Sam

Sam
Perasaan Bella



*


"Jadi gimana Sam? kita jadian mulai sekarang?" tanya Bella memastikan. Antara terkejut dan bahagia yang membuncah. Bagaimana tidak, Sam mengajaknya bertemu di taman kota dan berakhir keduanya sudah berada di tempat yang di janjikan.


Bella begitu antusias sampai merias diri, memakai pakaian terbaik yang ia punya. Jilbab tak ia kenakan dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja.


“Bel, tapi...'’ ucap Sam menggantung. Ia sendiri tak yakin akan keputusannya.


”Tapi apa Sam? Bukankah kita udah saling kenal dari SMP. Aku udah tahu kamu seperti apa, pun sebaliknya, kan," bujuk Bella.


“Bukan gitu, Bella. Kita temenan udah lama. Jujur aku nyaman gini aja."


“Tapi ini yang aku rasain , Sam. Aku tuh, nggak mau kamu makin salah jalan. Kamu gonta ganti cewek, aku tuh nggak rela mereka bicarain kamu di belakang, Sam!"


"Nggak usah perduli omongan orang."


Sam turun dari motor dan bergabung duduk bersama Bella di kursi taman. Ia menghela nafas, matanya memandang kosong ke depan. Tak perduli ramainya lalu lalang pengendara motor.


“Aku nggak bisa, Bell,’ putus Sam pada akhirnya.


Bela memandang Sam dengan berkaca-kaca. Lalu dengan segera ia sembunyikan dengan menoleh ke lain arah. Rambut Bella yang panjang menjuntai itu tertiup angin malam. Menyamarkan pipi kirinya yang sudah di basahi air mata.


“Setidaknya kamu coba dulu, Sam," lirih Bella dengan sangat. Ia lupakan gengsi dan rasa malunya.


Sam melirik Bella di sampingya. Ia benar-benar tak bisa. Ia takut jika ia memperlakukan Bella seperti yang lainnya. Baru seminggu jadian, Sam sudah bosan atau karena hal tertentu. Ia tak ingin seperti itu, Bella anak yang baik dan ia tak mau menyakitinya. Lebih takut tak bisa membalas perasaan temannya itu.


Bella meremas lulut yang berbalut celana jeans. Ia memaksakan senyumnya, '‘Aku ingin dengar bagaimana aku di hati kamu, Sam." Bella mencoba menahan suaranya agar tak bergetar.


Sam diam mulai berfikir. '‘Aku ingin temenan selamanya Bel. Nggak buat seminggu atau dua minggu aja. Kamu itu satu satunya temen aku yang bener, nggak bobrok kaya yang lain.’


Bella tersenyum meskipun ia harus menerima, perasaannya tak tersambut dengan baik.


‘Kalau gitu, jangan mainin cewek lagi, Sam. Kasihan," ungkapan itu lebih tepat untuk dirinya sendiri, salah satunya.


Sam memang cenderung ramah murah senyum. Tak jarang hal itu di salah artikan oleh cewek-cewek yang mendekatinya.


Sam tertawa entah karena apa. ‘Jangan ngmong serius begini, Bel. Geli tau,"


Tawa sam tak urung membuat Bela terenyum juga. Ya, mungkin ia harus berbahagia saat yang lain ingin dekat dengan Sam tapi justru berakhir menjadi korban ghosting olehnya. Sedangkan dirinya, Sam bahkan berani memberikan alasan mengapa tak menerimanya dan akan terus berteman baik.


"Dah malam, Bel. Lebih baik kamu pulang. Aku antar sampai depan gang deh."


"Habis ini emang kamu mau kemana lagi, Sam?" tanya Bella curiga. Ia ingat tadi siang Sam berserta yang lain membolos di jam terakhir. Tak bosan bosannya Sam berulah dan kembali masuk cacatan guru BK.


"Kamu kenapa sih, Sam, jadi begini? Sejak kamu kenal dunia luar teman-teman nongkrong yang nggak jelas, kamu jadi kena pengaruh buruk, Sam."


Sam berdiri, tak suka di ceramahi. Baginnya tiada yang tahu apa yang ia lakukan selain dirinya sendiri.


*


Pagi menyapa kembali.


Benar saja, baru saja Sam dan yang lain masuk kelas ada siswa yang menyampaikan pesan dari Pak Kobi agar Sam, Royan, Dika dan Akmal ke ruang kesiswaan.


Sam menoleh pada yang lain.” Kita tercyduk lagi, gesss,'’ucap Sam menebak lalu terenyum masygul.


“Njirrr, siapa yang laporin, sih," ungkap Royan menyamakan langkah Sam. Di ikuti Dika dan Akmal yang berjalan di belakang mereka.


“Atau jangan-jangan, ini ulah anak baru yang kemarin nabrak Sam itu kali," timpal Akmal.


"Cctv juga nggak kedetec padahal, gaess. Atau mungkin anak-anak di kelas." Dika mencari kemugkinan terbesar dan segera mendapat sanggahan dari Dika.


“Nggak mungkin, mereka nggak mau cari masalah sama kita."


"Tulll. Kecuali ada yang dendam sama Sam karena cinta tak terbalaskan," imbuh Dika di ikuti tawa kecilnya.


"Heh, yang kena masalah bukan hanya Sam, tapi kita."


Mereka berempat menjadi saling dorong ketika sampai di depan pintu ruang kesiswaaan.


Bel masuk kelas sudah berbunyi beberapa detik yang lalu. Membuat kebanyakan siswa sudah berada di kelas sehingga keberadaan keempat siswa calon peserta terdakwa sedikit berkurang rasa malunya.


Malu? Entah, sungguh mereka masih punya rasa malu atau tidak. Hanya nama mereka berlima yang sring tercacat di buku catatan Pak Koni. Namun mereka tak jera juga.


Pintu di buka lalu mereka masuk dengan tertib. Mereka tadi sudah menyempatkan seragamnya yang keluar agar hukuman yang akan di berikan tak bertambah banyak.


Pak Koni menyuruh mereka berdiri. Segala pelanggaran sudah ia katakan dan Sam adalah orang yang paling pertama mengakui kesalahannya.


Mau tak mau Dika Royan dan Akmal pun ikut serta mengakuinya.


‘Kalau begitu ini surat harus kalian berikan pada orang tua kalian dan besok pagi saya menunggu kedatangan ibu bapak kalian." Pak Koni membagi empat surat pada masing-masing.


"Yahhhh Pak. Jangan, lahh, hukuman yang lain saja, Pak. Nyapu halaman kek atau yang lain asal jangan panggil sama ibu aku, ‘ngepel ruang guru saya juga mau, Pak," tawar Dika.


“Bikinin minuman pagi dan siang juga mau, Pak."


Sam merasa lucu mendengar negosiasi teman-temanya. Ia adalah satu-satunya yang tak memprotes karena ia akan sangat bahagia bila papa atau namanya akan pulang. Tapi, lagi-lagi Sam hanya bisa tersenyum kecut, itu semua tidak mungkin.


Keputusan Pak Koni sudah bulat, mereka berempat keluar ruang BK dengan wajah lesu seperti awan gelap. Masing-masing membawa undangan untuk orang tua mereka.


Selama berjalan mereka masih meributkan bagaimana mereka akan menerima amukan oranng tua mereka. Hanya Sam yang masih terdiam tak menimpali.


Nada yang melintas di halaman pun hanya bisa menunduk kala bersimpangan pada keempat kakak kelasnya. Karena kejadian kemarin ia harus mencuci seragam dan pagi-pagi sekali ia menyetika seragam yang tak kering sempurna itu. bahkan, ia hampir terlambat tadi. Ia yang tengah memangil guru mapel bahasa inggis mendadak menjadi kurir dari kantor guru sampai di kelas mereka.


‘Untung dia nggak nyadar,’ guamam nada menambah cepat gerak langkahnya,


*


Jam pualng sekolah berbunyi. Satu per satu siswa siswi meningalkan sekolah. Hanya tinggal beberapa sapa saja yang masih tinggal karena menambah kegiatan ekstrakurikuler.


Sama halnya dengan Atar, pemilik wajah teduh nan ramah itu masih sibuk menuliskan daftar kandidat baru OSIS.


‘Aku usulin Dita aja,’"


"Aku usul si Satria anak IPS 3,’'


Dalam diam Atar menuliskan juga usulan teman-temannya. Baru beberapa minggu Atar jadi ketua OSIS ia sudah di dapuk menjadi satu-satunya siswa yang akan di lombakan ke provinsi. Tentu pelatihan dan serangkaian persiapan pasti banyak menyita waktunya. Terlebih akan ada acara persami untuk bulan depan. Tentu kepanitiaan melibatkan sepenuhnya tangguang jawab OSIS.


Entah mengapa Atar menuliskan satu nama paling akhir di hertas hvs yang ia pegang. Sambara.


Ia beranjak dari duduknya dan menuliskan empat nama di papan tulis.


Anggota osis yag hadir mengangga begitu melihat nama ke empat yang ditulis Atar.


‘'Itu kenapa ada nama Sambara di sana?"


"Kenapa nggak Bayu aja yang naik jabatan, dia kan wakil ketua, bisa aja dong dia jadi ketua OSIS kita.’"


‘Betul Tar, kita nggak usah repot-repot pemilihan lagi,’


'‘Wah parah kamu Tar, kamu gila ususlin nama dia.mau ajadi apa organisasi kita bila ada dia,’


Yang lain mengangguk setuju sedangkan atar justru tersenyum penuh arti. Membayangkan sahabat sewaktu SMP-nya jadi ketua OSIS.


'‘Tar. Sam itu langganan masuk catatan pak Koni, yang benar saja,"


"Tenang dulu teman-teman. Aku ususlin Sam bukan karena usulan pribadi aku kok. Ada beberapa oknum yang sebelumnya aku mintai saran dan pertimbangan. Terbukti, bahkan pembina OSIS tak mempermasalahkannya,’


Tepat setelah Atar selesai bicara, seorang pemibina OSIS datang dan membenarkan perkataan Atar, sehingga mau tak mau anggota yang lainpun menyetujuinya.


*