Sam

Sam
Seputar pekerjaan



...***...


Nada menggerutu ketika ponselnya berdering, dengan nama "Masam" memenuhi layar.


Bukan hanya sekali dua kali panggilan itu berdering. Sudah terhitung lima kali sejak Nada sedang menginput nilai anak didiknya ke dalam file Excel yang masih menyala meskipun sudah pukul 9 malam.


Nada melirik popup di layar depannya. Ada berjubel pesan dengan beragam nama kontak pengirim disana. Belum ada niatan untuk membukanya satu persatu karena masih ada beberapa lembar yang belum ia input.


Sedangkan di seberang sana Sam sedang mondar-mandir karena pesan dan panggilannya di abaikan oleh Nada.


"Ngambeg pasti, Nada, nih," gerutu Sam sambil duduk di teras. Melirik satu cup kolak waluh, satu bungkus rica ayam dan satu plastik kecil berisi bakwan dan tempe mendoan.


Ini sudah hari pertama bulan puasa. Sam sengaja pulang lebih awal dari bengkel. Maka dari itu, ketika mulai memasuki gang rumahnya banyak pedagang jajanan pasar sepanjang jalan masuk, ia pun membeli beberapa pilihan.


Sudah seminggu sejak Sam menjual motor, hingga merampungkan pembangunan bengkelnya. Tinggal mengecat dan merapihkan sisa-sisa bahan bangunan yang masih belum tersimpan pada tempatnya.


Selama itu pula, bila Sam mengirim pesan, hanya sesekali saja di balas oleh Nada.


"Harusnya aku nggak usah janji mau ke rumah Nada. Kalau pada akhirnya, aku nggak bisa nepatin. Udah jengah banget pasti dia. Makanya nggak ada satu pun dibalas sama dia."


Sam beranjak dari teras sambil membawa jajanan ke dalam. Ia melihat jam dinding. Masih ada cukup waktu untuk merebus air.


Saat teko siul sudah berdesis, tanda air sudah mendidih, terdengar suara motor berhenti di depan.


"Assalamualaikum,"


Suara salam membuat Sam menoleh dan meletakkan termos teh yang baru selesai ia cuci.


Dari ruang tamu, ada Revi bersama Siti datang membawa jinjingan keresek putih.


"Bulik?" sapa Sam.


"Wong wes di kandani yen balik Ning Gading, kok, malah balik Kerten, to Mas!" Orang udah di bilangin kalau pulang ke Gading, kok, malah pulang ke Kerten, Mas.


Ucapan Siti membuat Sam meringis. Sementara Siti terus mengomel dengan tema sama. Yaitu memprotes kepulangannya ke rumah. Sembari tangannya dengan cekatan meletakkan satu persatu bawaannya.


"Iya, Bulik. Nanti sesekali aku buka sama sahur di Gading." Sam menyebutkan daerah tempat tinggal Paklik Kusno. Yang tidak lain adalah tempat tinggal Siti, Reva dan Revi.


Sam melirik Revi yang sedang mencomot tempe mendoan di dalam plastik miliknya.


"Dih, nggak puasa kamu," cibir Sam pelan.


"Aku halangan, kok," ucap Revi santai sembari mencari sesuatu di lemari gantung.


"Loh, beli lauk dimana ini, Mas?" tanya Siti ketika baru menyadari Sam sudah membeli berbagai macam makanan untuk berbuka.


"Di jalan masuk depan, Bulik," jawab Sam ketika Siti kini sudah mendekati mejicom yang baru berbunyi cetek. Tanda nasi sudah matang.


"Loh, ini juga udah masak nasi."


Kembali Sam meringis ketika Siti terlihat menurunkan bahunya.


"Ng– begini, Bulik. Njenegan¹ nggak usah repot-repot bawa makanan ke sini. Aku cuma sendirian, bisa makan apa aja. Aku bisa masak, kok. Di sekitar sini juga banyak pedagang dadakan." Yang di maksud Sam adalah pedagang dadakan yang hanya muncul saat puasa. Definisi mencari celah bisnis di tengah bulan berkah, bukan.


Melihat Siti harus jauh-jauh datang, demi mengantarkan makanan untuknya, membuat Sam merasa tidak enak hati. Pasti begitu merepotkan, pikirnya.


"Kenapa malah pulang. Kita kan bisa makan rame-rame di Gading. Buka dan sahur sendirian mana enak." Siti masih menggerutu sambil mencari beberapa bowl. Untuk kemudian, ia menuangkan sayur soto buatannya.


"Makanya, nikah. Biar ada yang ngurusin," ledek Revi seraya menuang air rebusan yang masih nangkring di kompor. Untuk kemudian ia masukkan ke dalam teko.


Sam hanya mencibir. Alasannya lebih memilih di rumah tentu karena disana sudah ada Ilham –suami Reva. Ia tidak mau terus di sana. Ya, sedikit meringankan beban Bulik, pikirnya.


Siti dan Reva tidak lama berada di rumah Sam. Karena memang tinggal sebentar lagi adzan magrib.


Akhirnya, Sam berbuka sendirian. Hanya tv LED yang menempel rapi di dinding, sebagai temannya. Tangan kirinya mengutak-atik ponsel sementara tangan kanannya sibuk menyendok makanan.


"Nada, nih. Tiap ngambek masih aja kaya anak kecil," gumamnya. Ia sepenuhnya menyadari seminggu ini ia jarang memegang HP. Sibuk di bengkel juga sibuk membantu finishing bengkelnya sendiri. Bolak-balik Soba- Sukoharjo, membuatnya kelelahan hingga tidak sempat memeriksa ponselnya.


Tentu itu menjadi alasan Nada berlaku cuek dengannya. Lebih tepatnya, sok abai saja. Nyatanya, mendapati pesan dari Sam begitu membuatnya sedikit bersemu.


[Buka sama apa, nih?"]


[Aku buka sama yang manis-manis. Tapi masih kalah manis sama yang baca ini.] Pesan ini dilengkapi foto semangkuk kolak waluh dan pacar cina.


Hal itu membuat Nada bersemu. Hindungnya sedikit mengembang dengan bibir yang menipis.


"Makan dulu, yang bener, Na." Marni mengingatkan sang anak yang senyum-senyum sendiri.


"Salah-salah, nanti HP-nya yang masuk ke mangkok, Nduk." Hardi ikut menimpali.


Membuat Nada meletakkan ponselnya dan makan dengan benar.


"PTS-nya sudah selesai?" tanya Marni di sela makannya.


"Udah, Buk. Nada udah mulai input nilai aja."


"Apa musik kecil di leptop sampe kedengaran ke kamar ibuk?" tanya Nada. Karena seingatnya ketika ia masih bergelut dengan nilai dan leptop, ia memutar musik dengan pelan.


"Bukan musiknya, tapi bunyi kipas angin tek tek punyamu itu yang kedengaran, Nada." Ya, kipas usang yang masih lumayan untuk mengurangi gerah itu awalnya sudah mau di rongsokan oleh Hardi. Namun, Nada masih terlalu sayang.


"Mbok kebiasaan pakai kipas malam-malam, di ilangin, Nduk. Nek masuk angin lho." Hardi mengingatkan.


Membuat Nada meringis saja. Pergantian musim membuat, cuaca begitu gerah.


Setelah selesai berbuka, Nada mencuci semua piring kotor. Sementara Marni dan Hardi sholat magrib berjamaah di kamar.


Setelah mengeringkan tangan, Nada segera menyambar ponselnya lagi. Kembali ia tersenyum saat dua pesan dari Sam sudah masuk kembali.


[Katanya, bulan puasa itu jaga hati jaga mulut jaga mata. Jaga amarah juga. Masa' iya puluhan pesanku nggak ada yang kamu balas?]


[Sebiji aja, Na. Balas dong, biar aku seneng.] Lengkap dengan emogi memohon.


Membuat Nada terbahak-bahak di buatnya.


^^^[Gaje banget, kamu, Mas. Ada jin apa yang terperangkap di badan kamu!] ^^^


Kali ini Nada juga menambahkan emoticon tertawa. Membuat Sam di seberang sana senang bukan main.


...***...


"Nggak tarawih, Sam?" teriak orang di luar pagar.


Itu pemuda kampung, salah satu teman Sam saat nongkrong di hik ujung gang.


Sam yang sedang di teras tentu terlihat dari luar pagar rumah.


"Yo'i," balas Sam sambil mengantongi ponsel dan mulai menutup pintu.


Ya, minimal hari kedua puasa ia masih tertib untuk ikut solat tarawih di sekitar kompleks. Untuk malam-malam selanjutnya, entahlah. Namun, bila memang Sam sedang di rumah, ia selalu mengusahakan untuk ke masjid.


Apa?


Kebiasaan itu berubah sejak ia kuliah di Manado dulu. Tentu berbeda dengan Sam di masa remaja, bukan. Semua itu tentu karena didikan keras papa. Yang awalnya dari terpaksa menjadi terbiasa.


...*...


Setelah dua hari libur, bengkel mulai beroperasi kembali. Deretan kios-kios di sekitarnya juga mulai buka seperti biasanya. Hanya bedanya, tempat makan, warung, kedai dan kantor-kantor, baru akan buka setelah jam dua.


Tentu tidak semuanya. Di kota Solo, masih banyak nonis atau bahkan beberapa persen dari penduduk muslim sekali pun juga ada yang tidak berpuasa. Sebagian memang karena pekerja berat, contohnya tukang becak, pekerja bangunan, atau pekerja kasar lainnya.


Biarkan, toh kewajiban berpuasa hanya untuk orang-orang yang beriman. Wajib bagi yang mampu. Dispensasi tidak wajib berpuasa juga sudah tertera di dalam Al Qur'an.


"Mas, permintaan kanvas datang lagi dari bengkel yang di Makam gaji. Sedangkan stok kita terbilang tanggung. Kasih tidak, ya?" tanya Pipin pada Sam yang terlihat mengutak-atik sesuatu di buku. Lebih tepatnya, mencocokkan sesuatu dengan layar ponsel di tangan kirinya.


Sam menoleh sekilas lalu kembali pada ponselnya. "Bentar, Pin. Aku lagi penting, ini."


Pipin mengangguk. Kemudian ia memeriksa email dari supplier dan beberapa dari rekan Sam yang lain.


"Coba mana?" tanya Sam setelah beberapa saat. Ia menyuruh Pipin beranjak dari duduknya. Kemudian ia duduk di kursi Pipin.


"Kamu tolong periksa rekap bulanan, ya, Pin. Nanti di cocokkan sama yang di server. Pak Wahid nanti mau mampir."


Pipin segera mengerjakan apa yang baru saja jadi permintaan Sam.


"Halo, Rud." Sam terdiam mendengarkan lawan bicaranya di telepon.


"Stokku nanggung banget, Rud. Maaf, ya."


"..."


"Aku order belum lama sebenarnya. Tapi permintaan selama puasa justru banyak."


"..."


Begitulah kesibukan Sam selama di bengkel. Terkadang ia juga ikut membantu di bagian service. Bila tiga teknisinya sedang keteteran.


Membantu pun hanya sekedar membantu. Kinerja tangan kiri Sam tentu masih terbatas.


Selama itu pula hubungannya dengan Nada masih terbilang fivety-fivety.


Hingga beberapa hari kemudian. Satu pesan yang masuk ke room chat-nya membuatnya kelabakan.


[Gimana kabar, nih?]


[Lama banget kayaknya kamu nggak ada pergerakan. Kalau gitu aku boleh terus, kan?]


...***...