Sam

Sam
Mengumpulkan Niat



"Sam,"


Suara lembut di iringi sentuhan di bahu, membuat Sam yang tengah mengingat kisahnya, jadi tersadar.


Mendapati Bulik Siti datang bersama Revi membuat Sam segera menyusut bulir bening yang berada di sudut mata. Ia tersenyum demi mendapati Revi datang membawa pisang ambon kesukaannya. Bukan sepenuhnya karena itu sebab ia bisa tersenyum. Namun, melihat Revi yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, membuat Sam teringat akan seseorang.


"Gimana, Mas?" tanya Revi seraya sedikit mencondongkan badannya demi melihat lengan Sam yang masih di balut perban.


Sam tersenyum masam seraya melirik lengannya yang berada di sisi tubuhnya. "Kata suster tadi harus pakai Sling arm agar aman. Meskipun retak tapi kalau penanganan tepat kan, akan sembuh lebih cepat."


"Ya, nggak ke_"


"Nanti pulang ke rumah Bulik, ya, Sam. Kalau udah boleh pulang." Siti menyela ucapan Revi. Ia tentu kawatir ketika Sam harus merawat diri sendiri.


Sam tersenyum. "Nggak apa, Bulik. Lagian tangan kanan masih bisa buat ngapa-ngapain. Mboten sah kuatir¹."


Tentu Siti tidak mengiyakan begitu saja. Ia tidak tega. Walau Sam sudah dewasa bahkan untuk mengurus diri sendiri. "Kalau kamu punya istri yang urus kamu, Bulik nggak sekawatir ini sama kamu."


"Mas Sam deket cewek aja malu, Bu. Gimana mau punya istri." Revi meledek yang di tanggapi Sam dengan santai. "Tapi, Buk, cewek yang kapan hari itu, oke banget loh. Beneran." Revi masih bersemangat mengoceh sementara Siti mulai mengupas mangga yang berada di nakas.


Sesaat Siti tersadar. "Eh, ini mangga darimana?" ujar Siti sambil menoleh pada Sam dan sedikit mengangkat mangga arum manis.


"Oh, itu. Tadi ada temen sempet jenguk ke sini." Sam tidak akan menjelaskan secara rinci siapa yang membawakan buah tersebut. Takut sepupunya bakal meroasting-nya lagi.


Beruntung Siti tidak lagi menanggapi. Ia kembali mengupas kulit mangga yang menguarkan harum segar buahnya. Sesuai dengan tampilannya. Sedangkan Revi sudah mengambil duduk di sofa dekat pintu masuk. Tidak jauh dari brankar Sam.


"Hape terus. Chat sama siapa?" cicit Sam membuat Revi melirik malas padanya.


"Adaaa deehh," sahut Revi sambil memposisikan duduk agar nyaman.


"Nggak ada pacar-pacaran, ya, Rev! Ibu nggak mau denger alasan apapun."


"Ih, ibuk. Siapa sih yang pacaran. Bisa-bisanya lebih percaya sama Mas Sam daripada anak sendiri." Sudah semakin keruh saja wajah Revi membuat Sam sedikit terkekeh.


"Lagian. Jaman sekarang kok malah dilarang ini itu. Kaya'jaman kuno, aja, Buk."


Siti mengembuskan napas besarnya. Terlihat lelah. Tentu karena wanita berjilbab instan itu, akhir-akhir ini di paksa keadaan akan masalah Reva. Ia melirik Revi yang duduk menekuk kaki di atas sofa. "Kalau kalian bisa di percaya, ibu juga nggak bakalan seperti ini, Rev." Siti mendekati Sam dan meletakkan sepiring irisan mangga di sisi Sam. "Mau duduk, Mas? Bulik bantu. Ayo!" Siti sedikit menunduk untuk mengatur kemiringan brankar. Sam tidak mau banyak bicara melihat wajah Siti yang terlihat lelah. Ia menurut saja, tidak mau lebih banyak lagi merepotkan Siti.


"Matur nuwun, Bulik."²


"Iya, wes. Bulik keluar dulu," pamit Siti seraya mengambil tas cangklong lalu keluar ruang rawat Sam. Sementara Revi hanya bisa diam dengan menscrol layar. Ia menyadari telah salah bicara.


Sejenak ruangan VIP atau ruangan kelas satu di salah satu Rumah sakit orthopedi di kota Solo itu jadi hening untuk beberapa saat.


"Makanya, kalau di bilangin orang tua itu cukup di iyakan. Jangan di sela apalagi didebat. Cukup di dengar dan kamu diam saja. Itu akan lebih membuat mereka lega," saran Sam sesaat Revi dan Sam dalam keheningan.


"Mas, sih. Pakai ngeledek segala. Orang aku nggak punya pacar beneran."


"Sekarang. Nggak tahu nanti, kan." Sam tersenyum meremehkan. Sementara bibir Revi sudah mencoss sana-sini. Jelas sekali rasa kesal di sana.


Tidak mau sepupunya semakin kesal, Sam kembali berulah dengan pura-pura mengaduh sakit. Jelas saja Revi segera mendekat dan panik. Saat Sam menahan tawanya, barulah bahunya menjadi sasaran cubitan kecil yang amat perih oleh Revi yang menyadari tengah kena prank.


Sungguh hanya seperti itu batas rasa kesal yang di miliki Reva maupun Revi jika bersama Sam. Keduanya sudah menganggap Sam seperti saudara kandung sendiri. Meskipun kenyataannya mereka memang saudara sepupu.


*


Setelah melewati satu malam lagi di rawat inap, kini Sam sudah mendapatkan ijin untuk rawat jalan.


Sesuai prosedur pemulihan, Sam harus memakai sling arm untuk menyangga lengannya. Ia juga menurut saja saat Siti bersama Kusno mengajaknya pulang ke rumah mereka.


Saat sampai rumah, barulah Sam memberitahukan pada Alif mengenai keadaannya.


"Jaga diri lah, Sam. Jangan bikin mama kawatir dan nggak tenang di sini." Komentar pertama Alif saat Sam menceritakan kronologi kecelakaannya melalui sambungan telepon.


"Sebaiknya mama jangan diberitahu, Mas. Kasian."


"Begitu? Tapi kamu juga harus kompakan sama Pakde juga para istrinya. Biar mama nggak sampai denger."


"Gimana kalau kamu sakit gini, proyek bengkel baru jadi magkrak kan!"


"Aku masih punya kaki, ya, Mas. Bisa jalan, bisa ngomong juga. Jangan kawatir, proyek tetap jalan."


Setelahnya, Sam menutup sambungan telepon. Bertepatan saat Reva masuk ke dalam rumah bersama satu cowok yang mengangguk sopan padanya.


Apa ini calonnya, Reva? Cih, melihat wajahnya saja jadi pengen nggebukin. Sayang banget tangan lagi nggak sahabatan sama keadaan.


Jiwa preman Sam jadi menyeruak kala melihat lelaki yang datang bersama Reva mendekati ia berdiri setelah meletakkan sapu di sudut ruangan.


"Mas," sentak Reva saat sudah sampai di hadapan Sam.


"Matanya di kondisikan," hardik Reva seraya berbisik. Membuat Sam mengembuskan napas besar untuk sedikit menurunkan kilat amarahnya.


Mau tidak mau, Sam menerima uluran tangan lelaki yang bersama Reva demi menghargai adiknya itu.


"Saya Ilham, Mas. Teman Reva." Lelaki bernama Ilham memperkenalkan diri. Lalu melirik Reva yang kini melirik tajam dengannya. Seolah memperingatkannya untuk tidak banyak bicara.


"Sudah pulang , Mas? Gimana keadaannya?" tanya lelaki bertubuh tinggi tidak begitu berisi sebagai basa-basi. Tentu bukan sekedar basa-basi karena Reva sempat bercerita tentang Sam padanya. Juga segala sisi lain Sam padanya. Membuat lelaki itu segan pada Sam.


"Ya, seperti ini," ujar Sam dingin. Membuat tangan Reva mengepal dengan memalingkan wajahnya.


Reva bermuka malas perihal sang mama yang tidak ikut menemaninya saat mengurus surat-surat di kantor urusan agama. Hanya bapak saja yang ikut menemani. Tapi segera pergi karena masih ada jam mengajar.


Reva sedikit kecewa. Tapi, memang dirinyalah sebab kecewanya sang ibu mendapati anaknya mengalami hal setabu ini. Menikah di usia yang amat muda. Juga perihal adanya mahluk kecil yang berada di dalam perutnya. Di saat masih menyandang status pelajar. Sungguh ironi.


*


"Pihak kantor mengehendaki sidang terlebih dahulu agar umur Reva jadi dua puluh tahun, Pakde." Suara Kusno menjadi pembuka percakapan panjang di ruang tamu kali ini.


Wahid sebagai orang yang paling di tuakan hanya mengembuskan napas besarnya. Mengurai sesak agar lebih terurai beban di pikirannya. Melihat keponakannya mengalami hal ini membuatnya ikut tertimpa beban berat.


"Nggak apa. Yang penting bisa akad dulu aja. Saranku, berhenti sekolah dulu. Besok-besok, baru ikut ujian kejar paket. Itu amannya. "


Malu, marah, kesal, hancur tentu sedang menimpa Kusno kali ini. ia merasa kecolongan juga tidak becus di waktu yang sama, sebagai orang tua.


Sementara Sam, duduk di antara para tetua dengan kondisi seperti ini bukan pilihannya. Ia seperti tengah di adili dan di kuliti disini. Secara tidak langsung. Bagaimana jika dulu ia sampai di keadaan yang sama fatalnya seperti ini. membayangkan raut terluka wajah pakde dan pakliknya membuat Sam seperti di rem*s-rema*.


Ya, Sam tidaklah lebih dari Ilham di masa dulu. Hanya bedanya, ia tidak sempat meninggalkan jejak fatal dalam hal ini.


Allah masih melindungi aibku. Entah apa yang terjadi jika sampai aibku ini di ketahui banyak orang. Pasti akan ada banyak nyawa yang memandangnya sinis, jijik atau sejenisnya.


Di saat seperti ini, Sam semakin menguatkan niatnya untuk menikahi Nada. Karena sekarang ini, ia sudah lebih percaya diri dengan adanya pekerjaan.


Dulu, Sam tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak berdaya sebagai anak yang baru lulus SMA dan belum berpenghasilan. Jika mau menikah di usia dini, akan di beri apa istrinya?


Terlebih, saat itu ia memang harus menuruti keinginan sang papa. Daripada ia masuk di akademi dan akan memutus informasi atau apapun yang berhubungan dengan Nada.


Melalui Dika, Sam bisa mendapatkan informasi tentang apapun dari Nada. Selama satu hingga tiga bulan Sam memantau Nada. Ia memastikan bahwa Nada tidak sakit atau apapun yang berhubungan dengan ketakutannya.


Setelah mengetahui Nada masih bisa bersekolah tanpa ada tanda-tanda tidak biasa, barulah Sam sedikit dapat bernafas lega. Setidaknya ia akan menunda beberapa waktu untuk mendatangi Nada kembali. Meluruskan dan membenahi kesalahannya.


Rasa lega tidak bertahan lama. Di bulan ke lima, Dika menceritakan jika Nada berserta keluarganya pindah ke desa tempat neneknya tinggal. Sejak itulah, informasi yang berhubungan dengan Nada putus dan perlahan-lahan menghukum Sam setiap harinya.


*


*


*


¹ "tidak usah kawatir,"


² "terimakasih, bibi,"