
Kantin adalah tujuan Nada setelah keluar dari ancaman menakutkan perihal pertanyaan kapan menikah.
Karena Bubelle yang tidak lama lagi akan menikah, maka ia adalah manusia selanjutnya yang akan mendapat pertanyaan mengerikan, kapan menikah dari penghuni ruang guru.
Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai keramik dengan interval cepat menandakan pemiliknya tengah tergesa. Ia akan meminta hasil penjualannya pada mbak-mbak yang menjaga kantin. Setiap dua hari sekali.
"Habis terus donatnya, Buna. Apalagi yang bomboloni kemarin, baru istirahat pertama udah ludes. Kurang malah," ujar penjaga kantin begitu ia sampai di kantin.
"Rasanya enak, ramah di kantong. Wes cocok, pokonya, Bun," lanjut mbak-mbak penjaga kantin sambil menyerahkan lembaran uang pada Buna.
"Alhamdulillah kalau pada suka, Mbak. Tapi Mbak, selama tiga hari nanti aku libur dulu ya. Mau ke Solo, soalnya," kata Nada sambil sekilas melirik sejumlah uang yang di terimanya. Satu lembar uang kertas bergambar tokoh Frans Kaisepo, dua lembar berwarna hijau dengan tokoh Dr.G.S.J. Ratulangi dan dua lembar berwarna oranye dengan gambar tokoh Dr.K.H. Idham Chalid. Alhamdulillah.
"Oh, iya kah. Ada apa, Buna?" tanya mbak penjaga kantin antusias.
"Biasa Mbak, workshop."
"Sendirian apa sama Bu Bella?" tanyanya lagi.
"Sendiri. Bubelle nanti yang gantiin aku di kelas juga soalnya. Trus yang lain pada ada keperluan. Jadi ya, mau nggak mau, aku yang berangkat."
"Ya wes. Hati-hati, semoga ilmu yang di dapat dapat bermanfaat buat anak-anak calon penerus bangsa."
Nada terkekeh. "Lama-lama di sini, jadi keseringan denger slogannya Pak kepsek koar-koar ya, Mbak. Ketularan kan jadinya."
Si mbak-mbak balas terkekeh. Mengingat gayanya barusan adalah gaya pak kepsek saat pidato tiap upacara hari Senin pagi.
"Salut sama semangatnya Buna. Telaten bikin jajanan bengini. Masih muda, ubet pula," pujinya bangga.
"Ngumpuin recehan, Mbak. Semoga lama-lama bisa jadi bongkahan berlian, kata orang," kelakar Nada dengan senyumnya.
"Sadar diri kalau di desa nggak ubet, mau jajan juga sulit kan, Mbak. Meskipun kata banyak orang, hidup di desa lebih mudah karena kita bisa makan dari hasil kebon."
"Wih wihh, calon istri idaman, wes."
"Bisa aja mbake. Di dalem tadi Bubelle udah godain terus, eh keluar sini masih juga di godain perihal jodoh. Ampun deh."
...***...
Rasa hangat karena keakraban sekolah berganti dengan suasana serius tapi santai di meeting room ruang 2 Riyadi Pallace Hotel. Dimana pagi-pagi buta Nada sudah berangkat dari rumah, dengan motor andalan yang dimilikinya sejak lima tahun yang lalu.
Selama satu jam perjalanan. Nada lekas registrasi yang sudah di sambut oleh petugas karena tanda pengenal yang menggantung di depan dadanya. Cukup mudah untuk di kenali.
Sampai di ruangan, hawa dingin mulai menyambut. Lekas ia mencari tempat duduk di tengah-tengah. Seringnya ia memilih tempat duduk di depan, ia sudah yakin pasti akan menjadi sasaran untuk praktek. Bilamana ada sesi yang mendukung untuk praktek. Maka, ia sengaja' memilih tempat duduk di tengah-tengah.
Tidak lama, peserta mulai memadati kursi-kursi kosong yang tersedia.
Nada terus menyemangati diri. Karena selama 9 jam kedepan ia akan terkurung di ruangan ini, lengkap dengan full materi yang membutuhkan konsentrasi penuh.
Meskipun awalnya Nada merasa tidak nyaman karena tidak ada satupun di kiri maupun kanan tempat duduknya yang ia kenali. Namun, uluran tangan saat coffe break di sertai ucapan nama seseorang membuatnya tersenyum lega.
"Kenalin, saya Wulan Wijayanti dari SDN 4 Jebres. Kamu?"
"Saya Nada, dari SDN 1 Sambi, Bu."
Untuk selanjutnya pembicaraan kecil hadir begitu saja di sela materi di sampaikan. Membuat Nada yang seperti terdampar di wilayah asing jadi lebih percaya diri.
"Leganya, bisa ngerhirup udar luar," ucapnya dan di setujui oleh wanita dengan seragam batik yang sama dengannya.
"Habis ini langsung ke kamar Bu Nada?" tanya Wulan, seorang yang bersama Nada sejak mulai workshop.
"Mau beli cemilan dulu Bu Wulan. Kamu mau langsung ke kamar, nanti aku nyusul. Kuncinya bawa saja, Bu." Nada memberikan satu kunci kamar pada Wulan lalu pamit.
Ya, bersyukur Nada segera mendapat teman baru yang humble seperti Wulan. Karena memang satu kamar di isi oleh dua orang.
Lagi dan lagi. Bagi seorang introvert. Berada di lingkungan asing tanpa teman wilayah, membuat Nada sedikit cemas pada awalnya. Karena dari kecamatan di daerah Nada, hanya dia satu-satunya peserta perempuan yang ikut workshop ini.
Begitu keluar dari minimarket, Nada menenteng satu kresek berisi pembalut, satu botol *iranti, tissue, kapas dan tidak ketinggalan snack ringan juga masuk di dalamnya. Membuktikan bahwa hal itu sudah sangat lumrah apalagi jika pembelinya adalah wanita.
Ya, rencana awal list barang yang di beli cukup dua jenis. Namun, begitu keluar dari toko sudah bukan rahasia lagi jika list dadakan akan muncul seiring sikon yang ada.
"Hmmm, habis banyak juga, ya," gumamnya melihat isi kresek saat akan naik ke motornya.
"Kapan lagi, kan, ya, dapat diskon lumayan," ujarnya saat memeriksa kembali nota beserta kembalian dari kasir.
Satu poin lagi. Bukan wanita namanya jika tidak tergiur dengan diskon, bukan?
Sambil melirik perputaran jarum jam yang berada di pergelangan tangan kirinya, Nada menikmati senja di kota kelahirannya.
Sungguh membuat siapa saja betah merasakan riuhnya suasana kota. Asap knalpot yang bercampur dengan aroma sedap yang menguar dari salah satu kedai sate dan juga kedai yang martabak atau jajanan lain sepanjang jalan Loji wetan hingga depan rumah sakit Kustati. Semakin lekat dengan khas perkotaan. Jauh berbeda dengan suasana asri dan sejuk di desa.
Saat berhenti di lampu merah ke arah Gading, Nada sejenak membaca pesan dari teman lamanya.
[Oke. Kebetulan udah deket Alkid. Lima menit sampai ya Fit.]
Story'WhatsApp yang ia unggah sudah cukup membuat teman-temannya tahu dimana ia berada.
Balasan terkirim dan menampilkan centang dua biru. Menandakan jika pesan sudah di terima dan di baca oleh Fitri.
...***...
Sekitar lima menit Nada memindai satu per satu pengunjung yang dirasa sosok Fitri, belum juga ia temukan.
Hingga sebuah notif pesan dan di susul panggilan dari Fitri membuatnya memarkir motor dan mengedarkan pandangannya lebih jeli.
"Hei," sapa Nada begitu matanya menangkap seseorang yang kini memakai jilbab dengan kemeja kotak-kotak, berdiri mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Ya ampun, Nada. Apa kapar?" sapa Fitri sambil cipika cipiki pada Nada.
"Baik-baik," balas Nada seraya melerai pelukannya.
Fitri membawa dua teman yang lainnya dan lekas mengenalkannya pada Nada.
Di depan mereka sudah ada beberapa piring pesanan yang siap menemani perbincangan hangat setelah empat tahun tidak bertemu.
Teman Fitri yang hobinya lawak abis dapat mencairkan suasana hingga tidak jarang mereka terbahak bersama.
"Na, kamu ngerasa ada yang merhatiin kamu nggak, sih?" ucap Fitri tiba-tiba.
"Ah, mana mungkin. Aku orang kampung, mana ada kenal orang sini," elakknya segera karena tidak mau obrolan asyik terputus begitu saja.
Jawaban Nada yang tidak meyakinkan membuat Fitri tidak sepenuhnya menurut. Namun, masih tetap melanjutkan obrolan berisi kenangan saat test dulu. Namun, jelas sekali bahwa Fitri merasa ada yang tengah memperhatikan ke arah tempatnya duduk. Bukan 100% kearahnya tapi bisa jadi ke arah Nada karena dialah satu-satunya orang yang berada di depannya.
Beberapa menit berlalu, isi piring berisi tusukan sate telur puyuh, sate usus dan berbagai gorengan sudah tandas meninggalkan tiga biji cabe hijau segar.
Obrolan receh, ringan sampai berat kini sudah berlangsung setengah jam lebih.
"Nggak nyangka benget, Na. Kamu yang pecicilan di awal lalu berubah sedikit pendiam, kini bisa jadi Bu guru. Keren keren, sih." Fitri memandang takjub pada Nada yang kini terlihat anggun dengan kemeja batik dengan rok span hitam.
"Dimana pendiamnya, Fit. Orang dia juga hobi lempar jokes receh, gitu," timpal teman Fitri.
"Wahh, ini tuh bukannya introv, tapi cuma lihat sikon, aja," imbuh teman Fitri yang lain. Sedangkan Nada sebagai bahan cerita hanya terkekeh pelan.
See. Jika beruntung, orang yang katanya introvert sebenarnya bisa punya banyak teman juga. Hanya saja, Nada memang merasa lebih nyaman bila sendiri. Bukan berarti tertutup.
"Tunggu, tunggu. Lihat sana deh, Na! " Fitri menepuk bahu Nada cepat-cepat. Mata memandang ke depan dengan membola. Membuat Nada pun mengikuti kemana arah Fitri memandang.
Nada pun hanya bisa membola. Melihat dua orang dengan salah satunya memakai kemeja Navi berjalan ke arahnya. Tidak ada senyum di wajah itu. Namun, mata tegas yang membuat ia salah tingkah mampu membuat dadanya berdebar.
"Nada, kamu di sini!"