Sam

Sam
Iba



...***...


Didengar, diikuti dan dituruti adalah harapan setiap orang tua terhadap anaknya. Namun, terlalu banyak memaksakan kehendak dan tidak memberikan kebebasan juga akan menjadi dampak buruk bagi anak.


Sedari awal masuk taman kanak-kanak sampai sekolah dasar, Sam kecil tumbuh dengan banyak kegiatan sehingga kekurangan waktu bermain dan menjadi tertekan karena banyaknya jadwal belajar dan bimbingan tambahan.


Sebelum sekolah playgrup atau istilah jaman sekarang adalah paud, Sam bahkan sudah bisa membaca. Saat memasuki sekolah dasar ia bahkan sudah lancar berhitung. Pintar dan terlihat menonjol, membuat Rusno maupun Tantri bangga terhadap anak itu.


Sebuah ironi yang amat memaksa tidak mereka sadari. Karena dari kecil Sam sudah banyak mengikuti les atau tambahan pelajaran. Hasilnya, Sam pintar. Namun, Rusno dan Tantri tidak menyadari, banyaknya paksaan yang ia terapkan dari balita membuat Sam menjadi banyak tekanan tanpa sadar.


Sampai saat Sam remaja, dan terpaksa tinggal terpisah, ia menemukan kebebasannya. Pergaulan tanpa pengawasan orang tua menjadikan ia tumbuh menjadi remaja yang urakan. Rusno tidak bisa berbuat banyak dan mengalah adalah jalan tengahnya. Karena memang anak seusia remaja sudah punya keinginan sendiri.


Rusno menghela nafas panjang. Duduk di teras di temani secangkir kopi yang sudah dingin, belum tersentuh sama sekali.


Jika ia katakan tidak bisa membujuk Sam, maka ia akan segan terhadap atasannya. Terlebih Pak Manto adalah orang penting sekaligus orang paling di tuakan di lingkup kerjanya.


"Sayang sekali cewek secantik dan sebaik itu di tolak mentah-mentah, Sam," sesalnya dalam hati. Ia akan bicarakan nanti dengan Sam jika sudah ada waktu senggang.


Sementara Sam yang sedang sibuk-sibuknya mengurus alat alat dan barang yang datang, menjadi tidak banyak waktu menanggapi pesan Tiara.


Kecewa, memang. Ia hanya menganggap Tiara teman, nyatanya di salah artikan oleh gadis baik itu. Maka, ia tidak akan memberi harapan palsu lagi dengan menanggapi pesan yang berdatangan. Jika seperti ini, Sam ingat pada Bella di masa dulu. Beruntungnya, Bella tidak terlalu larut, dan Sam senang jika Bella bisa bersikap seperti biasanya. Ya, tu sebuah cerita lama. Hingga bisa ia ambil pelajaran di masa sekarang.


Jika semua orang bisa seperti Bella, dan tetap menganggap teman tanpa canggung maka ia akan bersikap sama seperti pada Tiara. Namun, masa dulu dengan masa sekarang sudah berbeda. Ini bukan sekedar hanya cinta monyet belaka. Ia sadari juga bukan hanya melibatkan dua orang saja. Melainkan melibatkan kedua orang tua yang sudah lama bekerja melebihi saudara.


Ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.


Sam menyadari, dulu ia memang banyak memberi harapan pada banyak cewek-cewek. Hingga tidak jarang dari mereka jadi baper. Apalagi jika bosan, maka ia akan pergi tanpa kata dan menganggap hal itu biasa saja. Ya, sebrengsek itu dia di masa dulu.


"Ini saya letakkan sesuai setingan di Soba ya, Mas." Petugas yang mengirim alat-alat servis mendekati Sam dan memberikan selembar design yang sudah di cetak Pipin.


Sam meletakkan ponselnya dan mengikuti tim pengiriman alat berat. Ikut andil langsung dalam menyetting tempat.


Waktu beranjak sore. Namun, ramainya lalu lintas di depan bengkel barunya justru mencapai puncaknya. Dari anak sekolah sampai buruh pabrikan menjadi pemandangan yang biasa.


Dalam hati Sam tersenyum. Dulu, ia juga akan pulang jika waktu bahkan sudah bukan sewajarnya anak sekolah pulang. Ternyata hal semacam itu masih berlanjut hingga sekarang. Mungkin mereka juga mengalami kepenatan yang sama dengannya. Atau memang, jamannya sudah semakin modern, dengan perubahan jam belajar.


Tanpa sadar ia menggeleng samar dan mendekati pekerja las yang masih sibuk merangkai pesanannya. Ia letakkan nampan berisi tiga cangkir kopi dan satu plastik molen dan onde-onde.


"Ngopi dulu, mas. Besok lagi aja beresinnya." Sam melirik angka pada arloji di tangannya.


"Nanggung banget, Mas. Nanti malam kita lembur aja gimana." Salah satu pekerja memyahut.


Sam meringis kaku. Pasalnya ia sudah ada acara penting nan genting bersama Pakde dan pakliknya.


Akhirnya, pekerja las menyetujui permintaan Sam. Terlebih alasan Sam yang jujur membuat pekerja menurut meskipun tidak nyaman karena pekerjaan yang seharusnya dikerjakan satu hari jadi molor.


Malam menyapa. Menenggelamkan senja dengan segala keindahannya.


Sam memeriksa ponselnya dan segera mengetik nama dalam pencarian perpesanannya. Dengan sengaja melewatkan story' orang lain dan mencari sw orang yang menempati ruang khusus di hatinya.


[Dek, lagi dimana?] Pesan terkirim kala Sam mendapati foto yang menjadi story' WhatsApp Nada, berada di jalan kota. Merasa tidak asing dengan jalanaj yang menjadi foto sw Nada.


Sampai lima menit berlalu, Nada baru membalasnya.


Tidak sabar, Sam akhirnya menekan tombol memanggil. Suara keramaian menyapa indera pendengarannya.


"Lagi dimana sih,. berisik banget,.Dek ?"


Setiap panggilan itu di layangkan, entah mengala mampu membuat wajah Nada bersemu. "Ini, lagi nganterin ibu, Mas."


"Dimana? Kok jalannya nggak asing?"


" Ada deh, kenapa sih?"


"Ini udah malam, Dek. Jalan di malam hari bikin kawatir. Apalagi jika lewat di daerah yang sawah-sawah, itu."


Kekawatiran Sam membuat Nada bersemu kembali. Selama dua hari ini Sam agak berkurang intensitasnya dalam bertukar pesan. membuatnya sering bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kan ada ibuk, Mas. Nggak sendirian, jadi beranilah. Kamu sendiri dua hari ini sibuk banget. Malam juga sibuk nggak terlihat online. Sibuk ngapain sih?"


"Ya namanya orang kerja, ya adalah." Selama ini Sam memang mengaku kerja di bengkel. Memang benar, kan.


"Di bengkel mana ada lembur, sih, Mas! Setahuku, bengkel tuh, kalau malam ya tutup."


Sam memutar otak, belum ada niat baginya untuk mengaku sibuk beberes bengkel barunya yang 80% hampir rampung. "Sibuk cari tambahan, Dek. Tau sendiri kan biaya nikah tuh, banyak. Belum lagi kalau aku nggak bisa penuhi mahar yang kamu minta."


"Aku nggak akan minta aneh-aneh kok Mas,"


"Tetap aja sebagai laki-laki nggak sesederhana itu konsep nikah. Tapi kamu jangan kawatir, kata orang rejeki ada saja."


"Mas," ragu Nada mengungkapkan resah di hatinya sejak lama.


"Hm,"


"Aku kok tiba-tiba, minder, ya,"


Ungkapan Nada membuat wajahnya mengetat. Perlahan, wajahnya memanas dan gusar mulai merajai diri Sam. "Kenapa minder?" tanyanya takut bercampur ragu-ragu. Meluluhkan Nada sunggu tidak gampang. Kini gadis itu mampu mengoyak percaya dirinya.


"Kamu tahu sendiri, Mas. Orang tuaku, hanya petani tanggung. Sedangkan orang tuamu ... "


"Yang mau nikah itu aku, bukan orang tuaku, Nada. Jangan berpikiran aneh-aneh!" Tanpa sengaja suara Sam terlihat kesal dan sedikit membentak. Membuat Nada di seberang sana bergeming. Ia sadari telah membuat Sam marah dengan keraguannya.


Entah mengapa suara Sam mampu membuat Nada sakit. Tanpa sadar, matanya memburam karena tumpukan air mata yang menggenang disana. Ia memutus sepihak telepon Sam yang belum selesai dan bergabung dengan ibunya.


Nada pastikan untuk menghapus jejak air mata di pelupuk matanya. Tidak ingin, Ibunya mengetahui raut sedihnya. Harusnya, Sam tidak perlu berkata sedemikian ketusnya. Ia banyak berharap untuk mendapatkan kalimat penenang dari Sam. Tapi justru rasa gundahnya semakin besar.


"Mau warna apa, Na?" Marni mengangsurkan dua pilihan kebaya brokat berbeda model sekaligus berbeda warna.


Demi menyembunyikan keputusasaannya, Nada menunjuk satu kebaya model kutu baru modern berwarna kopi susu.


Tadi siang setelah Nada mengajar, Marni mengajaknya mencari kebaya. Alasannya cukup ringan. "Kepengan saja punya kebaya kembar."


Begitu ucapan sang ibu, membuat Nada mengiyakan tanpa banyak bicara lagi.


Padahal dalam hati kecil Marni, ingin berjaga saja manakala pernikahan anaknya akan datang dalam waktu dekat. Meskipun belum menemukan tanggal yang jelas, ibu dari Nada begitu berharap banyak untuk kali ini, langkah Nada akan berjalan lancar, tanpa aral melintang.