
...***...
Hari kedua lebaran, barulah Sam bisa melipir dari keluarga besarnya. Ia berangkat pagi-pagi dari rumah Kusno dengan menggunakan motor Revi.
Apes sekali motornya mengalami bocor ban, dan tidak ada tambal ban buka di hari lebaran. Jadilah, ia meminjam motor Revi meskipun dengan sedikit drama.
Sam tidak memberitahu Nada. Ia sengaja ingin memberi kejutan pada Nada.
Semalam sempat berbalas pesan beberapa saja. Tidak ada pembicaraan serius, hanya saling lempar candaan.
Begitu sampai rumah Nada, Sam mengucap salam. Hingga beberapa kali barulah salam itu disambut oleh suara anak kecil.
“Cari siapa?" tanya Kalista pada Sam yang meringis kaku.
“Kamu siapa?” tanya Sam terkejut.
“Aku Kalista. Adik mbak Nada,'’ jawab kalista lugas.
Sam tersenyum kaku, kembali memasang wajah ramah. “Mbak Nada, ada?” tanya Sam. Ia harus sedikit menunduk karena tinggi Kalista hanya sekitar 120 cm.
“Oh, Mbak Nada. Lagi ke pasar nganterin bude.” Kalista masih asyiiik mengunyah kukis. Sengaja ia hanya menggigit bagian choco chipnya saja. “Teman mbak Nada, ya?" tanyanya polos.
Sam kembali meringis karena Kalista ini terbilang anak yang pemberani karena tidak takut sedikitpun. Terlebih pada orang asing seperti dirinya.
“Kalau aku pacar mbak Nada, boleh enggak?'’ sam mengerling jahil.
Kalista menggeleng dengan jari telunjuk di goyangkan berkali. “Emm ... eem. Pacar mbak Nada, kan, udah ke sini semalam. Masak iya pacar mbak Nada ada dua.” Kalista mengangkat lima jari, lalu menutup ibu jari, jari manis dan jari kelingking. Menyisakan jari tengah dan jari telunjuk.
Seketika pengakuan Kalista membuat wajah sam memanas. Pacar? Semalam? Siapaa?
Meskipun masih menahan sesuatu yang bergejolak pada batinnya, Sam menurut saja saat Kalista menyuruhnya duduk di teras.
Anak itu berlari ke samping rumah dan sedikit berteriak memanggil manggil nama seseorang.
Beberapa waktu kemudian, Hardi datang dari arah samping rumah. Celana training dan kaos oblong yang agak basah di bagian tertentu membuat Sam menebak jika bapak dari Nada itu habis berkebun.
Sam lekas menjabat tangan Hardi, begitu lelaki itu tiba di hadapannya.
“Minal aidin wal Faidzin, Pak. Mohon maaf lahir dan batin.”
Lekas Hardi menjawab dengan kalimat yang sama pada Sam.
“Aduh, maaf. Masih bau keringat. Habis cari makan kambing.” Hardi tidak enak jika harus duduk menemani Sam dengan keadaan seperti itu. Ia hendak duduk. Namun, ia kembali berdiri lagi seraya memanggil nama anaknya.
“Kata Kalista tadi, Nada ke pasar, Pak.”
“Apa iya. Masa lama sekali. Nada sama ibunya berangkat sejak saya juga berangkat ambil rumput di sawah lho." Hardi menoleh ke dalam rumah. “Sudah satu jam, padahal.”
Setelah itu, Hardi undur diri ke dalam karena hendak menganti bajunya sekalian mandi. Sementara Kalista sudah menemani Sam di teras.
Sam gunakan untuk mengorek apapun tentang Nada pada gadis cilik itu. Ya, memang pada akhirnya ada dua opsi pada jawaban seorang anak. Yaitu bisa jadi jawaban jujur apa adanya. Satu lagi jawaban itu bisa menjadi jawaban sok tahu ala anak-anak.
“Pak Atar kesini sama ibunya. Trus mbak Nada kasih mereka kue banyaaak, segini.” Kalista memperagakan seperti ia memeluk beberapa toples kue. Dengan tangan melingkar di depan perut.
Membuat hati Sam kembali memanas. Sudah mulai terpengaruh. Setelah itu, Sam banyak bertanya pada Kalista. Tentu anak kecil itu menjawab apapun dari versinya.
Lima menit menunggu, akhirnya Nada datang bersama ibunya.
Lekas Sam berdiri dan menjabat tangan Marni sembari mengucap maaf lahir batin ketika Marni dan Nada mendekat. Lalu ia kembali berjabat tangan dengan Nada meski terlihat kaku. Karena hati sudah berselimut kabut cemburu.
Memang siapa Sam sampai ia cemburu.
Berbasa basi sebentar dengan Marni, Sam berbincang pembicaraan pada umumnya saja.
Sampai kedatangan Nada kembali setelah ia menghilang sejenak dari teras. Lengkap dengan satu nampan berisi teh dan dua toples berisi cemilan. Sedangkan Kalista sudah berlalu setelah mendapatkan snack yang di berikan Nada.
"Ibu tinggal ke dalam, ya. Mau beresin belanjaan," ucap Marni seraya berdiri dan berlalu.
"Udah lama, Mas?" tanya Nada begitu ia menduduki kursi panjang yang sama dengan Sam.
"Lumayan,"
Nada mengkerut, suara Sam terdengar agak lain dari biasanya. Amat datar. "Dari Solo pagi banget, pasti."
"Hm, ya."
Jawaban Sam semakin singkat saja. Membuat Nada jadi merasa aneh. " Kamu sakit, Mas?"
Entah mengapa wajah Sam terlihat serius.
Nada semakin merasa aneh. "Kalau gitu di minum dulu tehnya! Pagi-pagi udah sampai sini. Pasti belum sarapan, kan. Sarapan di sini aja."
Nada tetap memasang wajah riang.
Namun, Sam justru menunduk dengan muka masam.
Dia kenapa, sih. Baru juga maaf maafan, udah pasang wajah perang aja. Kalau ke sini cuma mau diem aja, mendingan nggak usah ke sini. Nada membuang pandangan. Karena Sam terus memeriksa ponselnya.
"Nih, dengerin!"
Sam meletakkan ponselnya, lalu suara riang Kalista kembali terdengar. Sam sempat merekam suara Kalista yang berceloteh tentang Nada. Hingga suara Sam kembali menanyakan pertanyaan seperti yang ia tanyakan sebelumnya mengenai Atar yang datang bersama ibunya.
Nada bergeming mendengarnya. Sedangkan Sam menatap dalam-dalam gerik wajah Nada yang berubah-ubah. Kadang mengkerut, menutup mulutnya, kadang hampir tertawa lalu kembali mengkerut lagi. Seperti itu hampir dua menit lamanya.
Berhentinya suara Kalista dengan Nada yang menahan senyum membuat Sam mengambil ponselnya lagi.
"Jadi?" tanya Sam.
"Jadi apa?" Nada balik bertanya dengan senyum tertahan.
"Atar ke sini sama ibunya buat apa?" tanya Sam sudah habis kesabarannya. Apalagi melihat wajah Nada yang memerah dengan bibir terkatup rapat. Menahan senyum jahil.
"Ayo -ayo, masuk dulu! Kita sarapan di dalam." Hardi muncul dengan wajah segar. Aroma sabun yang menguar menandakan lelaki itu baru saja habis mandi.
Sementara Sam sudah berubah raut wajahnya. Jadi lebih enak di pandang. Ia harus terlihat baik-baik saja di depan orang tua Nada. Jangan sampai ia di usir karena wajah datarnya tidak sedap di pandang.
Namun, akan berbeda bila Nada yang memandangnya. Ia yang sering mencuri pandang pada Sam amat menikmati seraut wajah datar itu. Yang entah mengapa justru berlipat-lipat kadar ketampanannya.
Sadar, sadar, sadar. Nada menepuk-nepuk kedua pipinya. Kemudian Nada berdiri menepuk pelan bahu Sam, "ayo masuk dulu, Mas!"
Membuat Sam akhirnya menurut mengikuti langkah Hardi di depan. Sementara Nada di belakangnya tertawa tanpa suara.
Ternyata, melihat wajah cemburu kamu begitu menyenangkan, ya, Mas.
"Ini namanya besengek," kata Hardi saat semua sudah duduk mengelilingi masakan. Hardi mengambil bungkusan dari daun jati. Begitu di buka, tempe dari kacang benguk yang sudah di olah sedemikian rupa mulai nampak. Jelas sekali ada bumbu kuning dan aroma daun jeruk dari sana.
''Di makan sama nasi tiwul. Ikan cuik dan sambal cobek. Rasanya huenakk banget. Di Solo, tak jamin nggak ada."
Meskipun terlihat menyakinkan. Sam tidak juga mengambil bungkusan berisi besengek seperti yang di makan Hardi. Saat beralih melihat Nada, ia pun sedikit terkejut. Karena, Nada pun juga memakan makanan itu. Bertambah nasi putih yang bercampur tiwul seperti yang di katakan Hardi tadi. Ada mie besar-besar berwarna putih dan kuning juga di sana.
"Cobain, Mas."
Nada mulai muncul ide jahil.
Pasti ia empet banget lihat makan aku ini. Batinnya tertawa. Ia begitu menikmati wajah tertekan Sam yang sudah duduk bersila di depannya.
Mereka sarapan bersama beralaskan tikar di ruang tengah. Seperti waktu berbuka beberapa hari lalu.
"E .. aku makan sama orek tempe aja. Sam kerupuk." Sambil mengangkat kerupuk dan menyendok orek tempe ke dalam piringnya.
"Makanan aneh begini. Ini kesukaan Nada sama bapaknya itu. Tapi rasanya, lain dari yang lain. "
Tidak menyangka, Marni justru ikut mengompori. Membuat Nada mesem-mesem.
Nada menyodorkan besengek yang sudah ia buka di hadapan Sam. Membuat wajah Sam memerah horor. Seperti sedang di tawari jus cabe saja.
Nada memainkan bola matanya pada bungkusan itu.
Sam paham akan kode dari Nada. Akhirnya mau tak mau Sam mengambil juga. Membuat Nada tersenyum.
Senyum yang amat manis. Namun, jelas sekali wajah jahil di sana.
Awas kamu, Na. Berani jahil sama aku.
Namun, begitu Sam menyendok sedikit dan mulai menyuapkan ke dalam mulutnya, membuatnya menahan nafas.
Dengan mulut mengunyah perlahan, Sam mulai meresapi rasa dari besengek.
Enak juga, ya. Namanya apa tadi ... Besengek?
..._tbc_...