Sam

Sam
Rasa bersalah



"Aku harus bagaimana?" lirih Nada. Ia meraih bantal dan memangkunya. Matanya melihat ke arah jendela kamar, ada dedaunan yang berayun-ayun karena tertiup angin. Dari daun itu, tetes-tetes air mulai berjatuhan. Aroma aspal yang menguap beradu air hujan menambah perasaan Nada semakin gusar.


"Pergilah, Mas. Kedatanganmu tak aku harapkan."


Ya, itu adalah kata yang teramat kejam begitu saja keluar dari mulutnya, dua jam yang lalu. Entahlah, Nada rasa itu seperti bukan kemauannya. Dan ia menyesal. "Pasti kamu kehujanan," lirihnya tak tenang. Turun dari kasur dan berjalan mendekati jendela. Diam merasakan suara hujan yang begitu mengusik.


Dari tempat Nada berdiri, ponselnya berdering beruntun. Nada penasaran tak biasanya ada hujan pesan di WhatsApp, dari grup reseller onlinepun ia sudah menonaktifkan suara khusus agar tak mengganggu.


Ternyata ada pesan dari Bella.


[Sam ada di rumah aku!]


[Gimana, dong. Dia nanyain kamu, Na. Kamu beneran ada hubungan sama Atar?]


[Jangan bilang kamu jadian sama Atar tanpa bilang aku]


[Balas, Na. Tidur apa pingsan kamu!]


[Balas cepat, Na! Ini aku sampai bingung mau jawab apa.]


Nada terkejut bukan main. Bagaimana bisa Sam bisa tahu rumah Bella. Parahnya, Sam ternyata tak juga menyerah. Padahal ia sudah berlaku kejam telah mengusir Sam saat hujan sedang deras-derasnya. Juga perihal dia akan menikah dengan seseorang. Padahal?


^^^[Jawab aja aku akan nikah sama Mas Atar]^^^


Kenapa aku bisa mengkambinghitamkan Mas Atar dalam masalahku. Akh, semakin bodoh saja aku menyeretnya.


Ingin menghapus pesan itu namun Bella sudah membacanya.


Lama Nada menunggu balasan yang tak kunjung Bella balas, membuatnya resah berjalan mondar mandir. Duduk berdiri, lalu duduk lagi berdiri lagi begitu seterusnya hingga waktu perlahan mulai petang.


Sementara di lain' tempat. Sepulangnya Sam pulang dari rumah Bella, teman sekelasnya dulu, dia sengaja tak membuka jas hujan. Ia biarkan tubuhnya di terpa dinginnya air hujan. Tak ia hiraukan bagaimana sedari tadi ia kedinginan. Baginya mendapatkan nomor Bella, bertemu dengan teman lamanya dan mendapat cerita Nada darinya adalah kekuatan berlipat untuk jalannya kedepan nanti.


Semua itu terbayarkan, setelah mendapatkan luapan kemarahan Nada dan kata-kata yang amat pantas ia terima tadi.


Kenapa baru sekarang kamu datang. Bukannya kamu seorang pengecut yang lari dari kenyataan. Bukannya kamu sang raja egois yang mementingkan diri sendiri! Kamu tau, bagaimana aku saat kau pergi? Hari-hariku seperti jalan di atas pecahan kaca. Diam di tempat atau berjalan pun pasti mendapatkan kesakitan.


Oh satu lagi, Mas Alsaki Sambara yang amat aku benci. Aku yang sekarang sudah lebih baik. Jadi silahkan jika kamu mau tebar pesona dan melanglang buana mencari banyak wanita.


"Nada, bukalah hatimu. Mari kita sama-sama menebus kesalahan kita. Bukan, bukan. Bukan kita. Lebih tepatnya, bantulah aku untuk menebus kesalahan itu," gumamnya di atas motor matic yang sedang melaju di atas aspal.


Di dalam perjalanannya, Sam sudah memikirkan hal-hal lain setelah ini. Pak Hardi sudah memberikan kesempatan, tinggallah meluluhkan hati Nada. Biarkan, meski pelan asalkan ia tak berhenti. Niatnya sudah bulat. Setelah ini, mama, papa dan kakaknya, adalah tujuannya menjemput restu.


Tapi, masih ada satu masalah yang masih begitu bersarang di benaknya. Yaitu, masalah Revi. Bagaimana masa depan dia nanti. Bagaimana mentalnya.


Memikirkan semua masalah itu, membuat Sam tanpa sadar melajukan motornya begitu kencang.


Hingga ...


Brakkkk.


Sam jatuh terguling di atas aspal. Pandangannya mendadak kabur di sertai rasa nyeri di siku kirinya. Hingga teriakan bercampur derasnya air hujan menjadi terakhir kalinya ia terjaga sampai hilang kesadaran.


*


"Apa?" kata Nada begitu Bella menceritakan Sam selama di rumahnya.


"Ya, Sam itu nggak bisa di bohongi. Semakin kita berbohong, akan semakin mudah jika dia menebaknya. Sam masih sama seperti waktu SMA, masih tetap bisa membaca raut wajah orang-orang. Makanya dia dulu jadi ketua OSIS. Tapi yah," ucap Bella menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" tekan Nada begitu menuntut.


"Tau sendiri, kan. Dia itu sengaja manfaatin Dita, sekertaris OSIS-nya dulu. Dia pacarin, tuh Dita. Biar bisa dengan mudah limpahin tugas OSIS."


Nada terdiam mendengar pengakuan Bella. Memang tak di ragukan lagi bagaimana Bella mengenal Sam. Teman sekelas juga merupakan salah satu mantan pacar Sam semasa putih–abu abu dulu.


Nada menggeleng pelan. "Nggak bisa mikir. Hanya dia yang aku rasa kuat, buat Sam jauh-jauh dari aku."


Bella diam menyelidik. "Ada rahasia apa sih antara kamu sama Sam, Buna? Aku kok ngerasa kamu itu benci banget sama dia."


Nada memalingkan wajahnya dan Bella segera menangkap kedua pipi Nada. Ada satu titik air mata di sudut mata Nada.


Nada menunduk dalam dan menjadikan laptop sebagai alas pipi kirinya.


Ya, mereka sedang ngobrol di ruang perpustakaan saat istirahat sekolah. Hanya tempat itu yang terlihat sepi.


Saat Bella akan bertanya lebih jauh, suara bel masuk kelas sudah memguar seantero sekolah. Membuat siapa saja begitu spontan untuk menghentikan aktifitas istirahat dan segera menunju kelas bagi siswa dan segera merapat ke kantor bagi guru-guru.


Bella dan Nada berjalan beriringan. Wajah Nada sudah tak begitu sembab. Berulang kali di sapa muridpun Nada sudah dapat menguasai dirinya. Itulah yang di suka murid-murid padanya, selalu murah senyum meskipun mereka tak tahu wajah sedihnya.


Bagi Nada, menciptakan wajah ceria adalah sumber utama kekuatannya agar menularkan keceriaan pada anak didiknya.


*


"Masih ngilu, Sam?" tanya Kusno setelah dari ruang administrasi. Mengurus biaya rumah sakit Sam.


"Iya, Paklik. Apa di luar sedang hujan deras? Rasanya makin nggak enak. "


"Tinggal rintik-rintik aja, udah nggak sederas tadi," ucap Kusno sembari menyeret kursi plastik untuk duduk.


"Apa ada tambahan biaya, Paklik?" tanya Sam.


"Nggak ada. Sebelum operasi pemasangan pen, ada berkas yang belum ada di dompet kamu. Trus baru aku anter kelengkapan administrasi kamu tadi." Kusno memijat pangkal hidungnya, " beruntung nggak urusan sama polisi aja, Sam."


"Yang nabrak Sam, ambil jalur damai begitu?"


"Iya. Royan sama Akmal yang ngurus. Katanya kalaupun di usut kamu juga salah Sam. Kamu makan jalan juga. Sedangkan dari arah berlawanan nggak sign kanan."


Sam mengangguk, meskipun sedikit lupa bagaimana ia bisa nggelasar.


"Reva bagaimana, paklik?" tanya Sam.


Kusno menghela nafas. Hatinya begitu sakit mengingat masalah besar di rumah. Ayah mana yang tak sakit hatinya manakala anak perempuannya harus menanggung beban itu di usia yang baru 17 tahun. "Paklik merasa gagal jaga Reva, Sam."


Kedua tangan Kusno meraup wajahnya. "Aku sibuk mengajar anak orang. Tapi, anak sendiri malah salah arah," sesalnya namun nasi sudah menjadi bubur.


"Mungkin Reva cerita dan tadi pagi anak itu langsung datang bawa orangtuanya. Minggu depan Reva mau ijab,"


"Reva putus sekolah?" tanya Sam begitu terkejut bercampur sedih.


Kusno menggeleng, "Mau bagaimana lagi, dia pasti malu. Belum juga, psikisnya pasti jadi minder. Biarkan besok setelah anaknya lahir, baru kejar paket," cerita Kusno.


Sam tak berani menyahut. Melihat Kusno begitu pucat, Sam dapat merasakan bagaimana masalah datang bertubi-tubi. Di tambah lagi dengan dirinya.


Sam mengepalkan tangannya. Seperti inikah Pak Hardi waktu itu. Tapi kenapa selama ia berkunjung ke rumahnya ia tak di hajar atau apapun itu. Malah justru mendapatkan sambutan ramah. Apakah Nada menyimpannya sendiri selama ini?


Semakin sesak dada Sam memikirkan ini. Gusar di wajahnya bahkan sampai terbaca oleh Kusno.


"Kamu kenapa, Sam?" tanya Kusno seraya berdiri, "papamu nggak paklik kabarin kok, kamu nggak usah kawatir." Kusno salah menerka membuat Sam jadi semakin bersalah.


"Sam mau minta maaf, Paklik. Sam jadi menambah masalah. Harusnya Sam bisa bantu paklik buat selesaikan masalah Reva tapi Sam justru kena musibah."


"Kamu ngomong apa, Sam. Kamu itu juga anakku. Sudah sewajarnya paklik menjaga kamu. Apalagi, orang tua kamu jauh. Selama orang tua kamu nggak ada di sampingmu , kamu jadi tanggung jawabku."


...***...