Sam

Sam
Es cekek



*


Hari dimana persami di lakutan tiba juga. Di daerah pinggiran kota Solo tempat itu menjadi pilihan panitia.


Ada regu OSIS dan Bantara yang bekerjasama menjadi panitia persami. Tentu ada kurang sebelas pembina dari pihak guru yang ikut bertanggung jawab atas kegiatan ini.


Kegiatan rutin tahunan, tiga bulan seusai penerimaan siswa baru di lakukan. Peserta kali ini tentu dari seluruh siswa kelas sepuluh.


Regu telah di bentuk jauh sebelum kegiatan. Masing-masing regu beranggotakan sepuluh siswa.


Mereka tengah selesai mendirikan tenda. Kini tenda bisa untuk berteduh dari teriknya sinar matahari.


“Vi, ini ada roti. Lumayan buat ganjel perut!” Nada memberi satu bungkus roti isi pada Via, tentu Via berterima kasih memang perut sudah lapar.


“Capek banget, gila. Beli es teh sana!" Nada duduk sambil menyeka keringat di dahi setelah minum air mineral. "Air putih nggak ngilangin haus sama sekali.” Nada ikut duduk di akar pohon berjejer dengan Via. Nenempel-nempel pada Via yang tengah senyum-senyum sendiri menggulir layar ponselnya.


"Pasti chatingan sama Bayu! Dasar buceeen!” Nada sengaja menyindir Via. Via yang disindir hanya terus senyum membuat Nada geleng-geleng lalu berlalu untuk membeli es teh cekek.


“Nitip satu, ya, Naaa! “ Suara Via berteriak membuat Nada segera menjawab, “Ogahhh ya, beli sendiri."


Nada tentu bercanda atas jawabannya.


Begitu sampai di penjual. Berbagai penjual minuman dingin ada di pinggir lapangan. Nada harus antri dulu untuk mendapatkannya. Ada beberapa teman sekelasnya namun dari regu yang berbeda dengannya, turut antri juga di sana.


“Gerah banget, ya,” keluh Nada pada beberapa siswi disana juga mengeluhkan hal yang sama.


Nada memindai sekitar. Di sana, sudah lebih mirip dengan pasar kaget saja. Selain ada puluhan tenda peserta persami, disana juga ada puluhan mobil pick up yang di buat sedemikian rupa sebagai kedai untuk berjualan. Ada yang berjualan cilok, batagor, jajan pasar, gado-gado, bakso malang dan masih banyak lagi.


“Ketemu lagi.” Ucap seseorang sambil menoel bahu Nada yang berbalut seragam lengkap penggalang.


Saat Nada melihat siapa pelakunya, ia hanya memutar bola matanya jengah.


“Duuuhhh, kok aku bisa lupa sih kalau ada pak ketua yang ikut di sini.” Nada tak benar-benar lupa akan hal itu. Ia hanya tak tahu harus berkata apa.


Sam tergelak saat mendapati wajah judes itu kembali. Ia tak sengaja menghindar dari briefing panitia karena merasa malas saat Dita terus menempel kemanpun ia pergi. Hingga Sam berakhir bertemu Nada ada sini.


“Galak amat, sih. Ntar tambah cantik, loh!” Sam tentu tak bercanda kali ini. Wajah kuning langsat Nada di terpa sinar matahari jadi semakin memesona di mata Sam.


“Emang tak di ragukan lagi, ya.” Nada melipat tangan di dada sambil meniupkan angin ke wajah agar jilbabnya melengkung presisi.


“Ragu kenapa emang?' ujar Sam mengernyit tak mengerti dengan seringainya.


“Yaa, mungkin gitu cara kamu buat gombalin cewek-cewek biar baper,” dengus Nada sambil menerima dua es cekek dari penjual lalu membayarnya.


“Biar aku yang bayar, Buk," sela Sam sambil merebut uang dari Nada dan dengan cepat menggantinya dengan uangnya.


Nada terbelalak melihat hal itu. "Eh, aku bisa bayar sendiri!"


“Udah. Jangan nolak rejeki!" Sam meletakkan uang Nada di atas topi semi beludru yang Nada kenakan.


Dengan cepat Nada mengambil uang itu dan berusaha memberikannya pada Sam lagi. Tentu Sam denan cepat menghindar. Sehingga sebagian dari siswa-siswi yang antri menggoda Nada.


“Cie-ciee.”


“Buat aku aja, Mas, kalau Nada nggak mau.”


“Nada, sok jual mahal, tuh,”


“Jarang-jarang loh, dapat perhatian dari kakel kece,”


Godaan teman-teman Nada membuatnya bersemu bercampur kesal. Sementara Sam hanya tersenyum santai sambil garuk-garuk alis. Salah tingkah juga. Baru nyadar jika dia tak hanya berdua saja.


Sebenernya Sam sudah mencari si judes itu sedari tadi. Namun karena tugasnya yang harus membantu pemasangan tenda, barulah ada kesempatan untuk mencari Nada.


Entahlah, Sam merasa terhibur saja menjahili Nada. Karena beberapa ia terlibat suatu hal dengan Nada, membuat Sam seperti ada yang kurang bila sehari tak bertemu Nada.


Kejahilannya baru berhenti saat Nada pergi sambil mengucap makasih secara kilat, membuat Sam menggulum senyum. Puas menggoda tetangga Dika itu.


Siang hari, kegiatan di mulai. Dengan mendengarkan arahan dari pembina, peserta persami melakukan kegiatan.


Berjalan berbaris menemui pos-pos kegiatan. Pos pertama adalah PBB/ baris berbaris. Nada yang menamai regu nya ‘mawar’ lolos kekompakan dan ketepatan.


Degan tinggi lebih dari 160 cm, Nada menjadi ketua regu. Beberapa hari sebelum kegiatan ini ia dan kelompoknya sudah berlatih yel-yel. Ciri khas kelompok mereka.


Menjelang sore, semua peserta di kumpulkan lagi dan di persilahkan untuk mandi dan ishoma.


"Vi, kamu tunggu depan pintu, ya. Takut." Nada bukan merasa takut melainkan masih merasa asing saja. Mandi di sebelah masjid besar yang terletak tak jauh dari lapangan.


"Cen banget, sih," cibir Nada mencebik lucu.


Setelah mandi Nada bersama Via dan beberapa temannya kembali ke tenda. Tepat saat tim panitia menyebar untuk membagikan nasi bungkus.


Dengan senang hati Nada menerima satu kresek dari panitia. "Makasih, Kak," ucap Nada menyapa panitia sekaligus anggota OSIS. Panggilan khas saat kegiatan Pramuka.


Rupanya ada Dita yang tersenyum kecut mendengar ucapan terimakasih Nada. Ia menahan Nada yang hendak berbalik. Membuat Nada menatap penuh pada Dita.


"Kenapa, Kak?" tanya Nada sungguh-sungguh.


Dita memindai penampilan Nada dari bawah hingga wajah. Sandal jepit sejuta umat masih menjadi alas kaki Nada. Kulot berwarna gelap dengan atasan sweater berwarna soft peach menjadi pilihan Nada untuk melindungi tubuhnya.


"Kamu yang bernama Nada?" tanya Dita dengan wajah meremehkan.


"Iya benar, ada apa ya?"


Dita mendengus, melihat mata sayu dengan hidung mancung nyaris sempurna milik Nada, khas orang India. Bibir mungil berisi milik Nada juga semakin membuat Dita menyimpan isi pada adik kelasnya.


"Kamu ada hubungan apa sama Sam?"


"Sam?" Nada mengernyit sejenak. "Oh, Mas Sam ketua OSIS baru?" tanyanya polos.


Tak tahu saja, Dita sudah semakin meninggi saja rasa benci yang ia sematkan pada Nada. Saat ia dengan susahnya mendekati Sam, Nada justru sok jual mahal saat di goda oleh Sam.


"Sam mana lagi emang, yang di sekolah Smaba!"


"Ihh, Kak, biasa aja kali." Nada ikut ketus melihat gelagat tak biasa dari Dita.


" Jangan dekat-dekat, sama dia! Dia itu pacarnya banyak." Dita spontan saja, sengaja memprovokasi Nada membuat Nada segera paham kemana maksud pembicaraan Kakak kelasnya.


"Tenang aja, Kak. Aku juga nggak suka kok sama dia."


"Yakin?" selidik Dita membuat Nada tertawa sambil mengangguk yakin seraya menutup mulutnya.


"Kakak pacarnya Mas Sam. Di jaga baik-baik ya kak, pacarnya. Biar nggak usil sama orang." Sengaja Nada membuat jengkel wajah keruh yang Dita suguhkan sejak tadi. Nada segera berbalik sambil mengucapkan terimakasih.


Sementara di sisi tenda sekretariat, Sam tengah menyalakan lintingan tembakau dengan taste milk tea. Ia mengendap saat panitia yang lain sedang melakukan tugas.


"Nggak asyik banget nggak ada Dika. Kaya' orang tersesat saja aku di sini," dengusnya lalu meniupkan asap putih ke udara.


Ponsel ada di tangan kanan. Sam ikut nimbrung di room chat di grup yang ia beri nama "the brandals".


Dika:


[Di cari orang hilang.]


Pesan dari Dika membuat grup riuh karena foto yang di kirim Dika adalah gambaran Sam yang tidur di bawah pohon dengan lengan menutup mata


Royan:


[Kasihan anak Pak Kusno jadi terdampar di pulau seberang 🤣]


Akmal


[Serius itu, Sam bukan sih?' @Sembaranya-maklampir.


Royan:


@UstAkmaltersesad 🤣🤣🤣🤣


Dika:


[Lihat noh nama di dadanya!]


^^^Sam:^^^


^^^Dapat dari mana sih @Dika's djabriks^^^


^^^Sam:^^^


^^^Awas kau @Dika's djabriks^^^


Royan:


Kabur, Gesss. Pak ketua ngamuk 🏃🏃🏃🏃


*