Sam

Sam
Saat terakhir di SMA



*


"Sam! Lempar, Sam!"


Teriakan Ando membuat Sam memutar tubuhnya. Tangannya mencengkeram erat bola besar berwarna oranye, berdiameter 75 cm. Seolah tidak mau siapapun merebutnya. Apalagi Royan dan Dika sebagai tim lawan.


Ya. Mereka bermain dua lawan dua. Bukannya lima melawan lima seperti pertandingan basket pada umumnya.


Sam dan teman-temannya sedang bermain-main saja di lapangan basket. Mereka sungguh menikmati permainan ini walaupun bukan pertandingan sesungguhnya. Suara tawa mereka seakan sudah terbebas dari segala hal tentang pembelajaran beserta kegiatan. Padahal setelah lulus nanti, masa yang sesungguhnya, kehidupan yang sesungguhnya telah menanti mereka.


Terik matahari di jam sepuluh pagi cukup hangat. Meskipun tidak menyengat tubuh. Namun, cukup membuat peluh mengalir di tubuh.


Seragam OSIS sudah tanggal dan teronggok di atas tas polo hitam yang mereka tumpuk di kursi semen, di pinggir halaman sekolah.


Tidak perduli mata mata yang memandang mereka dengan takjub. Mereka terus mendribble benda bulat itu dengan antusias.


Hingga, saat mata Sam mengawasi bola yang di bawa Ando melambung tinggi, sorot matanya terkunci pada manik mata sayu yang berada di koridor lantai dua.


"Awas Sam!"


Pening dan sedikit gelap menyergap pandangan Sam. Tubuhnya terhuyung untuk menyeimbangkan tubuhnya. Kepalanya menjadi objek pendaratan bola seberat 600 gram sehingga membuatnya sedikit pening. Tidak perduli ada beberapa teriakan yang ia tangkap di telinganya. Sam masih memejamkan mata dan membuat tubuhnya ambruk terduduk di lantai berpaving blok.


Ando dan yang lainnya segera mendekat dan menanyakan apa yang ia rasakan.


" Aku nggak apa apa." Tangan Sam menepis pelan tangan Dika yang memegangi lengannya, "kalian kenapa, sih, lebai," lanjutnya saat melihat teman-temannya masih bergeming.


Perlahan Sam berdiri di ikuti yang lain. Sam terkekeh mengingat wajah siapa yang menggangu konsentrasinya hingga teman-temannya terlihat kawatir.


"Nah, kan! Malah cengar-cengir begitu." Suara Royan membuat Sam kembali terkekeh melihat satu persatu teman-temannya.


"Hilang ingatan seperti di sinetron emak aku, tuh," Royan menimpali sambil terkekeh. Sadari Sam sudah baik-baik saja, mereka lanjutkan dengan bercanda.


"Kalian pikir aku selemah itu," cibir Sam sambil terkekeh. Saat itulah ia sempatkan untuk mendongak pada tempat berdirinya pemilik mata sayu di tempat tadi. Gadis itu masih di sana, membuat Sam menggulum senyum dan menurut saat teman-temannya menyeretnya ke pinggir lapangan.


Sampai di sana sudah ada Akmal yang membawa lima cup es teh besar dan beberapa gorengan.


"Bikin drama, Sam!"


"Ck. Mereka aja yang lebay." Sanggahan Sam membuat yang lain protes.


Setelah bel masuk kembali, Sam dan yang lain masuk kelas. Mereka akan merencanakan pertunjukan untuk acara perpisahan nanti. Mereka diskusi lebih dari setengah jam dan hasilnya Sam beserta tiga temannya membuat satu persembahan lagu dengan Sam sebagai vokal sekaligus melodinya.


Saat Ando, Dika, Royan dan Akmal sudah pulang lebih awal, Sam masih tertahan di koridor kelas untuk mencari dimana mereka akan latihan.


"Kita ngikut kamu aja, Sam."


"Nggaklah. Aku aja yang ikut kalian," ucap Sam sambil memakai hodie hitamnya.


"Anak-anak pilih kamu itu nggak asal, Sam. Suara kamu lebih masuk daripada yang lain."


"Bener, tuh. Melodi kamu juga main, pasti kamu sering latihan kan," imbuh yang lain.


"Latihan?" tanyanya sambil terkekeh. "Aku nggak pernah latihan. Cuma mainin gitar di rumah sama waktu nongkrong. Palingan aku koneksikan sama aplikasi drum kit di HP."


Akhirnya mereka yang terpilih memutuskan sore nanti untuk latihan di tempat sewa studio mini di daerah Solo Baru.


Masih ada waktu satu minggu lagi setelah hari terakhir adik kelas mereka melakukan test semester kedua hari ini.


Sam berjalan menuju parkiran tepat bel pulang sekolah. Ia mengabsen motor-motor Dika, Royan dan Ando sudah tidak ada lalu ia mengecek HP-nya dan menemukan Akmal memintanya ke tempat biasa.


Sejenak ia mengamati suasana pulang sekolah dari atas motornya. Candaan beberapa adik kelasnya. Ada pula beberapa siswa yang sengaja berboncengan untuk pulang bersama. Hal itu membuat Sam tersenyum masam. Suasana ini akan ia rindukan saat ia benar-benar mengikuti kemauan papa untuk kuliah di Manado.


Sam kembali mengecek HP-nya dan mendapat pesan dari papa bahwa sebentar lagi akan lepas landas dari Manado.


Ia menghela nafas berat lalu memakai helm full face di kepala. Saat itulah ia kembali bertemu tatap dengan Nada. Ia tidak tahu sejak kapan Nada menatapnya demikian. Duduk di pinggir bak taman. Sam menebak bahwa ia tengah menunggu seseorang terlihat dari helm di pangkuannya.


Sadar Nada salah tingkah dan beralih pada sepatunya, Sam berniat menghampirinya. Setelah melepas helm, Sam mengambil langkah untuk sampai di tempat Nada.


Baru empat langkah Sam berjalan, berhentinya motor matic di depan Nada membuatnya mematung di tempatnya.


Nada sudah pergi dengan duduk di belakang tubuh Arka. Meskipun Nada tengah beberapa kali menoleh ke arahnya, itu tidak membuat Sam segera memutus pandangannya dan benar-benar memastikan Nada hilang dari pandangan.


Terlambatkah aku untuk menyampaikan apa yang aku rasakan pada dia?


Masih pantaskah aku yang di katakan badboy ini mengharapkan cintainya?


Sampai suara dering panggilan dari Ando membuat Sam menjawab hallo setelah panggilan tersambung. Dari sana, Ando dan yang lain sudah menunggunya berserta beberapa permintaan yang membuat Sam menghela nafasnya.


*


"Nih." Sam meletakkan plastik berlogo minimarket ternama di meja teras Dika.


Ando adalah orang yang paling antusias untuk membongkar isi plastik putih itu. Ada beberapa kaleng minuman dingin, snack dan dua kaleng sarden.


Ando melirik salah satu kaleng minuman beralkohol rendah dari sana lalu matanya beratih pada Sam yang sudah duduk bersandar dengan mata terpejam. Tidak perduli riuh teman-temannya yang mulai membuka snack ringan di sana.


"Ayo, bantu aku masak Sam!" Ando menepuk lengan Sam membuat pemiliknya lekas membuka mata.


"Masak?"


"Iya, emaknya Dika lagi pulang kampung. Makanya tadi aku minta kamu beli ini." Ando menunjukkan dua kaleng sarden di tangan.


Sam menurut dan mengikuti Ando untuk ke dapur. Sampai di sana Ando sudah memberinya bawang-bawangan beserta talenan dan pisau. Sebagai anak yang biasa hidup sendiri, Sam tahu alasan Ando mengajaknya untuk memasak.


Setelah melepas hodie dan menyisakan kaus putihnya, Sam mulai berkutat dengan bumbu-bumbu berserta pelengkapnya. Ada dua buah tomat besar dan beberapa cabai rawit.


Sambil bercerita kegiatannya sore nanti, kedua anak remaja yang sebentar lagi akan memasuki fase dewasa itu sesekali bercanda dan mengungkapkan rencananya setelah lulus nanti.


"Aku mau ke ibukota, Sam. Ikut bapakku jualan bakso disana."


"Yakin kamu nggak kuliah?" kata Sam mengingatkan Ando.


Ando mengangguk sambil mencuci wajan dan membuang minyak bekas dari sana. Dika yang ceroboh, membuat minyak kotor itu mengendap dan menjadi tempat terperangkapnya semut-semut.


"Sayang banget, Ndo. Kita ini laki-laki. Pasti suatu saat nanti jadi kepala rumah tangga. Paling tidak kita punya basic lah buat cari pekerjaan."


Ando yang sudah berganti mencuci tomat ke dalam baskom terkekeh menatap Sam. "Gaya lu, kaya' sok dewasa aja."


"Di bilangin, juga. Papaku semalam telepon. Kasih petuah dia. Sekalinya telepon, mendadak cerewet." Sam berdiri meraih tomat yang sudah di cuci Ando lalu duduk kembali.


"Papa kamu pulang, Sam?" tanya Ando dan mendapat anggukan.


"Lebih tepatnya jemput aku," jawab Sam tanpa bersemangat sama sekali.


"Kamu pilih kuliah di luar Jawa daripada di Jawa di suruh sekolah Akpol, kan," tebak Ando dan itu di benarkan dengan Sam yang mendengkus.


Ando mengangguk. "Ya udah, nikmati hari-hari terakhir kita ngumpul, Sam. Tapi kemasan yang hitam jangan di minum. Buat aku aja."


Sam menoleh cepat pada Ando. "Ya jangan! Kamu larang aku , tapi kamu yang minum. Cukuplah aku dan yang lain yang udah rusak. Kowe ojo melu-melu (kamu jangan ikut-ikutan)!"


Ando menatap Sam sendu. Hatinya sedikit tercubit menyadari Sam memanglah patut menjadi leader. Maka dari itu, Ando menyayangkan soal Sam yang selalu di remehkan di masa awal kepengurusannya sebagai OSIS dulu.


Kini, terjawablah sudah saat dulu ia mengatakan kekesalannya pada Atar, saat ia tahu Atarlah yang membuat Sam jadi ketua OSIS.


Dari Atar juga, Ando memaafkan Sam saat ia mendengar bagaimana Sam di mata Atar. Saat ia sengaja menjauh dari Sam karena kecewa Sam merebut Salsa darinya.


"Sam. Boleh nanya?"


Alis Sam terangkat sebelah, seolah terheran. Dari sana, Sam juga menyilakan Ando untuk bertanya.


"Kenapa elu nggak pernah bilang kalau selama ini elu nggak pernah nembak cewek?"


Sam tertawa terbahak sambil meletakkan pisaunya. Ia sampai menutup mulutnya dan matanya sedikit berair. Tidak perduli di wajah Ando sudah bingung melihat kelakuannya. Selucu itukah pertanyaannya sampai Sam terbahak-bahak.


*