
...
"Nada, ku mohon tenanglah," pinta Sam dengan lirih. Namun, gadis itu hanya terus menepis tangan Sam dengan tangis yang semakin tergugu.
Hancur, kacau, sakit. Seperti itulah yang di rasakan Nada. Bingung bercampur kesal menyergapnya bertubi-tubi. Yang ia ingat, saat rasa asing perlahan di berikan Sam bertubi-tubi. Hingga membuatnya nyaman, semakin nyaman namun semakin melenakan. Lalu ... saat Sam menghujaninya dengan kecupan demi kecupan yang membuatnya melayang tak tentu arah. Setelah itu... Entahlah. Apa yang terjadi dengan dirinya. Semakin ia melawan arus, semakin tenggelam pula ia di buatnya.
Cukup. Nada masih belum mau mengingatnya lagi. Tidak. Jangan sekarang. Ada hal yang lebih penting dari itu. Yaitu ingin pergi dari sana secepat mungkin. Secepatnya.
Setelah beberapa saat, tangis tertahan yang berubah jadi sesenggukan itu kian memudar berganti dengan tatapan kosong ke depan.
"Nada..," ucap Sam tertahan sambil menunduk setelah beberapa saat berlalu. Menunggu Nada dapat menenangkan diri. Kali ini ia tidak kuasa melihat air mata Nada yang terus keluar tanpa bisa ia hentikan.
"Katakan sesuatu, Na. Jangan diam begini."
Perlahan, tangan kanan Sam terulur berusaha meraih bahu polos Nada yang sedikit bergetar. Mata gadis itu terpejam dengan isak yang terputus-putus.
Tidak adanya penolakan dari gadis itu membuat Sam beringsut untuk lebih dekat lagi. Ia hanya ingin menenangkannya dan berkata semua akan baik-baik saja. Namun, kata apapun yang keluar dari mulutnya tidak pernah mendapat jawaban apapun dari gadis berambut hitam sepunggung yang kini sudah tak beraturan.
Lama keduanya dalam keheningan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Hingga pergerakan kecil dari Nada, membuat Sam menatap penuh dengan cemas. Apalagi, bibir gadis itu meringis menahan sakit.
"Apa itu sakit?" tanya Sam panik seraya menyelipkan anak rambut Nada yang hendak menutupi wajahnya.
Nada hanya diam tidak menjawab. Matanya mengerjab dan seketika itu air matanya lolos begitu saja. Rasa perih di pusat intinya membuat ia memejamkan mata. Setelah sedikit tenang, ia lantas segera berdiri tidak perduli lagi pada bajunya yang terbuka.
"Nada, hati-hati." Melihat Nada tertatih untuk berdiri membuat Sam ngilu. Ada rasa menyesal marah dan kecewa pada diri sendiri saat Nada diam saja tidak menjawab sepatah katapun atas pertanyaan-pertanyaan yang ia ucapkan.
Perlahan, Nada meraih bajunya yang tersimpan di kursi plastik, di sebelah meja. Kemudian, ia melepaskan kemeja Sam begitu saja dan meletakkan asal di kasur UKS.
Sayup-sayup suara kokok ayam mulai terdengar, meskipun di luar sana masih begitu gelap.
"Nada. Tolong katakan apapun. Asalkan tidak mendiamkan ku seperti ini. Bicarakan apapun yang kamu rasakan. Kasih tau, aku harus bagaimana?"
Entah sudah kalimat ke berapa pertanyaan Sam terlontar, tanpa mendapatkan jawaban. Membuat lelaki itu semakin di hantam rasa bersalah yang teramat.
Nada masih tetap diam. Lalu, pandangannya naik melirik jam dinding di atas pintu. Jarum pendek masih menunjuk angka tiga, dengan jarum panjang berada di angka enam.
Sam hanya menatap gelisah saat Nada kembali memungut baju-bajunya yang masih teronggok di lantai lantas memakainya dengan pelan.
Harusnya Sam segera mendekat dan membantu apapun itu. Namun, sorot mata lelah dan redup itu justru mengoyak batin Sam. Menjadikannya bagai di hantam rasa sesal yang berlipat. Ia lebih memilih berkali-kali mendapat pukulan atau apapun sejenisnya daripada terjebak dalam keadaan ini.
Kesadarannya kembali terkumpul saat Nada berjalan menghampiri daun pintu. Sam segera berdiri meskipun dengan gemetar kemudian mencoba memegang bahu Nada. "Nada, kamu mau kemana?"
Lagi-lagi, hanya hening sebagai teman setia Sam.
Saat kalut kembali menyusup, Sam memeluk tubuh Nada dari belakang. "Nada jangan pergi. Kita pergi sama-sama dari sini. Ja-jangan takut. Aku... aku akan menemui orang tuamu. Ka-kamu nggak sendiri. Itukan, yang kamu takutkan?"
Batinnya kembali teriris saat Nada terus beringsut untuk melepaskan diri darinya. Saat Sam kembali menyentuh bahu Nada. Gadis itu menepis pelan tangannya hingga berakhir menggantung di udara. "Nada, aku antar, ya," lirih Sam lebih pada memohon.
Terlihat, Nada menggeleng dan berkata lirih, "bukain pintunya."
Hati Sam mencelos. Seolah longsor hingga ke mata kaki. Ia mulai mengutuk diri mengapa tidak bisa menahan diri. Ia yakin semalam begitu sangat menyakiti Nada. Bukan lagi sakit, bahkan sudah menghancurkan gadis itu.
Tidak adanya jawaban dari Sam membuat Nada melirik lemah pada Sam. Membuat Sam begitu jelas melihat wajah Nada yang amat lelah dan terluka.
"Oke. Oke. Tapi aku antar pulang, ya." Tawar Sam seolah tanggap apa yang paling Nada inginkan untuk saat ini.
Nada menggeleng pelan dan sedikit menyandarkan keningnya pada daun pintu. Mau tak mau, Sam segera menarik slot di atas pintu, membuat hawa dingin di luar sana merangsek menyusup pori-pori kulitnya.
Di luar masih sepi. Namun, lampu-lampu dari halaman panggung masih menyala terang.
Nada berjalan pelan keluar. Saat itu Sam segera kembali ke dalam untuk mengambil kemejanya.
Ketika Sam mengangkat kemejanya yang berada di sprei UKS, ia melihat bercak merah ke-orenan berada di sana. Dadanya bergemuruh hebat di susul lututnya yang mendadak lemas seperti tidak bertulang. Ia bukan anak remaja kemarin sore yang tidak tahu arti bercak itu.
Dengan cepat Sam memakai asal kemeja yang sebelumnya di pakai Nada, untuk ia pakai di tubuhnya. Ia biarkan baju itu terbuka tanpa ia kaitkan kancingnya.
Cekatan, tangannya segera menggulung kain itu dan melipatnya asal demi menyadari Nada sudah tidak ada di luar sana.
Berlari bertemakan panik yang mendominasi seluruh pikirannya. Sam mengedarkan pandangannya ke bawah. Tidak ia temukan Nada di sana. Yang ada hanya bunyi mesin diesel dengan lampu lampu masih menyala terang tepat di tengah halaman sekolah.
Ada beberapa siswa yang tidur di panggung dengan berbagai posisi di sana.
Sam tidak memperdulikan lagi apa yang ada di sana. Ia hanya terus berlari dan menuruni tangga dengan tergesa. Ia tidak mau Nada pulang seorang diri dengan keadaan kacau seperti itu.
Sampai di parkiran, Sam memicing mengabsen kendaraan bermotor di parkiran. Kakinya lincah bergerak dengan gusar untuk mengecek motor Nada.
Tidak ada
Saat Sam tidak kunjung menemukan motor yang biasa Nada pakai. Ia segera berlari ke ruang OSIS demi mengambil tas dan barang-barangnya. Di sana ia melihat beberapa temannya yang tidur bersama-sama di atas karpet hijau.
Ia tidak memedulikan siapapun. Ia segera mencari tas-nya dan segera keluar dari sana.
Jantung seperti berhenti paksa, saat seseorang menyebut namanya. Panggilan seseorang membuat dadanya berdegup seperti hendak di eksekusi mati di tengah hutan yang gelap.
"Sam. Kamu tidur di sekolah juga? Dimana? Kok, aku nggak tau dari sejak acara di tutup." Bela mendekat dan berdiri di depan Sam dengan menepuk-nepuk pipinya yang basah. Gadis itu jelas dari kamar mandi.
Sam masih diam dan Bella mengeryit bingung karena Sam terlihat linglung. Lalu Bella melihat Sam yang menenteng tas polo di tangan kanannya. Lelaki berkaos hitam itu bahkan terlihat berkeringat di dahinya.
"Kamu mau pulang, Sam?" ucap Bella berbinar, "aku nebeng boleh, ya?" lanjutnya dan Sam segera menjawab 'nggak bisa' lalu berjalan dengan langkah lebar. Meninggalkan Bella yang sedang diam termangu.
Sampai di atas motornya, Sam begitu gugup sampai hendak memasukkan kontak saja berkali-kali salah. "Haaaarrggghh!"
Sam memukul tangki motornya. Dan meraup wajahnya sejenak dengan nafas yang berusaha ia atur agar lebih tenang. Lalu ia kembali mencoba memasukkan kontak lagi. Saat berhasil, ia segera menyambar helm untuk ia pakai.
Secepat mungkin Sam mulai melaju membelah jalanan kota Solo yang begitu sangat lengang. Hanya satu dua kendaraan yang berpapasan dengannya. Hari begitu masih amat pagi jika untuk membuat orang-orang bangun untuk beraktifitas.
Hanya dengan hitungan menit saja Sam sudah sampai di trotoar sebuah rumah. Di depan sana, ada rumah Nada yang masih tampak sepi. Ia diam sejenak untuk kemudian duduk di atas motor dengan gelisah. Pagar rumah Nada yang tertutup rapat membuat Sam merasa begitu amat terlambat.
Lima menit berlalu, hanya dengan diam memandang rumah Nada. Tidak ia hiraukan dinginnya udara pagi yang menerpa wajah dan lehernya yang terbuka. Hati tetap saja gusar meski sudah berkali-kali ia mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Lalu, atensinya beralih saat suara motor perlahan mendekat untuk berhenti di depan pagar itu.
Sam segera turun dan mengambil beberapa langkah dari motornya. Langkah kakinya baru berhenti saat Nada melihatnya sejenak, lalu menuntun motornya masuk.
Ingin sekali Sam berlari menghampiri Nada. Tapi ia segera sadar, jika ini adalah pagi buta. Satu saja suaranya terucap, pasti akan membangunkan siapapun di sekitarnya.
Akhirnya, Sam hanya berdiri dan terus memandangi Nada hilang di balik pintu samping rumah. Menatap nanar pintu yang tertutup, dimana Nada menghilang tadi.
"Katakan apapun asalkan bisa membuat rasa bersalahku ini sedikit berkurang. Dengan begini, kamu sudah membunuhku pelan-pelan... Jadi tolong, jangan lakukan itu."
Sam men jambak rambutnya kasar. Lalu memukul-mukulnya dengan kuat. "Nada maafin aku. Maaf. Maaf, " desisnya tanpa sadar membuat air matanya luruh begitu saja.
Harusnya kata itu terucap sejak tadi. Sejak semalam. Sejak ia tersadar. Atau sejak Nada mulai menepis tangannya seolah kotoran yang begitu membuat jijik olehnya. Ia terlalu larut oleh rasa baru yang membuatnya melayang hingga sampai pada puncaknya, dan menyadari Nada telah menangis tanpa suara di bawahnya
Harusnya.
*
Sam telah duduk termenung memandangi panggilan teleponnya yang di tolak untuk ke sekian kalinya. Untuk kemudian, panggilan terakhirnya berubah dengan suara operator yang menjawab. Saat beralih pada aplikasi hijau, kontaknya sudah tidak bisa menghubungi nomor Nada yang sebelumnya masih bisa terhubung.
Sam menggeram tertahan. Namun, ia tidak mungkin berteriak kencang. Sadar ini sudah di rumah dan ada kedua orang tuanya juga. Beruntung, otaknya masih bisa berpikir demikian.
Untuk selanjutnya, suara mama yang menggedor pintu untuk ke empat kalinya kembali terdengar.
Mau tak mau, Sam beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu setelah menata wajahnya agar terlihat biasa saja. Ia tidak mau siapapun mengetahui bagaimana menyesal dan hancurnya seorang Alsaki Sambara yang semalam sempat membuat bangga sang mama. Sempat mendapat tepukan sebagai dukungan singkat dari papa.
Namun, kali ini. Apakah masih pantas dirinya di perlakukan seperti anak yang membanggakan? Sebobrok-bobroknya Sam, ia tidak pernah bermain wanita melewati batas wajar. Tidak pernah. Justru wanita-lah yang mendekatinya, bahkan sengaja menyodorkan diri.
Namun, semua lenyap kala mata pikiran dan hatinya di liputi rasa takut akan kehilangan. Ia tidak rela Nada menyebut nama orang yang tidak lebih brengsek dari dirinya. Mendapatkan rasa iba dari gadis yang tanpa sadar telah menyusup di ruang hatinya sejak dulu.
Tidak. Sam tidak rela membiarkan Nada untuk kembali luluh apalagi mereka akan kembali bertemu untuk satu tahun ke depan. Hatinya tidak seluas itu untuk membiarkan Nada bebas begitulah saja.
"Ini anak. Di bangunin susahnya. Ini udah jam berapa, Sam. Kamu belum sarapan!" Semburan bertubi-tubi dari Tantri begitu membuka pintu kamarnya. Membuat Sam memejamkan matanya sejenak. Tidak berani menatap wanita yang telah melahirkannya delapan belas tahun silam.
"Iya, Ma, iya. Ini juga udah bangun."
Tantri segera berlalu dari depan kamar Sam sembari pamit akan ke Solo baru. Ia juga katakan papa sudah ada di sana sejak pagi tadi.
Sam sempat menawarkan diri untuk mengantar sang mama. Namun, wanita berusia lima puluh tahun itu segera menolaknya cepat karena masih mau mampir luwes untuk membeli keperluan.
Seperginya Tantri dengan ojek online kembali membuat Sam merasa sepi. Ia berjalan perlahan dan duduk di sofa tengah dengan bahu tersandar lemas. Perut yang berbunyi sejak tadi tak ia hiraukan. Pikirannya hanya menuju satu nama yang kini semakin melekat di hatinya. Apalagi sejak kebersamaannya semalam. Melewati beberapa peristiwa yang membuat jantung terpompa lebih keras dari sewajarnya.
Rentetan peristiwa kembali bergelayut di pikiran Sam. Dari hilangnya Nada dari pandangannya. Dari atas panggung. Padahal sebelumnya ia sempat bertukar senyuman yang begitu membuatnya bersemangat menyanyikan beberapa lagu dengan suka cita.Lalu, kepanikannya mencari Nada ke seluruh tempat. Ia juga sempat mendapat petunjuk dari adik kelasnya yang sempat melihat Nada di bawa olah teman sekelasnya. Hingga ia berakhir di belakang gedung IPS yang begitu temaram. Hatinya sukses terbakar saat seseorang berusaha mencium paksa pada gadis yang amat ia yakini adalah orang yang ia cari-cari keberadaannya.
Air matanya mengalir saat begitu cepatnya ia kembali tersulut emosi saat Nada terlihat menyesal telah membuat seorang yang amat ia benci. Apalagi saat Nada menyebut nama itu. Hingga, pemandangan indah nan menggiurkan berada samar di balik kemeja. Juga ... tatapan sayu yang melambai-lambai di hadapannya. Semua terjadi begitu saja. Perlahan tapi pasti, membawanya terseret gelombang tinggi. Merasakan manisnya sebuah rasa baru untuk pertama kali dalam hidupnya. Membawanya melayang terbang untuk sejenak. Hingga ... air mata di pipi yang seolah mengalir tanpa muara menyadarkan dirinya ke dunia nyata.
Dddrrrttttt. Bunyi getar di saku ponsel, menyadarkan Sam dari rentetan peristiwa bahagia, sedih, kecewa, menyesal, hancur menjadi satu.
"Sam..udah di tungguin woooiiii. Kemana aja sih, kamu." Suara Dika sudah protes di seberang sana.
"Emang kenapa?"
"Kenapa gundul mu! Kita masih ikuti perpisahan sesi dua dengan OSIS. Lupa, loh!"
"Hah?"
Jujur Sam sampai melupakan satu agendanya yang harus ia ikuti.
"Semalam juga ngilang kemana! Aku cari-cari seantero sekolah nggak nemu nyawa kamu. Ku pikir di kekep Mak lampir kamu."
"Pala lu," sembur Sam seraya berdecak.
"Secara elu kan Sambarannya Mak Lampir. Ya kali, jadi Seambaranya Nyai Blorong, seneng di elu."
*