Sam

Sam
Motor baru



*


"Seneng banget tuh muka. Curiga nih, aku," sindir Via sambil terus mendesak Nada agar bergeser duduknya.


"Kelihatan banget, yah?" tanya Nada menatap Via sekilas lalu kembali pada ponselnya. Ia tersenyum melihat-lihat isi chat dengan Sam semalam. Dan pagi ini ia tengah menunggu Sam di kantin karena janjinya semalam.


Setelah ia mandi dan sholat isya, semalam Nada langsung makan lahap di depan televisi bersama kedua orang tuanya. Ibu dan Bapak sengaja tidak makan lebih dulu karena menunggu anak perempuan satu-satunya datang.


Setelah makan sambil bercerita pada Ibu dan bapak, Nada segera mencuci piring di dapur. Sementara bapak dan ibu ke ruang tamu karena ada suara mobil di susul ucapan salam di depan.


Nada segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia penasaran karena suara tamu tidak ke dalam rumah melainkan hanya berhenti di teras.


Saat Nada di ambang pintu. Ia memekik karena mobil dengan bak terbuka dengan satu unit motor berwarna biru dop berada di teras rumah.


Bapak tersenyum pada Nada dan ibu melambaikan tangannya. Meminta Nada agar mendekat. "Kamu suka nggak motornya?"


"Ini ..." tanya Nada tak mampu meneruskan pertanyaannya.


"Iya, Nduk. Ini untuk kamu."


Nada memeluk erat ibu dan bapak bergantian. Ucapan terimakasih berulang kali ia sampaikan kepada kedua orangtuanya itu. Nada memegang motor matic impiannya dengan mata berkaca-kaca.


Setahun ini, ia hanya terus memuji motor ini jika ada iklan di tv. Dan ia tak berharap banyak jika bapak akan membelikannya. Ia sadari bapak hanya bekerja buruh pabrik dengan gaji UMR. Ia bisa sekolah di sekolah favorit saja sudah alhamdulillah.


Setelahnya, saat urusan surat menyurat selesai dan tamu dari dealer pamit pulang, Nada kembali mengabsen motor barunya.


"Bapaaak. Matur nuwun, ya," ucap Nada kembali memeluk Hardi, pria yang ia panggil bapak.


"Iya. Sekolahnya tambah rajin ya. Semangat. Maaf, bapak baru bisa membelikan sekarang. Disaat anak-anak yang lain sudah di berikan tanpa meminta, bapak malah justru menyuruhmu mencari tumpangan."


Nada menggeleng. Ia begitu paham akan kondisi keuangan keluarganya. "Bapak. Motor ini tidaklah murah. Bapak dapat dari mana uangnya?"


Marni membimbing suaminya untuk duduk. Nada mengikutinya duduk di kursi teras rumah. "Bapak mencairkan jamsostek milik Bapak. Alhamdulillah tinggal nambah sedikit, jadi kita tidak perlu kredit."


"Alhamdulillah, Ya Allah. Bapak, makasih, ya, Pak."


Malam itu, Nada begitu bahagia. Besok ia sudah bisa berangkat sekolah sendiri tanpa menyusahkan sahabatnya lagi. Meskipun ia menebeng Via tidak cuma-cuma karena setiap minggunya, bapak selalu memberi uang jajan pada Via.


Via berkali-kali menolaknya. Namun, berkat bujukan bapak, akhirnya Via menerimanya karena bapak selalu berdalih jika itu sekedar uang jajan saja.


Sebagaimana remaja pada umumnya. Nada yang mendapatkan rejeki luar biasa langsung mengunggahnya di story'. Sam adalah orang pertama yang mengomentari.


Kedekatan keduanya seharian ini membuat Nada tidak lagi ketus jika menjawab pertanyaan Sam yang tiada habisnya. Seputar motornya tentu saja. Bukan yang lain.


Hingga saat Sam beralih mode memanggil, mau tak mau Nada mengangkatnya juga.


"Kenapa nelpon, sih. Udah malam, loh, ini," jawab Nada begitu ia menggeser tombol hijau, tanda menerima panggilan.


Sam tertawa, sebelum menjawab pertanyaan Nada. "Apa, ya..... Kaya' kurang aja seharian ini ngobrol di atas motor," dalihnya.


"Apasi, nggak jelas," kata Nada sambil menenggelamkan wajah di bantal.


"Btw, punnya motor baru. Sebelum di pakai, mandiin kembang dulu. Trus syukuran. Dengan traktir di kantin misalnya."


"Hilih, modusnya. Minta gratisan. Nggak kebalik, nih,"


"Kebalik gimana? Yang habis dapat rejeki kan, kamu. Ya kamulah yang neraktir."


"Iya- iya. Gampang bisa di atur." Nada senyum-senyum sendiri dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Di luar sana bapak menyuruhnya untuk segera tidur. Nada sedikit berteriak menjawabnya, dengan speaker hp ia tutupi jari tangan.


"Bapak kamu, ya?" tebak Sam karena samar-samar ia sedikit mendengarnya.


"Eh, denger ya," ucap Nada terkejut begitu ia menempelkan kembali ponsel di telinganya.


"Sedikit," jawab Sam tersenyum simpul. Nada di sana tentu tidak dapat melihatnya kan. Jika sekarang sedang berhadapan, mungkin Sam akan kembali ke setelan pabrik. Mode datar dan irit senyum.


"Hati-hati bawa motornya, motor baru soalnya," sambung Sam kembali setelah ada sedikit jeda.


"Iyaaaaa, bawel juga ya ternyata kamu, Mas." Nada kini memakai headset dengan suara rendah, agar tidak terdengar dari luar.


"Ya ginilah aku, kalau udah kenal. Nyesel ya, baru tau sifat asliku. " Sam kembali tertawa di seberang sana. Membuat tangan Nada mengepal-ngepal tidak jelas.


"Aslimu ya ... tetep nyebelin, Mas."


"Udah. Kan aku udah bilang tadi. Habis makan bertiga sama bapak sama ibu."


"Ya, aku nggak lupa."


"Terusss! Ngapain nanya lagi,"


"Bingung mau tanya apa lagi." Tawa Sam kembali terdengar membuat Nada kembali menggulum senyum untuk kesekian kalinya.


"Kalau aku, sampai rumah ngerebus mi aja." Suara Sam terdengar lirih tapi Nada masih jelas mendengarnya.


"Nggak nanya, ya, aku," goda Nada membuat Sam berdecak.


"Jarang-jarang loh, aku buka-bukaan gini ke orang yang baru di kenal."


"Hah, sama aku baru kenal katamu?"


"Akrap maksudnya," ralat Sam.


"Kita nggak seakrap itu ya, Mas."


"Ish. Kamu ini,"


"Eh, bentar-bentar deh. Kenapa nggak makan nasi? Emang mamamu nggak masak, Mas?"


Sam tersenyum masam sambil beranjak dari meja makan. Sedari tadi ia sengaja berlama-lama di sana. "Mamaku nggak di rumah. 'Kan dulu aku udah bilang, kalau aku tinggal sendiri." Sam melirik jam dinding dan mulai beranjak dari sana untuk mengunci pintu, lalu berjalan santai ke kamarnya.


"Oia, ya, lupa. Kemarin mau tanya itu." Nada kikuk sendiri sehingga kata itulah yang keluar dari mulutnya.


"Ya udah, sekarang aja tanyakan." Sam sudah menghempas tubuh di kasurnya.


Akhirnya malam itu Sam menceritakan kehidupannya termasuk juga orang tuanya.


Sedangkan Nada jadi mengambil kesimpulan dan menggabungkan gosip-gosip yang beredar mengenai bobroknya Sam di catatan sekolah.


"Malah ngelamun, sih," sentak Via saat Nada hanya bengong saja sedangkan Via sudah menghabiskan bakso di mangkoknya.


Nada meringis dan mengedarkan pandangannya. Mencari-cari seseorang yang katanya minta traktir karena syukuran motor barunya.


"Cari siapa, sih!" Via ikut-ikutan memindai seisi kantin.


Nada tidak lagi bisa berkelit. Alhasil Nada menceritakan tentang Sam yang minta traktir.


"Halah. Kamu percaya aja sama dia! Jangan bodoh, Na. Sam itu orang kaya, jajan kita seminggu, bagi dia jajan sehari. Dia tuh, nggak bakal kekurangan makan kalau nggak kamu traktir."


Ucapan Via ada benarnya juga. Sedikit banyak Nada sudah tahu kehidupan Sam.


Bisa-bisa aku ngarepin dia bisa makan bareng sama aku. Meski kesannya aku yang traktir, tapi kenapa kesannya aku yang ngarepin dia sih. Sadar diri, Nada. Sam itu sudah punya pacar. Dan di sekolah bukan tempat yang tepat jika bertemu dengan dia.


Ahh. Kenapa kesannya aku seperti selingkuhan yang sedang nungguin pacar orang sih. Lupakan lupakan. Anggep kemarin nggak terjadi apa-apa.


Nada yang menepuk-nepuk pipinya membuat Via kembali mengguncang lengan Nada. "Eh eh ehh, kenapa, Na! Heran deh dari tadi kamu ini. Aku ajak cerita kesana kemari eh malah di tinggal ngelamun. Begitu sadar, malah nonjokiin muka sendiri."


Nada meringis dan menutup mulut Via yang nerocos seperti kereta baratha saja panjangnya.


"Udah, dong, ngomelnya. Giliran kamu dong, yang cerita. Ceritain, gimana kemarin kamu nebeng Mas Ando," pinta Nada sambil berkedip manis.


"Nggak ada cerita! Mereka pada ngomongin nggak jelas yang bikin telingaku pusing aja."


"Seriusan telinga kamu pusing," canda Nada dan keduanya terkekeh bersama. Karena Via menyadari salah bicara.


Karena merasa Sam tidak benar-benar datang menemuinya, Nada putuskan untuk tak menunggunya. Ia juga was-was, seandainya ia benar-benar makan bersama Sam di sini.


Nada berjalan ke kasir untuk membayar pesanannya dan juga Via. Sedangkan Via sendiri masih menungguinya di meja sambil bermain ponsel.


Saat akan kembali menghampiri Via, Nada di hadang Dita yang merentangkan kedua tangannya.


"Berikan ke aku sekarang," pinta Dita. Matanya masih meratap dalam pada Nada yang tengah berdiri dengan gusar. Perlahan telapak tangannya membuka ke atas. Dari balik tubuh gadis itu seseorang memberikan satu gelas es teh di tangan Dita.


BYYYUUUURR.


..._tbc_...