
Malam ini Sam pulang bersamaan dengan Kusno yang pulang dari pos ronda. Pria berusia 45 tahun itu tak segera memberondong pertanyaan darimana keponakannya itu pergi hingga pulang sudah terlampau larut. Namun ia menanyakan perihal sudah makan atau belum begitu Sam sudah memarkirkan motornya.
"Udah makan di angkringan depan, Paklik," jawab Sam sambil melepas jaket kulit dari tubuhnya. Menyisakan kaos oblong berwarna hitam yang masih ia kenakan. Sam mengambil seragam OSIS dari dalam jog motor, tanpa ia tahu pandangan Kusno tak teralihkan barang sedikitpun padanya.
Ada bau sedikit menyengat dari mulut keponakannya. Namun, Kusno tak mau membahas hal itu. Tolong menjauhlah dari minuman seperti itu, Sam. Semua itu hanya tertahan di benak Kusno.
"Beneran sudah makan? Bulikmu tadi ke sini, masak rica ayam kesukaanmu. Sayang sekali kalau tidak kamu makan."
"Sam, sudah kenyang beneran Paklik." Ia lalu memberikan amplop putih, surat panggilan pada orang tua, pada Kusno," Coba paklik yang bilang sama papa. Barangkali dia mau pulang sekedar buat marahin anaknya."
Begitu amplop putih sudah di tangan Kusno, Sam berjalan menuju kamarnya.
Sebelum sampai pada pintu kamarnya, Sam menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Tiga tahun itu, bukan waktu yang lama, Paklik. Nggak usah di sampaikan. Percuma."
Sindiran untuk sang kakak tentu Kusno dapat rasakan.
Sam segera masuk ke kamar dan menguncinya.
Menyisakan Kusno yang masih berdiri tak beranjak barang sedikitpun. Mungkin, ini yang di namakan perhatian orang tua tak akan bisa di bayar dengan apapun?
Kusno membuka amplop putih perlahan seraya duduk di kursi sofa. Ia menghela nafasnya saat kop surat tersebut jelas dari sekolah SMA Batik VI. Ia tetap membacanya meskipun ia sudah bisa menebak isi suratnya. Surat pemberitahuan kepada orang tua/wali.
Sementara Sam di kamarnya sedang berbaring tengkurap, matanya tetap terjaga dengan pandangan kosong.
Seandainya papaku itu paklik Kusno, pasti aku nggak akan jadi anak urakan seperti ini. Seandainya papa lebih perhatian sama aku, seperti paklik yang terlihat menghawatirkanku.
Sam membalikkan badan dengan segera, saat ponselnya bergetar. Ia memeriksa cepat dan sudut bibirnya tertarik perlahan. Melupakan rasa kesalnya pada papanya.
Nada: [Siapa?]
Dalam hati, Sam bersorak. Akhirnya setelah beberapa hari mencari kontak Nada, akhirnya nomor adik kelasnya itu bisa di dapat tak jauh-jauh dari circlenya, Dika.
^^^[My name is Sambara,]^^^
^^^[Jangan lupa save, ya!]^^^
Itulah isi balasan Sam pada Nada.
Meski begitu senang entah karena apa. Ia tak mau terlampau agresif. Takut membuat Nada tidak nyaman.
Entah pukul berapa Sam terlelap. Tapi yang ia rasakan sendikit pusing di kepala. Dengan segera ia membersihkan diri lalu berbenah bersiap ke sekolah.
Saat Sam berjalan melewati meja makan, ia iseng membuka tudung saji. Sudah makanan yang terhidang di sana. Ada roti isi selai nanas. Di sampingnya ada wedang jahe, bukan susu seperti biasanya. Rica ayam juga sudah terhidang.
Akhirnya, Sam duduk dan tersenyum getir. "Makasih, Bulik," gumamnya setelah menyesap wedang jahe itu. Hangat dan rasa jahe membuat pening sedikit terurai perlahan.
Lalu, Sam memakan roti selai itu sambil memindai tiga kursi kosong di depannya. Kapan bisa berkumpul bersama secara utuh dengan keluarganya.
Mengingat anggota keluarganya, membuat mood Sam kembali buruk. Ia beranjak dan meraih jaket semalam lalu mengenakannya.
Sampai di teras depan, ada Bu Susi sedang menyiram tanaman. Tanaman mama yang sempat terbengkalai itu kembali terawat karena Paklik sengaja mencari orang untuk bebersih rumah setiap seminggu tiga kali.
Sam membawa motor ninja itu ke halaman, menyalahkan mesin untuk memanasi sembari bermain HP. Ia terkejut mendapat pesan dari Atar dan dengan segera ia mengantongi kembali di saku celananya.
Sam tak membalas pesan itu. Ia lebih memilih untuk segera ke sekolah demi bertemu dengan Atar.
Begitu sampai di sekolah, ia segera berlari mencari ruang OSIS. Ruang dimana Atar biasa berada jika belum bel masuk.
Karena tak hati-hati, ia bertabrakan dengan seorang siswi cewek tanpa jilbab. Dia Dita, siswa nonis.
"Aduh, sorry-sorry!" Sam berhasil menahan tubuh Dita agar tak limbung.
Hal itu tak lepas dari beberapa siswa-siswi yang berjalan melewati lorong induk.
Ada Nada dan Via yang tak luput memerhatikan dua kakak kelasnya.
"Nah, kan, benar rumor itu. Kakel kita satu itu, tuh udah kaya'ganti baju aja kalau sama cewek. Hari ini sama melati besoknya udah sama mawar," ungkap Via menjadikan nama bunga sebagai cewek yang biasa di sekitar Sam.
Nada tak menanggapi apapun. Hanya saja, di hatinya memendam kesal yang tak tahu apa sebabnya.
Sam sendiri hanya meminta maaf sekedarnya lalu segera mencari apa tujuannya.
Begitu mengetahui sasarannya tengah duduk di ujung bangku, sedangkan laptop tengah menyala di depannya, Sam segera berjalan cepat mendekatinya.
Atar terkejut menyadari Sam yang datang dengan rahang yang mengeras. Perlahan ia bangkit dan hal tak terduga kini ada di depannya.
Sam membalikkan kursi kayu hingga terdengar bunyi yang cukup gaduh.
"Apa mau kamu!" Sam membentak Atar yang tak menunjukkan raut takut sedikitpun, cenderung tenang dan lebih santai.
Atar segera paham maksud Sam bicara demikian. Ia berulang kali meminta maaf dengan memegang lengan Sam, tapi selalu Sam menepisnya tanpa mengalihkan tatapan tajam pada Atar. Tangannya sudah gatal ingin menghajar Atar.
Atar melihat dia anggotanya yang sedang menatap keduanya disana, dan menyuruhnya pergi melalui bahasa matanya. Beruntung dua siswi itu menurut.
"Oke, Sam. Ini bukan murni keinginanku. Ada pak Koni dan pembina OSIS yang turut andil dalam pencalonan kamu, Sam."
Sam mengangkat dagunya menantang Atar.
"Oke. Sebenarnya, aku tahu perihal surat peringatan itu. Pak Koni memfotonya dan mengirimkan pada papamu, Sam. Selebihnya, aku tak tahu apapun. Tapi soal organisasi OSIS itu, mungkin ada juga campur tangan papamu."
"Hhhhaarrgh. Omong kosong!" Sam kembali membanting kursi plastik di sampingnya. Ini cara papa menghukumku jika aku ada dalam organisasi ini.
"Sekolah kita ini sekolah favorit, Sam. Saat anak-anak di luaran sana berlomba ingin bersekolah di sini. Sedangkan kamu yang sudah ada di sini begitu menyia-nyiakan kesempatan yang ada."
"Sekolah ini bisa mengeluarkan aku kapan saja," sangkal Sam sambil menunjuk wajah Atar.
"Kendalikan dirimu, Sam! Sadarlah, ini mungkin salah satu rasa perduli papamu saat dia tak berada di dekatmu."
Atarlah satu-satunya teman Sam yang memahami betapa sedihnya Sam berada terpisah jauh dari keluarganya.
"Apa katamu!"
Atar mengangkat kedua tangan. "Aku nggak membela siapapun di sini, Sam. Tapi sudah lebih dari sebelas kali kamu masuk catatan kesiswaan, bolos di jam pelajaran. Satu lagi, catatan kepolisian saat kamu terciduk di Singosaren beberapa minggu yang lalu juga membuat pihak sekolah bingung harus memperlakukanmu dengan cara apa."
"Sekolah bisa mengeluarkan aku, Tar!" Sam kembali mengulang kalimat meremehkan.
Atar mencoba mendekati Sam dengan tenang, melihat kedua tangan Sam mengepal mungkin bisa saja pipinya akan menjadi sasarannya. Matanya melirik waspada pada Sam yang menatap tajam pada papan whiteboard di sampingnya. "Aku rasa jadi ketua OSIS itu adalah hak semua siswa. Itupun harus melalui pemilihan, kan! Kooperatif, Sam. Semua masih sebatas calon, kan!"
Brak!
Sam menghantam papan tulis itu lalu pergi begitu saja.
Maaf, Sam. Mungkin dengan cara ini kamu akan lebih baik.
Selama pembelajaran berlangsung, Sam hanya fokus pada pesan yang ia kirimkan pada Rusno, papanya. Tak sedikitpun centang abu-abu itu berubah jadi biru, pertanda pesan terbaca.
Bagi Sam, papanya sudah terlampau ikut campur perihal sekolahnya. Jika ia mau mengaturnya maka hadirlah. Tunjukkan jika memang benar-benar perduli. Begitu isi pemikiran Sam.
Royan yang berada dalam satu meja dengan Sam tak berani bertanya barang sedikitpun. Apalagi melihat wajah Sam yang tak menunjukkan wajah ramah sedikitpun.
Akmal :[Ni orang kenapa?]
Pesan beserta foto Sam dari samping ikut serta di kirim pada Royan.
Royan: [🤷 ] satu emogi orang mengangkat kedua tangan menjadi balasan Royan pada Akmal.
Sedangkan Dika yang duduk bersama Akmal hanya melirik isi chat yang dikirimkan Royan.
Pergerakan ketiga teman di depannya membuat satu orang di sana ikut penasaran.
Dialah Ando. Meski masih teramat kesal pada Sam, ia tak sepenuhnya mengabaikan Sam jika ia tengah dalam masalah.
Ando: [Ada masalah, Sam?]
Akhirnya Ando mengirim pesan pada Sam. Tanpa di duga, Sam membalasnya dengan cepat.
Sam: [Tunggu aja nanti siang. Aku akan di permalukan di depan semua siswa. Jangan kaget!]
Sesuai dengan pesan Sam pada Ando. Siang ini, rapat pengurus OSIS beserta beberapa pembina tengah melakukan voting. Sehingga banyak siswa yang berkerumun di depan pintu OSIS.
Sam berjalan santai bersama Ando, Royan, Akmal dan Dika melewati halaman.
Sam melirik pada ruang OSIS setelah itu tersenyum sinis.
"Rame bener, ada apa sih?" ucap Dika.
"Tau, tuh. Mungkin ada rapat, mau ada persami buat anak kelas sepuluh," jawab Akmal asal.
"Btw, kita ikut serta nggak, sih?" tanya Dika yang kini merangkul Sam yang sejak tadi diam saja.
"Kamu nanya?" jawab Sam sinis membuat Dika mengacungkan kepalan tangan di depan muka Sam lalu segera di tepisnya.
"Pms, kamu, Sam?" tanya Dika lagi dan Royan segera menghujam tatapan garang pada Dika. Memperingatkannya.
Ando sendiri yang berada di samping kiri Sam hanya diam memerhatikan Sam.
Ia sudah melunakkan hatinya untuk memaafkan Sam dengan kelakuannya. Baginya, ia tak bisa meluapkan rasa sakit karena Sam menyia-nyiakan Salsa saat ia sendiri tengah mengalah untuknya.
Ando sadar dengan ia menjauhi Sam, itu berarti keadaan Sam akan lebih parah karena semakin salah pergaulan. Ia tak merasa menjadi yang terbaik diantara mereka berlima, namun ia sangat sadar bahwa hanya dia yang berani menegur Sam bila saja Sam sudah keterlaluan.
*