Sam

Sam
Sunmori 2



"Keren banget, si. Vi," ucap Nada pada Via saat rombongan berhenti di pinggir jalan. Bukan sekedar pinggir jalan biasa. Di sana banyak pengunjung yang sengaja beristirahat sambil berswafoto. View yang di suguhkan di salah satu kota di Jawa Timur ini sungguh menakjubkan.


Kedua gadis itu berkumpul bersama empat cewek-cewek yang lain untuk foto bersama. Mereka adalah tetangga Nada. Via adalah satu-satunya cewek yang bukan pemuda dari kompleks Nada.


"Fotoin aku sendiri, ya, Vi. Real sama efek di igeh. Dua-duanya, pokoknya."


Nada memberikan HP-nya agar Via dapat memotretnya. Via tentu menerimanya dengan antusias. Berbagai gaya dan dari berbagai sisi sudah Nada lakukan.


Terakhir, Nada mengambil pose bersandar di pagar dengan view di belakang sana pepohonan yang rindang. Di sudut lain ada banyak rumah-rumah yang terlihat kecil karena jarak.


Via tidak mau kalah, dia juga berpose dengan Nada sebagai pengambil gambar.


Puas ada di sana, Nada dan yang lainnya mendapat seruan dari para cowok-cowok.


Nada bersama ciwi-ciwi lainnya segera bergabung untuk mendekati dimana motor mereka terparkir.


"Udah puas, foto-fotonya?" tanya Sam saat Nada mulai naik di atas motornya. Mengambil posisi di belakang Sam.


Nada mengangguk sambil tersenyum mengamati hasil bidikannya sendiri. Sam jadi gemas dan merebut paksa HP milik Nada.


"Ciahhh. Pose alay," cibir Sam mengejek.


"Heh. Suka-suka aku lah," sengit Nada tidak terima membuat Sam terkekeh.


Jari Sam tetap menscrol layar. Dalam hati ia mengagumi hasil foto milik Nada.


"Bagus tuh, begini!" Sam menemukan fitur kamera dan segera mengarahkan layar. Wajah Nada yang sedang memberengut dengan Sam yang tersenyum menjadi foto pertama.


"Ihhh! Asal jepret aja sih!" Kembali Nada protes.


"Kenapa? Bukannya bersyukur bisa foto sama ketos ganteng kek aku malah nyolot!" Sam tidak perduli pada punggungnya yang jadi korban cubitan tangan Nada. Suka tapi panas juga, kan, pastinya. Ia bahkan tidak jaga image agar tidak mengaduh.


"Siniin, nggak, HP-nya!" Nada menyodorkan telapak tangannya di depan wajah Sam dari samping. Sam sendiri justru asyik melihat-lihat seisi galeri Nada. Meskipun pemiliknya sudah protes plus cerewet.


"Ambil foto itu nggak asal jepret aja. Musti ambil angel yang pas. Walau nggak center presisi. Asalkan kesannya dapet dan nggak aneh aja."


Sam kembali mengarahkan fitur igeh dan memotret jalanan di depannya. Teman-temannya sudah bersiap untuk meneruskan perjalanannya.


Taktis sekali jari Sam mengubah mode selfi


Kali ini wajah kepo Nada berhasil ia abadikan sedangkan dia sendiri tersenyum hingga jajaran giginya terlihat. Manis pokoknya.


"Iiih, Mas! Kamu tuh curang, tau! Kamunya bisa gaya, nah aku cengo begitu. Hapus-hapus!"


"Ya, jangan dong." Sam segera mengangkat HP Nada tinggi-tinggi. Ia sempatkan mengirim hasil gambarnya pada kontaknya.


Tanpa Sam dan Nada tau, seseorang tengah membuat video dan mengambil foto keduanya. Saat berebut ponsel. Nada yang terlihat kesal sedangkan Sam yang tengah tertawa. Ada juga posisi tangan Nada yang ingin merebut ponselnya sehingga terlihat tangan Nada merangkul Sam.


Sekilas, mereka seperti sepasang kekasih.


"Mereka pacaran, ya!" Royan mensejajarkan motornya dengan motor Ando.


"Tau, tuh. Tanyakan saja pada Via, nih. Kan sahabatnya." Ando sedikit menoleh pada Via yang menjawab geleng-geleng tanda tidak tahu.


"Yah. Takutnya si Nada baper sedangkan Sam cuma main-main." Itu ucapan Akmal yang mendekati kedua temannya. "Jadi jalan nggak, sih," lanjut Akmal me menuntaskan


"Tuh, ketosnya lagi asyik gitu. Samperin, noh!" Dika mengangkat dagu, menunjuk Sam dan Nada di atas motor. Sam memarkir motornya lebih jauh dari teman-temannya.


"Behhh. Mangsa baru, lagi," gumam Akmal dan membuat Via melotot tajam.


"Maksud kalian apa sih?" tanya Via pada tiga orang kakak kelasnya itu. Melihat satu persatu.


"Udah, obrolan garing, gak penting. Sekarang mending kamu panggil itu temen kamu." Tunjuk Ando dengan dagunya.


Belum sempat Via memanggil Sam sudah mendekat dengan helm sudah terpasang di kepala.


"Gass lagi yok!" Tanpa menunggu teman-temannya merespon, Sam memutar tuas gas dan mengikuti teman-teman yang lain.


Sam sudah menebak, jika keempat temannya pasti sedang mengatai dirinya.


Melalui spion ia melihat teman-temannya sudah melakukan pergerakan juga.


Perjalanan kembali berlanjut. Hawa dingin semakin menambah sejuk meskipun jalanan ramai. Kurang dua ratus meter disana terlihat awan putih sampai di jalan. Tidak sampai menganggu jarak pandang.


Hal itu tidak Nada sia-siakan. Ia merekamnya menggunakan fitur video.


"Na. Gantian kamu yang di depan! Mau ya!" Sam memperlambat laju motornya sambil menoleh ke belakang.


Nada terkejut. Ia memekik dan wajahnya terlihat polos. "Aku nggak bisa pakai motor kopling, Mas." Tentu Nada menolaknya.


"Ya makanya, aku ajarin. Mumpung teman-teman masih jauh di belakang." Kali ini Sam menepi dan mematikan mesin motornya.


Nada menolak, ia ragu, takut akan membahayakan yang lainnya. Sam terus memaksa sembari meyakinkan Nada.


Akhirnya Nada mengambil tawaran Sam. Kapan lagi bisa di ajari naik motor kece, kan, ya. Bersama kakel idola lagi.


Sam terus memberi aba-aba, meskipun sering kali mesin jadi mati katanya tangan dan kaki tidak sinkron. Sam tetap sabar mengajari Nada. Sesekali tangan mereka bersentuhan dan itu membuat perut Nada jadi berdesir.


"Jangan aneh-aneh, Sam," tegur Ando saat menyalip.


"Pepet terus Sam. Jangan kasih jarak!" Giliran Dika yang lewat.


Apa ini suatu kesalahan. Nada melirik sinis teman-teman Sam yang menggodanya.


"Mereka bisa salah paham, Mas."


"Biarkan, itu urusan mereka. Ayok, coba lagi!"


"Nanti kita ketinggalan," balas Nada.


"Nggak akan! Udah percaya sama aku."


Kali ini tangan Sam memaksa tangan Nada kembali berpegang pada kedua stang.


Jangan baper Nada. Ini cuma ketidaksengajaan. Murni latihan dan bukan mau kamu. Batin Nada terus meyakinkan.


Akhirnya, perlahan Nada dapat menguasai agar setiap perpindahan gigi lebih halus.


"Nah, kan. Aku bilang juga apa. Udah anteng terus begini. Aku mau bikin video soalnya." Sam terus memberi aba-aba pada Nada. Sedangkan tangannya sibuk merekam perjalanannya.


"Tiap mau berhenti sama pindah gigi pegang kopling, kan, Mas!"


"Iya,"


"Ya ampun, kapan ya bisa punya motor sendiri, gitu." Nada memang sudah lama memimpikan punya motor sendiri. Tidak terus menumpang pada Via.


"Emang ngga punya motor?"


"Ada. Tapi kan motor bapak."


Sam ber-oh saja. Ia mempunyai ide. Kali ini, Sam merekam perjalanannya dengan kamera depan. Sengaja ia fokuskan pada Nada yang kini menjadi pengendali motornya.


"Sam menang banyak, tuh. Kemarin uring-uringan biar bisa ngobrol sama Nada. Eh, sekarang ia dapat kesempatan ganda," ucap Dika pada Ando.


Via sudah melirik sinis. Tidak terima temannya jika hanya akan jadi korban ghosting. "Heh, berhenti nggak. Aku mau bilangin ini ke Nada." Via menepuk bahu Ando.


"Jangan dengerin Dika. Dia cuma bercanda."


Setidaknya Ucapan Ando membuat Via mereda.


Sedangkan di belakang sana Nada mulai bisa merasa nyaman. Ia melupakan sejenak bagaimana kesalnya dia memergoki Sam mencium Dita kemarin. Ia hempas rasa takutnya dan menikmati kebersamaan langka ini. Walau ribut kecil selalu terjadi antara ia dan Sam.


Kurang lebih empat kilometer. Sam meminta berganti posisi. Dengan ia di depan. Karena teman-temannya sudah tidak terlihat. Tertinggal cukup jauh sepertinya.


"Pegangan! Aku mau ngebut!" Komando Sam sedikit menoleh pada Nada.


"Ogah, gini aja." Nada memegang dua sisi sweater Sam.


Sam tidak menggubris. Ia menambah laju kecepatannya.


Nada sendiri menekan rasa takutnya dengan memejamkan mata. Tidak hanya sekali ia refleks memegang tubuh Sam jika remaja dengan rambut sedikit gondrong itu mendadak menekan rem. Ingin protes tapi percuma. Hingga akhirnya Via melambai di depan resto di pinggir jalan.


Sam berhenti lalu bersama Nada bergabung dengan rombongan yang sudah duduk di kursi masing-masing. Pesanan sudah di buat. Tinggal menunggu saja.


Nada sudah mengajak Via untuk ke kamar mandi untuk buang air. Ia sedari tadi sudah tegang, untuk pertama kalinya ia memakai motor kopling. Lebih kacaunya lagi, justru diajari langsung oleh seorang yang ia suka.


"Ngapain senyum-senyum, Na!"


Via menelisik wajah sahabatnya begitu keluar dari bilik.


Nada tersipu karena masih terus terngiang-ngiang saat Sam membantunya mengatur tarikan gas.


Seperti ini rasanya di sentuh oleh orang yang di suka?


"Ditanyain juga!"


"Apa sih, Vi."


Via kini berganti mewanti-wanti Nada agar berhati-hati dengan Sam. Ia ceritakan apa yang ia dengar, meskipun ia sendiri ragu jika apa yang di ucapkan Dika hanya candaan. Via hanya ingin sahabatnya tidak baper akan perlakuan Sam.


"Vi, dia itu tadi yang maksa aku. Bukan aku yang paksa dia. Dia mau ambil vidio. Makanya aku di suruh di depan. Lumayan kan, aku jadi bisa pakai motor kopling."


Via memandang wajah Nada dalam-dalam. "Kamu nggak lagi suka sama Sam, kan, Na?"


"Hahhh. Apa? Enggaklah, ngadi-ngadi kamu, Vi. Dia kan pacar Dita. Ya kali nanti aku di sebut perebut pacar orang," sangkal Nada memalingkan wajahnya lalu berganti memandang apa saja di sekitar.


Asalkan bukan pada Via. Pasti akan mudah di tebak jika sahabatnya itu mengetahui wajahnya yang sedikit sendu mengingat kenyataan Sam memang pacar Dita.


Lekas Nada mengajak Via bergabung dengan yang lainnya. Bergabung dengan para cewek-cewek. Sedangkan para cowok-cowok bergabung jadi satu meja.


Mereka makan dengan lahap. Meskipun makan siang kali ini sungguh sudah terlambat.


Karena tidak ingin pulang terlalu malam, mereka lekas berbalik arah saja. Cukup motoran seharian. Karena besok mereka akan kembali masuk sekolah.


Memasuki waktu magrib, gerombolan remaja itu berhenti untuk rehat. Pamali kata orang Jawa jika jalan waktu magrib. Sebagian dari mereka benar-benar hanya rehat. Sedangkan para cewek-cewek memutuskan untuk sholat terlebih dahulu.


Sam adalah salah satu rombongan yang memilih untuk sholat. Tidak hanya sekedar rehat di serambi masjid.


Nada benar-benar tidak menduganya sama sekali. Katanya dia preman. Gemar gelud dan minum-minum. Tapi dia sholat? Nggak mungkin, kan dia cuma cari muka aja. Secara ini ibadah, kan.


Nada mengetahui itu dari mulut ke mulut. Apalagi ketenaran Sam terkena sanksi saat kepergok menegak minuman bia-dab itu bersama anak-anak yang lain. Saat kelas sepuluh sudah bukan rahasia lagi, jika Sam adalah biang onar. Suka membuat ribut, di sekolah salah satunya.


Saat perjalanan pulang Sam dan Nada sudah berbincang layaknya seorang teman. Normal tanpa perdebatan lagi. Namun, aksi mencubit dan menepuk punggung Sam tetap masih ia lancarkan saat celetukan Sam membuatnya kesal.


"Kamu tadi sholat, Mas?" tanya Nada.


"Iya, kenapa emang?"


Sam tersadar lalu kembali melayangkan pernyataan. "Nggak pantes banget ya, orang kaya' aku ini sholat!"


"Ibadah itu kewajiban tiap muslim. Bukan hakku menilai pantas dan tidak pantasnya seseorang buat hal itu," ujar Nada.


"Ya, itu bagi orang yang bijak. Kalau mereka para pembenci akan berbeda lagi, Na."


Nada menjadi tidak enak. Ia takut salah bicara. Ia pun bukan orang yang selalu tepat waktu jika sholat. Bahkan kewajiban lima waktunya sering bolong-bolong.


Selanjutnya, Nada memilih diam dan menikmati perjalanan malam.


Entah karena capek atau terlalu baper. Nada pasrah saja saat Sam menarik tangannya untuk melingkar di pinggangnya. Nada hanya diam membatin, ia ingin menyangkal perasaannya yang tengah berbunga-bunga. Namun, mengingat wajah Dita dan perlakuan Sam kemarin membuatnya kembali tersadar.


"Makasih, ya, Mas. Buat hari ini. Udah malam, kamu cepetan pulang. Nanti ibu bapak kamu nungguin, kasian," ucap Nada setelah turun dari motor Sam.


"Ck. Nggak ada basa-basinya, sih," goda Sam.


Kemudian, Sam tersenyum masam mendengar rentetan kata-kata Nada tadi. "Papa sama mamaku nggak ada di rumah. Aku tinggal sendirian, jadi nggak ada yang bakal menghawatirkan aku."


Ingin sekali Nada mendengar cerita Sam lebih dari ini. Tapi kehadiran bapak yang berdehem saat membuka pintu membuat Nada urung.


Sam segera memakai helm dan mengangguk saat bapak Nada hampir mencapai pagar. Setelah Bapaknya Nada mengangguk, barulah Sam berlalu.


"Masuk, Nduk! Udah malam."


*