Sam

Sam
Is this the right solution,



...


"Mas,"


Sam menoleh ke belakang seraya memutar tubuhnya. Sesaat ia terbelalak saat Nada sudah jatuh pingsan tergeletak di lantai.


Sekuat tenaga Sam tidak memekik. Agar gerombolan Arka yang terdengar langkah kakinya di luar sana tidak menotice keberadaannya.


Sam hendak mengangkat Nada di pembaringan. Namun, kenop pintu yang di hentak dua kali membuatnya reflek memeluk Nada yang tengah pingsan. Jilbab basah gadis itu sudah tidak beraturan. Di kedua pipi gadis itu terdapat bekas lelehan air mata yang jelas terlihat.


Sam bisa merasakan bagaimana takutnya Nada menghadapi Arka yang tengah m*buk berat. Dalam hati, Sam meremehkan Arka. Baru tiga kaleng, sudah membuatnya keok. Ia tidak perduli pada Arka. Yang ia pedulikan adalah Nada. Pandangan matanya turun ke baju Nada yang basah. Baju berbahan nilon berwarna putih kombinasi dusty itu jelas sekali menampakkan apa yang ada di dalamnya.


Setelah susah payah menelan salivanya, Sam kembali di buat menahan napas saat kenop pintu di hentak sekali lagi. Namun, di luar sana tidak ada suara banyak langkah kaki seperti tadi.


Karena mendapat bias penerangan dari pusat halaman. Terlihat jelas bayangan seorang lelaki yang berlalu dari jendela kaca.


Sam mengembuskan napas besar. Setidaknya merasa lega karena ia sudah lemas sehabis di keroyok Arka dan teman-temannya. Dalam keadaan teler begitu, ia paham Arka mendapatkan kekuatan dari mana.


"Eeehhhhrr,"


Kembali Sam beralih pada Nada yang sedikit menggumam. Mengingat bagaimana Nada berada di dalam rengkuhan Arka tadi, ia kembali di dera hawa panas. Ada rasa tidak rela bercampur rasa marah di benak Sam.


Segala umpatan Sam layangkan untuk Arka dalam hatinya.


Nada menggeliat dan kembali bergumam. Kelopak matanya mulai bergerak lalau mengerjab pelan.


Tidak pernah aku bayangkan bisa sedekat ini denganmu. Bahkan bisa membawamu berada di sini sungguh tidak pernah aku bayangkan. Apalagi, terjebak di situasi yang amat berat seperti ini.


Sam masih diam mengamati wajah Nada. Dari jarak sedekat ini, ia bebas mengabsen keseluruhannya wajah yang selalu ketus dan galak jika bertemu dengannya. Namun, kali ini. Seonggok daging bernyawa ini begitu tidak berdaya di hadapannya.


Sam hanya sedikit meregangkan tangannya. Saat Nada sedikit melakukan pergerakan. Tidak sampai melepaskan Nada dan mengucapkan kalimat penenang, saat Nada menyebut namanya di luar kesadarannya, "tenang, ada aku." Itulah kata Sam sambil menepuk lengan Nada.


Mata Nada mengerjab-ngerjab lalu menyipit dan berusaha melepaskan diri dari Sam. Ia berusaha duduk di bantu Sam. Lelaki itu membantunya bersandar pada dinding.


Sam beringsut untuk meraih selimut yang ada di atas tempat tidur. Bermaksud untuk menutupi apa yang tak seharusnya terpampang di hadapannya. "Masih pusing?"


"Hm,"


Sam paham Nada mungkin terlalu asing dengan minum kaleng tadi. Jadi, walaupun hanya sedikit yang masuk di mulut gadis itu tetap memberi efek pusing tidak terkira. Bahkan sampai sempat pingsan.


"Kamu rebahan di atas sini. Di bawah dingin." Sam jongkok berusaha membujuk Nada. Namun, gadis itu hanya menggeleng. Terlihat sekali ketakutan di wajahnya membuat Sam iba berlipat-lipat. Ia lihat tangan Nada bahkan terus mencengkeram ujung kemejanya. Seolah takut untuk di tinggalkan.


"Kamu mau kemana, Mas," ucap Nada pelan sambil memijit pelipisnya. Ada rasa takut di tinggalkan dalam keadaan kacau seperti ini. Sam sedikit menarik bibirnya mencoba mengartikan dalamnya makna ucapan Nada, baginya.


Satu tangan Nada memegang ujung kemeja Sam yang sempat terlepas. Samar Nada melihat, kemeja Sam sudah kotor dan terlihat amburadul. Kancing teratas dan keduanya bahkan sudah terlepas.


"Lagi-lagi kamu harus begini karena nolongin aku, Mas," gumam Nada tidak begitu jelas. Namun, masih di terima baik oleh Sam.


"Panas," gumam Nada dan Sam segera mengurungkan niatnya untuk memberikan selimut yang berhasil ia ambil.


"Gelap banget, Mas!" Dengan menahan rasa pusing, Nada berusaha menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Terlihat tidak nyaman di matanya yang bergerak was was. "Nyalain lampunya," ucap Nada sambil terus memijat pelipisnya.


Sam menoleh sinis pada Nada. "Kamu mau kita di temukan Arka? Aku udah capek gelud tadi. Badanku sakit semua di keroyok anak-anak sialan itu. Aku udah nggak ada tenaga buat lawan mereka." Sepelan mungkin Sam berbisik pada Nada. Membuat gadis itu mengangguk seolah paham kenapa Sam tidak menyalakan lampu ruangan itu.


Sejenak diam dalam keheningan, Sam-pun kembali duduk sejajar dengan Nada. Dekat. Sangat dekat. Bahkan, ia mulai merasakan kepala Nada bersandar di bahunya membuatnya menoleh pada Nada. Memastikan gadis itu masih tetap sadar.


"Panas banget, sih. Gerah. Apa ...ada AC di sini?" ucap Nada seraya menegakkan duduknya. Pening semakin bertambah seirama dengan perutnya yang terasa di aduk. Peluh mulai merangsek keluar. Bahkan jilbabnya sudah basah karena keringat dan air bir tadi. Bajunya pun tak kalah basah sehingga membuatnya menggigil tapi terasa panas di dalamnya.


Sam memindai sekitarnya. Dalam remang cahaya yang sangat terbatas. Pandangan Sam tidak menemukan remote control yang ia tebak ada di atas nakas.


"Sabar dulu. Kita cari bantuan. Aku masih yakin Arka masih berkeliaran mencari kita." Sam ingat ponsel yang di pungut tadi. Ia yakin ponsel itu milik Nada. Karena ia sadar ponselnya sendiri masih di dalam ranselnya, di ruang OSIS.


Sempat terlintas di benak Sam untuk mengadu pad semua orang di halaman. Dengan begitu, Arka akan mendapatkan hukuman juga pelajaran atas tindakannya. Namun, nalarnya lebih mendominasi pemikiran dangkalnya. Jika ia membawa Nada ke sana, maka tak ubahnya ia mempermalukan Nada di hadapan orang banyak. Terlebih, mulut dan badan Nada jelas membuat orang salah paham. Lebih tidak mungkin bukan?


"Kita keluar aja, Mas." Di sisa-sisa kesadarannya, Nada masih teringat dimana ia berada. Di dalam satu ruangan yang minim cahaya. Hanya berdua saja. Dengan lawan jenis dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Terlebih, ia jelas masih teringat siapa Sam. Orang-orang mengenalnya kerap bergonta-ganti cewek. Lebih tepat jika Sam di juluki berandal sekolah.


"Dengan keadaan kamu yang kaya' gini?" tanya Sam meragu, lebih ke meremehkan pasti.


Meskipun Nada menyukai Sam. Namun, berdua di dalam ruangan seperti ini tetap membuatnya takut.


Setidaknya, ini lebih baik di bandingkan dengan keadaannya bersama Arka tadi. Ia harus berterima kasih pada Sam yang menyelamatkannya, sehingga Nada lega bisa terlepas dari Arka.


"Kok bengong? Segitu bencinya kamu ke aku. Sampai berdua sama aku bikin kamu nggak nyaman?"


"Hah? Apa?" jawab Nada mendadak bo doh. Sam berusaha untuk tidak melihat pada Nada. ia sedang memikirkan cara lain agar bisa keluar dari sini tanpa ada orang yang tahu.


"Ini sungguh kamu kan, Mas." Nada sedikit tersenyum, "soalnya aku takut jika ini hanya haluku saja," lanjutnya, lebih pada gumaman saja.


Gumaman Nada membuat Sam menoleh cepat pada gadis itu. Sejenak, Sam seperti di lambungkan ke awan. Dari sini, ia jadi tahu. Jika Nada juga menyukainya. Terlepas dari interaksi keduanya yang tidak begitu dekat. Kerap beradu mulut bahkan selalu ribut kecil selalu hadir diantara mereka.


Namun, melihat kondisi Nada, senyum yang semula tercetak di bibirnya kembali ke setelan pabrik. Bahkan ada senyum pahit di sana.


Andai yang kamu katakan ini saat keadaan sadar. Aku pasti akan bahagia.


Nada kembali terisak teringat Arka yang begitu kasar terhadapnya.


"Arka brengsek," ucapnya sambil terisak.


"Nggak ngotak," kali ini Nada menghentak kakinya dengan kasar dan kembali menangis.


"Arka,..."


Iba, Sam melihat Nada sekacau itu. Sekaligus benci melihat Nada menangis karena Arka. Padahal tanpa ia tahu, tangis Nada ini karena ia kasihan, kecewa dan benci yang berlomba-lomba menerjangnya. Bukan karena rasa cintanya. Meski begitu, Sam tetap tidak rela Nada menyebut nama lelaki itu. Ingin sekali menghapus air mata Nada. Namun, urung ia lakukan.


Sam tersenyum getir saat melihat Nada mulai sedikit tenang. Namun, tidak nyaman karena bajunya basah. Seketika itu, ia berdiri dan mencari baju yang bisa di pakai untuk ganti yang biasanya ada di lemari, yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Kembali, Sam harus kecewa karena stok di sana kosong. No one solution. Tidak ada satu solusi.


"Pakai baju aku gimana. Bajumu kelihatan nggak nyaman banget." Sam harus memalingkan wajahnya karena ada sesuatu yang tercetak jelas di balik kemeja Nada yang basah.


Nada diam tidak menjawab. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak membuka bajunya. Panas di dalam tubuhnya sungguh tidak nyaman sama sekali. Ia menyesal kenapa sempat lengah hingga saat ia berteriak justru minuman dengan bau menyengat itu masuk ke dalam tubuhnya.


"Gimana?" Sam masih menatap pintu ruangan. Sengaja memberi Nada ruang untuk berpikir. Padahal di belakangnya Nada sudah benar-benar tidak tahan untuk melepaskan bajunya.


"Cepetan, mana bajumu!"


Kali ini, Sam di buat berdebar saat suara Nada sudah menggeram menahan sesuatu. Kesal mungkin, karena berada di situasi ini.


Dengan cepat, Sam melepaskan kemeja panjangnya dan mengulurkannya pada Nada tanpa berbalik. Menyisakan kaos hitam bertuliskan Nevada di punggungnya.


Nada sudah melepaskan bajunya menyisakan bra saja di sana. Namun masih jelas tidak nyaman. Mau tak mau Nada melepaskan bra dan lekas berganti dengan kemeja milik Sam. "Tetap had... !" pekik Nada tertahan saat kembali melihat siluet beberapa orang yang lewat di depan UKS. Rupanya Sam membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Demi tetap berlindung aman di ruang ini.


Seketika itu juga Sam terbelalak saat Nada sudah menanggalkan jilbab yang basah . Rambut hitam gadis itu terikat acak dengan kemeja yang belum terkancing dengan sempurna. Membuat tubuh Sam memanas. Demi melihat penampakan baru seorang Nada yang baru sekali ini ia lihat berkali-kali lebih cantik dari biasanya.


"Nada," ucapnya parau. Sam berusaha menutupi apa yang seharusnya tidak ia lihat . Namun saat itulah tangannya menye*tuh apa yang seharusnya tidak tersentuh oleh tangannya. Ah sial.


Kini otak Sam sudah tidak berfungsi dengan baik. Melihat bagaimana Nada yang kurus. Namun, justru berisi di bagian itu.


Pikirannya kembali berkabut apalagi melihat mata sayu Nada mengerjab pelan. Seperti memanggilnya untuk mendekat dan lebih dekat.


*