Sam

Sam
Sadari Hati



*


Meskipun Sam terlihat acuh dan selalu menatap Nada dengan datar, hal itu tidaklah berlaku seperti yang terlihat. Diam-diam Sam masih sering menanyakan pada teman sekelas Nada, kemana Nada pergi setelah pulang sekolah.


Kebiasaannya berkumpul di tempat Dika adalah rutinitasnya. Bukan hanya sekedar untuk berkumpul dengan the brandal's melainkan ada hal yang lebih menarik kala ia bisa melihat wajah cantik penghuni depan rumah Dika.


"Udahlah, Sam. Kamu jujur aja apa salahnya, sih, sama Nada." Dika menimpuk lutut Sam dengan buku tebal.


"Jujur buat apa? Aku hanya ikut kesel denger kamu ceritain tuh anak." Sam masih gengsi untuk mengaku.


Keduanya sedang di Perpustakaan. Sam berkilah untuk tidur atau sekedar menenangkan pikiran di sana. Padahal ia sengaja mencari alasan agar tidak menemani Mika ke kantin.


Dika memutar jengah bola matanya. Sahabatnya itu masih menyimpan tinggi harga dirinya. Padahal, dengan mengakui perasaan, seseorang tidak akan di pandang rendah oleh orang lain, bukan.


Saat Dika sudah diam dan tidak mengorek hal pribadinya lagi. Sam menumpuk kedua tangan dan menjadikannya sebagai bantal. Ia meletakkan kepalanya di sana dan mulai memejamkan matanya.


Baru beberapa detik Sam memejamkan matanya, suara yang amat ia kenali mengusik pendengaran. Tawa renyah seseorang dari balik rak buku membuat Sam menajamkan pendengarannya.


Samar-samar ia mendengar suara lelaki begitu memuji kemampuan si cewek karena tajamnya ingatan.


Sam melirik ke depan, ada rak-rak buku setinggi dua meter sebagai penyimpanan buku.


Tepat di sela-sela buku di sana, Sam melihat Nada tengah merapikan anak rambut yang sedikit keluar di keningnya. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal, saat tangan lelaki yang ia kenali pun tidak segan untuk menarik-narik jilbab Nada. Berniat menggodanya. Tentu saja suara cewek berjilbab itu sedikit meninggi. Dari suaranya terdengar suara protes dari sana.


Selanjutnya, saat Nada sudah keluar dari lorong rak buku dengan Arka di belakangnya, membuat mata Sam terbuka sempurna. Ingin segera mendekat. Namun, ia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Jika ia merasa marah dan tidak terima, maka atas dasar apa?


Sam perlahan menegakkan duduknya dan seketika terkejut saat Dika tersenyum meremehkan.


Sial. Aku terciduk.


"Apa?" bisik Sam saat Dika bergantian melihat ke arahnya dan beralih dimana Nada duduk.


"Nggaaaaaak. Cuma pengen lihat aja," ucap Dika dengan sedikit terkekeh.


Terlambat. Dika sudah menangkap basah gerak tubuh dan reaksi Sam. Siapapun orangnya, pasti akan menyimpulkan hal yang sama. Begitu jelas raut tidak suka tercetak di wajah Sam yang terlihat lebih tirus dari tahun sebelumnya. Sepertinya kali ini Sam harus jujur dengan Dika.


Sam masih menatap Nada dari sisi samping. Nada tidak menyadarinya dan lebih fokus pada buku di tangan. Ia terlihat menyamakan isi buku yang tadi dibawa dengan isi buku yang ia ambil dari rak. Sam menarik kesimpulan jika Nada sedang membuat tugas dan sengaja mencari referensi dari tugas alumni Smaba.


Arka masih terus mencari kesempatan. Karena berkali-kali Nada menatapnya tajam untuk memperingatkannya.


"Ka, aku, nih lagi serius. Jangan ganggu dulu, deh." Nada menggunakan buku yang di pegang untuk memukul pelan lengan Arka.


"Kemarin kan, kita nggak jadi ke Sekaten, Da. Malam ini jadi, ya."


"Nggak, Ka. Maaf, bapak ngelarang aku keluar malam sekarang."


"Sekarang berubah jadi anak rumahan, kamu! Ada Via sama pacarnya juga loh. Nggak nyesel kamu?"


"Nggak, Ka. Aku emang nggak mau, jangan maksa, deh."


Dari jarak yang cukup terjangkau, seperti itulah yang tertangkap di telinga Sam yang mulai memerah. Matanya tetap mengunci setiap pergerakan Arka dan Nada di depan sana.


Rupanya, Arka di depan sana tengah membujuk Nada untuk mengajaknya jalan lagi. Sadar Nada mulai sulit untuk di ajak 'jalan'.


Kehadiran Atar di ambang pintu dan mendekati Nada membuat hawa panas yang sejak tadi mengelilingi Sam perlahan memudar.


Nada terlihat berbinar dan segera membawa buku di tangannya pada Atar. Rupanya Nada tengah meminta Atar untuk memberi penilaian akan hasil kerjanya.


Barulah Sam sedikit lega melihat apa yang terjadi di depan sana.


"Kedip, Sam," sindir Dika sambil tersenyum simpul. Membuat Sam mendengkus dengan netra tidak beralih dari sana.


Ada rasa yang ingin sekali ia ledakan saat itu juga. Melihat Nada yang tertawa renyah dan kebiasaannya menimpuk bahu lawan bicaranya membuat Sam rindu perlakuan Nada padanya.


Dalam diamnya, Sam seperti di liputi ejekan teman-temannya.


"Jangan cemen, Sam. Kalau suka ya, bilang. Keburu keduluan yang lain baru geger geden, Kowe!"


"Sekali-kali lah, kamu nembak cewek, duluan. Percayalah. Dunia akan baik-baik saja, kok."


"Satu lagi, gelap bukan berarti buruk. Ada bintang dan bulan yang bersama-sama membuat semesta jadi indah."


Sam berdecak kala ia mengingat teman-teman the brandal's mengejeknya kala itu. Mereka mendadak puitis sengaja untuk meroasting-nya.


Akhirnya Sam berdiri dan mengambil langkah dengan Dika ikut serta di belakangnya. Ada rasa yang tidak bisa ia jabarkan melihat Nada terlihat akrab dengan yang lain. Terlebih, orang itu adalah Atar. Sudah hilang rasa percaya dirinya jika ia akan bersaing dengannya.


Sam tahu bagaimana sifat dan attitude Atar. Cukuplah mengenalnya selama tiga tahun, Sam sudah bisa mengakui kelebihan sahabat lamanya itu.


Rasa ingin marah, ingin berteriak atau menyambar apa saja yang ada di sekitarnya. Hingga akhirnya, Sam sengaja menyenggol bahu Arka saat melewatinya. Ia juga sempat melihat manik mata Nada terbelalak karenanya.


Teriakkan Arka yang ingin protes sempat ia dengar. Namun, suara itu mendadak senyap setelah ia bisa mendengar jika suara Atar-lah yang menghentikannya.


Sejak siang itu, Sam benar-benar risau di buatnya. Bahkan ketika matahari telah digantikan tugasnya oleh bulan sebagai penerang Bumi, Sam masih saja merasa moodnya benar-benar buruk.


Buku-buku di depannya terabaikan begitu saja. Niat hati ingin belajar. Namun, justru bayangan wajah Nada-lah yang nampak di depan matanya.


"Seperti inikah definisi jatuh cinta?? Ternyata sebodoh ini rasanya. Akkhhhh! Sialnya, cintaku hanya sepihak. Dia tidak menyukaiku sama sekali. Cinta membuat orang mendadak bodoh ternyata."


"Mas! Telponan sama bude , ya?" Terdengar suara Revi di balik pintu kamarnya. Menerka dengan siapa sepupunya itu berbicara.


"Bukan," jawab Sam asal. Ia sudah was-was jika keponakannya akan masuk ke kamarnya dan mengacaukan kegiatannya.


Kegiatan uring-uringan.


*


Hari yang mendebarkan telah tiba. Ujian Nasional kini berada di depan mata.


Sekolah lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Tentu karena berkurangnya penghuni kelas sepuluh dan sebelas yang telah di liburkan.


Ujian yang tengah di lakukan kelas dua belas secara serentak ini begitu menegangkan.


Seperti ujian pada umumnya. Ujian kelulusan ini merupakan titik ukur kemampuan siswa dalam menyerap ilmu yang di berikan oleh bapak/ibu guru.


Dengan tidak adanya sekitar empat ratusan siswa di sana. Suasana di sekolah menjadi lebih kondusif dan tenang.


Hari hari ujian telah di lewati dengan baik.


Ini adalah hari terakhir ujian dan Sam beserta teman-temannya sengaja tidak langsung pulang. Mereka sengaja berlama-lama di parkiran untuk sekedar ngobrol ringan saja.


"Duhh, nyesel aku kenapa tadi nggak jawab B aja. Huh, gara-gara kowe Yan!" Suara protes Akmal terdengar menyalahkan Royan yang kini juga tengah sibuk memeriksa ponselnya. Rupanya, mereka tengah mencari jawaban yang benar di aplikasi pencarian.


"Ck. Kalian ini, yang udah kelewat, ya udah biarin." Dika merebut ponsel Royan dan mengantonginya di saku celananya.


"Wooy! Hp aku!" Royan berusaha mengambil ponsel Yang ada di saku Dika.


Hingga aksi kejar-kejaran tidak jelas pun tidak dapat di hindari. Mereka terlihat layaknya anak kecil yang sedang berebut mainan.


Sam memerhatikan keduanya. Dalam benaknya ia begitu sedih, bagaimana kehidupannya setelah ini. Semalam Bang Ali menelponnya. Memberikan pilihan untuk bersekolah di akademi kepolisian. Sedangkan hal itu begitu Sam hindari. Pilihan kedua, ia akan mengambil kuliah di wilayah papa kerja dan itu artinya ia akan meninggalkan Jawa dan harus terbang ke Sulawesi.


Pilihan yang sulit.


Bukannya sedih berpisah dengan teman-temannya. Bukan pula sedih karena telah putus dari Mika. Melainkan ia semakin menyadari perasaannya pada sosok judes bernama Nada Gantari.


*


Hari tenang kini telah di nikmati oleh Sam. Selesainya ujian dan tinggal mengurus ini-itu ke sekolah adalah kesehariannya akhir-akhir ini.


Hadirnya kembali penghuni kelas sepuluh dan sebelas membuat suasana yang Sam rindukan jadi terobati.


Jika beberapa hari yang lalu Sam hanya bisa melihat Nada dari teras rumah Dika atau secara tidak kesengajaan. Kali ini ia bisa membuat kapan saja ia ingin melihat wajah ketus yang diam-diam selalu ia rindu.


Entah mulai kapan rasa itu mengganggunya. Yang pasti Sam kini mulai mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati Nada kembali. Apalagi melihatnya terus-menerus di ikuti Arka membuat suasana hatinya gusar.


*