
"Gimana, Mas?" tanya Nada pada Sam.
Sam mengeryit dengan alis hampir menyatu. "Gimana apanya?"
Nada tertawa kecil dan membuang pandangan. "Itu tadi. Besengeknya?"
"Enak. Lumayan."
"Lumayan bikin ketagihan, kan. Sampai nambah dua centong nasi." Kali ini Nada menatap jahil pada Sam yang memasang wajah kesal.
"Itu karena nggak enak dilihatin bapak kamu. Ntar ... dikiranya aku nggak menghargai lagi."
"Emang awalnya kamu eneg, kan, lihat wujudnya!"
"Iy ..."
"Dih, jujur banget." Nada pura-pura memberengut.
"Kamu kenapa, sih, dari tadi jahil banget." Sam menarik-narik ujung blouse Nada.
"Ini juga jahil, namanya!" Nada menepis tangan Sam. Membuat lelaki itu terkekeh.
"Satu, sama, kan!"
Kemudian, mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Enak ya, suasana desa. Adem. Apalagi di belakang rumah kamu ini." Sam memuji keadaan lingkungan rumah Nada. Terlebih di belakang rumah yang saat ini menjadi tempat mengobrol keduanya.
Terdapat dua pohon mahon mahoni besar. Berbaris rapi. Sengaja untuk pembatas tanah biasanya oleh orang desa. Di sudut lain ada beberapa pohon mangga dan rambutan. Tepatnya menggelilingi belakang rumah Nada. Tidak terlalu dekat jaraknya. Namun, cukup meneduhkan.
Akan berbeda bila di depan rumah Nada. Halaman yang terbilang luas itu hanya di hiasi beberapa pohon bonsai di dalam pot semen, di sisi pagar.
Sam tadi sempat mengajak Nada untuk keluar rumah. Sekedar jalan-jalan, begitu pikirnya. Namun, setelah melihat raut wajah tidak nyaman Nada. Sam mengalah.
"Na?"
Nada menoleh dan mendapati Sam dengan muka datar. Namun, mata cokelat lelaki itu cukup dalam melihat penuh pada Nada.
Terdapat jarak selangkah kaki dari tempat Sam duduk. Sementara Nada yang sedang duduk di potongan akar kayu jati, yang memang di fungsikan untuk duduk santai saja. Sedangkan Sam duduk pada kursi plastik yang di ambil dari dapur.
Nada membuang pandangan lagi. Karena Sam tak kunjung bisaca. Hanya diam dengan mata yang tak lepas darinya. Membuatnya merasa berdesir.
"Dek..."
Kali ini Nada justru memalingkan wajahnya karena bersemu.
"Aku kan disini."
"Ya, teruss?" sarkas Nada tanpa menatap Sam. Pasti lagi senyum gaje lagi.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi."
"Pertanyaan yang mana?" Nada masih tetap di posisi semula. Kali ini sedang mengadu kukunya.
"Ada perlu apa Atar kesini?"
Nada tersenyum dan menatap Sam yang terlihat serius. "Dia ..."
"Jangan sebut orang itu seperti itu, Dik. Hatiku nggak terima."
"Dihh. Emang kenapa!"
"Ya, kan, kamu ... kamu ..." Sam bingung hendak mengartikan Nada seperti apa.
"Aku kan, bukan siapa-siapa, kamu, Mas. Jangan ngelarang aku!" Ucapan Nada telak menohok hati Sam.
Sam menatap dalam wajah Nada dengan hati yang tidak ikhlas. Bibirnya terkatup rapat. Nada benar, ia tidak memiliki hak apapun untuk melarang gadis itu untuk dekat dengan siapapun.
"Apa kamu harus jadi siapa-siapaku dulu. Sampai aku bisa melarangmu."
Nada tertawa hambar. Sam tetaplah Sam. Yang tidak peka. Wanita itu butuh kepastian, bukan. Inilah yang membuat Nada lelah berharap.
Namun, saat Sam mendekatkan diri pada Nada, gadis itu mendadak tercekat. Apalagi setelah lelaki itu mengulurkan benda segi empat berwarna merah beludru. Membuat Nada terbelalak.
"Coba buka!"
Tatapan dalam dari Sam seolah membius mulut Nada untuk sekedar bertanya ini artinya apa.
Mulut bisa saja terdiam. Namun, tangan dan pikiran bisa saja berubah.
Perlahan Nada membuka kotak kecil itu dengan hati yang berdegup. Tampaklah dua cincin yang serupa yang cukup simpel. Satu cincin yang lebih kecil itu terdapat satu mata batu berwarna putih mengkilap.
Nada menatap penuh tanya pada Sam.
"Buat kamu!" Suara dalam namun cukup lirih itu mampu membuat seisi dada yang menegang perlahan luruh. Seperti bongkahan batu besar yang terpecah oleh air laut.
Apa dia sedang melamar ku?
"Ini maksudnya?" Akhirnya keluarlah apa yang menjadi sebab Nada terbius oleh mata Sam yang teduh untuk kali ini.
"Kita satukan hati kita dengan satu ikrar. Kamu mau kan, nikah sama aku!"
Kini, seisi dunia Nada seperti di penuhi ribuan bunga-bunga yang bermekaran. Harapan dari dalam lubuk hatinya yang tertimbun cukup lama, kini mulai menemukan tempat keluarnya.
Ketakutan-ketakutan yang dulu membuat seisi dunianya menggelap kini mulai menampakkan terangnya. Sudut matanya tidak mampu lagi
menahan setitik genangan kecil disana.
"Apa yang salah, Dek. Aku salah bicara?"
"Apa kamu nggak suka cincinnya?"
"Kamu itu dari dulu emang nggak peka, ya, Mas! Aku ini terharu." Nada memberengut bercampur senyum dan sedikit tawa. Hal itu cukup membuat Sam bernafas lega.
...*** ...
Sam senyum-senyum sendiri di depan mejanya. Hari ketiga lebaran, bengkelnya sudah buka. Meskipun Dimas menggerutu mendapatkan telepon darinya. Namun, anak itu tetap berangkat.
"Gaji cash, khusus untuk hari ini." Itulah jurus andalan yang Sam keluarkan untuk menggaet hati tim service, agar mau bekerja. Meskipun masih suasana lebaran.
Hasilnya, bengkel cukup ramai. Sampai-sampai Sam harus memanggil anak PKL yang dari beberapa minggu yang lalu melaksanakan praktek kerja lapangan di bengkelnya.
"Mas! Ada tambahan kanvas sama oli gardan buat Vario new." Ucapan Dimas membuat Sam segera mencatat sesuatu setelah ia mengambil satu botol oli gardan dan ia letakkan di atas etalase.
"Senyum, senyum terus dari tadi! Seneng ya, bikin kita-kita jadi riweh saat masih lebaran, gini." Dimas mencibir Sam yang terlihat abai saja.
"Siapa yang senyum-senyum," kilaah Sam.
Ia mengibaskan tangannya, "udah-udah. Balik lagi sana! Keburu makan siang... kerjaan belum kelar lagi." Sam tidak mau berbuntut panjang dengan meladeni Dimas yang sengkleknya membuat Sam mengelus dada.
"Tenang, yang ikhlas dong. Nanti insyaallah ada rejeki lebih, kok." Sam berubah mode lembut. Meskipun tidak ada gurat senyum sedikitpun.
"Wah, bneran Mas!" Ucap Dimas berbinar.
"Ck. Iya, wes!" Kali ini Sam menepuk bahu Dimas yang masih mengharapkan jawaban pasti.
"Uwes. Sana! Beresin dulu. Nanti gampang."
Sampai akhirnya Dimas kembali ke pekerjaannya.
Sedangkan Sam kembali membayangkan wajah Nada kemarin. Gadis itu mengangguk dengan wajah tertutup kedua telapak tangannya, saat ajakannya menikah tersambut. Kemudian, Sam mengambil tangan kiri Nada lalu memasangkan cincin pada jari manis Nada. Tepat sekali perkiraan Sam. Cincin itu melingkar manis di jari lentik Nada. Wajah bersemu gadis itu membuat Sam terpana sejenak.
dasi neoreul *** su isseulkka dasi
seuchyeo jinaga beorin unmyeong ape seo isseo
Tiba-tiba, potongan lagu milik Kim Na Young mengalihkan perhatian Sam dari lamunannya.
Sebuah nomor asing muncul begitu Sam melihat layar ponselnya.
"Hallo," sapa Sam begitu sambungan telepon tersambung.
"Hallo, Mas Sam. Aku Tiara. Tolong simpan nomorku, ya!"
Menjadi awal senyum langka milik Sam luntur seketika.
...*** ...
"Perkataan papa selama ini sudah banyak kamu tentang, Sam. Kali ini, papa mau kamu ikutin papa. Nikah sama anak pak Manto. Setelah itu, terserah kamu. Papa sudah nggak akan atur-atur kamu lagi."
Itulah akhir kalimat pertentangan yang selama dua puluh lima menit berlalu terjadi. Antara Rusno dan Sam.
Akhirnya membawa Sam untuk mencari solusi gundah di hatinya kepada Alif, kakak kandung nya. Adalah satu-satunya, menjadi tempat sampah untuk mendengar keluh kesahnya.
"Kaya' orang lain saja kamu ini, Sam. Berlakulah seperti Sam sebelumnya."
Kata ejekan dari Alif di seberang sana membuat Sam uring-uringan.
"Aku anggap Tiara itu teman. Tapi nggak tahunya dia bilang suka sejak kuliah. Cewek emang nggak bisa di pegang omongannya, kan!"
"Ya, namanya perasaan. Kita, kan, nggak bisa menebak, Sam. Atau ... kamunya saja yang nggak peka."
"Dia nggak harusnya nggak pakai cara murahan dengan melibatkan orang tua, kan, bisa. Kalau begini, makin banyak saja catatan aku ngebangkang kata orang tua, kan."
Alif tertawa di seberang sana. Itu membuat Sam semakin keruh saja wajahnya.
"Nada, calon kamu itu, gimana?" tanya Alif setelah sekian detik justru meladeni rengekan Arkan di sekitarnya.
Biasanya Sam akan mencair moodnya bila mendengar suara Arkan yang berulah. Tapi masalah yang dihadapi membuatnya tidak berminat untuk bercanda sedikitpun.
"Gimana maksudnya?"
"Orangnya, lah!"
"Dia itu ulet, rajin. Cantik, manis, nggak bosenin ... dan yang pasti aku tetap mau dia." Sam berucap mantap sembari membayangkan wajah Nada, hingga tanpa sadar membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Ya, udah. Kamu udah nemu jawabannya. Tolak permintaan papa dengan tegas."
"Memang segampang itu?"
"Kamu belum mencobanya, kan?"
Membuat Sam mengangguk pelan. Meskipun di seberang sana Alif tidak melihatnya.
"Udahlah, Sam. Kowe khi wes buang-buang waktuku. Aku mau berangkat dinas."
Sayang, seragam aku mana?
"Dih, pakai pamer segala, sayang-sayangan," dengus Sam kesal dan membuat Alif di sana jadi terbahak-bahak.
"Westalah, kerja sek bener! Nanti aku bantu bujuk papa. Aku yakin kemarin papa cuma menggertak kowe (kamu)."
...***...