Sam

Sam
Bad felling



...***...


Sore itu sam melakukan tugasnya seperti biasanya. Mengajak Tantri jalan jalan di sekitar halaman rumah. Dengan keadaaanya yang sekarang ini, Sam lebih ekprektif lagi karena Tantri lagi-lagi menunjukkan perkembangannya. Meski Sam harus bersabar jika banyak jeda yang sang mama ucapkan.


Setelah kemarin menuruti permintaan Rusno untuk melakukan kontrol di Rumah sakit, dan mengungkapkan perkembangan pada dokter yang sebulan ini menangani Tantri, Sam harus bernafas lelbih lega. Tinggal menunggu waktu saja agar Tantri kembali normal.


Pagi setelah Tantri mandi, sarapan dan duduk santai, Sam mengembuskan nafasya gusar. Pasalnya sedari semalam sudah puluhan chat ia kirmkan pada Nada. Namun, satu pun tidak ia dapatkan balasannya.


Jika Sam melihat pada story yang Nada upload, tunangannya itu sedang tiada kesibukan berarti. Hanya saja, lebih dari lima bucket dari yang berisikan boneka beserta snack kecil sampai yang brisikan belasan pecahan uang sepuluh ribuan memenuhi story' WhatsApp gadis berusia 22 tahun itu.


“Mungkin sibuk ini kali, ya."


"Bagus banget angel fotonya. Jika di lihat dari bacgroundnya sepertinya aku kenal,”gumam Sam sambil mengingat di salah satu sudut rumah Nada. Pasalnya, foto bucket bunga dengan banyak Snack ringan itu berlatarbelakang sebuah tanaman hijau dengan bunga yang berbeda di belakangnya.


Tebakannya tentu menjurus pada tempat di mana ia dan Nada bercengkrama beberapa waktu lalu.


Ya, di belakang rumah, dengan puluhan tanaman bonsai milik Hardi menjadi pemandangan yang unik dan sarat seni di sana. Tempat dimana ia mengikat Nada secara pribadi dan jauh dari suasana dan kata kata resmi. Namun, justru lebih bermakna mendalam.


Tangan Tantri yang sedang mendarat pelan di bahu, membuat Sam menoleh. “Kenapa, ma?’ tanyanya dengan penuh kasih juga terkejut.


"Ngelamun?" tuduh Tantri yang sedari tadi diam-diam memerhatikan sudut bibir Sam berkedut.


Senyuman yang terbit di bibir Tantri justru membuat Sam meletakkan asal ponselnya. “Bosen, ya, Ma?” desaknya sambil berdiri dan hendak memutar kursi.


“Nada,” bisik Tantri dan itu mampu membuat Sam menghentikan gerakannya.


“Gimana, Ma?” tanya Sam sambil meliat air muka sang mama, “mama lapar? Mau buah?" tawarnya dengan opsi lain. Ia agak tidak begitu jelas mendengar suara Tantri.


“Mama pengen bicara sama Nada.”


Sam terbelalak mendengar permintaan mamanya. Meski dengan kata kata yang amat pelan, ia tahu mamanya sungguh-sungguh akan permintaanya.


Namun, harus ia jelaskan bagaimana, jika pesannya saja tidak di balas meskipun sudah cengtang biru dua.


“Kenapa, Ma? Kalau ada yang ingin mama sampaikan, ngomong aja ke Sam. Nanti pasti aku sampaikan ke dia.” Sam melihat arloji di pergelangan tangannya.”Lagian, jam segini mungkin Nada masih sibuk di dapur, Ma. Seperti yang Sam katakan kemarin. Bapak Nada itu orang desa sekarang. Pelihara sapi dan kambing. Jadi ya ... sering banget dia kalau sore begini sibuk bikin minum sapinya.”


Ya, tiap Nada dan Sam bertukar chat, tentu isinya tentang keseharian masing-masing. Jadi, meskipun tidak bersua, berkabar tentu menjadi prioritasnya. Namun, tidak untuk hari ini. Entah apa yang di lakukan Nada hingga hal tidak biasanya, ia lakukan.


Tantri tersenyum sambil mengusap lengan Sam yang kini tanpa penghalang kaos berlengan panjang. Sehingga tamplan tulang pergelangan tangan dengan gurat ototnya yang sedikit nyembul cukup menegaskan jka Sam telah kehilangan beberapa berat badannya.


Hingga perasaan Sam mulai tidak nyaman kala Tantri justru sibuk memerhatikan lengannya.


‘Kamu kurusan,” kata tantri tanpa mengalihkan pandangan sayunya dari tangan Sam. Hingga Sam pun berinisiatif menarik tangannya dan berganti menyatukan dua telapak tangan mamanya.


“Mama jangan mikir aneh-aneh, ya. Fokus ke kesehatan mama, biar sembuh. Inget, ada banyak orang yang membutuhkan mama. Aku tentu saja. Mama bakal punya mantu nggak lama lagi. Papa, Mas alif , Arkan sama si cantik Zea, mereka pasti kangen banget sama mama. Nggak ada yang jagain mereka lagi kalau mbak Ayu sibuk.”


Perkataan Sam justru menambah parah keadaan, karena saat ini kedua mata Tantri telah menggenangkan air mata yang siap tumpah kapan saja. Membuatnya kelabakan seiring bahu Tantri yang bergetar.


‘Ma ... ” Sam terus mengusap legan mamanya. Berharap segera bisa tenang setelahnya.


"Mama minta maaf, maaf.”


“Kenapa minta maaf” tanya Sam diliputi kebingungan.


“Mama menyusahkan banyak orang."


“Aku anak mama, bukan orang lain.” Sam tentu tidak setuju dengan pemikiran mamanya yang demikian. Ia terus membujuk Tantri hingga tenang.


“Kamu pasti sedih, jauhan sama Nada," lirih Tantri. Namun, cukup membuat Sam terdiam sejenak.


*


Jika Sam tengah galau saat berjauhan dengan Nada, juga bengkelnya yang sudah mulai berdatangan pelanggan pelanggan baru. Hingga masalah paling menyesakkan dada sekaligus menyayat hati, yaitu pemulihan mama yang sungguh menguji kesabaan dan diperparah dengan restu yang tak kunjung di dapat. Membuat Sam tanpa sadar kehilangan selera makan hingga berat tubuhnya tidak lagi proporsional.


Suara suara tetangga yang bercuitan kerap kali sampai di telinga, jika hubungannya tanpa restu orang tua. Bohong jika pikirannya baik-baik saja. Sebagai wanita tentunya lebih sensitif jika tentang perasaan.


“Kalau ortunya nggak kasih restu gimana mau nikah."


"Baru lamaran aja udah nggak datang. Apalagi nanti pas nikahan."


"Betul, Bu. Bisa-bisanya beneran nggak datang."


"Aku dengar bapaknya calon Buna itu polisi. Jelas dong,.bukan keluarga sembarangan."


Lama-lama, telinga Nada panas saat tidak sengaja ia menangkap celotehan tetangganya yang sedang berjalan kaki untuk solat jamaah di masjid.


Padahal mereka mau ke masjid, tapi tetap aja ghibahin orang. Batin Nada miris saat ia justru sedikit mengurangi berisik sendal jepitnya saat menapaki jalanan aspal. Berjalan di belakang ibu-ibu yang sedang membicarakannya.


Lain dengan Nada, Marni juga kerap kali mendengar suara ibu-ibu bergunjing membicarakannya anaknya. Bukan hanya saat berkumpul saat acara PKK, saat beli sayur dari tukang sayur keliling, atau bahkan saat bertanam padi di sawah . Seolah membicarakan orang adalah hal menarik.


*


Ada yang bilang bahwa ujian orang yang akan menikah itu ada saja. Bisa dari Miss komunitas. Atau ada gangguan dari pihak luar. Semua itu tergantung bagaimana hati kita memantapkan pada satu hati agar tidak mudah goyah.


Pagi-pagi sekali Attar berkunjung ke tempat Nada mengajar. Ia berbincang sejenak mengenai penarikan data yang masih belum mencapai residu.


Karena Atar sudah pindah mengajar di jenjang SMP, alhasil kini intensitas bertemu dengan Nada pun berkurang.


"Apa belum semua kamu luluskan, kenapa data siswa ini belum bisa di tarik, Na?"


Nada jelas mengeryit sejenak, mengenai kejanggalan system. "Mungkin leptopnya harus di bawa ke service, Mas. Biar nggak eror begini. Di aku udah oke lulus semua. Tapi lucunya kok belum bisa di tarik." Nada menjelaskan alasan yang masuk akal.


"Nggak mungkin, Buna. Pasti ada data yang kamu lewatkan. Ada system update yang baru dari tim dapodik kecamatan."


Nada semakin pusing, karena ia tidak mampu mengetahui kesalahannya. Berkali kali Atar coba membantu tapi masih juga nihil.


Kegiatan keduanya tentu tidak lepas dari kamera Bella. Parahnya sudah pasti story'itu di lihat juga oleh Sam.


Saat malam sedang memenangkan masanya. Nada barulah dapat memeriksa isi chat di aplikasi perpesanan dengan logo gagang telepon berwarna hijau.


Ia periksa paling atas yang sengaja ia sematkan. Ada banyak pesan yang Sam kirim, semua berisi kegiatannya seharian ini. Meskipun kesal masih merajai, karena cuitan omongan tetangga, ia berusaha mengulur hatinya agar tak berlaku keras. Bukan salah Sam juga yang hingga kini belum bisa mempertemukannya dengan calon mertua.


"Mama pengen vidio call, Dek. Ada waktu?" 15. 12


"Ya udah kalau nggak bisa, aku kasih alasan dulu ke mama." 15.34


"Kamu bisa dengar pesanku, tapi nggak bisa balas sama sekali."


[Dek, maaf bulan ini aku belum bisa pulang.]


[Meskipun sibuk, jangan lupa istirahat, Dek. Jaga kesehatan.]


[Nada ]


[Nada Gantari? ]


"Dek, pesanku kamu read doang?"


"Sibuk bahas apa, Dek. Sampai nggak sadar ya dua hari pesanku hanya kamu read doang."


"Aku boleh ngiri nggak, sih, sama Atar. Yang bisa kapan aja nemuin kamu. Sedangkan aku justru terpenjara di sini."


Tidak perduli bagaimana perasaan Sam di seberang sana, Nada justru merasa senang akan pesan-pesan yang Sam kirim berupa perhatian maupun kekawatiran. Ia merasa di perhatikan juga di sayang. Tapi tanpa sadar sikapnya yang kekanakan ini nanti justru akan jadi bumerang untuknya.