
...****...
"Woalahh, Sam ... Sam. Mbok lain kali khi tanya-tanya dulu sama yang sudah senior. Kalau sudah begini, kamu nggak malu sendiri! Hm?"
Suara Alif kesal bercampur mengejek. Membuat Sam meringis malu sekaligus tidak terima. Bukan hanya itu saja. Ia merasa hal yang di lakukan sudah pas, sesuai ketentuan. Namun, ternyata pikirannya meleset. Sang kakak masing mengoreksi tindakannya yang ceroboh.
Bahkan kalimat yang di ucapkan Hardi sebelum ia pulang membuatnya semakin malu. Seperti ingin membenamkan diri saja di samudra Hindia.
"Tidak ada salahnya. Tapi memang... biasanya kalau melamar itu sudah di sertai saksi dan orang tua. Itu kalau cara orang desa, khususnya desa Sambi ini. Setiap desa mungkin kan, berbeda adatnya."
"Apalagi, Mas Sam sudah membawa oleh-oleh sedemikian banyaknya. Itu kalau orang desa sudah wujud lamaran pada umumnya. Hanya saja ... ya itu tadi ... harus ada saksi, paling tidak orang tua yang ikut membersamai."
"Nada juga bilang bahwa dia sudah menerima cincin dari Mas Sam. Lha itu seperti sudah orang tunangan namanya."
Sam mengangguk setiap mendengar kalimat Hardi. Ia sungguh malu bercampur gugup yang semakin kentara. Membuat Hardi pun memahami dengan tersenyum teduh.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu menahu bila ada tata cara demikian,–"
"Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Ini bukan suatu kesalahan. Hanya ... belum pas saja. Kan ... deso mowocoro(punya adat istiadat sendiri)."
Sam meraup wajahnya mengingat pembicaraannya kemarin malam bersama bapak dari Nada.
Kini, ia pun di buat semakin tidak karuan saat sang kakak pun kembali menyalahkannya.
"Sam!" Alif kembali menyapa. Suaranya terdengar lebih tenang setelah menenangkan anaknya yang sebelumnya tengah merengek.
"Memang, cara kamu lamaran dulu gimana, Mas?"
"Aku? Ya ... semuanya semi formal, Sam. Dari lamaran, aku sudah bawa papa dan Pak Ndan." Alif menyebut kepala sektor tempatnya bekerja.
"Sampai bawa teman kantor segala!"
"Ya ... Kan, biar lebih kuat saja. Sekalian bawa cincin, buat ngikat mbakmu itu. Namanya juga orang yang kerja di Bank. Takut kepincut sama orang kalau nggak di ikat dengan benar." Suara Alif tertawa keras di sana.
"Bener, dong. Pokoknya ... mana yang gerak lebih dulu, itu yang diterima," timpal Ayu, istri Alif di belakang suaminya. Membuat Sam meringis mendengar sahutan kakak iparnya.
"Kamu, itu, Sam! Aneh-aneh, wae. Main gerak sendiri!"
"Wes, nggak usah di bahas lagi. Sekarang gimana kalau udah begini?" Sam memupus kritikan kakaknya yang tiada habisnya. Membuat Alif di seberang sana terkekeh-kekeh.
"Rancang dulu bersama Pakde dan Paklik. Tata cara lamaran yang benar bagaimana. Bukan main gerak sendiri, begitu!"
"Soal papa, bagaimana?"
"Wess, pikir keri(dipikir belakangan). Sekarang, benahi cara lamaranmu yang amburadul itu. biar nggak malu-maluin!"
Akhirnya, Sam masih terus menyimak penjelasan Alif yang lancar bercerita dari pengalaman teman-temannya. Ia hanya diam dan mengangguk. Mendengarkan pengalaman-pengalaman Alif dengan seksama dan mulai mengambil garis besarnya.
...*** ...
"Soal apa, ya, Pak?" tanya Rusno begitu ia mendudukkan diri di depan meja atasannya.
"Soal yang kita singgung beberapa hari itu, Pak Rus. Soal anak-anak."
Penjelasan yang belum di mengerti Rusno, membuat keningnya berkerut tipis. Tanda belum sepenuhnya paham.
"Soal Sambara sama Tiara," jelas seorang yang duduk di sebelah meja yang bertuliskan nama terang, lengkap dengan gelar dan atau pangkat yang menyertai. Menandakan betapa pentingnya posisi orang di seberang meja yang berhadapan dengan Rusno.
AKP. Sumanto, S.T, sebuah nama yang di buat dari kayu jati yang di ukir sedemikian rupa. Seorang yang memiliki jabatan penting di lingkup kerja Rusno.
"Oh, baru saya singgung sekali dengan Sam, Pak. Belum, saya tanyakan lagi dengan anaknya." Rusno bicara jujur.
"Santai saja, Pak Rus. Jam kerja sudah lewat. Ini soal urusan pribadi. Jadi santai saja bicaranya."
"Tiara banyak berharap pada Sam, Pak Rus. Tapi, sepertinya Sam hanya biasa'saja."
"Apa begitu, pak Ndan?"
Raut tidak nyaman begitu jelas di wajah Rusno. Sedangkan raut kecewa tampak di raut wajah Manto.
"Dari cerita Tiara, sepertinya begitu. Apa Sam sudah punya pacar di Jawa, Pak?"
Antara mengangguk dan menggeleng, Rusno merasa dua-duanya sama-sama berat. Dari pembicaraan awal dengan Sam juga banyaknya alasan Sam sampaikan, ia sudah bisa menebak jika Sam tidak tertarik dengan Tiara. Terlebih, kalimat ambigu yang Alif sampaikan membuat lelaki itu menyimpulkan, bahwa Sam memang sudah punya pilihan sendiri.
...***...
Sore hari setelah Alif bertugas, ia langsung menemui orang tuanya. Ia menceritakan apa yang Sam katakan.
Rusno dan Tantri hanya bisa diam terhenyak mendengar cerita Alif. Tindakan Sam yang bergerak sendiri membuat tamparan tak kasat mata bagi kedua orang tua itu.
"Sam itu sembrono (gegabah). Sudah nggak anggap papa ini orang tua, apa!" Rusno sudah tidak bisa menahan kesal terhadap anak bungsunya.
Tantri menoleh tidak terima. Dengan menghela nafas panjang ia harus berani mengutarakan suaranya. Ia tidak akan terima bila anaknya disalahkan. Ibu mana yang akan terima bila anaknya di salahkan begitu saja, tanpa melihat dari sisi yang lain.
"Pa, ini bukan hanya salah Sam saja. Kita juga salah sebagai orang tua, Pa."
"Dimana salahnya, Ma? Anak itu saja yang tidak terbuka dengan orang tua. Jadi, mana tahu, Papa. Kalau dia sudah punya pilihan sendiri." Rusno berdiri dan meraih ponselnya. Pikirannya hanya tertuju pada anak bungsunya.
"Mungkin Sam sudah lelah berdebat sama Papa. Jadi, dia sampai nggak berani bicara dengan kita."
"Dengan melamar anak orang seorang diri, begitu?"
Pangkal hidung Alif menjadi sasaran pijatan kecil di sana. Ia lagi-lagi menyaksikan perdebatan kedua orang tuanya. Hanya karena Sam. Lagi-lagi Sam.
"Bela terus dia," lirih Rusno dengan mengusap jambangnya yang sudah mulai tumbuh lagi. Sebagai seorang polisi, tampil bersih adalah ciri khasnya.
"Bukan membela, Pa. Tapi, mama bicara fakta. Sejak dulu, keinginan Sam selalu papa tentang."
"Papa sudah mengalah, ya, Ma. Tapi emang anaknya itu bandel. Nggak mau mendengar perkataan orang tua."
Rusno duduk dengan menempelkan ponsel di telinga, hendak menghubungi Sam.
"Aku rasa ini sudah waktunya Papa menyetujui untuk pindah tugas ke daerah asal, Pa. Sam sampai bertindak sendiri ini, karena ia tidak ada dalam pantauan Papa."
"Kedua, bisa jadi, Sam begitu takut akan permintaan Papa. Jadi dia ambil tindakan sendiri seperti ini." Alif ikut bicara kembali.
"Akhirnya, Papa sebagai orang tua, pasti juga ikut malu, kan, karena Sam." Tantri ikut membuka suara dengan membuang muka. Suaranya pun terdengar menahan kesal. "Itu karena papa terlalu banyak melarang Sam tanpa papa sadari papa kurang perhatian dengan anak itu."
"Ya, mama benar. Papa, sudah di buat malu. Bahkan sebelum bertemu orang tua anak itu." Rusno menyindir halus melalui perkataannya.
"Sudahlah, Pa. Mama pusing." Tantri berdiri dan meninggalkan ruang keluarga. menyisakan Rusno dan Alif yang kini berpandangan dan sama-sama menghela nafas.
"Sebenarnya, apa yang membuat papa marah dengan Sam?" tanya Alif setelah sang papa menyerah karena sambungan telponnya tak kunjung terjawab.
Rusno hanya melirik sebentar kemudian meletakkan ponselnya dengan kasar.
"Apa karena Sam yang tidak menurut dengan pilihan papa? Apa karena Sam sudah bertindak sendiri tanpa melibatkan papa?"
Rusno hanya diam seraya mengatur nafasnya.. berkali-kali mengembuskan nafas besar. Tanda menahan kesal. Sejujurnya ia merasa Sam tidak pernah menurut dengan aturannya.
Perihal siapa pilihan Sam, itu urusan kesekian. Tapi akan lebih baik jika ia memperhatikan bibit bebet dan bobotnya. Tidak di pungkiri sebagai orang tua, Rusno ingin yang terbaik untuk anaknya.
"Entahlah, lif. Yang jelas papa akan malu bila harus menolak permintaan Pak Manto."