Sam

Sam
Find solution



*


"Gimana? Ada kendala?" tanya Sam setelah Reva kembali dari mengantar Ilham sampai teras depan.


"Udah, kok, Mas. Tadi bapak udah diskusi juga kalau minggu depan hari yang paling tepat." Gadis itu melempar punggung ke sandaran kursi. Terlihat lelah dengan serangkaian prosedur yang di laluinya tiga hari ini. Dari pengajuan pendaftaran nikah, mengumpulkan data dukung dan sidang untuk mendapat ijin menikah dari kantor urusan agama di kabupaten kota.


Sam melirik sekilas pada Reva yang masih terlihat kesal karena ia sempat berlaku ketus pada Ilham. Ya, nalurinya sebagai kakak tentu tidak terima hal ini terjadi pada sepupunya.


Apa aku keterlaluan?


Bukankah aku sendiri tidak jauh beda dengan bocah tadi. Hanya saja semesta masih menutup perbuatanku dan tidak meninggalkan jejak nyata seperti Reva.


"Kenapa, Mas? Tangan kamu masih nyeri?" tanya Reva terlihat cemas demi melihat Sam dengan mata terpejam seperti menahan rasa sakit.


Sam membuka mata. Begitu mencerna pertanyaan Reva yang tengah salah mengartikan mimik wajahnya. Jauh dari pemikirannya. "Enggak sakit. Cuma kalau di angkat gini," sembari Sam mencoba mengangkat tangan kiri, "agak nyeri gitu."


Ya, mengikuti pemikiran Reva tiada salahnya. Tidak mungkin Sam akan jujur dengan apa yang ia pikirkan tadi, bukan.


"Oh. Habis tadi merem-merem kaya' nahan sakit gitu."


Look. Bahkan dia yang sedang tertimpa masalah tapi masih memikirkan keadaan orang lain. Sayang sekali gadis seperti itu harus mengalami hal seperti ini.


"Ah, masa' iya, gitu?" kilah Sam kikuk sambil mengusap tangannya. Cepat sembuh, bagian diriku, kita selesaikan misi dengan cepat. Aku tidak mau menanggung beban terlalu lama lagi.


Reva tidak menanggapi Sam lagi. Ia diam memeluk tubuh. Ada sesal yang begitu besar menyerangnya. Dalam hal ini, baru keluarganya dan keluarga Ilham yang mengetahui kehamilannya. Bagaimana tanggapan teman-temannya? Bagaimana sekolahnya? Bagaimana masa depannya? Belum lagi jika perutnya semakin membesar.


Beban ini cukup mengguncang jiwa muda Reva yang memang masih belum sampai memikirkan hal sedetail ini. Menagis sudah ia lakukan. Menyesal pun seperti tiada guna lagi. Semua sudah terjadi. Tidak dapat di elakknya lagi karena di dalam tubuhnya sudah tumbuh makhluk kecil yang sudah mempunyai hak untuk hidup.


Beberapa hari yang lalu, ia sempat memakan n*nas muda. Berharap dengan begitu ia tidak lagi mendapati kekecewaan bapak dan ibunya. Tidak ingin kawatir dengan sekolah maupun dengan lingkungannya. Hingga malam kembali datang. Namun, reaksi yang ia harapkan tidak kunjung datang. Membuatnya frustasi dan ya.. menangis adalah caranya agar beban di kepalanya sedikit berkurang.


Mendapati Reva diam memeluk tubuh, dengan kedua pipi yang sudah kembali basah dengan air mata, membuat Sam menghela nafas. Sesak kian merambat memenuhi dadanya. Sejujurnya Sam juga bingung hendak menghibur Reva dengan cara apa.


"Rev," panggil Sam seraya menggeser duduk lebih dekat.


Reva tidak menjawab. Hanya melirik sekilas lalu kembali pada posisinya.


"Apa yang masih kamu pikirkan? Besok kamu harus kembali sekolah, ya. Kata ibuk, kamu udah bolos lima hari."


Reva menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sam. "Aku takut teman-teman tahu, lalu menjauhi aku, Mas. Aku... aku takut ke sekolah." Untuk selanjutnya rasa takut, marah, benci mulai bertarung hingga terjadilah isakan kecil lalu berubah menjadi tangis. Ia menutup mulut dengan sebelah tangan agar tangisnya tidak memancing ibu yang sibuk di belakang.


"Terus, apa bedanya sama kamu yang semingguan alpa, gini? Justru akan memancing teman-teman kamu buat tanya kondisi kamu, kan!"


"Aku belum siap, Mas."


"Sampai kapan?"


Sam masih berbicara selembut mungkin agar Reva tak haus suport dari orang terdekat. Ia pun harus mengatur cara bicaranya agar tidak membuat Reva tertekan.


"Kamu nggak mengalaminya, Mas. Ini berat buat aku."


Reva kini duduk menatap Sam dengan berapi-api. "Cepat atau lambat, mereka pasti akan tahu! Dan aku nggak tahu harus kaya'gimana. Belum nanti kalau aku sampai di DO dari sekolah. Aku takut, Mas!"


Segera Sam merangkul bahu Reva yang bergetar. Gadis itu kembali menangis sesenggukan. Bahkan dari Revi, Sam tahu jika selama ia di rumah sakit Reva tidak mau keluar rumah. Jika akal sehatnya tidak bekerja dengan baik, tiga hari ini gadis itu pasti menolak untuk pergi mengurus surat-suratnya. Beruntungnya gadis itu mampu mengalahkan rasa takut untuk memperbaiki masa depannya. Menikah.


Hanya tepukan di punggung ringkih milik Reva yang bisa Sam berikan sebagai dukungan. Ia tak bisa berkata apa-apa untuk menasehati sepupunya itu.


Bisa Sam bayangkan bila kelakuannya dulu berakibat fatal seperti yang Reva alami. Pasti seperti inikah gambaran Nada saat itu.


Membayangkannya saja membuat gemuruh di dada Sam semakin membuat pelupuk matanya memburam karena desakan dari dalam matanya mengalir tanpa bisa ia cegah.


"Maaf, Nada. Maaf," lirihnya tanpa sadar.


*


"Paklik," ucap Sam hati-hati karena mendapati Kusno yang sedang terkantuk-kantuk di kursi teras.


Kusno yang merasa di panggil mendadak mengumpulkan kesadarannya. "Eh, Sam," sapanya sambil membenahi duduknya.


Kurangnya tidur dan banyaknya masalah yang menghampirinya membuat pria berusia 46 tahun itu sering mengalami hal itu, akhir-akhir ini.


"Kenapa, Sam?" ujarnya seraya meregangkan tangan. Sejenak terpejam membuat posisinya tidak baik sehingga badannya terasa kurang nyaman. "Sam," ulangnya karena Sam tak kunjung bicara.


"Masalah Reva, Paklik. Apa rencana Paklik untuk sekolahnya Reva kedepannya?"


Hati-hati Sam membuka pembicaraan serius setelah semalam memikirkan bagaimana kelanjutan sekolah Reva.


Kusno diam sebentar sebelum mengembuskan napas panjang. Ia menggeleng samar lalu menoleh pada Sam yang tengah menunggu jawabannya. "Pasti Reva akan di drop out bila pihak sekolah sampai tahu, Sam," jawabnya pasrah.


"E.. itu Paklik. Setahu aku, Smaba sekarang ada peraturan bahwa memperbolehkan siswanya tetap melanjutkan pendidikan hingga ujian berlangsung. Hanya saja, siswa yang berada dalam tanda kutip tidak bisa ikut kegiatan di sekolah. Jadi, Reva masih bisa belajar dan mengerjakan tugas dari rumah."


Kusno mengeryit mendengar penuturan Sam. Sejenak, lalu manggut-manggut. Ia tidak terpikirkan sampai di situ. Pikirannya terlalu ruwet hingga ia melupakan tentang kebijakan tiap sekolah itu berbeda. Namun, bila ia harus membuat pengakuan dengan pihak sekolah, tentu ia akan menanggung malu. Bahkan, amat sangat malu. Siapkah?


Kusno merangkum wajahnya sedangkan isi kepalanya mendadak berputar. "Aku bingung, Sam." Menutupi dari pihak sekolah juga tentu bukan sebuah pilihan. Karena cepat atau lambat, berita itu akan sampai juga ke ranah sekolah.


Kusno menoleh penuh pada Sam. Ada harap yang begitu besar melalui wajah dengan sedikit kerutan itu pada keponakannya. Tidak ada senyum di wajah itu. "Tolong, ya, Sam." Hanya sedikit binar harap yang keluar dari netra milik Kusno. Seperti beban di punggungnya lebih berkurang.


*


Sam datang ke Smaba bersama Royan. Royan begitu terkejut karena Sam mendadak bersemangat untuk mengajukan rencana reuni yang beberapa waktu di bahas di grup alumni. Penjelasan singkat namun tidak sampai mengungkapkan hal sebenarnya membuat Royan paham hingga mau untuk berkunjung ke sekolah dimana mereka menuntut ilmu empat tahun yang lalu.


Di sinilah mereka. Menuntaskan rencana pengajukan reuni kecil-kecilan pada pihak sekolah. Tanpa Royan tahu, ada kepentingan lain yang ingin ia tanyakan langsung dari pihak kesiswaan.


"Nggak nyangka banget, Sam . Kamu bakalan nyempetin waktu buat nemenin aku buat pengajuan acara kek begini."


Sam sedikit menarik bibirnya. "Kamu pikir aku workaholic. Sesekali cari hiburan juga penting, kan."


"Tangan kamu gimana, Sam."


"Ya, harus begini. Jadi orang cacat. Untungnya sekarang pakai motor matic. Kalau pakai kopling, jelas belum bisa."


"Nggak apa cacat sebentar. Asal aset berharga tetep ok," seloroh Royan membuat Sam tergelak.


"Ngomong opo," sahut Sam kemudian terbahak lagi.


Royan mencibir membuat Sam terkekeh kecil. "Iyaa lhoo, percaya wes. Apalagi, sekarang udah jadi pak bos, tinggal perintah bawahan. Kelar. Cuan mengalir, kerjaan beres."


"Bos pa'an," kilah Sam tidak menyetujui komentar Royan.


"Lah bener, kan. Kamu bos! Apa namanya jika udah punya usaha dan tinggal bayar yang kerja." Royan semakin menggoda Sam sebatas untuk mengisi perjalanannya menuju hall utama dari tempat parkir motor mereka.


"Nggak usah berlebihan. Bos kok ya bos bengkel. Bos itu yang punya usaha dimana-mana. Punya kantor yang keren. Punya instansi di kota-kota besar, bisnis yang menjanjikan_"


"Nggak usah ngerendah gitu, lah. Kaya' bukan Sam yang aku kenal." Royan menonyor lengan Sam, membuatnya terkekeh.


"Ya, emang. Mana ada bos tangannya kotor sama oli."


"Serah, deh."


"Nggak percaya? Kemarin-kemarin kadang aku bantu anak-anak, lho. Coba aja tanya ke mereka."


"Alah ndabul (omong kosong)."


Membuat Sam jadi tambah tergelak. Hingga keduanya telah sampai di ruang tamu untuk pengunjung. Dari sana, Sam di arahkan untuk langsung ke ruang kesiswaan sekaligus humas Smaba.


Yeah. Kembali Sam bertemu Pak Koni membuat keduanya justru berpelukan sejenak setelah Sam mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Ini benar-benar kamu, Sam!" Pak Koni tertawa sambil terus menepuk punggung Sam dengan keras. "Datang dari pintu gerbang apa lompat pagar belakang?" selorohnya hingga membuat Sam dan Royan tertawa.


"Sehat, Pak?" ucap Sam yang masih menerima tepukan ringan dari Pak Koni.


"Sehat-sehat," ucap Pak Koni sambil melerai pelukannya." Tangan kamu kenapa, Sam?"


Sam meringis sambil mengusap-usap Sling arm," jatuh dari motor, Pak."


Sedetik Pak Koni kembali menggeleng pelan seraya tersenyum. "Pendekar bisa jatuh juga? Padahal balap motor dulu berkali-kali jatuh. Tapi selalu oke," kenang Pak Koni mengingat dulu pernah mendapati Sam yang selesai balap motor. Kali ini ia berganti menatap Royan yang masih mesam-mesem penuh arti. "Kamu juga geng-nya Sam yang langganan lompat pagar," tebak Pak Koni sambil menunjuk Royan dan kembali tertawa.


Sejenak mereka saling melempar candaan. Hingga Pak Koni menanyakan maksud kunjungan Sam dan Royan.


"Jadi begini, Pak. Karena dua bulan lagi waktu lebaran. Kami bermaksud untuk mengadakan reuni untuk alumni tahun 20xx. Dan berikut kami sertakan surat pengajuannya, Pak. "


Pak Koni membuka satu map kertas yang berisi amplop sedang berikut surat yang di maksudkan oleh Sam. Sekilas membaca isi surat, guru kesiswaan yang merangkap sebagai humas itu menyetujui permohonan Sam. Karena acara akan di adakan memilih tema outdoor.


Setelah berkoordinasi menimbang berbagai tempat, bentuk acara dan lain sebagainya, mereka kembali mengobrol santai. Hingga Sam beranikan diri untuk menyinggung tentang tata tertib di masa sekarang. Saat kesempatan tiba, Sam mencoba menanyakan tujuan terselubung atas kedatangannya.


Dengan gamblang Pak Koni menjelaskan dengan santai. Seperti perbincangan pada umumnya. Namun begitu membantu Sam untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan Reva.


"Ya, sudah bukan rahasia lagi. Banyak kasus pelajar yang hamil di luar nikah. Banyak. Tidak hanya di sekolah swasta. Di sekolah negeri pun ada. Hingga kebijakan untuk siswi yang mengalami hal tersebut adalah tidak di perkenankan lagi untuk melakukan pembelajaran di sekolah. Melainkan pembelajaran tetap di lakukan di rumah."


"Tapi, tetap dengan pemantauan pihak sekolah juga. Mungkin kalau dulu, akan langsung di DO, kan. Kalau sekarang tidak lagi. Kurikulum Setiap tahun pasti berganti. Setiap tahun ada pasti perubahan peraturan. Karena menterinya juga berganti, bukan."


"Tapi, bukan berarti sekolah membenarkan perilaku tersebut, jelas bukan."


"Di sini tentu pembelajaran di rumah juga sudah merupakan hukuman mental. Dari situ, siswi akan bisa belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Sehingga, harapannya tidak lagi ada kasus yang sama."


"Eh, kita jadi ngobrol panjang lebar begini. Maaf-maaf, ya." Pak Koni tertawa demi melihat Sam dan Royan yang tengah serius mendengarkan penuturannya.


Sedangkan Sam dan Royan pun tak luntur untuk mengulas senyum. Merasa tujuannya yang lain sudah terpenuhi, mereka hanya saling berbicara lewat mata yang berkedip. Untuk kemudian mereka pamit untuk pulang.


Sam pulang dengan perasaan lega. Penuturan Pak Koni membawa Sam untuk menyampaikan apa yang baru ia dapatkan pada Kusno.


Lega, setidaknya masa depan yang kelabu untuk anaknya kini tidaklah menjadi ketakutan yang berkepanjangan lagi.


*