
"Nada, kamu di sini?”
Binar dari mata hazel milik Sam tidak dapat di sembunyikan lagi. Demi apa dirinya bisa menemukan Nada di sini, jelas ini adalah impian yang bahkan jauh dari bayangan.
Untuk selanjutnya, Nada hanya bisa diam melongo di tempat karena belum siap untuk bertemu Sam. Pertemuan terakhirnya dulu, ia justru malah menyakiti Sam dengan menepis tangannya.
Ya Tuhan, Solo itu luas. Kenapa harus bertemu dia di sini? Aku belum siap jika untuk minta maaf. Batin Nada mulai gelisah ketika matanya bersirobok dengan mata milik Sam.
“Siapa, Bos?”
“Cantik gitu. Pepet lahh, kapan lagi,” seloroh Dimas bergantian melihat ke arah Nada dan Sam bergantian, setelah sampai di hadapan empat cewek yang duduk berhadapan dengan lesehan.
Di saat yang sama Fitri dan dua temannya sedang saling lirik, dengan Fitri yang menggu lum senyum simpul.
"Ini Mas Sam, kan? Sambara, ketos Smaba dulu kan?” tanya Fitri lalu kemudian mengulurkan tangan dan lekas disambut anggukan juga sedikiit senyum dari Sam.
Fitri berbinar lalu memegang lengan Nada. "Bener kan, apa aku bilang tadi. Dia sengaja datang samperin kamu, Na," bisik Fitri pada Nada. Namun, Sam masih jelas mendengarnya.
Fitri jelas masih teringat sewaktu PTS (penilaian tengah semester), beberapa tahun yang lalu.
Sam sendiri masih lupa siapa cewek ramah yang mengenalinya. Sementara Nada, orang yang menjadi tujuan kakinya melangkah hanya diam menunduk sambil mengaduk es teh yang tinggal setengahnya. Membuatnya menahan diri agar tidak tersenyum.
“Na, kalian janjian?” tanya Fitri sambil menunjuk Sam dan Nada bergantian.
Lantas, dengan kompaknya Sam dan Nada berucap,
"Enggak,"
"Enggak."
Lalu keduanya menggeleng bersamaan. Dengan Nada yang lebih dulu menunduk untuk menyimpan rasa malunya.
Fitri tidak bisa menahan diri, untuk tersenyum lebar. “Ya ampun, kompak banget sih, kalian. Nggak nyangka bakal langgeng gini sampai kerja.”
Nada mendongak dan hendak menyangkal ucapan Fitri namun ucapan Sam justru membuatnya kicep bahkan otaknya mendadak ngelag.
“Doain aja. Semoga dalam waktu dekat kamu segera mendapat kabar baiknya.”
What the hell?
“Aamiin, aamiin. Nada ih, kabar baik tuh jangan di sembunyikan. Lebih bagus di go publik. Biar makin banyak yang doain.” Fitri antusias sambil memandang Nada.
Sedangkan Nada meringis malu pada Fitri dan dua temannya. Pasalnya mereka baru saja membahas rencana menikah di usia sekian.
Namun jawaban Sam membuatnya malu. Hingga, ”eee, Fit. Kita cabut dulu ya. Dan ... makasih banyak traktirannya. Nanti malam kita sambung telponan, ya. Bye.” Nada berujar sambil menjabat tangan Fitri dan dua temannya lalu melambaikan tangan meski agak kaku.
“Eh, iya, Na. Aku tunggu kabar baiknya ya,” jawab Fitri tersenyum walau wajahnya sedikit kebingungan karena belum puas bercerita.
Nada buru-buru mencangklong tas seraya berdiri dan menyeret lengan Sam dengan langkah lebar. Ia sudah menebak tingkah impulsifnya pasti membuat Sam tersenyum, menyebalkan.
Sementara benar adanya, Dimas yang ikut mengekor di belakang Sam dan Nada tidak berhenti menyurutkan senyumnya.
“Nggak nyangka, pacarnya si bos agresif juga.”
Gumaman teman Sam kali ini membuat Nada baru menyedari jika tingkahnya justru berakibat lebih buruk. Ya. Seperti membenarkan pendapat Sam bahkan Fitri dan teman-temannya. Telak.
Setelah cukup jauh dari tempat Fitri dan teman-temannya, Nada berhenti dan melepas cekalan tangannya lalu bersedekap mendelik menghadap Sam yang terkesiap.
Penghakiman di mulai.
Beruntung, kinerja otak Sam bekerja sangat baik hingga matanya melirik sinis pada Dimas. Membuat remaja itu lekas paham dan meninggalkan Sam dan Nada berdua di dekat pohon beringin. Hampir di sisi timur alun-alun.
“Kenapa kamu bilang gitu ke Fitri sih, Mas?” sembur Nada begitu Dimas sudah berjalan menjauh. Bibir jelas manyun, namun itu justru menambah imut wajah Nada.
Kali ini Sam barulah tersenyum lebar sembari menyiapkan serangkaian alasannya. “Ya, dimana salahnya, sih? Katanya ucapan adalah doa. Ya, seperti itu juga yang selama ini aku harapkan.”
Baru saja Nada akan mendebat jawaban Sam, selorohan teman Sam yang baru turun dari mobil pajero membuatnya menelan ludah mentah-mentah.
“Wah wah, Sam. Diam-diam udah gerak cepat aja.”
"Anak mana ini, Sam? Sepertinya bukan asli sini."
Sam memandang Nada takut-takut lalu meringis kala Rudi bersama temannya yang berbaju flanel sudah berdiri menepuk bahunya keras.
"Hmmm, pantesan. Manis begini. Di delikne (di sembunyikan) terus. Nggak tau di up.”
“Dapat yang manis begini dari mana sih? Sombong. Nggak di kenalin ke kita-kita.”
Semakin bertambah, saat Sam kini sudah merengkuh bahunya dengan tangan kananya. Membuat rasa kesalnya mendadak menguap entah kemana. Kenapa?
“Bukan gitu maksudya. Si manis ini agak sibuk akhir-akhir ini. Selain itu dia juga kurang suka di ajak keluar.”
"Nantilah, kalau namaku dan namanya sudah terangkum di satu buku dengan Burung Garuda sebagai sampulnya."
Apalagi ini? Sam sialan. Bener-bener memanfaatkan keadaan. Awas saja nanti.
Namun, kini Sam semakin menjadi. Membuatnya terpaksa mengikuti permainan Sam dengan senyum yang jelas-jelas di paksakan.
“Ya wes. Jangan lupa undangannya.”
“Semedi dulu buat cari tanggal baik, Sam.”
“Jangan kelamaan semedi juga ‘ntar di ambil orang, kejerrr kowe (nangis kamu)!”
Beruntung teman-temannya segera pergi setelah melempar jokes abstrak dan Nada spontan mencubit punggung tangan Sam.
“Áduh.” Sam spontan melepaskan rengkuhannya lalu setelah ini bersiap menerima kemarahan Nada.
“Kamu tuh, makin nyebelin ya Mas! Nyesel aku mampir sini.” Nada menghentakkan kaki lalu lekas mengambil langkah lebar menuju parkir motornya.
Gadis itu tetap berjalan tidak perduli panggilan Sam yang mengikutinya.
“Kita belum ngobrol, Nada. Kamu mau kemana?” tanya Sam seraya merebut jaket yang akan Nada pakai.
“Balikin, Mas!”
“Nggak. Kita perlu bicara.”
Nada mendelik memandang Sam yang kini terlihat serius. Ia mengangkat lengannya dan melihat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Nggak bisa, Mas. Aku harus balik, udah hampir magrib."
“Hampir malam, Na. Kamu sendirian."
"Lalu?" tantang Nada lalu mencibir kala Sam terlihat kebingungan sekilas melihat tangan Sam yang masih menggantung di balut sling arm. Membuat Sam pun melihat ke arah yang sama.
"Andaikan kamu beri aku kesempatan untuk bisa menemani kamu kapan saja. Aku pasti akan antar kamu."
“Aku udah biasa sendiri, kok. Makasih tawarannya.'’ Nada merebut jaketnya dari tangan Sam dan lekas memakainya.
Sam jelas belum rela berpisah sedangkan mereka belum berbicara apapun. Karena sedari tadi ada saja pengganggu yang silih berganti menyela waktunya yang berharga.
...***...
Sampai di rumah, Sam menyandarkan punggungnya di sofa. Setelah melepas kepergian Nada dengan tidak ikhlas. Ia juga di ledek habis-habisan oleh Dimas sepanjang perjalanan balik ke bengkel.
Sampai di bengkel pun Dimas justru semakin gencar meledeknya karena banyak pasukan yang ikut membullynya habis-habisan.
"Pacarnya ngambeg, Kang. Dan parahnya Mas Sam nggak bisa ngejar. Parah parahh ... " ujar Dimas bak kompor pada Agus, Ibnu, Joko dan Pipin di meja kasir.
Namun, diakhir sesi pembullyan dadakan yang sebabkan oleh pekerja pada atasannya, ada doa-doa yang mengalir dari mulut-mulut yang begitu iklas mengiring niatannya untuk menemui gadis manis yang baru saja bertemu tanpa sengaja di alkid tadi.
"Semoga jodoh, ya, Mas. Di Solo, mana ada yang menis-menis kek permen yupi begitu."
"Semoga di mudahkan jalannya, ya, Mas."
"Akhirnya, Mas Sam melepas masa duda sebelum menikahnya." Kali ini mulut Joko di timpuk dengan kertas faktur oleh Pipin yang ikut sampai di bengkel.
"Ngomongnya itu, lho."
"Ya, kan, emang dia duda sebelum menikah. Apa coba namanya, jika hidup sendirian ngapa-ngapain sendiri, kan, hayoo."
"Wes pokoknya yang terbaik buat Mas Sam."
Yang akhirnya ucapan "Aamiin," begitu serempak dari mulut anak-anak bengkel. Membuat Sam hanya terus menggeleng dan tersenyum penuh arti.
Dari semua itu, tanpa sadar membuatnya melengkungkan bibir sambil memejamkan mata. Merangkum pahatan wajah manis yang tampi angun dengan kemeja batik beserta rok span. Membuatnya mengeryit seraya mengingat-ingat sesuatu.
Sepertinya aku 'dah nggak asing lagi dengan kemeja batik yang di kenakan Nada, tapi dimana? Siapa yang mengenakannya?
Sam meraup wajahnya. Senyum mengembang kala banyak doa-doa untuk hubungannya dengan Nada.
"Semoga dengan banyaknya doa yang di langitkan, akan lebih cepat Allah menjawabnya. Aamiin."