
*
Sam penasaran, mengapa Nada ada di tempat itu. Seharusnya anak itu sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.
Lekas, Sam membuka room chat dengan kontak Nada.
^^^[Kamu tadi ngapain di sana?]^^^
Tidak menunggu jawaban dari Nada, Sam segera mengambil tas di ruang OSIS dan segera bergegas dari sana.
Begitu sampai di parkiran, Sam bertemu dengan Atar. Sudah beberapa minggu ini Sam tidak bertemu dengannya. Kesibukan Atar ikut olimpiade sains, menjadi penyebabnya.
"Baru pulang, Sam?" tanya Atar.
."Iya," sahut Sam singkat sambil mengenakan jaketnya tanpa menarik resleting agar rapat. Cuaca kota Solo cukup gerah, mungkin karena tengah mendung.
Atar tersenyum tipis meskipun jawaban Sam cukup datar dan tak ada senyum di wajahnya. Atar masih diam memerhatikan gerak gerik Sam yang tengah bersiap-siap dengan motornya.
Satu kali bunyi klakson membuat membuat Atar mengangkat tangan kanannya. Setidaknya, walau hanya berinteraksi secukupnya, Sam masih menganggapnya ada.
*
Sam bukannya pulang ke rumah tapi ia memacu motornya ke rumah Dika. Ada sedikit urusan.
Saat tiba di sana, ada ibunya Dika di teras dan menyilakan Sam untuk masuk ke kamar Dika saja.
Sam menurut dan segera mencari kamar Dika. Sudah tidak canggung lagi, jika Sam berada di rumah Dika. Ia dan teman-temannya sudah melebihi akrab dengan orang tua Dika.
"Jabrik!" Ucap Sam menyebut nama beken Dika sembari mengetuk kamarnya.
Dika membuka kenop pintu dan terkejut akan kedatangan Sam. "Eh! Ada apa Sam?"
Sam merangsek masuk ke kamar Dika. Ia mengutak-atik ponsel Dita dan memperlihatkan pada Dika.
"Ini cctv dari mana?" Sam menunjuk ponsel, 0 membuat Dika mengeryit lalu menggeleng. Belum mengerti.
"Kamu datang-datang, kasih vidio kamu lagi jadi Spiderman. Apa yang menarik sih! Udah biasa kali."
Sam menyeret Dika ke kasurnya. Ia bingung akan bercerita dari mana. "Aku udah nggak nyaman sama Dita. Aku sengaja jauhin dia. Dan entah apa maksudnya, dia ancam aku sebar video ini, kalau aku nggak cium dia."
Dika terbelalak mendengar penjelasan Sam. Ingin tertawa tapi melihat wajah Sam yang tak ramah segera ia urungkan. "Gila tuh, cewek. Ngarep banget."
Sam melepas jaket dan menyisakan kaos hitamnya. Sisa-sisa rasa geramnya masih terbawa hingga ke kamar Dika. "Coba kamu cek cctv dari mana ini. Satu lagi, kamu bayangkan bagaimana Dita bisa dapetin ini."
Sam merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya terlentang dengan mata terpejam.
Lama Dika mengamati vidio Sam, ia dapat menebaknya jika ini dari warung kelontong yang biasa menjadi tempat nongkrongnya.
"Bukannya ini kelihatan dari warung Mbak Sri," gumam Dika lalu membuat Sam membuka mata.
"Warung kelontong begitu mana ada cctv-nya," sangkal Sam kali ini ia ikut duduk sejajar dengan Dika.
"Emang kalau Mbak Sri mau pasang cctv harus lapor kamu dulu!"
Ambigu Dika membuat Sam menghela nafasnya.
"Ya, enggaklah," sentak Sam tidak mau kalah.
Dika masih setia memerhatikan dengan seksama. Jika ini dari kamera ponsel, ia rasa tidak mungkin. "Emang kenapa, sih, Sam. Satu ciuman juga. Kamu juga yang untung." Seringai Dika terlihat seperti meremehkan.
"Ya itu, elu. Kalau aku ogahlah!"
Dika tertawa terbahak. Lalu menggeleng. "Aku nggak percaya. Cewek kamu banyak, Sam. Bosen Mela ganti Risti. Habis itu Salsa dan rebutan sama Ando. Belum lagi yang kamu baperin doang lalu kamu tinggalin. Gila aja kamu masih sungkan jika sekedar cium doang."
Dika menoleh karena Sam hanya diam saja.
"Udah bacotnya!" Sam mengucapkan itu dengan lirih tapi penuh penekanan.
Dika terkekeh melihat wajah sinis Sam. Lalu satu timpukan bantal mendarat di mukanya.
"Anjayyyy, marah," tawa mengejek Dika kembali menguar seisi kamarnya.
"Brik. Bisa panggilin Nada nggak?" ucap Sam setelah berfikir sejenak.
"Nada? Buat apa? Naksir tuh anak, kamu! Makanya mau tinggalin Dita!"
Sam mendorong sebelah pipi Dika. "Sotoy!"
"Ya, habis," dengus Dika sambil memegangi pipinya lalu kembali terkekeh. Muka Sam semakin suram saja.
"Kamu usahakan, lah, Brik. Biar Nada bisa kesini. Aku perlu tahu dia ngapain di depan kelas 11," terang Sam begitu Dika sudah tenang menuntaskan tawa mengejeknya.
Dika kembalikan ponsel itu pada Sam hingga Dika menyadari jika itu bukan milik Sam. "Hape siapa, inih?"
"Dita!"
"Apa hubungannya vidio sama Nada, Sam?" tanya Dika mulai kepo.
Sam mendengkus mengingat hal itu. " Nada ada saat aku cium Dita di deket tangga, " jawabnya.
"Oh, aku paham. Kamu takut tuh anak laporin kamu ke BK, kan!"
Entahlah. Sam takut akan hal itu atau memang sebenarnya ada hal lain yang ia risaukan.
Akhirnya, Dika mengabulkan keinginan Sam. Saat ia melihat beberapa bungkus pepes di meja makan, ada secerah ide untuk membuat Nada datang ke rumahnya.
Ucapan salam lalu kemunculan Nada di halaman depan membuat Sam berdiri dan segera meghadang Nada di teras.
Nada terkejut saat yang menyambut bukan lah tuan rumah melainkan Sam. Ia datang karena mendapat pesan dari Dika jika ibunya menawarkan pepes.
"Nada,"
Sam tersenyum kaku. "Aku mau bicara boleh."
Nada mengeryit. Ia sudah bisa menebak jika Sam akan membahas soal keberadaannya tadi. "Ngomong aja."
"Kamu tadi ngapain di sana?" ulang Sam seperti pesannya tadi.
"Oh, itu." Nada tersenyum masygul karena tebakannya benar, "aku kebetulan lewat sana aja. Mau pulang," kelit Nada. Padahal ia datang ke sana karena Dita meminta untuk menemuinya. Katanya untuk minta maaf secara benar.
,"Yakin?" telisik Sam memandangi raut wajah Nada yang berubah memerah.
"I-iya," jawab Nada kaku.
Padahal jika di pikir untuk jalan ke parkiran sekolah tidaklah melewati tangga menuju kelas 11. Terkesan memutar.
"Dika ada, di dalam kan, Mas?' tanya Nada mengalihkan pembicaraan.
"Ada."
"Kalau gitu aku masuk ya,"
"Nad!" Sam mencegah Nada saat gadis itu mulai melangkah. Membuat Nada memandang tangannya yang di tahan oleh Sam.
"Jangan mikir yang nggak-nggak, ya!"
"Mikir apa?"
Sam bingung, mengapa ia mengatakan hal itu pada Nada. "Ya, soal yang tadi kamu lihat. Itu nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Aku mikir apa? Ya aku emang polos, Mas. Tapi, aku bisa ngerti, kok, hal seperti itu."
"Ya, aku nggak mau aja kalau sampai banyak orang yang tahu."
Nada tersenyum dan melepaskan tangannya dari Sam. "Nggak penting, Mas. Bukan urusan aku."
Dika yang tengah menguping di balik pintu, semakin merapatkan tubuhnya pada dinding saat wajah Nada mulai tidak nyaman.
"Aku masuk, dulu, ya," ucap Nada sambil masuk ke rumah Dika.
Dengan bertemu Nada, Sam pikir akan lebih lega saat menjelaskan hal yang tidak pernah menjadi niatannya. Namun, semua itu justru semakin membuatnya resah. Apalagi melihat reaksi Nada seolah tak acuh.
*
Malam harinya, Nada memikirkan perkataan Sam. Ia takut bila Sam dapat membaca wajahnya yang memerah karena ia memergokinya. Rasa sakit dan hancur di dadanya melihat orang yang ia kagumi memang benar adanya seorang casanova.
Kenyataan di depan mata sudah mengungkapkan bila desas desus yang beredar di sekolah memang fakta.
Baiklah, ia rasa cukup sampai di sini rasa kagumnya. Namun, dadanya masih tetap jujur. Berdetak lebih cepat jika bertemu dengan Sam. Ia takut jika memang ia memiliki perasaan itu pada orang seperti Sam.
*
*
Saat Sam sedang memimpin rapat, ia terkejut saat mendapatka pesan dari Dika.
[Ternyata mbak Sri itu sepupu jauh Dita, Sam.]
Sam terbelalak hingga berdiri dari tempat duduknya. Ia segera meminta maaf dengan melimpahkan tanggung jawab pada Dita. Ia keluar ruangan dan dengan cepat menemui Dika di tribun halaman.
"Kita kesana, Brik."
Sam berbisik pada Dika. Sengaja menyembunyikan hal ini dari yang lain. Ando, Akmal dan Royan masih asyik berbeut bola.
Sam menyeret Dika untuk lewat jalur kantin sekolah. Rupanya ada pintu keluar dari sana yang baru Sam tahu.
Bukan hal yang sulit bagi Sam untuk meminta ijin pada pemilik kantin. Jiwa konyolnya muncul ke permukaan secara tiba-tiba hingga membuat orang luluh
"Mbak, bisa minta tolong lihat rekaman cctv saat saya naik pagar, Mbak," pinta Sam to the point pada pemilik toko kelontong.
"Rekaman apa, Sam. Eh pagar mana? Kok tahu aku punya cctv?" tanya random pemilik toko pada Sam.
Sam dan Dika saling pandang. "Ada pokoknya, Mbak."
"Aku kan ketua OSIS mbak, tau kan aku sering bolos lewat tembok itu. Karena aku udah insap, aku nggak mau adik kelas aku meniru kelakuan aku, Mbak."
Akhirnya Sam mendapatkan akses dengan cara mudah. Ia hapus lima menit rekaman hari itu. Ia lega. Melalui mbak Sri, akhirnya Sam tahu jika mbak Sri pernah menyuruh Dita untuk mengatur koneksi Anata ponsel dengan cctvnya. Dari situlah, Sam menarik kesimpulan jika Dita sengaja mencurinya untuk menekannya.
"Obsesinya dengan menghalalkan segala cara membuat aku semakin bergidik melihat cara Dita, Brik."
"Yah, jadi kamu itu nggak beneran suka sama Dita."
Sam melirik sinis pada Dika. Rupanya temannya sendiri juga tidak memahaminya.
"Ya udah nggak usah di bahas. Anggep masalah ini selesai."
Sam melepas kepergian Dika untuk berganti kaos team. Timnya masuk final hari ini dan ia tidak di perbolehkan untuk ikut bermain.
Akhirnya ia hanya bisa duduk memerhatikan tim basket perwakilan kelasnya bertanding.
Ada Nada di antara yang lain sedang bersorak-sorai memberikan dukungan.
Ah, Nada. Kenapa sejak hari itu aku begitu sungkan bila bertemu dengan kamu. Memalukan.
Sam segera menepis pemikirannya. Ia ingin have fun menikmati lomba antar kelas ini. Merefresh otak setelah seminggu yang lalu mengatakan ujian.
"Nama aku udah tercoreng di mata Nada, Brik. Tetangga kamu. Itu yang sulit menjelaskannya," gumam Sam yang kini tengah duduk dengan yang lain.
.