, karna memang setiap pagi dan siang ia menjaga sang papah dan mamah nya akan datang siang hari nya sedangkan malam ia bergantian dengan Adrian untuk menginap di rumah sakit. Jihan pun menggunakan lift agar lebih mempermudah jalan nya, dan setelah memencet angka lantai dasar pintu lift pun hendak menutup namun sebuah suara memintanya untuk menahan nya


"Tunggu, tunggu" ucap seorang laki-laki berlari di dengan beberapa ibu-ibu dan wanita mengejar nya dibelakang. refleks Jihan pun menekan tombol buka pada lift sedangkan tangan satu nya lagi menahan pintu lift, akhirnya hal itu pun berhasil dan laki-laki itu dapat masuk kedalam lift dengan tergesa-gesa lalu menekan tombol lantai dasar dan pintu lift pun tertutup hingga ia selamat dari kejaran mereka


"hah hah hah, makasih ya loe tadi udah bantu gue" ucap laki-laki itu menatap Jihan dan Jihan pun kaget tak percaya dengan sosok yang di lihat nya ini


"Joe?" celetuk nya


"Iya, makasih ya kalau loe tadi nggak buka lift nya nggak tau deh gue bakal di apain sama pasukan ibu-ibu itu. lagian ngapain sih ibu-ibu arisan pake ngejenguk orang barengan gitu, bikin ribet gue aja" ucap nya sambil mengelap peluh di kening nya


"Ting" lift berbunyi tanda telah sampai di lantai dasar, ia beruntung di setiap lantai lift berhenti tapi tidak ada orang yang naik karna jam istirahat dan rumah sakit agak sepi. Joe pun segera mengenakan masker dan topi hitam nya lalu ia pun segera keluar lift dan Jihan melangkah di depan nya karna masih terpaku dengan apa yang barusan di alami nya


"Itu dia" tiba-tiba suara ramai ibu-ibu tadi terdengar dari lift yang baru saja turun, ternyata mereka mengejar Joe hingga ke lobby rumah sakit dan orang-orang yang berada di sana pun menatap ke arah Joe dan Jihan yang refleks berbalik badan. tanpa aba-aba Joe pun memegang tangan Jihan dan membawa nya berlari keluar menuju parkiran rumah sakit


"Hah hah hah" nafas mereka pun terengah-engah lalu mereka pun membuka masker masing-masing setelah berhenti dan merasa aman dari kejaran para ibu-ibu fans berat nya, Joe pun menelpon asisten nya namun tak ada sinyal


"S*al, pake nggak ada sinyal lagi" umpat nya


Joe pun menatap ke arah Jihan yang masih mengatur nafas, karna tiba-tiba saja ia di tarik oleh Joe untuk ikut berlari bersama nya menghindari kerumunan fans yang mengejar nya.


"Loe siapa?" tanya Joe seperti orang lupa ingatan, bahwa ia lah yang membawa nya ikut terlibat masalah ini


"Apa?"


"Iya, loe siapa?" tanya nya lagi


"Nggak salah nanya nih? Mas kali yang siapa, pake narik-narik orang nggak jelas gitu. sakit tau" Jihan mendengus kesal sambil melepaskan genggaman tangan Joe yang sedari tadi belum di lepas nya


"Gue siapa? emang loe nggak kenal gue, orang-orang tadi aja fans yang berebut minta foto bahkan mungkin dipegang tangan nya sama gue" ucap Joe yang tak menyangka jika Jihan tak mengenal nya


"Bodo amat ah loe mau siapa kek, capek gue dari tadi di tarik-tarik. udah tadi ditolongin sekarang malah nyolot lagi" ucap Jihan yang akhirnya menyadari ia berada dekat di mobil nya karna memang saat ini mereka tengah berada di parkiran rumah sakit, ia pun akhirnya mengambil kunci di tas mini yang dibawa nya lalu membuka pintu mobil nya dan berniat membeli makan di luar rumah sakit aja karna sudah terlanjur di mobil serta berniat tak mau terlibat dengan aktor nyebelin itu


"Siapa yang nyolot? bilang aja loe seneng dipegang-pegang sama artis terkenal kayak gue" ucap Joe menyombongkan diri


"Hah? pede banget nih orang, nyesel gue dulu pernah ngefans sama dia. ternyata asli nya begini, beda banget sama yang diberitakan" keluh Jihan dalam hati


"Gue kerjain aja kali ya biar kapok" gumam nya lagi yang tiba-tiba muncul keisengannya


"Pede banget sih loe, Ibu-ibu nih artis terkenal yang ibu cari ada di sini" teriak Jihan lalu masuk kedalam mobil berniat meninggalkan Joe disana, alhasil membuat Joe pun panik. ia pun segera ikut masuk ke dalam mobil Jihan sebelum di kejar para ibu-ibu


"Woy, ngapain loe masuk mobil gue? turun" bentak Jihan yang kesal karna Joe masuk kedalam mobil nya tanpa izin


"Lagian ngapain loe manggilin ibu-ibu itu? loe sengajakan mau ngerjain gue?" protes Joe


"Emang nya kenapa kalo gue sengaja? masalah buat gue?" ucap Jihan bodo amat


"Masalah nya bukan buat loe, tapi buat gue tau" Joe mulai kesal dengan sikap Jihan


"Terus ngapain loe masuk mobil gue?" tanya Jihan mengintrogasi


"huftt, ya udah gue minta maaf karena bikin loe terlibat" Joe menghela nafas dan memilih meminta maaf pada Jihan demi keselamatan nya dan Jihan hanya diam sambil mengemudikan mobil nya keluar parkiran tanpa menjawab sepatah kata pun


"Woy, gue minta maaf kali" Joe kembali kesal karna merasa di cuekin oleh Jihan yang nampak serius mengendarai mobil nya


"Loe bud*k ya? gue ngomong nggak di tanggepin" teriak Joe sengaja


"Iya gue denger, males gue ngeladenin loe" ucap nya singkat, lalu kembali fokus pada kemudi nya dan ia pun memilih menyalakan musik sengaja menghindari perdebatan yang membuat Joe pun akhirnya terdiam karna bingung harus berbicara apa untuk mencairkan suasana yang terlanjur kikuk itu. sesekali ia pun melirik ke arah Jihan yang masih fokus menyetir dan ia baru menyadari jika gadis yang berada di samping nya ini ternyata sangat cantik, dengan wajah mungil berkulit putih mulus dirias make up natural, hidung nya mancung dan bibir nya yang tipis dipoles lipstik soft berwarna nude dengan bulu mata yang lentik dan panjang walau tanpa bulu mata palsu serta manik bola mata nya yang berwarna coklat membuat nya semakin terlihat cantik ditambah rambut panjang berwarna coklat gelap yang di kuncir ke belakang terlebih ia memakai kaos putih dibalut cardigan maroon dengan celana jeans hitam yang menambah cantik pesona nya


"Turun dimana?" suara Jihan membuyarkan pandangan Joe yang sedang intens menatap nya


"A-apa?" jawab nya salah tingkah


"Loe mau gue turunin dimana?" tanya Jihan lagi yang kini menatap nya


"Ehmm, bisa nggak loe anterin ke apartemen gue?" tanya Joe


"Apartemen loe?" Jihan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar


" Nih orang nggak tahu diri banget ya, udah di tolongin malah ngelunjak" pikir nya


"Please donk anterin gue, sial nya asisten gue nggak bisa di hubungi terus gue juga nggak bawa mobil. jadi kalau loe turunin gue di jalan dan banyak orang yang lihat kan jadi masalah lagi buat gue" Joe mencari alasan dan akhirnya Jihan pun mengiyakan keinginan Joe mengantarnya sampai ke apartemen..


- BERSAMBUNG -


🌹Hai para readers terimakasih selalu setia menunggu update novel The ceo's wedding secret ini ya, jangan lupa untuk like/vote dan komen bijak nya ya.. terimakasih 💐