
*
Pagi kembali menyapa.
Jika biasanya, Sam akan berangkat sekolah mepet jam masuk, kali ini tidak.
Karena ia berangkat dari rumah pakliknya.
Kesehatan Sam masih belum membaik. Kemarin sore, adik dari papanya itu datang dan memaksanya ikut ke rumahnya.
Berhubung masih pagi, Sam pikir tidak akan terlalu macet. Namun, pemikirannya salah. Ternyata keramaian jalanan beraspal itu begitu banyak anak sekolah dan sebagian buruh pabrik.
Hingga untuk yang ke empat kalinya, Sam berhenti karena lampu traffic light. Tidak sengaja mata Sam menemukan Nada. Adik kelasnya yang lama tak menjadi sasaran usilnya. Dia di bonceng oleh pria berseragam pabrik. Dalam batin, Sam menerka jika itu adalah orang tua Nada.
Entah bagaimana ceritanya, baik Nada maupun lelaki berusia empat puluhan itu kompak menoleh ke arahnya. Dengan segera ia mengangguk karena visor helmnya terbuka. Tak sopan saja jika ia pura-pura tidak melihat.
Saat lampu telah berganti warna, Sam melaju dengan kecepatan normal. Ia sengaja berjalan tepat di belakang Nada. Ia tersenyum di balik helmnya karena si objek matanya terlihat sinis, terlihat dari sorot matanya. Seperti biasa.
Meskipun satu sekolah, jarang banget bisa nemuin kamu. Tapi diantara banyaknya orang-orang di jalanan, tidak aku sangka bisa bertemu kamu.
Tiba-tiba, motor yang di kendarai oleh orang tua Nada melakukan sign kiri. Padahal jarak untuk sampai ke sekolah masih sekitar dua kilometer lagi. Sam menyalip, tapi ia terus mengawasi Nada dari spion.
Berkali-kali Sam menoleh, tapi Nada tak kunjung menyusul juga. Kata hati membuatnya putar balik. Hingga ia menemukan Nada bersama orang tua tadi sedang menuntun sepeda motor keluaran 2010 itu.
"Motornya, bocor, Pak," sapa Sam membuat Nada dan bapaknya menghentikan langkah seraya menoleh ke samping.
Sam berjalan pelan, membuat suara motor dengan CC 250 itu sedikit mengganggu telinga. Ia segera menepi untuk berhenti.
"Saya Sam, temannya Nada, Pak. Motornya bocor ban, sepertinya. Boleh saya bantu, Pak."
"Iya, padahal tadi baik-baik saja," jawab bapak meringis sambil menoleh pada anak gadisnya. Kasihan bila anak kesayangannya akan terlambat begitu pikirnya.
"Di depan sana, ada bengkel, Pak. Kebetulan punya teman saya. Saya panggilkan sebentar." Sam lekas membuat panggilan dan berbincang sebentar dengan ucapan terima kasih sebagai penutupnya.
"Masih keburu, nggak, Pak?" Sam menyelidik logo pabrik di kemeja Hardi sehingga bapak dari Nada itu melakukan hal yang sama. Jelas sekali bapak dari Nada itu terburu-buru melalui raut resah yang di simpan.
"Ini sebenarnya, sudah mepet juga."
"Teman saya sedang ke sini, Pak. Biar motornya di urus teman saya. Bapak bisa berangkat dengan angkot." Sam memberi penawaran.
Entah mengapa, kepeduliannya begitu jelas pada orang yang baru sekali ini ia jumpai.
"Ah, tapi...," ucap Hardi tertahan menoleh pada Nada.
Seolah tanggap apa yang menjadi resah oleh Hardi. Sam akhirnya memberanikan diri memberikan penawaran kedua.
"Nada kajenge kalih kulo, Pak."¹
"Bagaimana, Nduk?" tanya Hardi pada Nada yang justru sibuk dengan ponselnya.
"Na, biar di jemput sama Via aja, Pak."
Nada memberengut, saat Sam berusaha sok akrab dengan bapaknya. Apalagi sampai memperkenalkan diri tadi. Buat apa? Bapak juga, kenapa jujur sekali perihal apesnya pagi ini.
Nada sudah mengirim pesan pada Via tapi sialnya masih centang satu. Ia meminta tolong untuk menjemputnya. Sebenarnya, Nada bisa saja berjalan, tapi dua kilo? Jelas saja, ia bisa terlambat.
Saat masih bernegosiasi, teman Sam datang. Lelaki dengan rambut sedikit gondrong itu membawa serta satu temannya. Tujuannya untuk membawa motor Hardi. Satu temannya tadi membawa motor Hardi sedangkan teman Sam yang lain mendorong dengan kaki kirinya.
Hardi berkali-kali mengucapkan terimakasih. Berbeda sekali dengan Nada, seolah bisa menebak maksud Sam padanya.
Dia akan menawarkan bantuan gitu? Dih, lagu lama.
"Makasih, ya, Sam. Kalau begitu saya mau menunggu angkot di sini. Silakan kalau mau berangkat!"
Sam melirik pada Nada, ingin rasanya menawarkan bantuan. Tapi wajah Nada sudah memasang tak bersahabat. Apa aku punya salah?
"Kalau begitu, biar saya bawa Nada, Pak." Sam jelas meminta ijin langsung. Karena merasa ini menjadi kesempatannya.
"Ah, enggak-enggak. Masih ada sepuluh menit. Aku bisa nunggu angkot aja." Nada menolak. Ia tak mau berurusan dengan Dita jika ia sampai membonceng Sam ke sekolah.
Hardi merasa tidak enak pada Sam. Tapi memaksa Nada tentu tidak bisa ia lakukan.
Sam tidak menampakkan rasa kecewanya. Ia justru menawarkan pada Hardi untuk ia antar ke pabrik. Terlihat Hardi berfikir sambil terus mengecek arloji di tangannya. Ini bahkan sudah hampir terlambat.
"Ya, udah, Nduk. Kamu hati-hati, ya! Bapak sudah terlambat. Jadi bapak duluan, ya!"
"Iya, Pak." Seraut wajah ketus itu mendadak lumer saat Sam tak malu membonceng bapaknya.
Padahal, bisa saja kan, kakak kelasnya itu berangkat sendiri saja karena ia telah memasang wajah abai sedari tadi. Perduli apa sama urusan orang.
Hardi mengiyakan meskipun ia tak enak hati pada Sam karena terus merepotkan. Di tambah, perilaku Nada pada lelaki setinggi 175 centimeter itu.
Sekarang, Nada sendiri bingung, Via tak juga membalas pesannya. Angkot juga sejak tadi selalu penuh. Ia putuskan untuk menunggu di pinggir jalan sambil sesekali memeriksa ponselnya.
Lima menit menunggu, angkot yang ia harapkan tidak juga lekas muncul. Membuat Nada menghentak kesal. Takut menjumpai gerbang sekolah sudah terkunci dan ia akan sia-sia. Sedikit ada rasa sesal saat menolak tawaran Sam tadi. Tapi bagaimana dengan Bapak? Ah sudahlah.
Akan tetapi, ada harapan saat tiga menit terakhir kini sudah berjalan. Sam datang dengan mata menyipit. Nada menebak, pasti Sam tengah menertawakan dirinya. Tiga menit. Artinya tiga menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.
"Masih mau nolak, nggak?" tanya Sam sambil membuka visor helmnya.
Antara terpaksa dan malu. Nada akhirnya naik di boncengan Sam. Dia duduk membonceng meskipun terlihat tidak nyaman. Sialnya kali ini ia tak mengenakan long leging, seperti yang biasa ia pakai. Jadi, ia harus duduk membonceng.
"Tinggi banget, nih motor," gumam Nada.
"Pegangan, Na! Aku arep ngebut!"²
Lagi-lagi Nada berburuk sangka. Mengira Sam modus sekali.
Eh tapi, masih ada tas punggung Sam yang tak membuat skin touch dengannya. Syukurlah.
Tau mau ketemu kamu, tadi pakai motor matic aja. Begitulah yang ada di benak Sam. Ia jelas dapat membaca raut tak nyaman Nada saat membonceng.
Sam tidak mau memikirkan hal itu. Prioritasnya saat ini tentu bagaimana ia bisa sampai di sekolah tanpa terlambat.
Sam menambah kecepatannya. Sedangkan Nada yang begitu takut, kini menghujat tangannya. Bagaimana bisa, tangannya itu begitu dengan tidak tahu malunya kini melingkar di tubuh Sam.
Sam tidak membawa motornya ke depan gerbang melainkan memilih jalur lain. Karena ia melirik satpam sudah menarik gerbang dan menguncinya dari dalam.
"Kita mau kemana!" Nada melepas tangannya kemudian menepuk bahu Sam. Biar sadar, kalau Sam salah jalan, begitu pikirnya.
Sam memarkir motornya di teras rumah orang. Nada pun segera turun sambil terus melihat ke sekeliling. Ia sadar tengah berada di belakang sekolah. Karena atap sekolah sudah terlihat di depan mata.
"Ayo!" Sam mencekal tangan Nada. Gemas sendiri melihat Nada justru sedang berdiri melamun.
"Kemana?" tanya Nada saat Sam terus menarik tangannya menyusuri belakang dinding setinggi dua meter itu dan berhenti tumpukan kardus.
Sam menoleh pada Nada dan melepaskan tangan Nada. Ia mengangguk saat Nada menatapnya terbelalak. Haruskah naik kardus ini? Begitulah arti tatapan Nada.
Nada tentu tak mau menaiki tumpukan kardus itu. Bisa jatuh dia nanti.
Sam melihat arlojinya. "Udah nggak ada waktu, cepetan!"
"Nggak mau, Mas! Aku takut jatuh."
"Nggak akan! Di balik sana ada banyak meja bekas. OSIS kemarin bantu-bantu, mindahin."
Meski ragu Nada, mencoba menaiki tumpukan kardus itu. Sam membantunya dengan memegangi kadus² agar tak merosot.
Tempat ini adalah jalan pintasnya saat menemui masalah yang sama. Jadi dia sudah biasa. Bahkan jika saat ini dia tak bersama Nada, pasti dia sudah sampai di kelas.
Ini hal baru bagi Nada menghadapi tantangan ekstrem seperti ini. Sialnya hal ini di pimpin langsung oleh ketua OSIS-nya. Sungguh.
Sampai di atas dinding, Nada masih ragu untuk turun. Benar ada banyak meja kursi yang di tumpuk. Mungkin meja-meja itu telah rusak. Tunggu, rusak? Bagaimana nanti jika di injak dan semuanya roboh?
Semakin takut saja akan memijakkan kakinya. Bahkan Sam sudah duduk di dinding yang sama dengannya.
"Ayo!" Seruan Sam membuat Nada tak bisa berfikir. Dalam sekejap Sam sudah turun dengan lincah dan mendarat dengan selamat di belakang sekolah.
"Ini nanti gimana kalau roboh!"
"Udah aku bilang, ini aman!" Sam meringis saat Nada menaikkan rok panjangnya. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Takut khilaf.
Tapi Nada kesusahan. Mau tak mau, Sam lekas mengulurkan tangannya pada Nada.
Takut-takut, Nada menerima uluran tangan Sam dan dengan cepat Nada melompat. Hampir terjatuh karena Nada berpijak di pinggiran kursi.
Sam tentu tak akan membiarkan itu terjadi. Ia menangkap Nada.
Percayalah ia mengesampingkan jika nanti Nada akan mencakar-cakar wajahnya jika Nada mengira dengan sengaja mengambil kesempatan.
Sesaat, keduanya bertatapan canggung hingga Nada memutuskan untuk berlari lebih dulu. Malu saja rasanya. Sedangkan Sam justru berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.
Morning challenge.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nb:
"Nada, biar sama saya saja, Pak."¹
"Pegangan, Na. Aku mau ngebut," ²