Sam

Sam
Canggung



...***...


Sam benar-benar membuat pengajuan pada Bank. Ia memanfaatkan Wulan untuk membantunya. Karena suami wulan mengepalai sebuah Bank. Ia pikir akan di mudahkan segala prosesnya.


"Iya, bisa, sih, bisa, Sam! Tapi mau bagaimana mau proses, kalau besok suamiku udah cuti."


"Lagian, kamu ini. Ada ada saja


Pengajuan ya jangan mepet hari raya begini. Emang pinjem duit seratus duaratus ribu. Bisa di tunggu dengan jam. Sepenakne dewe!"


Kali ini, baru Sam sadari memang benar apa kata sepupunya. Membuat Sam akhirnya, menunda keinginan yang terlalu memaksa.


Mungkin belum waktunya saja. Sampai sampai banyak kendala seperti ini. Pikir Sam dengan kecewakan. Bahu sudah turun seperti kehilangan semangat.


Sekuat apapun kita berusaha, jika memang Allah belum berkehendak, tidak akan di beri jalan. Seperti itu benar adanya.


...*...


Sementara di bagian kota lain, Nada masih saja disibukkan dengan beberapa pesanan yang makin bertambah saja.


Ingin menolak. Namun, rejeki tidak datang dua kali bukan. Nada hanya takut mengecewakan pelanggan.


Bahkan kemarin Nada sudah membuat story' "close order". Namun, masih saja orderan terus datang. Alhamdulillah.


"Sehat, sehat, badan. Yuk semangat," ujar Nada menyemangati diri sendiri.


"Mbak Nada, aku mau yang chocohip." Kalista yang baru datang langsung berbinar begitu melihat Nada sedang menambahkan butiran chocochip di atas adonan yang sudah berbaris rapi di atas loyang.


"Nggak boleh, ya. Emang nggak puasa?" goda Nada pada gadis cilik sepupunya itu.


"Pokoknya, Kalis mau ini."


"Oke, berati beli dong. Mana uangnya?" Nada semakin menjadi menggoda gadis cilik itu.


Membuat Marni mengingatkan.


"Jangan bikin anak orang rewel, Na."


"Mau chocohip? Ada syaratnya!" Nada menggoyangkan jari telunjuk sambil mengerling jahil.


Kalista mengangguk semangat.


"Bantuin Mbak kasih topingnya, dong."


"Boleh, boleh. Bisa dong," jawab Kalista mantap, membuat Nada mengulas senyum menang. Lumayan dapat asisten.


Hari ini menjadi hari terakhir puasa. Artinya nanti malam setelah sholat isya, seluruh umat yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan akan bertemu dengan gema takbir yang berkumandang di seluruh penjuru dunia.


Meskipun begitu, Nada masih ters di sibukkan dengan membuat pesanan yang tinggal beberapa toples.


[Banyak orderan, nih,]


Satu pesan dari Sam membuat Nada mengulas senyum. Ia meletakkan kembali ponselnya setelah balas menekan emogi tertawa pada pesan Sam.


Ingin sekali ia mengungkapkan rasa bahagianya dengan mengirim emogi mata berbinar dengan tanda love. Namun, ia urungkan.


Ntar dia ge-er lagi.


Ya. Hanya sebatas itu komunikasi yang Nada dan Sam lakukan. Tidak ada pembicaraan serius. Hanya saling mengikuti kegiatan masing-masing dari SW yang mereka unggah.


Menjelang sore Nada masih berjibaku dengan solatif dan gunting. Ia tengah mengepak kuker pesanan paling akhir.


Tidak lupa, ia memastikan jika kuker yamg di kemas telah benar-benar dalam keadaan sudah dingin. Tips dari berbagai sumber, membuat Nada mengikuti cara itu dengan baik. Tujuannya jelas, karena bila kuker di kemas dalam keadaan panas, makan akan dapat membuatnya mengeluarkan uap. Hingga, uap yang tidak bisa keluar menjadikan lembab dan dapat membuat kue tidak renyah.


Sementara Marni sibuk sendiri dengan masakan khas menjelang hari raya. Hardi juga punya kesibukan sendiri dengan mengecat dinding depan rumah. Cat dinding yang sudah mengelupas diakan usia, memang sudah waktunya berganti.


"Ibuk masih mengingat pesan Uti," tanya Nada setelah ia melirik sekilas pada ibunya yang tengah membuat apem.


Apem adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus.


Ada juga yang membuat versi lain. Makanan yang terbuat dari campuran tepung kanji, tepung beras, kelapa muda serta bahan lainnya ini tidak hanya enak. Namun, kue ini juga menyimpan nilai budaya dan histori yang menarik.


"Ya ... Namanya welingane wong tuwo. Ya kudu diingat, sama dilakukan, to, Nduk. Ya, namanya pesan orang tua. Ya harus diingat dan dilakukan, Nduk."


"Sebagian orang sudah nggak pakai gitu-gitu, tapi, Buk." Nada mengatakan sejauh yang ia tahu.


"Kalau kamu nanti, ya terserah. Kalau ibuk, ya masih tetep nggak bisa ninggalin yang sudah jadi adat. Kebiasaan. Takut ada yang kurang dan nanti perasaan jadi tidak enak."


"Nada dengar maknanya daleeem, banget, ya, Buk." Nada sudah selesai mengepak hampers pesanan. Dan kini diam memerhatikan ibunya yang menyiapkan lauk-lauk.


"Mau di ambil atau cod dimana? Jalanan, rame banget, lho, Na. Hati-hati kalau cod." Tidak bosan Marni mengingatkan anak semata wayangnya.


Nada memeriksa gawainya sebentar lalu ia letakkan lagi setelah mengutak-atik sebentar. "Mau di ambil katanya, Bu."


"Apem itu artinya ampunan." Marni melanjutkan menggoreng Apem. Wanita itu sekilas melihat Nada yang amat memerhatikan.


" Kata apem berasal dari bahasa Arab yaitu “afuum” atau “affuwun” yang memiliki arti ampunan. Dalam tradisi Jawa, kue apem memiliki filosofi yaitu 'memohon ampunan kepada sang pencipta'."


"Emang nggak bisa disamakan, kok, Buk. Antara adat, tradisi sama hukum agamanya. Semua punya bobot masing-masing." Nada mulai memahami tradisi yang di lakukan ibunya.


" Tergantung kita aja memaknainya. Ada yang bilang aneh-aneh. Ya ... itu berarti mereka tidak tahu maknanya." Marni memberi penjelasan yang mudah.


...***...


Takbir yang menggema menjadi nada indah selama Sam dalam perjalanan ke rumah Paklik Kusno.


"Sam itu udah biasa, Ma. Nggak usah kawatir." Kata Sam saat ibunya menelpon mengatakan permintaan maafnya. Karena lagi dan lagi, sang mama tidak berkesempatan untuk bersama-sama merayakan hari raya.


"Semoga kamu segera mendapatkan jodoh, ya, Sam. Biar kamu ada temannya."


"Aamiin," sahut Sam sungguh-sungguh. Ikut ternyuh mendengar suara sang mama yang bergetar.


Begitu tiba di rumah Kusno, Sam langsung memarkir motor matic di garasi. Berjejer dengan Avanza milik papanya juga dua motor lainnya milik Revi dan Ilham.


Meskipun Kusno sudah mengingatkan Sam untuk membawa pulang mobil papanya, ia masih amat nyaman menaiki motor daripada naik mobil.


"Ini dia yang sedang di obrolin datang." Suara Siti menyambut kedatangan Sam begitu ia memasuki ruang dapur. Karena keramaian berasal dari tempat itu.


"Wihh, panjanngg umur," timpal Reva.


"Bakal rame, nih, rumah."


"Lik Kus, dimana Bulik?" tanya Sam begitu ia mengambil tangan Bulik untuk ia cium punggung tangannya. Mengabaikan selorohan sepupu -sepupunya.


"Masih di masjid," jawab Siti.


"Apa ini?" tanya Siti begitu Sam meletakkan satu jinjingan besar di meja dapur.


"Sekedar buat temen minum teh, Bulik." Tadi Sam menyempatkan memberi bingkisan di minimarket.


Siti mengibas tangannya. "Kamu ini repot-repot. Gula sama teh yang kamu bawa awal puasa aja masih."


Sam tersenyum. "Ya beda, Bulik. Ini buat hari raya."


"Hampersnya lucu. Nggak mungkin bikin sendiri kan?" Revi memeriksa detail hampers yang di bawa Sam.


"Belajar bikin gituan, Rev. Bukcet lebaran, ulang tahun. Lagi rame kan, sekarang."


"Ide bagus itu, Mas. Sayang aja kemarin belum kepikiran." Reva ikut dalam obrolan.


"Ini kenapa malah ngobrol. Ayo ayo makan dulu." Siti sudah menginterupsi anak, menantu dan keponakannya.


"Aku nunggu paklik, aja, Bulik."


"Keburu lapar nanti kalau nunggu likmu!"


"Ono opo, tho." Suara berat milik Kusno dari ruang tengah membuat atensi mereka teralihkan.


"Nahh, akhirnya ... Makan juga." Reva yang bersuara.


"Lho pada nungguin, tho!" Tanpa rasa bersalah Kusno tertawa lalu mendudukkan diri di kursinya. "Ayo-ayo makan dulu, trus takbir di masjid."


"Masih jadi takmir to, Paklik?" tanya Sam yang kini sudah menyendok opor ayam.


"Iya, baru selesai tadi." Kusno memindai seisi meja.


"Lho buk, ini sudah ada opor, ketupatnya mana?" Kusno menoleh penuh pada Siti yang sedang mondar-mandir. Menyiapkan piring yang kurang.


"Belum matang, Pak. Wes, seadanya dulu." Siti mengangsurkan piring berisi nasi lengkap dengan opor ayam dan sambal tomat pada Kusno.


Obrolan kecil sesekali masih ada saat satu keluarga itu telah menyantap buka puasanya yang tertunda cukup lama.


"Gimana daftar grab nya?" Sam akhirnya kepo juga tehadap usaha Ilham.


"Udah mas, tadi pagi sudah aktivasi."


"Jangan sampai akun lupa ataupun mati. Karena mau login aja susahnya."


"Iya, Mas." Obrolan sudah tidak canggung lagi antara Sam dan Ilham. Terlebih sejak Ilham berinisiatif membantu mengecat bengkelnya. Tentu ada Reva di balik itu semua. Gadis berbadan dua itulah yang membujuk suaminya untuk mengambil hati Sam. Ia hanya ingin semua rukun. Salah satunya dengan hubungan antara keluarganya bisa berkomunikasi dengan baik. Itu saja.


Sementara di waktu yang sama, di tempat yang berbeda.


Atar begitu canggung saat ia di paksa mengantar sang ibu untuk mengambil pesanan kuker di rumah Nada.


"Lama tidak bertemu, ya, Bu," ujar Ibu Atar begitu bersalaman dengan Marni.


"Iya. Lha saya sudah jarang ke pasar. Lebih pilih belanja di tukang sayur keliling. "


"Lho ya, sama. Wes malas berdesakan. Hanya kalau pengen butuh banyak, ya, wes tinggal kring. Pesanan datang." Suara ibunya Atar terdengar riang sementara anaknya sudah garuk-garuk kepala. Canggung.


"Mau ngicip kukernya anak wedok. Ini lhoo..." Selorohan ibunya Atar kali ini amat mengganggu di telinga Nada. Namun, Nada bisa apa selain hanya tersenyum kaku.


Nada sudah membawa pesanan ibunya Atar di meja. Berharap tidak akan banyak obrolan panjang lebar lagi.


"Sudah semua wong ayu." Ibunya Atar memegang pelan bahu Nada.


"Sudah Bu. Semuanya enam toples, nggih." Nada mengangkat jinjingan yang sudah ia bentuk sedemikian rupa. Langsung ia menyodorkannya pada ibunya Atar.


"Bisnis roti, bisnis tas, trus fashion. Trus .. apa lagi?" Ibunya Atar memandang intens pada Nada dengan kagum. "Lihat Mbak, ubet pokoknya wes. Cocok, wes, saya." Ibunya Atar kini malah merengkuh bahu Nada.


Kali ini membuat dada Nada sudah ketar ketir mendengar sanjungan dari ibunya Atar. Semakin tidak nyaman saja Nada saat ibunya Atar masih saja nerocos menceritakan bumbu dapur yang monjak di hari raya. Duhh, kapan pulangnya, sih.


"Buk, buk. Atar sudah di cari sama remaja masjid. Ayo, toh, Buk. Kapan lagi aja ngobrolnya," Atar beranikan diri beralasan. Sengaja membuat sang ibu berhenti berghibah di rumah orang. Suara Atar membuat Nada mengembuskan napas lega.


"Sek to. Kamu ini, mbok ya Sik jenak. Sebentar, to. Kamu ini, tolong yang kerasan."


"Ini ibuk, udah lamaaaa banget tidak ketemu calon mantu. Kangen lho sama manise ini,"


...***...