Sam

Sam
Pertanyaan mengerikan



*


Sam bersama Dimas selesai mengirim sparepart ke bengkel milik rekannya yang berada di daerah Semanggi.


Ada permintaan yang cukup banyak hingga ia harus mengirimnya dengan mobil. Tentu bukan ia yang ada di balik kemudi. Sebab keadaan tangannya yang masih jauh dari kata pulih. Sehingga ia harus merepotkan anak bengkel untuk mengantarnya.


"Sering-sering begini, lah, Mas," celetuk Dimas sambil cengengesan memindai cewek-cewek yang berjalan di sisi kanan atau kiri mobilnya.


Sam menutup ponselnya. Ia mengernyit lalu menoleh pada Dimas yang duduk di sampingnya. "Sering gimana maksudnya?"


Dimas terkekeh sambil mengangkat tangan kanannya dengan dua jari. "Piiss. Ijin menyampaikan pendapat, Boss."


"Coba! Mikir apa kamu?"


Dimas terkekeh. "Ya ... begini, ini. Sering kirim barang. Sekalian jalan-jalan, kan."


"Oh," ujar Sam mulai tanggap. "Nggak sekalian bilang mau cuci mata kamu!"


"Aduh, malu aku. Malah diperjelas," ujar Dimas sambil cengengesan. Pemuda itu kembali fokus pada jalanan yang sedikit ramai hingga berjalan tersendat.


"Cuci mata kok, di jalanan begini," gumam Sam mulai memperhatikan jalanan sore yang mulai ramai. Padahal waktu hampir menjelang magrib. Namun, kepadatan lalu lintas masih berjibel.


"Berhenti di mana, Dim?"


"Buat apa, Bos?"


"Bas–bos, bas–bos. Nggak enak di dengernya, Dim," protes Sam.


"Lho, emang bos kan. Kaya' keren gitu dengernya."


Sam hanya geleng-geleng melihat remaja berusia 19 tahun di sampingnya. Sengaja membuka kaca untuk bersiul kala ada pengendara cewek yang berjalan di sisi kanan mobil atau yang menyalipnya. Hanya saja ia pura-pura tidak memperdulikannya.


"Makan di hik lesehan di Alkid mau, Dim?" tawar Sam.


"Wahhh, makan-makan, nih. Hayuklah gas Alun-alun kidul." Dimas jelas berbinar mendengar tawaran Sam.


"Kalau mau, ya buruan. Keburu padat, nggak dapat tempat."


"Gass–lah, Mas!" Dimas mulai mengambil posisi tengah agar lekas sign kanan untuk masuk lokasi alun-alun kidul di daerah Gading.


...***...


"Dorr!"


"Astagfirullah."


Nada berjingkat kala bahunya di tepuk keras oleh Bubelle. Spontan ia pegangi dadanya yang berdegup kencang seperti hampir lolos dari tempatnya.


"Bubelle, ish!" Nada memberengut sementara Bubelle masih terkekeh memegangi perutnya.


"Habis, kamu nih, siang-siang melamun aja." Bubelle menyeret kursinya untuk duduk bersisian dengan Nada. "Ngelamunin siapa hayoooo," lanjutnya sambil mengedipkan matanya jahil.


Nada mengedarkan mata ke seisi ruang guru. Kalau-kalau ada guru lain yang ada di ruang itu. Beruntung sudah kosong dan hanya ada dirinya dan Bubelle yang tersisa. "Siapa melamun, enggak ya," elaknya lega dengan masih memberengut lalu melanjutkan pada laptop yang masih menyala.


"Iya deh, iya. Yang nggak melamun tapi bengong doang."


"Nggak ke kelas, nih?" tanya Nada tanpa melihat Bubelle yang masih tersenyum jahil. Sengaja mengalihkan perbincangan.


"Bentar lagi. Eh, besok workshop berangkat jam berapa? Sampai Solo pagi banget lho, Bun!" Bubelle mengingatkan Nada.


"Oia


, mesti pagi banget kan, ya. Kalau gini baru nyesel kemarin udah cabut kosan."


"Lho, kan udah difasilitasi hotel buat menginap!" Bubelle menepuk lengan Nada.


"Iya, sih. Cuma, tiga hari di Solo pengen jalan-jalan gitu cari angin. Lumayan nostalgia, kan." Nada beralih penuh pada Bubelle sambil menutup leptop. "Lagian, sore-sore jenuh dong kalau udah balik ke kamar."


"Selesai workshop jam berapa di schedule?" tanya Bubelle.


"Emm.... jam limaan, nih." Nada menunjukkan rundown kegiatan workshop penguatan kurikulum yang berada di HP-nya pada Bubelle.


"Paling cuma rindu makan di hik kenangan dekat minimarket itu," kenang Nada mengingat warung angkringan tidak jauh dari tempat tinggalnya dulu.


"Ish. Pen ikooott," rengek Bubble mulai dramatis.


"Lho, ya, ayok!"


"Dodol. Yang di kasih surat tugas kan cuma kamu." Kali ini Bubelle yang kesal sendiri karena sudah lama ia tidak ke kota kelahirannya.


"Yeee, kapan hari kan kita ke Solo. Lupa?."


"Ya beda. Kemarin kan cuma nengokim Sam doang. Itupun kamu buru-buru mau pulang." Bubelle mengingat sesuatu, "udah baikan belum tu orang? Kamu sering chat sama Sam, kan?"


"Ish. Ya, nanya sendiri kalau kamu mau tau. Jangan tanya ke aku," protes Nada.


"Kan, kan, nggak peka, deh. Udah aku bilangin habis sampai rumah tanya kek, perkembangannya! Udah semingguan loh, harusnya tu orang udah pulang."


"Nanya aja sendiri," gumam Nada sambil bermain ponsel.


"Buna, ih! Nggak kasian apa. Setelah bikin dia nggelasar gegara kamu bohongin dia mau nikah ma Atar. Datar aja gitu, nggak mulai respect ke dia."


Nada hanya mendengkus. Lihat, bahkan dia udah nggak ada tanda-tanda sama sekali buat chat. Harus gitu, aku yang nanya duluan? Nada memeriksa room chat dengan Sam masih kosong melompong tidak ada bekas chat sama sekali. Duhh, apasi aku! Kok jadi ngarep begini.


"Na," panggil Bubelle karena Nada justru asyik dengan HP-nya.


"Hm,"


"Seriusan kamu nggak ada rasa sama Sam?"


Kali ini Nada menoleh pada Bubelle dan sedikit terkejut saat Bubelle masih menatap lekat padanya. Mulut masih terkatup rapat karena memang ia tidak mengerti akan perasaannya 55.


"Mau sampai kapan, sih, Na. Kamu mau nutup hati kamu buat cowok yang deketin kamu. Umur 22 tahun udah pantas buat nikah, lho. Bukannya kamu sendiri yang bilang, hidup di desa itu serba salah."


"Telat nikah dikit, di bilang perawan tua. Nolak lamaran cowok, pamali buat kehidupan kedepannya. Sendirian terus, dibilang nggak laku."


"Kasihan, ibuk tau, Na. Kemarin aku lihat dia gendongin anak tetangga depan rumah kamu. Kelihatan banget kalau udah pengen nimang cucu."


"Bubelle ih, bercandanya gitu. Nggak lucu," tepis Nada buru-buru. Hatinya sudah berkedut bila sudah menyinggung ibu.


"Bukan aku nolak jodoh, enggak. Ya ... ngerasa belum siap aja gitu. Masa nggak ngerti."


"Ck. Susah ni anak dibilangin! Pokoknya, nih, ya. Intinya, aku agak maksa nih. Terserah kamu mau pilih yang mana. Kalau hati kamu pilih Atar, ya kasih kejelasan. Jangan bikin ortunya Atar makin salah paham sama kamu."


"Yang kedua. Kalau hati kamu condong ke Sam, ya kasih akses lah, buat dia log-in di hati kamu. Aku masih ingat betul ya. Waktu di SMA, gimana mata Sam lihat ke kamu. Beda, Na!"


"Beda dari cara menatap kamu," lanjut Bubelle saat mendapati Nada diam dengan pikirannya sendiri. Ingin sekali Bubelle meyakinkan Nada lebih dari ini. Namun, masih ia urungkan. Masih jelas bagaimana raut wajah Sam yang begitu sungguh-sungguh menayangkan hubungan Nada dengan Atar malam sebelum Sam kecelakaan.


"Kok kita jadi ngomongin Sam, sih, Bubelle. Kasih aku kisi-kisi lah soal workshop nanti, kek. Apa kek, bawain bahan buat aku pelajari dulu. Ini malah ngebahas yang nggak penting." Nada sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Hatinya kembali gusar manakala pertemuan terakhir kemarin justru menyakiti Sam dengan menepis kasar tangan lelaki itu.


Ada sesal yang mulai merambat pikirannya. Tidak hanya hari ini. Saat ini. Saat Bubelle menegurnya. Bahkan sejak sepulangnya dari menjenguk Sam, hatinya sudah tidak karuan karena tidak bisa bersikap dewasa.


Tiba-tiba Yuni datang di ambang pintu. "Bahas apa, nih? Kayanya seru," ujar Yuni memandang Nada dan Bubelle bergantian.


"Biasaaaa, Bun." Bubelle mengerling pada Yuni lalu melirik Nada yang mulai salah tingkah.


Yuni berhenti tepat di depan bangkunya." Wah, topik seru, nih. Cerita, dong!" Yuni mulai menduduki bangkunya dan memasang wajah antusias.


Aduh gawat. Mulai nih. Nada lekas berdiri tapi Bubelle menahan tangannya.


"Mau kemana, Neng geulis?" goda Bubelle dengan senyum jahil.


"Iyaloh, aku baru aja gabung, nih. Mau kemana?" timpal Yuni terlihat kecewa di buat-buat.


"Mau ngehindar, tuh, Bu Yun," ujar Bubelle mulai mengompori.


"Nggak bener, Bu Yun. Aku mau ambil cuan, nih. Buat tambahan jajan besok," tukas Nada sambil melangkah keluar.


Akhirnya ribut kecil itu terputus kala beberapa guru oll ke ruang guru. Tidak ingin Bubelle semakin banyak pasukan yang mendorongnya untuk segera menikah, ia segera keluar dari ruang itu.


"Fyyuuhhhh. Selameett akuh," ujar Nada lega.