
Semakin hari Arka semakin posesif. Hal itu membuat Nada jadi tidak nyaman. Arka banyak membatasi dengan siapa Nada berinteraksi.
Arka benar-benar menyukai Nada. Sedangkan tidak demikian bagi Nada.
Nada menerima Arka hanya karena Via sering meroasting-nya. Dia berharap dengan menerima Arka, perasaannya pada Sam dapat memudar seiring berjalannya waktu.
Seminggu dua Minggu, Nada mencoba menyesuaikan diri. Mencoba menerima perhatian Arka padanya. Arka baik. Hanya saja, ia sedikit tidak suka saat Arka selalu membuka pikirannya agar tidak kaku dalam berpacaran.
"Nada, kamu marah?" tanya Arka sesaat ia mendaratkan bibirnya di pipi Nada. Gadis itu terlihat berkaca-kaca dan terus menatap sengit . Tangannya terus mengusap pipinya yang sedikit basah karena air mata.
Diamnya Nada membuat Arka bingung. Ingin sekali ia menjelaskan jika itu adalah ungkapan sayangnya. Namun, sepertinya Nada tidak mengartikannya demikian.
"Kenapa, sih? Harus mencium sebagai ungkapan rasa sayang! Ini buat aku nggak nyaman, Ka."
Raut wajah Arka berubah mendengar alasan Nada. Benar kata teman-temannya, bahwa Arka telah mencari orang yang salah, udik dan kampungan. Namun, Arka tidak mengindahkan ucapan teman-temannya. Dia memang menyayangi Nada di samping sikapnya yang kaku.
Arka mencoba tetap sabar dan selalu memahami keinginan Nada. Meskipun inginnya jalan berdua saja, tapi Nada selalu mengajak Via. Entah itu saat sekedar jalan malam dengan motoran saat malam minggu, makan di kedai, duduk-duduk saja di taman ataupun saat ke bioskop.
"Baiklah. Aku rasa kamu hanya belum terbiasa. Maafin aku, ya," ucap Arka. Ia begitu takut Nada akan ilfil dengannya. Sebisa mungkin ia selalu menyesuaikan agar Nada merasa nyaman.
*
Suatu ketika, saat Arka bersama teman-temannya menceritakan tentang kekasih masing-masing, ia mulai terusik ucapan salah seorang temannya.
" Tiap akhir telpon cewek ku, selalu bilang sayang kamu, cinta kamu, atau lainnya. Pokoknya yang bikin jiwaku meledak rasanya. Masa'iya, Nada nggak pernah bilang begitu ke kamu, Ka?"
Arka bergeming. Kenapa ia baru terfikikan selama ini Nada tidak pernah sekalipun menyebutkan kata-kata manis itu. Bukankah wajar, di era milenial seperti sekarang ini bilang seperti itu?
Sadari selama enam bulan sebagai pacar Nada. Tidak sekalipun Nada mengucap cinta padanya. Hatinya mulai tumbuh rasa marah juga kecewa jika pemikirannya memang benar.
Hingga suatu malam, Arka yang begitu bersemangat akan membawakan makanan untuk Nada, jadi mematung di tempat karena pertanyaan yang terlontar dari mulut Via.
"Jadi, sampai sekarang kamu belum juga bisa benar-benar suka sama Arka, Na?" tanya Via yang sedang duduk lesehan di sebuah taman kota. Menunggu pada cowok mereka membawakan pesanan.
Nada mencoba membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Sekeras apapun ia mencoba menyukai Arka, sudut hatinya tidak bergetar sama sekali untuk lelaki itu. Dengan menggeleng pelan, Nada menjawab pertanyaan sahabatnya. "Entahlah, Vi," lirih Nada.
Via merasa termangu. Di benaknya mulai menyimpulkan sesuatu yang mulai membuatnya merasa bersalah. "Apa kamu menerima Arka hanya karena paksaan aku?"
Nada tidak menjawab sama sekali. Ia menikmati malam ini sambil memandang lalu lalang pengendara motor yang melintas. Ada banyak suara-suara di tikar sebelahnya. Namun tidak sampai membuatnya terganggu.
"Aku beruntung ada Arka, Vi. Aku merasa ada teman ngobrol. Aku banyak dapat perhatian darinya. Dan yang penting, Dita sudah nggak terang terangan terus mengawasiku."
"Kamu pikir, Vi. Nggak enak tau, di salahkan karena ketidakberuntungan seseorang. Dita pikir Sam nggak mau sama dia karena dia pikir Sam suka sama aku."
Nada menghela nafas panjang sambil menoleh pada sahabatnya. "Soal, Arka." Nada menjeda perkataannya. Mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya agar bisa lebih leha dengan mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. "Aku udah coba Vi. Tapi sepertinya aku telah gagal hingga detik ini."
"Kamu tahu, Vi. Aku baru bisa terbebas dari Dita saat aku bisa jadi pacar Arka. Meskipun aku menjelaskan pada Dita sampai berbusapun, dia masih tidak percaya sama aku. Hanya karena Sam selalu pergi ke tempat Dika. Dia pikir aku akan memanfaatkan tempat rumahku yang dekat dengan Dika, untuk mendekati Sam. Saiko, kan, dia!"
"Kamu lebih, saiko, Na! Kamu cuma manfaatin Arka buat berlindung dari orang-orang yang nggak penting. Kamu akan baik-baik aja selama kamu benar-benar tidak berbuat apa yang mereka takutkan. Kecuali kalau kamu emang benar suka sama mantan ketos kita."
"Ngapain bengong, Ka!" Suara pacar Via–Jerry, membuat Arka yang memegang dua gelas es lemon tea dan satu piring macam-macam gorengan menoleh.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Via dan Nada yang kompak memutar tubuhnya dan menemukan Arka berdiri beberapa langkah dari tempat mereka duduk.
Atmosfer di sekitar Nada mendadak tinggi. Dinginnya malam seakan tak Nada rasakan sedikitpun. Justru hawa panaslah yang mendominasi di sana. Meskipun segurat senyum sudah terbit di bibir Arka, hal itu tidak membuat Nada jadi lebih baik. Rasa kasihan perlahan mulai menggerogoti dirinya.
Benarkah selama ini ia sudah berlaku kejam pada Arka. Tidak! Nada sudah berusaha menjalani hari-harinya bersama Arka. Perhatian kecil dari Arka mulai membuatnya nyaman. Meskipun tidak juga bisa membuat nama Sam bergeser dari relung hatinya.
Arka dan Jerry berjalan dan bergabung dengan Via dan Nada.
"Antri banget, gila." Jerry menata pesanannya dengan manis di depan Via duduk.
"Maaf, ya, nunggu lama," ucap Arka pada Nada yang terlihat resah. Arka dapat menebak sebab resah hati perempuan yang ia pacari selama hampir eman bulan ini. Ada rasa sakit yang harus ia sembunyikan agar semuanya tidak akan berakhir sia-sia.
Beruntung, pembawaan Jerry yang humoris dapat segera mencairkan keadaan. Mereka bercerita apapun tentang sekolah. Sesekali pembicaraan unfaedah mengalir begitu saja. Nada sangat beruntung mempunyai teman seperti Via dan Jerry. Jika mereka tidak ada, akan jadi seperti apa suasana yang sedari tadi membuatnya seperti menahan beban berat.
Sering kali Via dan Nada saling tatap, karena sikap Arka tidak berubah. Selalu manis. Meskipun mata itu tidak berlama-lama menatap wajah sendu Nada.
Sejak saat itu, Nada benar-benar membenci perasaannya terhadap Sam. Ia menyalahkan hatinya yang tidak juga bisa membunuh nama itu. Rasa itu justru semakin tumbuh subur hingga ia terus berusaha membenci nama itu.
Sam sendiri bebas kesana kemari dengan berganti-ganti teman wanita di sampingnya. Terlebih saat ujian telah selesai.
Setiap hari ada saja kelauan Sam yang membuat dirinya jadi idola banyak siswi di Smaba. Nada sadar dirinya memang cemburu. Namun, siapa dia sampai rasa itu benar-benar nyata bersarang di relung hatinya.
Nada yang sedang belajar untuk PTS setelah jam istirahat, menjadi mendengkus saat di bawah sana sedikit ramai. Rupanya ada Sam sedang bermain-main basket di bawah sana.
Tanpa sadar, sudut bibir Nada terangkat dengan mata tertuju pada seraut wajah datar juga dingin di bawah sana.
Semua akan bertambah indah kala bibir lelaki yang sebagian rambutnya di kuncir itu tertawa. Hingga jajaran giginya terlihat. Pantas saja, banyak mulut-mulut begitu jelasnya memuji salah satu sosok bernyawa di lapangan sana.
Apalagi saat mata Nada bertemu tatap dengan pemilik wajah manis itu. Tubuhnya seperti panas dingin. Ada salah satu organ terpentingnya yang bergetar tanpa di minta.
Tanpa Nada sadari, matanya berubah sendu. Seorang yang bersarang di hatinya membalas tatapan matanya dengan mengerjab pelan. Bibir sedikit tertarik membuat rasa benci yang ia buat jadi luruh begitu saja.
Sesaat dunia seperti berputar hanya demi dirinya. Sampai-sampai Nada harus berteriak mana kala, tubuh setinggi hampir 180cm itu ambruk dengan posisi duduk meringis.
"Enggak pingsan, kan?" tanyanya pada diri sendiri.