Sam

Sam
Hobi baru



Ajakan Sam untuk bertemu di perpustakaan beberapa hari yang lalu telah di abaikan Nada. Gadis itu sudah tidak mau lagi berurusan dengan Sam. Walaupun di sudut hatinya berkata lain.


Setiap panggilan dan chat dari Sam, berakhir dengan ditekanannya menu delete. Nada tidak membukanya satupun dan langsung menghapus riwayat seluruh chatnya. Ingin sekali ia membuka pesan-pesan itu. Namun, ia takut jika membukanya, sebuah keputusannya akan goyah.


“Kenapa nggak coba kamu buka, Na. Siapa tahu itu penting," saran Via, saat Nada hanya diam bergeming memerhatikan layar ponselnya.


Nada terenyum pada Via. ”Biarkan saja. Anggep aja nomor baru yang nyasar. Bagaimanapun dia menjelaskan, semua itu tidak akan mengembalikan keadaan. Aku tetap di cibir banyak orang. Terutama oleh pendukung Dita.”


Via masih diam memerhatikan wajah sendu milik Nada. Dia masih menerka-nerka sejauh mana pengaruh Sam sejak insiden itu. Nada tidak mau mengakui apapun. Penjelasannya selalu realistis jika ia tidak mau dekat-dekat dengan Sam lagi dan membuat berbagai pihak salah paham.


"Dengan kamu seperti ini, aku jadi menarik kesimpulan loh, Na."


Nada menoleh penuh ke arah Via di sampingnya. "Kesimpulan apa?"


"Kamu suka sama Sam, kan!"


Ucapan Via membuat Nada bergeming. Sebagai seorang yang sudah lama berteman, sedikit banyak pasti Via sudah bisa menebaknya.


Nada tertawa pelan sambil mencubit kedua pipi Via. "Jangan ngada-ada, deh. Siapa aku bisa mimpi suka sama Sam. Yang ada aku bakalan di guyur saos lagi, sama pacar barunya."


Ucapan sarkas Nada membuat Via mengerjab. Sudah jelas wajah sahabatnya itu selalu salah tingkah jika saja bertemu dengan Sam. Akan tetapi, Nada seolah tidak mau menunjukkannya pada siapapun.


Akhirnya Via tidak lagi menyinggung hal itu. Nada berusaha menyangkalnya. Itu sudah lebih dari cukup jika Nada memang tidak nyaman bisa ia terlalu ikut campur di dalamnya. Ia cukup paham jika sejak kejadian itu Nada pasti sudah berjuang mengembalikan kepercayaan dirinya lagi.


Hari-hari selanjutnya berjalan sebagaimana mestinya. Pagi hari belakangan ini selalu gerimis. Bahkan sejak adzan subuh berkumandang. Membuat siapapun terasa malas untuk beraktivitas. Terutama berangkat ke sekolah.


Pemandangan siswa-siswi yang masuk melalui gerbang sekolah jadi beragam. Mantel warna-warnilah penyebabnya.


Sebagian dari mereka membiarkan rambutnya di terpa rintik hujan. Salah satunya adalah Sam. Seraut wajah yang terbilang cukup tampan itu semakin jarang untuk tersenyum. Lebih irit senyum, kurang lebih seperti itu. Candaan Dika serta yang lain tidak mempan untuk membuatnya tertawa seperti sebelumnya.


Sam bersama Ando, Dika, Royan dan Akmal sedang berjalan bergerombol untuk menuju ke kelasnya di lantai dua. Dari arah berlawanan, ada Atar dari koridor yang berbeda. Di sampingnya ada Nada dan Via. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, lengkungan yang menyiratkan kebahagiaan, ada di bibir Nada yang berjalan di depan sana. Hal itu membuat Sam justru menjadi lain. Ia tidak bahagia sama sekali. Karena bukan dia sebab tawa Nada. Gadis galak yang selalu menjadi menarik saat ia menggodanya.


*


"Sam. Lama-lama kamu cepet tua loh,” ungkap Akmal sambil melemparkan satu bungkus rokok di depan kaki Sam yang terlipat bersila.


“Sam bisa merana juga, cuy," ejek Dika sambil mengunyah kacang atom.


Sam hanya menatap malas pada Dika dan kembali memusatkan matanya pada senar gitar tanpa lirik pemetiknya. Ia sedang galau memikirkan perkataan sang kakak yang memaksanya untuk bersekolah di akademi kepolisian, begitu ia lulus nanti.


"Daripada gabut begini, beli yang seger-seger sana! Aku lagi ada duit ini." Dika bersiap mengeluarkan lembaran rupiah dari kantong celananya, "beli yang ringan aja cuy. Takut bapak aku ngereog nanti jika aku sampai teler," lanjutnya sambil mengulurkan uang pada Royan.


Ando melirik keempat temannya. Masih sengaja diam dan memusatkan pandangan ponselnya. Karena ia masih berbalas chat dengan seseorang.


Sam sendiri tidak menanggapi celetukan Dika dan lebih memilih bernyanyi pelan.


Royan dan Akmal berdiri sambil meraba kontak di saku-saku celananya.


Dengan gerakan pelan, Ando sengaja menginjak dua kontak yang teronggok di bawah kakinya. Ia berusaha menggagalkan rencana Dika kali ini.


"Mana sih, kontak aku!"


"Ck, masih muda loh kita ini. Udah pelupa aja," decak Akmal yang membuka- buka bekas snack.


Ando sedikit tersenyum sambil berpura-pura ikut mencarinya.


“Beli wedang jahe di depan aja, Yan! Jalan aja, nggak sampe lima menit.” Itu suara Sam yang sudah malas melihat drama kontak hilang mendadak.


"Pinjem kontak kamu, Sam! Kontak aku sama punya Royan ngilang!" Dika mendekati Sam dan menengadahkan tangannya.


"Aku lagi nggak mau minum, Brik. Kalau kalian tetep beli yang itu juga. Aku balik." Nada santai itu terdengar seperti ancaman di telinga Royan. Sehingga ia menjadi dilema.


"Tumben, kau!" Dika ikut menimpali.


Sam berdecak pelan. "AkU balik ke rumah paklik, soalnya. Males ribet aja."


Kali ini Ando baru menaikan wajahnya dari layar pipihnya. Ia sedikit tersenyum mendegar permintaan Sam yang mengabaikan ajakan Dika.


Dika, Royan dan Akmal pun demikian. Meskipun terheran namun mereka hanya bisa saling lirik tanpa menyahut lagi.


"Nih, Yan, duitnya! GPL, ya" Sam mengulurkan uang pada Royan.


Royan menurut mengambil uang di tangan Sam dan megajak Dika ikut serta.


"...


Masih adakah celah di hatimu


Yang masih bisa ku 'tuk singgahi.. Cobalah aku kapan engkau mau..."


"nanananananana Na Nana. nanananananana..."


“Kenapa sih, kamu, Sam? Masih ngerasa bersalah sama Nada?" tanya Akmal saat suara Sam mulai lirih dan hanya gumaman saja karena tidak hafal liriknya.


Dika yang ember, bercerita soal tetangganya, yang tak lain adalah Nada yang kapan hari tengah dirundung Dita. Jadi, teman-temannya yang lain pun akhirnya jadi menyimpulkan dan tahu masalah Sam yang satu itu.


"Kenapa jadi bawa-bawa, tuh anak?" jawab Sam mengeryit dengan nada ketus.


"Udahlah, Sam. Nggak usah di tutupin lagi. Aku tau kok, meskipun di antara kita berlima hanya Dika yang kamu ajak cerita. Aku panggilin deh orangnya, biar kamu nggak diem aja kaya orang sakit gigi."


“Emang kamu pernah sakit gigi?" kilah Sam sambil meletakkan gitarnya, "kaya' udah pernah rasain sakit gigi aja," sambungnya lagi sambil menyulut rokok di sela jarinya.


“Diemnya kamu, jadi nggak asyik, Sam. Kalau aku yang ngomong, nih, ya. Kali ini kamu beneran jatuh cinta," ujar Akmal lagi sambil melempar atom ke badan Ando yang sedang asyik sendiri dengan gamenya.


"Lagi fokus, nih. Nggak usah ngajak geger," ucap Ando santai.


"Kaya' udah pernah jatuh cinta aja," cibir Sam sambil meniupkan asap ke udara.


Meskipun tuduhan Akmal benar namun Sam masih enggan menjawab dan berganti membahas study tour besok.


Hingga saat Ando dan Royan kembali dengan beberapa bungkus wedang jahe yang di bungkus plastik.


“Mulai asyik, nih. Bahas apapaan sih?" tanya Royan begitu ia mulai membagikan wedang jahe.


Sam yang sejak tadi begitu berminat dengan minuman yang memberi efek hangat di tubuh itu, langsung meminumnya.


Sebelumnya ia sudah memindahkannya ke dalam gelas yang sebelumnya sudah di sediakan oleh Dika, pemilik rumah.


"Studi tour, cuy. Pak ketua udah kasih laporannya ke pembina. Siap-siapin dananya aja setelah ini." Akmal yang membuka suara kemudian pembicaraan unfaedah mengalir seperti biasanya.


Sesekali Sam melirik penghuni rumah depan. Berharap sedikit saja ia dapat melihatnya. Walau sekilas itu sudah sangat cukup.


*


Nada selalu menghindar jika tidak sengaja ia akan berpapasan dengan Sam. Walaupun dari mulut ke mulut ia sudah mendengar jika Sam dan Dita sudah putus, hal itu tidak membuatnya jadi lega. Di lapangan, di halaman, di koridor atau setiap hari Jum'at saat para anggota OSIS menyebar untuk menarik iuran donasi.


Saat studi tour beberapa bulan yang lalu pun, sebisa mungkin Nada tetap menghindari Sam. Ada satu pesan dari Sam yang tidak sengaja ia buka. Ajakan berfoto bersama di daerah Dieng kala itu. Studi tour akhirnya di laksanakan setelah kenaikan kelas.


Nada ingat pesan itu terkirim setelah ia selesai berfoto bersama Atar dengan pemandangan di belakangnya danau tiga warna, di daerah Wonosobo.


Segaris senyum perlahan tertarik oleh bibir Nada. Ia menyimpulkan sendiri jika saat itu Sam tengah cemburu pada Atar.


Selanjutnya Nada memukul pelan keningnya saat pemikirannya sudah melenceng jauh. "Bisa-bisanya aku ge-er begini. Sam, kan, bisa saja cari pacar yang paling cantik di Smaba. Mikir apasi, Nadaaa kamu ini," gumam Nada pelan.


Jam dingin berbentuk Boba di sudut kamarnya menunjukkan pukul 11 malam. Lalu pendanganya naik pada jendela kamar yang langsung menghadap ke jalan. Perlahan Nada beranjak untuk menutup jendela kamarnya. Di seberang sana ada rumah Dika yang selalu ramai oleh suara teman-temannya.


"Mas Sam pasti ada di sana. Suara cemprengnya udah bisa ketebak." Nada tertawa geli mendengar sayup-sayup suara orang bernyanyi di seberang jalan. Sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja penghuni teras yang selalu berisik tiap malam itu. Ada tanaman pucuk merah yang sengaja di tanam bapak di balik pagar. Tanaman setinggi satu setengah meter itulah yang menghalangi jarak pandangnya.


*


Sudah seminggu Nada menjadi anak kelas sebelas. Artinya, Sam pun sudah pasti naik ke kelas 12.


Nada yang terkadang masih diam-diam mencuri pandang pada Sam, masih betah menikmati hari-harinya yang persis seperti pencuri. Begitu pula untuk akun medsosnya. Ia terkadang menyimak segala kegiatan Sam yang di unggah di story' WA dan IG. Bila saja Sam tidak mengunggah story'nya, tanpa sadar Nada akan merindukannya.


Nada memang sengaja menghindari Sam. Tapi dalam hati ia bersorak bila tidak sengaja melihat Sam. Hatinya masih tetap sama. Berdesir saat melihat wajahnya kakak kelas yang masih menjadi idolanya. Bahkan, saat melihat punggungnya saja, seperti tengah di hadiahi ribuan kembang api.


Seperti kali ini, ia tengah memerhatikan video Sam yang sedang naik di atas motornya, berikut sound yang sedang viral.


"Gaya banget, sih. Vidio kaya' begini di unggah. Sok keren, sok kecakepan. Pantes aja cewek-cewek masih aja suka ngomongin dia. Tapi.... Emang selalu keren sih dia." Nada tersenyum simpul melihat tampilan Sam di dalam ponselnya yang sengaja ia letakkan di balik bukunya.


Di depan sana ada bapak dan ibu yang sedang berbincang di karpet depan TV. Ia sudah antisipasi agar ibu tidak mencurigainya. Karena jika ia belajar di dalam kamar, ibu sudah mengomel tidak jelas. Sudah buruk sangka saja pada Nada. Membuat kesimpulan sendiri, dengan menuduh Nada hanya bermain ponsel tanpa mau belajar. Ini karena nilainya turun saat penerimaan raport kemarin.


Nada sengaja menjadikan buku untuk tameng ponselnya. Di sekolah ia sudah mulai pembelajaran padat. Dan ponsel adalah hiburannya. Padahal, hanya saat di rumah, ia bisa bermain HP. Di sekolah mana sempat bisa stalker-stalker akun orang.