Sam

Sam
Tentang dia



“Jadi... kapan rencana kamu mau nikah?” tanya Wulan menatap Sam yang berada di sampingnya.


Sam mengela nafas besarnya. “Nunggu dia luluh dulu, Mbak.”


Kali ini Wulan balas mengela nafas juga. Ia memandang ruang kosong di depannya. Fokusnya lebih pada lampu-lampu berwarna kuning di dinding kolam. “Perasaan dulu waktu SMA, kamu banyak pacar deh, Sam. Ini gimana ceritanya kamu nggak bisa menaklukkan satu cewek,” cibir Wulan lengkap dengan senyum meremahkan.


Sam melirik Wulan sekilas lalu kembali membuang pandangan ke depan kolam. Bias lampu di tiap sudut Hotel memantul tenang di permukaan kolam. "Kata siapa, Mbak. Mereka yang bilang begitu, pasti tidak mengenalku dengan baik."


Ya, termasuk Wulan. dia adalah salah satu orang yang tidak mengenal Sam dengan baik.


Sam tersenyum kecut, jika mengabsen semua teman yang ia punya. Di dunia ini, tan yang mengerti baik dirinya hanyalah satu. Sayangnya, dialah juga yang akan jadi rivalnya. Rival terberatnya untuk mencapai hati Nada.


Hari sudah malam. Namun, Sam masih tertahan di sini karena Wulan memergokinya tengah bicara serius dengan Nada. Dari bekas air mata di pipi Nada, Wulan menyimpulkan tengah ada masalah serius di antara sepupunya dengan teman satu kamarnya. Alhasil Wulan memaksa Sam untuk menceritakan masalahnya.


“Seperti ceritaku barusan, Mbak. Ada misskom di masa dulu. Antara aku dengan Nada." Sam menjeda ceritanya dengan menyesap kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Tanda belum lama waiters mengantar pesanannya.


“Aku suka dia, tapi image aku buruk banget di mata dia dan juga teman-teman saat itu. Jadi saat aku pengen ngomong terus terang ke dia jadi nggak punya nyali. Jadi ya ... sampai lulus aku tetap nggak berani bilang.”


Wulan tertawa sampai menutup mulutnya. “Sam ... Sam, miris banget. Nggak nyangka aku, kamu bisa punya mantan banyak tapi buat nembak satu cewek aja nggak bisa.” Kali ini Wulan sambil memukul pelan lengan Sam berkali-kali. Membuat pemilik lengan memberengut.


“Trus.. trus!" kejar Wulan masih penasaran degan wajah antusias kali ini.


“Udahlah, Mbak, jangan ngebahas masa lalu.”


"Intermezo dulu lahh. Kamu ini. Aku nih harus dukung atau enggak ya tergantung dari cerita kamu. Secara aku sudah satu malam tidur sama Nada. Jadi biar aku nggak salah ngomong nanti kalau kita ngobrol. Pasti setelah ini akan ada obrolan panjang dengannya.”


“Mbak jangan ngomongin aneh-aneh, ya!” Takut-takut, Sam mencoba memperingatkan wulan.


Namun Wulan justru tergelak sambil geleng-geleng kepala. “Koe cerito saiki apa aku dewe sek takon nang wonge!” Kamu cerita sendiri, apa aku sendiri yang tanya ke orangnya!


Membuat Sam akhinya menceritakan cerita singkat antara dirinya dan juga Nada. Tentu cerita di masa putih-abu yang abadi di dalam ingatannya.


“Jadi, Nada juga suka kamu, gitu? Dan kalian baru saling tahu setelah lima tahun nggak ketemu?’’ tebak Wulan tepat. Menyimpulkan cerita singkat yang Sam sampaikan.


Sam mengangguk lemah. Membenarkan kesimpulan Wulan.


"Ya ampun Sam.” Wulan kembali geleng geleng kepala.


“Tapi... kok bisa Nada jadi nangis-nangis gitu setelah kamu ajak nikah? Kalau terharu, jelas bukan. Karena pasti bahagia dong, orang yang di suka ternyata balas suka. ngajak nikah pula,” selidik Wulan.


Dengan susah payah Sam menelan salivanya, yang memdadak tercekat atas pertanyaan Wulan.


“Kalau itu aku nggak bisa cerita, mbak," ujar Sam sambil menunduk mengadu kukunya. Gestur Sam saat sedang di landa gusar.


"Oke deh, oke. Westalah, saiki aku wes nggak penasaran maneh. Saiki yen rep balik, ya balik sana wes. Aku mau ke kamar,” Oke, deh, oke. Sudah, sekarang aku sudah nggak penasaran lagi. Sekarang aku mau pulang, ya puang sana, dah. Aku mau ke kamar.


Sam lega bisa terlepas dari Wulan. Setidaknya untuk malam ini. Esok, dia tidak menjamin bila seluruh keluarga besarnya akan tahu perihal niatannya menjak anak gadis orang menikah.


Nyatanya, semua yang akan direncanakan wulan untuk menyinggung Nada perihal kedekatannya dengan sepupunya tidak juga terealisasikan dengan baik. Karena, baik Nada maupun Wulan jadi canggung. Terlebih, setelah Wulan memergoki Nada dengan mata sembab, tangan dalam genggaman Sam dan ucapan yang keluar dari mulut Sam saat ia keluar kamar hotel.


“Bu Wulan mau nitip sesuatu nggak? Aku mau ke minimarket soalnya.” Nada menwarkan Wulan, jika saja sedang membutuhkan sesuatu.


Wulan mendongak dari layar lipatnya. Terlihat berfikir sejenak lalau menggeleng. “Kayanya nggak deh, Bu. Stok minyak angin sama cemilan masih aman soalnya.”


Jawaban Wulan membuat Nada mengangguk canggung. “Saya keluar dulu ya, Bu. Nggak lama, kok." Pamit Nada sembari memasukkan dompet dan hp ke dalam toote bag kemudian ia sampirkan di bahunya.


“Iya. Hati-hati ya," pungkas Wulan sebelum Nada membuka kenop pintu.


Selama Nada pergi Wulan menelpon Sam yang baru saja selesai merapikan rumah Kusno sisa acara kemarin.


“Hallo mbak. Kenapa?“ sambung Sam setelah menggeser layar.


Wulan tertawa begitu Sam mengangkat sambungan teleponnya dengan nada panikk. “Nggak usah panik gituu kali. Tenangg... Nada kamu nggak aku apa-apain kok.”


“Ck, kok aku ragu banget sama jawaban kamu ya mbak.” Sam duduk tak tenang membuat Revi yang melintas di dekatnya hanya mengeryit.


Wulan kembali tertawa. Ia senang bisa menggoda Sam yang notabene gampang-gampang susah jika di ajak bercanda.


“Nada itu, aslinya pendiam ya? Apa mungkin aku belum begitu akrap saja."


Sam tersenyum memperkirakan kira-kira wajah seperti apa yang Nada berikan, sehingga Wulan bisa menganggapnya demikian.


"Sam! Hallo?"


Suara Wulan sedikit membentak di seberang sana.


"Iya, Mbak. Denger kok aku."


"Nggaaak, ngapain takut." Jelas Sam berkilah.


"Haiiisss. Tenang aku belum nanya apa-apa kok ke Nada."


"Tapi serius, Mbak? Nada cuma diem aja setelah tadi tahu kita orang yang saling kenal, Mbak?"


"Iya, diem aja sejak aku balik dari bawah tadi. Ini dia keluar."


"Dah malam, lho. Kemana sih dia?" gumam Sam sedikit cemas


"Ciee kawatirr. Ihiirrrr," goda Wulan.


Sam memukul pelan keningnya berkali-kali. Dia harus ikut gesrek juga jika menghadapi orang seperti Wulan.


"Pamit ke minimarket dia. Tadi sempet tawarin mau nitip apa ke aku. Ya, udah. Gitu doang, Sam." Tanpa Sam meminta, Wulan lebih dulu menjelaskan.


"Kalau kemarin, banyak ngobrol tapi lebih ke isi materi, sih. Nggak ke hal pribadi."


Tanpa sadar, Sam mengusap dadanya. Lega. Setidaknya, Wulan masih bisa menahan diri untuk tidak terlalu jauh menanyakan hal lain. Khususnya yang membutuhkan privasi.


"Workshop selesai jam berapa,besok Mbak?"


"Sampai malam, kayaknya, Sam. Seharian tuntaskan materi sekalian evaluasinya. Kenapa? Mau ketemu Nada lagi?"


Sam berdecak. Memang sulit untuk menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Nada. Sampai sampai, Wulan dapat menangkap maksud pertanyaannya. "Besok aku full, Mbak. Kontrol tangan, habis itu lihat proyek. Kalau sore masih keburu. Aku mau temui dia lagi. Itupun kalau dia mau."


"Belum apa-apa sudah nyerah" cibir Wulan.


Obrolan di telepon harus berhenti kala Nada memasuki kamar Wulan. Membawa print out di dalam map holder bening.


Nada sendiri hanya bisa berbasa-basi. Agak kaku memang. Apalagi setelah tahu, Wulan dan Sam adalah dua orang yang saling kenal. Ingin tanya lebih banyak tapi, melihat Wulan sibuk dengan layar lipat di pangkuan membuatnya urung menuntaskan rasa penasarannya.


"Apa Wulan ini termasuk detaran para mantan Sam? Apa justru ada hubungan khusus?" batin Nada sambil memerhatikan wajah Wulan. Meskipun Nada sudah bersiap di balik selimut putih khas hotel tempatnya menginap. Pikirannya sudah banyak menerka-nerka sesuatu.


"Untuk tugas besok udah beres, Bu?" tanya Wulan bermaksud memangkas kesunyian.


"Sudah, Bu. Ini tadi aku ke rental buat print out. Jadi udah lega selesai satu tugas."


Selanjutnya obrolan masih mengalir sesekali. Karena meskipun Nada sudah berada di balik selimut, tangan yang masih memegang dan menggulir layar pipih itu menandakan pemiliknya masih terjaga.


...***...


"Baik. Perkembangannya bagus. Sudah lumayan. Sling armnya bisa di lepas kalau memang sudah nyaman."


"Tapi tolong jangan di pakai buat angkat-angkat dulu, ya! Bahkan jika di perlukan, terapi Sling arm akan lebih bagus jika semakin lama di pakai."


Kata penenang dari dokter yang menanganinya membuat Sam membawa mobilnya kali ini. Mengarah kemudi ke proyek di daerah Telukan. Sampai disana kondisi bengkel sudah hampir lima puluh persen.


"Ini nanti, masih butuh besi lagi buat bikin pagar Mas. Kemarin, besi buat pagar, kepakai buat teras belakang soalnya." Ujar pria yang memakai kaos partai berwarna merah.


"Nggih, Pak. Saya sudah pesen kok. Cuma belum di kirim saja, Pak."


"O, ya sudah kalau begitu, Mas. Saya kira Mas lupa," terka pekerja yang terlihat paling muda.


Sam masih duduk sambil menikmati kopi dan kue gembong yang ia beli sepulangnya dari kontrol tadi. Sembari bercerita rencana-rencana kedepannya yang masih membutuhkan dana tidak sedikit itu.


"Baiklah, karena sudah sore saya pamit duluan bapak-bapak," pamit Sam pada enam pekerja di sana.


Untuk kemudian, Sam benar-benar mengarahkan kemudi ke hotel tempat Nada berada. Pesannya yang sejak tadi pagi terkirim tidak mendapatkan balasan dari Nada membuatnya gusar.


Hingga hal paling konyol membuat Sam menanyakan Nada pada Wulan.


[Mbak, Nada masih sama kamu, kan?]


Benar saja, sepupunya itu kini telah memberikan informasi paling akurat saat ini. Lengkap dengan potret dan juga Vidio Nada yang sedang melalui sesi diskusi dengan kelompoknya.


Penampilan Nada di foto itu memang lain dari biasanya. Ketika Sam mengamatinya, bertambahnya kacamata yang bertengger cantik di pangkal hidungnya adalah jawabannya.


"Nadaaa, bisa nggak sih kamu jangan terlalu manis begini. Apa kamu nggak tahu, mata-mata antusias lelaki di sekitarmu membuat aku kawatir," gumam Sam sambil menatap jauh di lobi hotel lalu kembali pada pergerakan Nada yang sesekali terlihat serius lalu berubah jadi sedikit tertawa.


"Aku nggak rela kamu bisa tertawa lepas dengan orang lain, Na. Sedangkan denganku, kamu seolah menyimpan sisi indahmu."


"Mudahkan jalanku menyentuh hatinya kembali, Ya Allah," batin Sam saat matanya kembali memerhatikan foto yang di kirim Wulan.


"Beri tahu aku cara membuatnya tertawa kembali. Dengan aku yang menjadi sebab kebahagiaannya."