Sam

Sam
Pendirian Sam



*


Rencananya, latihan hanya akan di lakukan lima hari berturut-turut. Sam bersama tiga temannya akan berkumpul di studio mini untuk latihan.


Ruang musik di sekolah sudah ada yang menggunakan. Tentu mereka adalah tim OSIS yang mempunyai peran penting di acara tersebut.


Sebetulnya latihan ini cukup membuatnya lelah. Namun, mau bagaimana lagi. Demi persembahan terakhir untuk SMA tercinta, ia akan memberikan yang terbaik meskipun selama ia berada di sana lebih banyak memberi kesan buruk. Walau bagaimanapun, disinilah tempat mereka menuntut ilmu.


Papa dan mama sekarang berada di rumah. Seharusnya Sam bahagia dengan kehadiran mereka. Hanya saja, sepulangnya dari rumah Dika dan berlanjut latihan selama satu jam di monstrax semalam, ia kembali mendapat teguran dari papa.


"Keluyuran terus, kapan kamu mau mapan, sih, Sam!"


Sam yang baru datang sudah mendapat sambutan ketus dari sang papa.


"Sam baru pulang dari latihan, Pa." Sam meletakkan helm di rak. Setelahnya, ia segera meraih tangan sang papa dan mencium punggung tangan dengan otot yang sedikit timbul di sana.


Rusno lebih kurus dari terakhir kali bertemu Sam. Karena ada kolesterol yang harus di jaga, Rusno harus menjaga pola makannya. Sehingga, ia sedikit kehilangan berat badannya.


"Kamu masih minum-minum!" Dengan alis hampir tertaut dan suara yang meninggi Rusno mulai mengintimidasi anak bungsunya.


Sam menghela nafas besar. Mau menyangkalpun percuma. Jaketnya memang bau. Saat temannya menawarinya Sam menepisnya. Alhasil justru tumpah pada jaketnya.


"Ini, nggak ... "


"Mandi, sana! Bikin polusi di rumah saja!" Dengan kasar Rusno menyentak tangan Sam.


"Setelah badan kamu bersih. Kita bicara!" Rusno berlalu dari hadapan Sam yang kini menunduk dalam dengan menahan rasa kesalnya.


Sepeninggal Rusno, tiba-tiba, Tantri datang dan meraih bahu Sam. Wanita yang dua hari lagi berusia setengah abad itu sedikit mengendus bau anaknya sambil mengeryit. "Mulut kamu nggak bau." Tantri mengeryit lalu beralih mengendus jaket parka di sisi yang lain. Ia baru mengibaskan tangannya di depan indra penciumannya kali ini. "Ya benar saja, jaket kamu yang bau. Jadi bikin papa salah paham, kan!"


"Maaa," ujar Sam malas bercampur lelah.


"Wes-wess. Nurut! Mandi dulu!" Tantri sedikit mendorong bahu Sam agar segera beranjak.


"Tapi, papa selalu begitu. Suka menyimpulkan sendiri, kan?"


"Udah, ya, Sam. Yang penting kamu bebersih dulu, lalu makan sama-sama. Mama tunggu," usir Tantri dengan seulas senyum kecut.


Sam berdecak pelan. Mama pun demikian, tidak mempercayai dirinya yang kini memang sudah sedikit demi sedikit menjauh dari cairan melenakan itu. Dengan gontai ia mengambil langkah menuju ke kamarnya.


Tiga puluh menit, barulah Sam ke meja makan bergabung dengan papa dan mama yang sudah menunggu di sana. Masih ada sisa perbincangan kedua orangtuanya sebelum ia mendekati ruang makan itu.


Di sana, Tantri sudah menuang sayur untuk suaminya. "Ayo, Sam. Cepet makan," titah Tantri saat Sam baru mendaratkan tubuhnya di kursi kayu.


Ada banyak masakan sehat di meja persegi panjang di sana. Rupanya Tantri memang menjaga kesehatan suaminya dengan baik.


"Sam, ambil ikan bakar di meja dapur ya! Sengaja mama nggak bawa ke sini. Takut papa tergiur nanti. Ayo cepetan!" Tantri mengerjap pelan sambil menepuk pelan lengan Sam.


Sementara Rusno sedikit berdecak sambil sedikit menyimpan senyum masygul. Bukan marah atau kesal. Melainkan, karena sang istri masih begitu ingat akan masakan kesukaan anak bungsunya. Meskipun sudah tiga tahun tidak tinggal serumah.


Sekembalinya Sam yang tersenyum simpul sambil berbinar membawa nila bakar kesukaannya, Rusno hanya melirik sekilas wajah Sam sambil geleng-geleng kepala.


Selanjutnya makan malam luar biasa impian Sam kini terwujud. Dapat duduk di antara papa dan mamanya adalah kebahagiaan yang tidak terkira.


Malam hari, ruang makan yang biasanya sepi, kini kembali sedikit riuh suara dentingan sendok yang beradu dengan piring keramik. Ada sedikit perbincangan, itupun perbincangan ringan yang tidak jauh dari masakan Tantri. Meskipun tanpa kehadiran Ali beserta istri dan anaknya, setidaknya ruang makan yang biasanya hening itu kini tampak lebih hidup.


Mengingat Mirel, anak pertama Ali. Sam jadi merasa rindu dengan bocah kecil yang sebentar lagi mulai bersekolah di taman kanak-kanak itu.


Beberapa kali Sam melirik papanya. Ia sedikit was-was, bila lelaki yang ia sebut papa selama 18 tahun itu akan menyinggung lagi soal bau di jaketnya.


"Kata Ali, Mirel rewel, Pa," ujar Tantri tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel. Ia telah menerima pesan dari anak sulungnya.


"Mama, sih, nggak pamit," sahut Rusno yang sibuk dengan ponselnya juga.


"Mirel sudah sekolah, ya, tahun, ini, Ma?" tanya Sam ikut menimpali.


"Iya. Mana mba Silvi belum bisa banyak aktivitas berat," jawab Tantri sambil mengingat menantunya lalu menatap sayang pada Sam. Dalam hati, ia bersyukur bahwa Sam tidaklah acuh seperti yang terlihat.


"Kasian," gumam Sam setelah menandaskan air putih di gelasnya. Rusno yang mendengarnya sempat melirik Sam lalu kembali pada ponselnya. Entah mengapa, Rusno merasa tersindir kali ini.


"Mama nanti yang akan antar jemput. Saat Mirel masuk sekolah, kan, Mbak Silvi habis lahiran."


Sam manggut-manggut menanggapinya. 'Masih beruntung tuh bocah. Masih ada mama sebagai neneknya."


"Mau gimana lagi. Semoga anaknya mau sekolah deket asrama. Tau sendiri, makin Mirel di paksa makin berontak dia. Maunya Bang Ali kan sekolah di dekat asrama aja,'' papar Tantri panjang lebar sambil menumpuk piring.


"Emang kandungannya bermasalah, Ma?" tanya Sam. Keperduliannya jadi berlipat apalagi mengingat cerita nenek yang menceritakan mama saat dulu mengandungnya.


"Iya. Sempat jatuh dan pendarahan, kan."


Rusno sedang bersibuk dengan ponselnya. Tidak berminat sedikitpun untuk ikut masuk dalam obrolan. Sedikit takut jika akan memperburuk suasana.


"Kasihan. Apa dulu mama juga seperti itu saat mengandung Sam?" tanya Sam sendu sambil memandang wanita yang kini mulai memakai jilbab setiap harinya .


Tantri mengusap lengan Sam. "Nggak apa, Sam. Mama ikhlas menerimanya. Semua terbayar saat kelahiran kamu yang sehat tanpa kurang suatu apapun. Terlebih kamu tumbuh jadi anak yang aktif dan ..." Sengaja Tantri menjeda ucapannya melihat raut gusar Sam. "Kamu kenapa?"


"Semenyusahkan itu Sam dulu, Ma?"


Tantri menggeleng. Manik matanya mengerjab dan melirik suaminya yang melihat interaksi hangat antara dirinya dan anak bungsunya.


"Makanya, kalau kamu sayang sama mama. Nurut aja sekolah militer. Atau kamu pilih ikut papa ke Manado. Kuliah di sana. Biar mama nggak cemas terus mikirin kamu di sini."


Perkataan Rusno membuat perasaan Sam bener-benar gusar.


"Udah-udah. Kamu pikirkan dulu matang-matang, jangan asal putuskan sesuatu saat sedang nggak fokus."


"Atau setidaknya kamu kasihan sama mama Sam. Setiap hari, mama nggak enak makan karena mikirin kamu."


"Bener kata, Papa. Mama nggak tenang ninggalin kamu lagi di sini. Apalagi kuliah di sini. Kalaupun kamu nggak mau ikutin jejak papa atau masmu, kamu kuliah di sana dan tinggal sama mama papa, ya!"


Sam terdiam sejenak tanpa memberi jawaban. "Mama tadi mau bilang apa? Masih ada lanjutannya kan?" tanyanya sengaja mengalihkan perbincangan.


Tantri tersenyum simpul dan mencubit pipi Sam. Ia masih amat ingat apa yang hendak ia bicarakan tadi. "Soal kamu yang aktif tadi to," ujarnya sambil mengangkat tumpukan piring dan berlalu dari sana.


Sam tidak mau di buat penasaran. Ia mengangkat panci mejicom untuk di bawa ke dapur. Sengaja mengikuti namanya. "Maa, lanjutin ceritanya," pinta Sam sedikit memaksa.


"Halah, kamu ini. Apa sih. Bantuin simpan lauk-lauknya ke sini!" Tantri mulai mencuci piring-piring sambil menggulum senyum. Ia melirik Sam yang menurut untuk membereskan meja makan. Dalam hati, senang sekali mengerjai Sam.


Akhirnya, Sam masih menerka-nerka apa yang akan di ucapkan oleh mamanya. Ia sengaja tidak ke kamar dan duduk di karpet bulu di depan sofa ruang tengah. Ada tv LED 32 inci menempel rapi di tembok. Biasanya jika Sam sudah kelelahan ia akan tidur di ruang tengah dengan TV menyala hingga Sam terbangun pagi harinya.


"Jadi gimana? Udah kamu putuskan, kan?" tanya Tantri yang kini duduk di sofa.


"Maaa, jangan buru-buru di tagih, lah. Sam masih mau menikmati kelulusan Sam." Sam kembali malas jika menyangkut hal ini. Ia memencet-mencet asal chanel tv yang mendadak membosankan.


Tantri meraih rambut Sam yang sudah terlihat panjang dan memainkannya. Ia lebih paham dari siapapun watak sang anak. Sam tidak bisa di paksa. Jika di paksa, sudah jelas anaknya akan bertindak semaunya sendiri dan itu bukanlah harapannya.


Malam itu ibu-anak itu tengah berbincang dari hati ke hati. Ia banyak memberi cerita inspiratif dari berbagai orang yang ia temui di tempat bertugas suaminya. Berharap dengan begitu, Sam makin terbuka pikirannya.


Rusno sengaja tidak ikut bergabung di sana. Tantri tentu adalah orang yang menjadi sebab lelaki itu tidak ada di sana. Sebagai orang yang keras, Ia sudah begitu paham akan maksud sang istri. Terlebih, ia yakin istrinya akan bisa menaklukkan hati anaknya yang punya watak keras, sama seperti dirinya.


*


Lagi-lagi soal pendidikan. Sam begitu banyak nasihat dari sang mama. Sam masih meragu. Memikirkan segala sesuatu kedepannya. Hingga sepulangnya dari latihan, Sam menelpon kakaknya dan meminta saran darinya.


Selama kurang dari tiga puluh menit, Sam berbincang lewat sambungan telepon. Ali mengatakan semua kembali pada diri sendiri. Karena kata hati akan membawa kita jauh dari jurang penyesalan.


"Ehemm."


Sam menoleh cepat ke asal suara. Ada Rusno yang sedang berdiri sambil bersedekap dan ikut duduk di tangga depan teras.


"Pa," sapa Sam canggung.


"Hem. Habis telpon kakakmu?"


Sam mengangguk dengan menunduk.


"Kalau di tanya itu, di jawab!"


Kali ini Sam mendongak. "Iya, Pa." Ada decakan kecil kala sang papa benar-benar orang yang tidak suka berinteraksi jika hanya verbal saja.


"Jadi bagaimana?" tanya Rusno menoleh pada Sam yang duduk di sampingnya. Jangan lupakan tatapan penuh harap turut hadir di sana.


"Sam ambil opsi kedua, Pa. Kuliah di Manado dan tinggal sama papa." Bagaimanapun Sam berfikir, hatinya tidak yakin berasa di sekolah militer seperti permintaan sang papa.


Rusno menghembuskan nafas besar lalu memandang jauh di depan sana. Mungkin tidak selamanya kehendaknya akan di iyakan oleh anaknya. Beruntung sang istri sudah memberikan pengertian bila Sam ini berbeda watak dengan anak sulungnya–Ali.


*


Suara ribut di belakang ruang musik menarik perhatian Sam. Ia berada di ruang itu untuk mengembalikan gitar listrik yang tadi ia gunakan untuk test suara di atas panggung yang masih di dekorasi.


Langkah kaki membawanya untuk mendekati asal suara. Ia celingukan melihat sekitarnya. Sepi tidak ada siswa ataupun siswi di sekitarnya, karena sebagian mereka sedang berkumpul di depan panggung yang sedang gladi kotor. Juga sebagian dari mereka membantu tim OSIS untuk mendekorasi halaman sekolah untuk pensi malam perpisahan nanti.


Sampai di belakang ruang perpustakaan. Sam mendapati Nada sedang cek-cok dengan lelaki yang tampak punggungnya saja.


"Kamu tega, ya, Na! Kamu anggap aku ini apa. Kelinci percobaan kamu!"


"Aku nggak ada niat seperti itu ya, Ka. Dari awal aku kan udah bilang, buat coba dulu sampai kedepannya kaya' gimana."


"Iya. IYA!" Arka meremas rambutnya dan kembali menuding Nada, "dan bodohnya aku mau saja menuruti kamu."


"Enam bulan kamu hanya main-main sama aku, Na. Aku ini beneran sayang sama kamu. Tapi kamunya nggak ada niatan buat menyambut perasaanku."


Nada diam tidak menjawab. Sesungguhnya ia juga tidak sepenuhnya mengabaikan Arka.


Arka.mendengkus kasar dan berkacak pinggang. "Emang bener, ya kata teman-teman. Kamu tuh kaku, udik, bahkan hanya sekedar di cium pipinya aja sampai marah-marah nggak jelas.Kampungan."


"Kalau emang aku kampungan, ya udah nggak usah sama aku. Cari yang lain saja yang lebih ahli. Aku tuh makin yakin kalau kamu tuh nggak beneran sayang sama aku, Ka."


Tuduhan Nada membuat Arka semakin berang. "Maksud kamu apa, hahh!"


"Lihat. Kalau kamu sayang aku, kamu nggak bakal bentak-bentak aku kaya' gini, Ka!" Teriakan Nada ikut meninggi karena terus di tekan.


Arka meraup wajahnya. Berharap dengan itu, ia sedikit bisa menurunkan amarahnya. Setelah rasa panas di dada yang sudah menjalar di wajahnya sedikit mereda, Arka mencoba meraih bahu Nada yang sedikit terlihat ketakutan.


"Nada, pliis. Maafin aku kalau tadi sempat kasar sama kamu. Tolong ngertiin!"


Cengkeraman tangan Arka membuat Nada semakin tidak nyaman dan menghadirkan rasa takut.


Melihat hal itu, Sam tidak tinggal diam lagi. Ia segera mendekat dan mengadiai bogem di bahu Arka. Membuat cengkeraman tangan itu terlepas.


"Banci, Lo!" Teriak Sam.


Di samping rasa takut dan terkejut, Nada menepi untuk menyingkir.


Selanjutnya adu kepalan tangan dan kaki sudah tidak bisa di hindari lagi. Berkali-kali Arka kewalahan menghadapi Sam.


Nada semakin takut bila mereka semua dalam masalah. Gadis itu melerai keduanya, tapi selanjutnya ia merasa pusing karena terkena hantaman tangan dan jatuh terhuyung.


"Nada!"