
*
Pukul 14.00 WIB Sam bersama anggotanya selesai membentuk panitia persami. Dua hari lagi kegiatan itu akan berlangsung. Sehingga Sam sudah di buat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Di gudang sekolah, Sam bersama dua anggota laki-laki sedang mengecek kelayakan tenda. Saat itulah ada Dita yang mempunyai jabatan wakil ketua OSIS mendekati Sam lalu mengulurkan satu cup ice lemon tea yang ia bawa dari kantin.
"Apa ini?" tanya Sam melihat minuman itu di tangan.
"Sam, kamu itu kan nggak buta. Jelas itu minuman," jawab Dita jadi agak kesal tapi berusaha ia tutupi.
Sam melihat dua anggota yang lain sedang melipat tenda lalu beralih menatap Dita. Ia langsung bisa mengira Dita ada maksud lain. Melihat bagaimana sengaja gadis itu membelikannya minuman. Terbukti dua lainnya yang merupakan anggotanya tidak dia belikan.
"Lebih baik kamu bantu yang lain daripada berdiri aja di situ," sindir Sam seraya meletakkan cup teh pada meja lalu kembali melipat tenda.
Dita kesal merasa perhatiannya tak di indahkan oleh Sam. Gadis itu pergi membawa kesal dengan menghentakkan kakinya.
Setelah Dita pergi, dua anggota Sam baru membuka suaranya. "Sam, Dita tuh ngasih kode tuh," ucap lelaki bertubuh jangkung sambil melakukan kegiatannya membuat Sam menatap sekilas padanya.
" May be ...," ucap Sam tak begitu menggubris perkataan temannya ia justru sibuk menghitung jumlah tenda yang layak.
"Udah deh, jangan bahas hal lain. Setelah ini, kita siapin apa lagi Sam?" tanya yang lain setelah menumpuk tenda di sudut ruangan.
"Kita eksekusi bambu yang di sana." Sam lebih dulu beranjak di ikuti dua anggotanya.
"Nih, kita buat runcing di ujung." Sam membongkar satu ikat bambu berukuran limapuluh centimeter untuk kelengkapan persami besok. Tak lupa ia memberikan pisau besar pada temannya. Tanpa protes lagi, kedua siswa yang sedari tadi mengikuti Sam menurut.
"Aku ke kantin bentar." Sam berdiri lalu menunjuk cup teh tadi, "kalau kalian mau, ambil aja," ucap Sam sambil berlalu tanpa mendengar jawaban dua temannya.
"Nggak ngira aku, kalau Sam bisa jadi ketua kita."
"Iya, ku pikir dia akan seenaknya."
Masing-masing mereka tengah kompak mengikat tongkat bambu merah putih menjadi satu ikat besar sambil terus bertukar argumen.
"Tapi nggak mau nilai di awal dulu deh, kita lihat kepemimpinan dia setelah ini."
"Iya juga. Tapi...," ucap satu siswa menggantung. Ia menoleh sekitar memastikan tidak ada orang selain mereka. "Bisa-bisanya dia mau rehat duluan, nggak ngajak kita, perlu di garis bawahi, tuh."
"Ngiri kamu! Tuh kalau kamu mau, teh dari Dita, ambil!"
"Bukan masalah itu tapi kebersamaannya."
Sam yang baru saja kembali dari kantin meletakkan satu plastik berisi dua cup teh dan beberapa bungkus donat pada meja depan ruangan.
Ia sedikit kecewa saat mendengar dua anggotanya membicarakannya di belakang. Moodnya sudah rusak kala mendengar penuturan dua anggotanya itu.
Tanpa berpesan apapun, Sam lebih memilih pergi ke kantin lagi bergabung dengan Ando dkk.
Tadi, pesanan teman-temannya ia ambil paksa demi membawakan dua anggotanya. Tapi begitu sampai tujuan mereka malah membuatnya kecewa. "Njirr! Sudah di belain malah, masih ngomongin di belakang," gerutunya.
Sampai di meja Ando dkk, Sam di berondong pertanyaan oleh keempat sahabatnya itu. Tapi Sam memilih abai, lalu memesan makanan pada penjaga kantin.
"Dah kelar pak ketua," sindir Dika dengan logat slengean.
"Tuh muka asem amat," sindir Dika ikut menimpali. Yang lain juga memerhatikan Sam.
"B aja," sahut Sam melirik Ando yang sedang sibuk dengan HP-nya.
"Sibuk amat, Ndo!" Sam melempar cabe di mangkuk Ando, mau tak mau Ando memasukkan hp di kantong seragamnya.
"Nggak ada, cuma balas w-a aja," sahut Ando yang kini sudah mulai memakan bakso nya. Karena sudah lebih dulu memesan, sama dengan yang lain.
Ando sedang berbalas pesan dengan Atar, yang sedang menayangkan keberadaan Sam. Karena Sam tidak ada di ruang OSIS.
Sementara Atar yang melintas di depan ruang OSIS sedang menerima aduan dari mantan anggotanya.
"Pamit ke kantin dari tadi nggak balik-balik, Tar," kata siswa bertubuh jangkung pada Atar.
"Kenapa sih, bisa-bisanya si pemilik daftar panjang kesiswaan jadi OSIS!"
Atar diam tak menjawab, ia menoleh meja di depan ruang OSIS. Ada satu kresek plastik berisi dua cup teh beserta snacknya. Atar tak mau menerka-nerka jika Sam yang meletakkannya.
Atar merasa tengah di sayangkan melepas jabatan OSIS untuk Sam yang tak menunjukkan jiwa kepemimpinan sebagai ketua.
Sam kini tengah menceritakan bagaimana selama beberapa hari jadi ketua OSIS. Ando, Royan, Akmal dan Dika antusias mendengarkan cerita Sam.
"Datang lebih awal pulang bisa jadi paling akhir karena banyak projek, kesiksa banget," keluh Sam.
"Sam sekarang jadi anak teladan, Gesss," canda Royan membuat yang lain kompak memberikan ibu jarinya ke hadapan Sam.
"Wuiihh, pengalaman baru, Sam. Pengalaman bersama orang-orang bener," ungkap Dika.
"Anggota OSIS mana boleh ada cacat," imbuh Akmal.
Dalam hati Sam justru berdecih. Di organisasi justru banyak orang yang cari muka. Berbeda dengan satu gerombolannya, meski mereka bobrok tapi mereka tidak ada yang bermuka dua.
"Aku nggak ada pengalaman organisasi, Sam. Tapi memang, di dalam lingkup itu kita harus pintar membawa diri. Apalagi kamu ketua, Sam. Harus bisa jadi penengah yang baik," papar Ando.
Sam mengehentikan suapan di mulutnya lalu memerhatikan Ando sejenak dengan darar. Ia menggeleng sambil menyeringai lalu kembali memakan baksonya.
"Kenapa, Sam. Aku bener kan!" Ando menatap serius pada Sam.
"Yapp." Sam meminum lemon tea sambil mengabsen satu persatu temannya yang tengah duduk mengelilingi meja panjang itu, "thanks kalian udah dengerin unek-unek aku," lanjutnya sambil membenahi serangam nya yang keluar.
"Ciehh, Sam beneran udah jadi orang bener, Gess," ujar Dika cengengesan membuat yang lain ikut memerhatikan Sam yang berdiri memasukkan seragamnya yang keluar tanpa sengaja.
"Pa'an, sih kalian!" Semakin masam muka Sam mendapat ledekan dari teman-temannya.
"Udah jaga penampilan sekarang," tukas Akmal.
"Kalian kalau ada orang mau tobat ya di dukung! Bukan di kritik." Ando menyela membuat Sam mengulas sedikit senyum.
"Ndo!" Sam berdiri berkacak pinggang, "lama-lama kamu mirip Atar deh," ucapnya curiga.
"Aku?" Ando menunjuk dadanya lalu melihat pada yang lain. "Paman bukan, sodara bukan. Darimananya yang mirip, Sam!" Ando jelas tak ada hubungan kekerabatan dengan Atar.
Sam menggeleng lalu pergi membayar pesanan teman-temannya. Ia yakin setelah ini Ando akan mendapat serangan pertanyaan dari Dika, Royan dan Akmal karena ambigu yang ia tuduhkan.
Sam segera berlalu membiarkan keributan terjadi pada Ando. Dengan malas ia kembali ke ruang OSIS.
Saat di lorong melewati ruang laborat, ia bertemu dengan Nada yang berjalan seorang diri sedang kerepotan membawa banyak buku. Ia melihat sekitar sudah sepi karena memasuki jam pelajaran.
"Kenapa nggak cari temen kalau kerepotan," ucap Sam saat sengaja menghalangi langkah Nada membuat Nada berhenti.
Nada memasang wajah kesal karena lagi-lagi saat sedang susah malah bertemu dengan Sam.
"Ada orang kerepotan, tuh, di bantu," sindir Nada membuat Sam tergeletak. Membuat Nada menekuk wajah sambil menendang tungkai Sam. "Minggir!"
Namun, Sam justru kembali menggoda Nada. Dengan menghalangi langkah Nada. Saat Nada melangkah ke kiri ia ikuti. Saat ke kanan pun Sam juga mengikuti. Nada semakin kesal di buatnya sementara Sam justru sangat terhibur.
"Mas, jangan kaya' anak kecil, deh!"
"Anak kecil mana ada, bisa negosiasi sama ibu-ibu ngereog di jalan!" Sam sengaja mengungkit peristiwa beberapa hari yang lalu, "dapet tiga ratus ribu, pula."
Belum juga Nada menjawab, sudah ada Atar yang datang lalu mengambil semua buku dari tangan Nada.
Dalam hati Sam bertanya, apakah Atar juga mengenali Nada. Secara kan, Nada adik kelas mereka.
"Sam, udah di tunggu yang lain buat briefing," ucap Atar membuat Sam berdecih.
Atar berlalu begitu saja sementara Nada juga mengikuti Atar.
Baru beberapa langkah meninggalkan Sam, Nada berbalik. Nada menatap Sam yang masih berdiri di sana dengan wajah datar plus masam ciri khasnya. "Mas! Btw makasih buat yang kemarin," ucap Nada dengan malu-malu, lalu segera berbalik untuk melanjutkan langkahnya.
Dengan berlari kecil, Nada mengikuti Atar yang membawakan bukunya.
Raut masam itu mulai memudar, kala kata terima kasih di ucapkan oleh adik kelasnya. Beberapa hari sejak kejadian di lampu merah itu, baru kali ini Sam kembali bertemu dengan si judes yang cengeng menurutnya.
"Dasar si cengeng!"
*