Sam

Sam
Malunya setengah mati.



...***...


"Jadi, hari ini mau kemana? Aku antar, deh."


"Yakin?" ucap wanita berpipi tirus karena telah kehilangan berat badannya selama dua bulan ini. Binar di wajahnya amat kentara antara senang dan terkejut.


Nada tersenyum lalu mengangguk. Di kamar Mega, Nada berada. Ia baru sempat berkunjung ke Boyolali sekarang ini karena baru senggang waktunya. Ia harus berkali kali meminta maaf sebelumnya. Itu karena Mega bukannya marah. Namun, wanita yang lebih tinggi dari Nada itu terus memeluknya haru.


"Jahat, banget, sih, kau! Hari bahagiaku, kamu nggak datang. Padahal seberapa lama, sih, workshop?" Mega masih memasang mode manyun.


"Padahal nggak sampai sejam, nyampai, lho, Na!"


Nada cukup diam, mengatupkan bibirnya. Ada rasa menyesal memang, karena ia tidak bisa datang di acara penting Mega. Hal yang bisa Nada lakukan adalah terus berucap maaf dan menepuk pelan punggung Mega yang masih tersisa sisa harunya karena Nada membuktikan janjinya sekarang. Meskipun, tidak di saat acara sakralnya.


"Kamu nggak tahu, sih. Waktuku habis buat administrasi sekolah, tau. Ikut seminar-seminar. Hadir di undangan-undangan Diklat. Pokoknya, gada habisnya, Ga."


"Sibuk bner keknya. Aku aja sekarang udah males mau cari sekul. Apalagi, aku udah keburu isi begini." Mega mengelus perutnya yang sudah mulai kencang. Cenderung masih rata.


"Huss! Jangan begitu! Ini namanya rejeki. Anak itu rejeki. Percaya deh, nanti ada masanya sendiri. Jangan jadikan anak sebagai penghalang kita. Justru ambil sisi baiknya melalui kehadirannya."


Dengan mencebik di ikuti tangan yang bergelayut di bahu Nada, Mega masih memasang wajah manja. "Sok, bijak, kamu!"


"Lhohh, baru tahu." Nada memasang wajah jumawa dengan seringainya.


Akhirnya, mereka masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk saling bertukar cerita. Nada juga katakan apa yang sudah ia lewati. Ia juga sampaikan pada Mega bahwa hari baiknya tinggal dua bulan lagi.


Mega tentu senang, akhirnya sahabat karibnya kini membuktikan bahwa persepsinya salah. Cewek kaku di masa dulu yang selalu pasang perisai bahkan saat seorang lelaki baru mulai mendekatinya. Ya, seperti itulah Nada.


"Aku pikir, kamu bakalan lama nikah. Maksudnya ... masih butuh waktu lama buat nikah. Dulu di deketin cowok aja judes. Nah, ini. Udah mau nikah. Jadi jangan salahin aku kalau responku sangat sangat terr-kee-jooed!" Mega sengaja mengeja pelan di akhir kalimatnya, karena memang itu yang ia rasakan.


Nada tertawa pelan sambil terus mengayun langkah sejajar dengan Mega yang berjalan di sampingnya. Ia menuruti ingin Mega agar mengantarkan ke dokter kandungan di tempat praktek bidan.


"Pokoknya, sukses kamu bikin surprise buat aku. Motoran dari rumah kamu sampai sini. Dua jam," ujar Mega bersemangat. "Nggak nyangka, sih." Mega lanjut geleng-geleng sambil terus menggandeng lengan Nada.


Sampai di teras rumah bidan, Mega mengajak Nada duduk di ruang tunggu. Ia sempatkan mengambil nomor antrian sebentar. Selanjutnya, ia kembali memulai bercerita. Seperti tidak ada habisnya bahan cerita mereka.


"Kapan, nih, kamu kenalin calon suami kamu ke aku. Masa' iya, aku tau mukanya saat aku nanti datang ke kawinanmu. Kan nggak lucu," cecar Mega. Membuat Nada sedikit bersemu.


Pagi tadi ia sempat berbalas chat sebentar. Namun, Nada sengaja menggantung isi chatnya untuk Sam. Bisa habis kena omelan Sam jika ia mengaku berkendara sejauh ini.


"Orangnya, gimana, sih? Penasaran akutuu." Mega merajuk di buat-buat meskipun mereka kini sudah duduk di ruang tunggu.


Membuat Nada jadi mengurai senyum jahil sambil membekap mulutnya. Ia enggan membahas Sam di sini. Lebih tepatnya ia telah sengaja membuat Mega penasaran. Lalu pandangan Nada mengarah pada bangku-bangku di sebelah kanan dan di depannya.


Ada dua pasien yang mengantre sebelum mereka. Semakin manis saat pemandangan di sana, karena masing-masing ibu hamil yang berkunjung ke rumah bidan itu bersama suaminya masing-masing. Bisa terlihat jelas karena mereka memandang sayang satu sama lainnya.


Dalam sekejap Nada membayangkan dirinya pasti akan melewati masa seperti itu di kemudian hari. Tanpa sadar membuat wajahnya memanas karena bersemu.


"Pelan-pelan, Rev!"


Suara yang amat Nada kenali muncul seiring pintu bertuliskan 'ada bidan' terbuka. Sontak Nada pun menoleh di mana sumber suara itu.


Dari sana, muncul tiga orang dengan salah satunya di papah oleh orang yang Nada kenali. Satu wanita berperut buncit sedangkan di sisi yang lain seorang wanita berjilbab instan membawa tas perlengkapan dalam satu jinjingan sedang di tangan kirinya ikut memegangi lengan ibu hamil di sampingnya.


Perlakuan hati-hati dan cenderung amat manis membuat wajah Nada memanas seiring mata yang memburam karena air mata yang menggenang tanpa ijin ada di sana. Rasa marah dan takut kini menjadi puncak gemuruh yang ada di dadanya.


"Kamu kenal, Na?"


Pertanyaan Mega pun terabaikan begitu saja. Nada justru mempertajam penglihatannya saat Sam merangkul wanita cantik yang terlihat kesakitan menuju mobil yang terparkir. Dengan pelan dan amat hati-hati, walau jelas dari wajah Sam terlihat panik.


Buru-buru, Nada memalingkan wajahnya agar Sam tidak menyadari keberadaannya.


"Kenapa, sih, Na?" tanya Mega lagi. Karena Nada tak kunjung menjawab.


"Ah, enggak. Ga. Bukan apa-apa." Ternyata Nada memberi jawaban untuk Mega, karena masih saja pikirannya carut marut.


"Bener begitu?" selidik Mega karena wajah dan ucapan Nada justru berbanding terbalik.


Meskipun nada mencoba menyembunyikan wajahnya yang mendadak memburam. Mega seolah tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kawannya itu.


"Kenapa, sih, Na?"


Namun bukan jawaban yang diharapkan Mega,. melainkan Isak tangis Nada. Ia jelas panik melihat nada menelungkupkan wajahnya. Mega mencoba menenangkan, dengan mengusap punggung Nada berulangkali.


Meski lirih dan tersendat karena menangis menahan sesak, Mega masih dapat menangkapnya dengan baik.


Sejenak merangkai kepingan puzzle tentang cerita Nada, Mega dapat menyimpulkan sesuatu.


Dengan cepat Mega beranjak meninggalkan Nada dan berjalan cepat menghampiri Sam yang kini akan masuk di balik kemudi.


"Kamu yang namanya Sam!" Sudah tidak ada segan apalagi bicara sopan terhadap orang yang bahkan baru di kenal oleh Mega.


"Ada apa, ya? Maaf saya buru-buru."


"Oh, takut, ya. Bobroknya ketahuan! Kalau udah punya bini, tuh, jangan belagak bujang." Suara Mega setingkat lebih tinggi dengan dada yang naik turun karena terlanjur emosi. Kawan mana yang rela melihat temannya di permainkan.


"Maaf apa kita saling kenal?" Sam yang di tengah kepanikan tidak bisa berfikir dengan baik. Di tambah tuduhan yang sama sekali tidak ia mengerti.


"Mbak mungkin salah orang." Sebisa mungkin Sam mengingat. Dulu memang ia banyak membuat hati banyak wanita patah. Namun, tidak ia sangka di saat yang tidak tepat begini, justru ada yang ingin membuat perhitungan dengannya dengan mengarang cerita.


"Keterlaluan!" Mega bahkan menggebrak pintu mobil dengan kerasnya. Bahkan tangannya saja terasa sakit.


"Cukup, Ga. Cukup." Nada datang dengan panik dan buru-buru menarik Mega yang seperti tengah kesetanan. Mengabarkan wajah terkejut Sam dan satu orang wanita yang cukup jelas untuk saat ini.


"Jangan halangin aku Na! Kamua mungkin bisa terima, tapi aku enggak."


Buru-buru Nada membekap mulut Mega dan mengajaknya menjauh dari mobil.


"Apa-apaan, sih kamu, Na!"


"Ssstttm denger dulu, Ga. Aku baru ingat kalau yang tadi di papah Mas Sam tadi sepupunya." Nada sudah merah padam saking paniknya. Terlebih ia pasti sudah membuat malu Mega, dengan pikirannya yang cukup runyam.


Mega membekap mulutnya sendiri dengan mata terbelalak. Ia melirik dimana Sam tadi berdiri kebingungan tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan di tenangkan Nada. "Ke laut, aja, Na! Malu banget aku," erang Mega mencubit lengan Nada membuatnya amat malu dan menyesal.


"Dek," panggil Sam yang kini mendekati Nada. Membuat Nada bingung hendak berkata apa. "Ini kenapa, ya?"


Nada menyengir saja dan buru-buru menarik Sam menjauh dari Mega yang sudah pasti amat malu.


"Maaf, Mas. Tadi temenku salah orang. Maaf, ya," ujar Nada menahan malu. Dan merangkai kebohongan di perlukan di saat genting begini.


"Tapi, tadi ... " Sam bingung menoleh bergantian pada Nada dan Mega yang menyembunyikan wajahnya.


"Udah, Mas. Nanti aja aku cerita, yang jelas maafin temenku ya." Nada mencoba memupus rasa penasaran Sam. "Itu tadi Revi, kan? Mau lahiran?" lanjut Nada bukan semata mengalihkan pembicaraan. Tapi karena memang ia tengah di landa cemas saat melihat wajah Reva yang menahan sakit.


"Aaa ... itu Reva, Dek. Habis periksa dan kata bidan masih kontraksi palsu. Dan ini mau pulang dulu sekalian nyiapin kelengkapan lainnya."


"Kamu, kok, bisa sampai sini? Naik motor sendiri?" tanya Sam terheran-heran. Tadi pagi Nada masih berbalas pesan dan dari balasannya memang tengah banyak kesibukan.


"Emang sibuk, Mas. Ya ke sini ini. Ke tempat temenku. Pokoknya, ceritanya panjang, Mas. Lai ... "


"Sam!"


Seruan Siti memangkas perkataan Nada yang kini semakin canggung saja. Spontan Nada menyapa Siti dengan menjabat tangan wanita itu.


" Mbak Nada, kan," tebak Siti yang kini sudah memegang lengan Nada.


Nada tersenyum canggung. Bisa ia lihat, Keberadaan Mega sudah tidak ada di sana. Entah pergi kemana. Pasti kawan Nada itu amat malu karena terlalu terbawa emosi. Sialnya Nada-lah biang keroknya. Karena emosi yang sesaat membuat Mega terpengaruh hingga jadi mode ngereog brutal.


Nada berbincang sebentar dengan Siti yang lebih banyak bertanya. Beruntung wanita berumur 46 tahun itu tidak lagi membahas Sam yang tengah di labrak wanita cantik yang ternyata hanya karena salah paham.


"Mampir, Mbak Nada. Dua puluh menit sampai kalau mau ke rumah Sam."


Tawaran Siti membuat Nada bingung hendak menjawab apa di saat seperti itu, suara Reva memanggil Sam dan Siti.


"Dek, aduh. Maaf banget ya, aku musti antar Reva ke rumah dulu. Maaf, ya, Dik."


Nada mengangguk segan. Lalu Sam serta Siti pamit dan segera meninggalkan pelataran rumah Bidan tersebut.


Nada masih terdiam di tempatnya saat Sam akan masuk ke dalam mobilnya. Ia tersipu kala Sam mengedipkan sebelah matanya. Salah tingkah Nada mengangguk malu saat Siti melambai. Bisa-bisanya, Sam masih sempat berlaku demikian di saat orang lain mungkin tengah kesakitan. Tentu saja Reva-lah orangnya. Kontraksi palsu memang tidak sebanding saat melahirkan. Namun, yang namanya kontraksi pasti sakitnya, bukan.


Untuk selanjutnya, Nada harus rela menjadi terdakwa di depan Mega yang kepalang malu. Beruntung mereka menyadari sedang di tempat umum. Sehingga dampaknya tidak seheboh yang di bayangkan Nada.


Setelah hampir seharian menemani Mega, Nada pamit pulang. Orang tua Mega membawakannya banyak oleh-oleh. Sudah seperti anaknya sendiri perlakuan keluarga Mega. Nada juga sampaikan mohon maaf pada kedua orang tua Mega baru bisa berkunjung dan melewatkan acara sakral Mega.