Sam

Sam
Aku dan kenangan.



[Kenapa? Kangen, ya?]


[Udah mulai biasa, nih nungguin pesan membosankan dariku?]


[Tunggu beberapa hari lagi, ya. Aku pasti akan ke rumah kamu.]


Itulah pesan yang Sam kirimkan pada Nada pada akhirnya. Membuat Nada di belahan kota lain jadi memberengut kesal.


Pesan itu tersampaikan dan di buka langsung oleh Nada. Tidak ada balasan sama sekali. Hanya sesekali terlihat mengetik, namun tak kunjung terjawab pesannya.


Sam masih tetap menggulum senyum penuh arti. Karena telah mendapat lampu kuning dari pemilik Hati. Ya, dari pertanyaan yang Nada kirimkan, ia sudah menyimpulkan sendiri dengan penuh kemenangan.


Nyatanya, pesan itu hanya terbaca dan tidak di balas oleh Nada. Membuat Sam kembali menggulum senyum. Memperkirakan mimik wajah Nada ketika membaca pesannya.


Membayangkan wajah Nada mendadak sebal membuat Sam terkekeh.


Esoknya, kesibukan Sam justru lebih banyak. Dari mengurusi bengkel dengan kedatangan ratusan sparepart dan suku cadang. Lalu sorenya ia kembali meninjau pembangunan bengkel yang sudah mulai di pasang atapnya. Memperkirakan kekurangan kekurangan. Juga sesekali diskusi mengenai kesesuaian gambar dengan aslinya. Tidak lupa ia berkoordinasi dengan Mas Alif sebagai donatur utama.


"Kamu ambil bank, gimana Sam? Soalnya uang yang seharusnya aku kirim di pinjam teman."


Saran dari Alif membuat Sam memijat pangkal hidungnya saat sambungan telepon masih on.


"Atau kalau kamu ada tabungan. Pakai dulu, gimana? Ada tidak?"


Saat itu Sam harus mempunyai alasan yang paling masuk akal. Karena selama ia mendapatkan gaji dari Pakde Wahid uangnya hanya berkurang untuk hal-hal urgent saja.


Sampai akhirnya, dengan berat hati ia harus merelakan motor Kawasaki ninja miliknya untuk merampungkan pembangunan bengkel.


Ia sempatkan untuk berfoto untuk yang terakhir kalinya dengan kuda besi miliknya. Hadiah dari papa sewaktu masuk SMA dulu, yang sampai sekarang masih terlihat bagus karena sering di panasi walaupun empat tahun pemilik aslinya berada di Manado.


Masih terawat meskipun sebagian cat sudah hampir pudar warnanya. Pernah beberapa waktu di pinjam Budi, keponakan mama yang ada di Mojolaban. Itupun tidak lama.


"Deal."


Sam menerima uluran tangan dari sepupu Royan yang memang hobi makelar motor.


"Uang cash sepuluh juta, Mas. Sisanya saya transfer, ya. Nggak tahu kalau sebagus ini sih, meskipun tergolong motor lama."


Budi meletakkan satu amplop cokelat di atas meja. Dengan wajah berbinar puas.


"Mungkin nanti aku sendiri yang akan pakai, Mas." Budi tertawa, "barang lama tapi body masih oke," lanjutnya memandang puas ke arah motornya yang kini sudah di naikkan di mobil pick up warna putih di halaman bengkel.


"Semoga bermanfaat, ya."


"Semoga berkah uangnya, Mas."


Harapan Sam dan Budi saat Budi kembali menjabat tangan Sam dan segera pergi dari halaman bengkel. Menyisakan Sam dan Royan yang masih berdiri terlolong menatap mobil Budi yang sudah berbaur dengan kendaraan lain.


"Kalau masih sayang, kenapa nggak pinjam Bank aja, sih." Royan masih menangkap berat hati Sam saat melepaskan motor kesayangannya.


Sam tersenyum seraya berbalik ke dalam bengkel di ikuti Royan.


"Semoga usahku ini lebih berkah buat nantinya. Buat langkah selanjutnya."


"Kenapa nggak coba minta ortu. Itung-itung buat modal, kan."


Sam menarik kursi kayu dan mendudukinya. "Udah waktunya kita mulai berdiri sendiri."


"Ya, meskipun akhirnya ada campur tangan orang tua juga. Motor itu juga awalnya dari orang tua, kan."


"Ada Mas Alif kasih sumbangan dana aja aku udah bersyukur banget."


Royan mengangguk dua kali. "Katanya kamu sempat part time di Manado?"


Sam mengangguk. "Salah satunya uang dari situ."


Bengkel sudah tutup sejak setengah jam yang lalu. Semua pekerjanya juga sudah pulang.


"Jadi, bengkel kamu ini murni dari usaha kamu sama Mas Alif? Trus yang ngurusin bengkel Pakde Wahid ini siapa Sam?" tanya Royan.


"Untuk sementara ya, tetap aku. Sampai suami mbak Wulan mau mengelola sendiri."


"Syukur -syukur Mbak Wulan sendiri yang mau mengelola."


Sam menghela nafas seraya menyulut batang rokok dan dalam hitungan detik sudah mengepulkan asap putih di udara.


"Mereka beralasan bukan spek pengusaha. Malah suka kerja buat negara. Atau bahkan lebih nyaman buat membesarkan usaha orang lain." Dengan Mbak Wulan yang bekerja sebagai guru dan suaminya yang mengepalai sebuah Bank, membuat Sam berfikir demikian.


Royan kembali menyesap kopinya dan mulai mengambil rokok lalu menyelipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. "Jangan mikir sempit, Sam. Mungkin saja mereka sengaja mencari ilmu di perusahaan orang. Dan ilmu yang di dapat bisa untuk kemajuan usahanya nanti. Nasib orang. Siapa yang tahu."


Penuturan Royan dengan yakin dan gerakan tangan yang menekan beberapa kali untuk menegaskan ucapannya. Membuat Sam menarik sudut bibirnya. "Sok bijak, kamu," cibir Sam.


"Tapi, aku juga seperti kuli juga nggak, sih. Kerja buat orang. Walau kesannya sambil ngejalanin usaha sendiri nantinya."


"Tapi nggak apa. Untung tetap di aku juga."


Mereka ngobrol sampai larut malam. Hingga akhirnya, Royan dan Sam tidak pulang dan justru tidur menggelar kasur lipat. Tidur diantara tumpukan sparepart yang baru datang dan belum di bereskan oleh Pipin.


Sam sendiri sudah lelah, saat berniat untuk mengetikkan pesan untuk Nada, Royan meledeknya.


"Jangan keseringan cuap-cuap. Ntar jatuhnya bosen." Royan mulai tersenyum meledek.


Membuat Sam urung membuka menu perpesanan. Melirik sisa batere yang sudah urgent, ia mengcarger di meja dekat etalase.


Untuk kemudian ia ikut merebah di samping Royan yang sudah mencari-cari chanel yang pas.


"Berita, aja. Seminggu lagi bukannya puasa. Kali aja ada drama penentuan awal Ramadhan kaya beberapa tahun lalu."


"Masih, lama, elah," elak Royan yang kali ini menemukan iklan Syrup mirjan yang menggoda.


"Ada minuman dingin, nggak, Sam?" Royan sudah celingukan mencari dimana letak chiler berada.


"Ada di depan. Tadi pagi Agus yang pindahin. Gegara barang yang datang musti di teliti lagi " Sam sudah mengambil alih remote tv. Karena Royan sudah beranjak mencari chiler.


Royan datang dan duduk sambil meletakkan dua botol teh botol di depan Sam.


Tiba-tiba, Royan merebut paksa remote tv yang membuat Sam mengerut.


"Woyy. Ini kungfu sepak bola, Sam!" pekik Royan membuat Sam menatap layar tv.


"Apa, coba judulnya!" Sam mencoba menantang ingatan Royan.


"Itu dia! Lupa." Royan meringis sambil mengingat.


"Payah," gumam Sam. Namun, tetap tidak memberi tahu judulnya meskipun Royan berusaha mengingatnya. Drama Asia komedi yang sudah sering kali mereka tonton saat masih SMA.


Royan dan Sam terbahak begitu melihat cara para pemain berpakaian. Hingga mereka mendapati slide agak melow. Karena pemain utama tidak peka terhadap perasaan si cewek yang aslinya cantik namun tampak tidak terawat.


Bahkan Royan ikut mengkerut saat air mata sang gadis berjatuhan dan mendarat tepat di atas adonan kue.


"Melow, Yan!"


"Njiirrr, sedih elah."


"Udah ingat judulnya?"


"Dah. Ini sih, Shaolin soccer."


...***...


Pagi kembali menyapa membuat Sam berjibaku lagi dengan pekerjaannya. Royan juga sudah pulang setelah menghabiskan satu porsi nasi liwet yang di belinya tidak jauh dari bengkel.


Saat urusan bengkel sudah dapat di handle oleh Pipin. Juga tim teknisi yang bertambah satu lagi dari anak SMK yang sedang PKL. Membuatnya segera bergegas menuju toko bahan bangunan untuk mencari bahan yang kurang.


Ia harus menambah baja ringan untuk teras belakang bengkel. Sesuai usulan Alif beberapa waktu lalu.


"Semoga, minggu ini rampung dan bersiap dengan urusan lain."


Sementara di bagian kota yang lain, Nada sedang sibuk dengan PTS yang sedang berlangsung.


Mengawasi kelangsungan test di pagi hari hingga pukul 12 siang. Ia berlanjut untuk mengoreksi dan mulai menginput nilai pada file e raport. Satu persatu pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan cukup memakan waktu itu tanpa sadar sedikit melupakan kekesalannya kembali pada Sam. Karena, hingga tengah hari tidak ada pesan yang ia harapkan datang.


Padahal, ia sudah mengorbankan gengsinya untuk berkirim pesan lebih dulu sore itu.


"Lama-lama, kacau nih aku. Kok bisa-bisanya uring-uringan hanya gegara Sam nggak kasih kabar."


Nada melirik meja yang lain di ruang guru. Ada Bu Yuni yang tampak serius memerhatikan ulangan vidio hafalan dari muridnya.


Kemudian, Nada menoleh ke arah lain. Ada Pak Rahmat, Pak Banu yang juga tampak sibuk mengoreksi hasil test dari anak didiknya hari ini.


Pandangannya berakhir pada Bubelle yang senyum-senyum sendiri. Huh pasti lagi chit chat sama calon suaminya, tuh.


Membuatnya kembali memeriksa status wa di ponselnya. Tanpa di sengaja matanya membola ketika melihat salah satu story' dengan seorang yang berdiri bersisihan dengan motornya. Sebuah motor yang tiba-tiba terlintas di ingatannya.


"Ah, masa'iya," gumamnya.


Tapi caption di bawahnya membuat pikirannya terusik. Untuk kemudian ia melihat kembali dan memindai baik-baik tampilan foto itu.


"Melepaskan kenangan lama untuk membuat kenangan baru. So sweet kan sohib gue." Lengkap dengan emogi mengerling.


...***...