Sam

Sam
Menghindar



*


Sudah kali ke empat, Sam menghubungi Nada. Namun, tidak tersambung. Dua kali sebelumnya berdering tapi panggilan itu terabaikan. Sam semakin resah, hingga dia tidak sadar jika tengah mondar-mandir sedari tadi. Ada dua keponakannya yang memperhatikannya sejenak, lalu kembali bermain game buble shooter setelah mengangkat bahu bersamaan. Tanda tidak mengerti.


Sam kembali menekan tombol hijau pada kontak Nada. Namun, kali ini nomornya sudah tidak aktif. Kesimpulannya, Nada sengaja menonaktifkan ponselnya. Begitu ia melihat kembali ponselnya, PP kontak Nada sudah berubah.


"Nada ngeblock aku!" Sam memejamkan mata dan mengetukkan ponsel beberapa kali tepat di keningnya.


Ada rasa sesal yang tak bisa dia ungkapkan. Entah, penyesalan untuk hal yang mana. Salahnya dimana?


*


Sejak seminggu setelah kejadian ribut dengan kakak kelasnya, Nada tidak mau ke kantin saat istirahat. Dia sengaja membawa bekal dari rumah. Alasan pertama, tentu agar hemat. Uang jajan yang di berikan bapak bisa ia tabung. Kedua, agar tidak ada pertemuan yang tidak di sengaja dengan Dita ataupun Sam.


Bukan karena dia takut, tapi lebih pada mengindari pada hal-hal yang tidak ia bayangkan.


"Na .... Aku putus sama Roni." Via datang sudah berderai air mata.


"Putus? Kok bisa? Ada masalah apa?" tanya Nada sambil mengelus punggung via yang bergetar seirama isak tangisnya. Via hanya menggeleng dengan terus terisak.


"Sudah, Vi. Tenangin dulu. Ini belum terlambat, masih bisa di bicarain, kan."


Via menggeleng dengan wajah yang di tenggelamkan di tasnya.


"Udah, dong! Jangan nangis, bentar lagi latihan soal buat ujian semester," bisik Nada tepat di telinga Via yang berbalut jilbab putih.


"Sedih boleh. Tapi jangan berlebihan. Mungkin ini memang yang terbaik. Biar kamu fokus dulu di ujian nanti."


Butuh waktu beberapa menit, barulah Via tenang. Ia mendongak saat sudah terlalu lelah menangisi kisahnya. Nasihat-nasihat yang Nada sampaikan tadi perlahan membuatnya tenang.


Sementara itu, Sam masih terus berharap bisa bertemu Nada untuk sekedar minta maaf.


Setiap waktu istirahat ia sempatkan ke kantin, berharap bisa bertemu Nada. Namun, berkali-kali pula ia harus kecewa karena tidak menemukan Nada. Hal itu terus berlangsung dengan di akhiri Dita yang menyeretnya ke ruang sekretariat OSIS. Ada saja pembahasan yang di lakukan di sana.


*


Hari Senin telah tiba. Jika biasanya, hari Senin identik dengan upacara bendera. Kali ini tidak. Hal itu di karenakan ada ujian semester.


Nada masuk ruang test, yang sebelumnya sudah diacak oleh pihak sekolah.


Nada mencari ruang sesuai kartu peserta ujian.


"Semoga nggak satu ruang dengan kelasnya Sam," gumam Nada saat memindai seisi ruang.


Ia sudah duduk di meja nomor dua dari belakang. Ada sembilan belas teman sekelasnya di ruangan ini. Dua puluh peserta ujian yang satu ruang dengan Nada kali dari kelas sebelas. Sedangkan separuh teman sekelasnya ada di ruang sebelah.


Entahlah, kenapa harus di atur sedemikian rupa. Mungkin pihak sekolah meminimalisir tingkat menyontek saja.


"Fit, aku deg-degan, nih. Nanti kalau aku nggak bisa, kasih contekan yak!" Nada mengungkapkan resahnya pada teman di belakangnya. Ia harus memutar tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Fitri.


"Kalau kamu takut nggak bisa ngerjain. Kalau aku beda, lagi, Na."


"Kenapa emang?"


"Aku deg-degan, dengan siapa aku duduk nanti. Secara kita nanti akan satu ruang, kan, dengan kelas sebelas."


Nada mengangguk lemah. Tidak bisa ia hindari, memang kali ini ia juga tengah menyimpan resah yang sama dengan Fitri.


Saat masih berbincang dengan Fitri, guru yang bertugas sebagai pengawas datang membawa kardus. Nada segera memperbaiki posisi duduknya.


"Anak-anak, demi kenyamanan bersama, taruh HP kalian di sini! Hal ini sudah menjadi keputusan final saat rapat hari Sabtu kemarin. Baiklah, agar lebih kondusif saya yang akan berkeliling. Kalian cukup diam di tempat!"


Pengawas mulai mendekati satu per satu siswa untuk meminta ponsel mereka. Meski sebagian tidak ikhlas saat merelakan benda kesayangan mereka berpisah untuk dua jam kedepan.


"Yang duduk di sebelah kamu, mana?" tanya petugas pada Nada dan dia hanya bisa menggeleng karena memang tidak tahu.


"Saya, Bu."


Seruan siswa dari arah pintu membuat guru pengawas dan seisi kelas menoleh untuk melihat asal suara. Ada Sam dan Ando yang berjalan bersisian.


"Dari mana saja kalian?" tanya Pengawas pada keduanya.


"Tadi ada insiden kecil, Bu." Ando menunjuk siku Sam yang berdarah. Serta seragam Sam yang sebagian kotor.


"Kenapa kamu, Sam?"


Sam meringis sambil mengusap tengkuknya. "Jatuh di depan, Bu," jelasnya.


Kelas sedikit gaduh karena ingin melihat Sam. Nada sendiri hanya berani melirik. Jatungnya sudah berdegup, takut jika Sam yang akan duduk satu meja dengannya.


Penjelasan-penjelasan Sam selanjutnya tidak mampu ia dengar. Otaknya sudah berfikir macam-macam antara kasihan saat melihat luka menganga di siku Sam. Juga, perasaan berdebar takut pemikirannya akan terjadi.


Nada pura-pura sibuk saat siswa di sampingnya sedang berbisik menghadap ke belakang. Ia lega. Setidaknya, bukan Sam siswa yang satu meja dengannya.


Bagaimana nanti jika Dita dan Bella kembali merusuh, saat tau aku duduk di dekat Sam. Aduuhh, merepotkan. Kenapa harus seresah ini, sih.


"Sam. Kamu pimpin doa." Instruksi dari guru pengawas di depan memangkas paksa pemikiran-pemikiran Nada.


Dengan suara berat Sam memimpin doa.


Mendengar suaranya saja bisa bikin keder begini. Ada apa sih denganku? Apa aku masih dendam sama dia karena jadi sasaran Dita.


Ditutupnya doa, Nada segera sadar karena ia belum sempat berdoa.


Lembar kerja ujian telah di bagikan. Nada segera menyematkan kertas pada papan miliknya. Ia harus fokus meski ia merasa ada makhluk di belakang yang sedang memperhatikannya.


Satu jam pertama terlewatkan dengan khidmat. Kelas sangat sepi dan kondusif karena guru pengawas setia menyatukan tangan di belakang tubuhnya sambil berkeliling. Bertambah lagi, aura killer selalu di suguhkan sejak masuk kelas tadi.


"Tidak, capek apa dari tadi begitu terus. Mana ini susah lagi," gumam Nada.


Nada menuliskan beberapa angka pada secarik kertas, lalu memberikannya pada Fitri.


Sam yang melihatnya, menahan senyum agar tidak terkekeh. Karena, Nada tidak jauh berbeda dengannya yang sudah lebih dulu saling tukar jawaban.


Sam duduk di meja paling belakang. Sedikit pergerakan mencurigakan tentu dapat tertangkap di netra miliknya.


Saat gadis berjilbab di sampingnya akan memberikan kertas pada Nada, Sam menahannya.


Dengan gerakan tangan, Sam meminta kertas itu dan menambahkan beberapa kata. Lekas ia kembalikan pada gadis di sampingnya.


Nada terkejut saat membuka satu sobek kecil kertas dari Fitri. Nafasnya sedikit tercekat saat membaca tulisan berbeda yang ada di sana.


Hai jutek! Senang sekali bertemu denganmu lagi. Pulang sekolah tunggu aku ya! Aku mau ngomong sesuatu. Penting!!!


Nada sadari, ia masih kesal pada Sam. Sampai -sampai ia harus block kontak kakak kelasnya itu. Mungkin berlebihan, tapi dia sengaja mencari aman. Bahkan, Dika, tetangganya pernah menanyainya mengapa ia memblack list kontak temannya itu. Nada enggan menjawab. Tidak penting.


Hingga, waktu istirahat telah tiba. Peserta ujian lekas keluar ruangan satu persatu. Nada lega, saat Ando sudah menarik Sam keluar kelas lebih dulu. Setidaknya ada waktu untuknya untuk memberikan jawabannya pada Sam.


"Fit, tungguin," seru Nada saat Fitri sudah beranjak. Ia mengemas alat tulisnya dan segera berlari kecil menghampiri Fitri. Tidak lupa ia mengambil ponselnya yang berada dalam kardus. Di atas meja pengawas tadi.


"Na, aku boleh nanya?"


"Iya. Tanya aja Fit. Pakai ijin segala," jawab Nada sembari mengaitkan tangan di lengan Fitri.


"Tadi, Sam nulis apaan?" tanya Fitri


Nada berhenti dan menoleh cepat pada Fitri. Wajahnya menghangat kala mengingat kata demi kata yang Sam tulis. "Nulis apaan emang?" elakknya.


"Jawab dong! Kepo, nih, aku!" Bujuk Fitri sembari mengikuti langkah Nada.


"Nggak ada tulisan apa-apa, Fit," kilah Nada lagi.


"Jangan boong, deh. Aku lihat, loh."


Nada terus mengelak meskipun tuduhan Fitri benar.


"Oke, deh, oke. Pasti rahasia, yah."


"Nanya yang lain aja, deh. Eh kita samperin Via ya, habis ini." Sengaja Nada mengalihkan pembicaraan.


Fitri mengangguk. "Tumben kalian nggak satu ruang?"


"Hm. Absen aku sama dia kan, jauh. Jadi, sampai ujian kelas tiga nanti pasti kepisah terus," jawab Nada sambil terus melangkah.


"Bisa akrab gitu, sih. Kalian udah dekat dari dulu, yah?" tanya Fitri saat sudah menginjakkan kaki di halaman utama sekolah.


"Iya. Dari TK, malah." Nada tertawa dan menunjuk Via yang sudah berada di kursi taman. Tidak lupa Nada juga mengajak Fitri untuk ikut serta belajar di sana.


Setengah jam sudah berlalu. Nada kini sudah duduk di tempat semula. Ia melirik penghuni meja di belakangnya. Masih kosong.


Kalau boleh meminta, ia ingin agar Sam tidak kembali. Berlebihan memang, hanya karena ia takut mendapat tagihan jawaban.


Beruntung, selama dua jam berlangsung, Nada juga peserta ujian yang lain di sibukkan dengan mengerjakan teks ujian. Ia kesampingkan rasa gugupnya saat tak sengaja matanya bertemu dengan mata Sam.


Hingga waktu selesai, Nada lebih dulu bergegas keluar kelas. Tidak berniat untuk menunggu seperti pesan yang di tulis Sam tadi.


Sam sendiri sudah berlari mengejar Nada. Tapi rupanya ia kalah gesit. Dia sampai di parkiran saat Nada sudah melesat keluar sekolah bersama Via.


Dia emang sengaja ngehindar dari aku. Aku hanya ingin minta maaf kenapa di persulit, sih.


*