
*
Sejak Sam melihat Nada bersama seorang cowok dengan bet lokasi yang sama dengannya, Sam menjadi lebih pendiam. Entah pada Ando dkk, maupun dengan kedua keponakannya.
Semakin hari semakin terlihat jelas jarak antara Nada dan Sam yang sebelumnya sempat dekat. Tiap bertemu di koridor, di parkiran sekolah atau bahkan saat Sam sedang berkumpul di rumah Dika. Tidak ada tutur kata yang terucap dari keduanya. Tidak ada sapaan basa-basi atau apalah sejenisnya. Hanya saling diam meskipun mata mereka sering bersitatap. Seperti orang asing yang tidak saling kenal.
Nada sudah dengan dunianya begitu pula dengan Sam.
Pengaruh Via yang mendukung hubungan Nada dan Arka membuat Nada jadi sering keluar rumah di luar waktu sekolah. Berkali-kali bapak dan ibunya menegur Nada dan berakhir ribut kecil.
"Nduk, jangan keseringan keluar malam. Nggak baik. Jadi bahan omongan tetangga." Hardi menegur halus pada anak gadisnya.
"Yaa biarin aja lah, mereka punya mulut, Pak. Ntar kalau udah capek ya berhenti sendiri." Nada sewot sendiri sambil mengelap motornya sehabis di cuci. Ia hanya sering keluar rumah untuk sekedar makan bareng, cuci mata di mall atau nonton sesekali. Itupun selalu bersama Via dan pacar Via. Apa salahnya? Begitu isi pemikiran Nada.
Hardi sendiri sedang duduk di lantai teras sambil minum teh. "Bukan begitu. Mereka begitu karena juga punya anak, Nduk."
"Ih, Bapak. Ya suruh mereka bilangin anaknya sendiri aja daripada negor anak tetangga."
"Mereka itu perduli, Nada.. "
"Mereka tuh, emang suka ghibahin orang, Pak. Sehari aja nggak ada bahan omongan terasa gatal pasti." Nada beralih menatap sang bapak, "Bapak harusnya larang ibuk, dong. Biar jangan ikut-ikutan ghibah," lanjutnya lalu kembali pada motornya.
"Nada! Jangan menentang Bapak terus. Kamu itu di bilangin malah ngeyel," sentak Marni yang sudah di ambang pintu. Tentu jika ibu sudah berbicara, Nada akan diam.
Wanita yang melahirkan Nada 16 tahun yang lalu itu sedang meletakkan timus ubi ungu di samping suaminya. Ia lekas duduk di lantai teras dan memerhatikan anaknya yang sedang sibuk dengan motornya.
Pembicaraan mereka terhenti saat beberapa motor berhenti tepat di seberang jalan. Tampak empat orang dengan seragam putih-abu masuk setelah membuka gerbang setinggi satu setengah meter itu.
Nada sempat beradu pandang dengan salah satunya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada sejak Sam tidak lagi berlaku menjengkelkan dan juga jahil lagi. Sebuah rasa yang sulit untuk di jabarkan.
*
"Ada apa nih?" tanya Arka saat Dika menghadangnya sehabis dari toilet. Dika mendorong Arka hingga berhenti di dinding dekat wastafel.
Dika tidak menjawab. Di belakang Dika ada Sam yang diam dengan mata menatap tajam. Mengunci mata Arka seolah sedang mengincarnya.
"Aku mau ngomong sama elu. Buat hati-hati ajak anak anak orang pergi." Dika berbicara dengan satu tangan di tempelkan di dinding. Satu tangannya lagi berada di saku celananya.
"Maksud elu apa?" tantang Arka mulai tersulut emosi. Apalagi wajah Dika terlihat serius .
Sam maju dan langsung memegang kuat lengan Arka. Dika mundur seolah memberi ruang untuk Sam.
"Setidaknya pulangkan dia di jam yang wajar. Dan pergi setelah elu pastikan dia bertemu orang tuanya."
Arka mengangkat kedua tangan. Dia terkekeh pelan saat mulai mengerti maksud dua kakak kelasnya.
"Siapa elu di sini? Jelas bukan pacar atau kerabatnya kan! Ngapain ikut campur!" Tidak ada nada gentar dari Arka mengahadapi Sam.
"Aku udah gatal saat temen aku ceritain tetangganya yang sering kena marah orang tuanya." Sam melirik Dika yang masih menatap tajam pada Arka.
"Ohh, tetangga. Perduli banget elu sama tetangga orang. Suka lu sama pacar aku, hah!" Arka melawan dengan mendorong bahu Sam. Namun, tidak membuat Sam bergeser sedikitpun.
Dika melihat tangan Sam yang mengepal. Sebelum tinju itu melesat mengenai pipi adik kelasnya, Dika menahan tangan Sam.
"Udah, Sam. Udah cukup," bisik Dika dan mengajak Sam pergi.
*
Nada melengos ke arah lain saat melihat Sam duduk di antara dua teman cewek. Meskipun tidak hanya Sam saja orang yang ia kenali ada di sana. Dika dan Royan juga ada di sana, hanya saja terpisah bangku yang berbeda.
Sisi halaman sekolah dengan pohon pucuk merah sebagai peneduh dari panasnya sinar matahari. Menjadi tempat favorit saat istirahat tiba. Selain di kantin tentu saja.
Saat ini kelas dua belas sudah memasuki latihan test ujian. Setiap hari mereka akan di gembleng mengenai soal-soal ujian.
Sam sendiri sedang bertukar pendapat dengan teman-temannya dari kelas berbeda. Mengenai soal matematika yang tadinya di kupas tuntas di kelas.
"Aku tinggal beli minum bentar, ya! Jangan mojok kalian berdua," ujar siswi berambut lurus dan di kuncir ekor kuda.
"Iya iya. Yang lama ya perginya. Sampe' bel juga nggak apa." Jawaban siswi bernama dada Mikayla itu membuat temannya mendengkus sambil mencebikkan bibirnya.
"Sekali-kali kasih kesempatan 'napa," balas Mika sambil melirik-lirik wajah Sam yang masih berkutat dengan pensil dan buku.
Apa? Sam belajar, gaesss.
"Sam, jadi gimana?"tanya Mika sesaat sahabatnya pergi.
"Ya, kita. Masa' kita cuma HTS begini. Aku pengen ada hubungan yang jelas, Sam."
Sam memejamkan matanya. Kenapa sih, semua cewek yang mendekat maksa banget buat bikin komitmen. Nggak bisa apa mereka jalani aja keadaannya.
No
Sam terlihat melamun, sampai Mika menepuk bahu Sam. "Sam, apa kamu emang suka main-main gini doang. Kamu bikin aku nyaman. Trus habis itu kamu tinggalin."
Sam berdecak pelan mendengar hal ini. Mika bukan orang pertama yang mengatakan demikian. Cewek-cewek sebelumnya pun begitu mengharap sebuah pernyataan yang kuat saat mereka merasa tengah dekat.
Melihat Nada yang sering kali jalan berdua dengan pacarnya membuat sisi gelap Sam muncul kembali. Ia tebar pesona dan membuat satu per satu cewek mendekatinya. Ia menanggapi dengan senyum dan meladeni apa yang mereka inginkan. Jika sudah bosan dengan cewek yang satu ia akan menanggapi cewek yang lainnya. Sehingga kata komitmen untuk pacaran selalu ia hindari. Ia hanya suka bermain-main untuk melampiaskan rasa kesalnya pada seseorang. Entah kesal dalam hal apa.
Kata Akmal, Sam masih belum move on. Sehingga, saat ada yang mendekat, Sam tidak akan mungkin menyia-nyiakannya.
*
Meskipun terlihat abai dengan ujian di depan mata, nyatanya Sam adalah seorang murid yang tentu saja merasakan bagaimana perasaannya saat menghadapi soal ujian.
Di rumah paklik, Sam belajar dengan di awasi oleh Kusno dan Siti. Nenek sudah sehat dan kembali di rumah Pakde Wahid. Meskipun begitu, Sam masih terus tinggal di sana. Karena jarak dari tempat tinggal Kusno lebih dekat dari sekolahnya.
"Mas! Nitip chitato yang lagi promo, yah."
"Aku nitip masker wajah, ya, Mas."
Teriakkan kedua ponakannya di ujung teras membuat Sam mengangkat jempol ke atas. Lalu ia membuka pagar dan melesat pergi.
Sam hendak ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhannya.
Sudah hampir mendekati minimarket ia melihat motor dengan pemiliknya sedang duduk di trotoar di seberang jalan sana.
Sam menyipitkan matanya lagi, dan memang benar cewek berjilbab yang sedang membenahi tali sepatunya memanglah Nada. Dengan motornya terparkir di tepi jalan.
Sam berhenti untuk memerhatikan sekitarnya. Tidak ada seorangpun yang biasa bersama Nada. Dari informasi yang ia dapat dari Dika, Orang yang Sam cari tentu bernama Arka. Adik tingkatnya yang tempo hari pernah ia beri sindiran.
Dengan segera Sam memutar arah dengan sign kanan untuk menyamai laju searah dengan Nada.
Saat motor Sam berhenti, Nada memicing melihat kedatangan Sam. sepasang mata itu sempat saling bertemu. Namun, bibir tetap terkatup rapat.
Tanpa di minta, Sam duduk lantas menelisik motornya. Jika di lihat dari tampilannya, motor Nada ini bersih dan rodanya pun terlihat oke tanpa masalah.
Sam menoleh pada Nada. "Motor kamu kenapa?"
Nada sedikit berjingkat. Namun tidak begitu terlihat. "E, itu aku nggak bisa hindari kubangan itu. Trus, motornya tiba-tiba berhenti gitu aja." Nada menjelaskan sambil berdiri dan menunjuk kubangan yang tidak jauh darinya.
Sam mengangguk lantas mencoba menyalakan lagi. Berkali-kali mencobanya pun hasilnya tetap sana.
"Kemungkinan injeksinya yang trouble. Harus di bawa ke bengkel."
Penjelasan Sam membuat Nada takut. Biaya adalah hal yang Nada takutkan. Hari ini ia tidak membawa uang lebih. Hanya cukup untuk beli Pertamax di pom
"Ng_ngak bisa apa di bawa ke bengkel terdekat aja?"
"Mending langsung ke bengkel resmi biar bisa langsung kelihatan kerusakannya."
Nada meringis, antara takut dan malu. "E, itu bisa aku minta tolong, Mas."
"Aku mau ke minimarket." Sam berdiri sambil menepukan tangan agar debunya menghilang.
"Bukannya kamu punya pacar, yah. Gunain lah, baik-baik pacarnya. Masa'iya dia datang saat seneng-seneg aja. Saat susah begini dia kemana," cibir Sam mulai melangkah.
Tidak perduli wajah Nada yang mulai mendung dan bersiap menurunkan air hujan dari kedua matanya.
Ia memandang kesal saat Sam mulai menjalankan motornya. Tidak Nada bayangkan sebelumnya. Ia pikir Sam akan datang membantunya dan memberikan tumpangan untuk pulang. Seperti satu tahun yang lalu. Tapi harapannya kands saat Sam benar-benar menghilang dari pandangan.
"Tega bener sih, dia! Kok ada sih, makhluk super cuek kaya' dia. Nyesel aku suka sama dia. Setidaknya, aku dulu pernah akrab. Masa' iya sekarang jadi seperti orang asing."
Nada mengedarkan pandangannya. Jalanan cukup legang karena bukan jam pulang kantor. Jam pulang sekolah pun juga bukan.
Seharusnya, Nada pulang saat bel sekolah tadi. Namun, karena rasa setia kawan Nada pada Via, ia menemani Via berbelanja di swalayan.
Ponsel di tas sedang habis baterai. Semakin jelas kemalangannya. Untung saja langit masih cerah. Meskipun di ujung sana, semburat jingga sudah mulai nampak.
*