
Suara petikan senar gitar menjadi satu-satunya teman Sam malam ini. Malam minggu harusnya menjadi hari yang menyenangkan, tapi tidak untuk malam ini.
Tadi siang di sekolah, Sam bersama anggota OSIS menyelesaikan event lomba dengan penyerahan hadiah sebagai puncaknya.
Ada satu hal yang mengganggunya setelah ia menyerahkan piala pada Nada sebagai runner-up basket PI. Nada enggan menatapnya. Namun, begitu sopannya ia mengangguk tanda terima kasih padanya. Hingga saat turun dari panggung dan berbaur dengan teman yang lain, Nada tersenyum pada Atar yang mendekatinya.
Sejak itulah suasana hatinya jadi tidak menentu. Ajakan Ando untuk membenahi motor di tempat Dika ia abaikan. Padahal, Sam adalah orang yang paling relevan jika itu tentang motor.
"Gabut banget," gumam Sam sambil menggulir layar pipihnya. Ia segera mencari kontak Nada. Beberapa kali ia mengetik pesan, beberapa kali juga ia menghapusnya.
"Ck. Kenapa harus Atar sih! Yang lain kan, bisa. Aku nggak akan uring-uringan seperti ini."
Sam kembali memainkan gitarnya. Berkali-kali pula ia gagal dan suara jadi sumbang.
Haaaarghhh. Ia mengeluh dan meminum habis satu botol air mineral. Saat ia melirik ponselnya, pop up di aplikasi perpesanan nya sudah riuh sejak tadi.
The brandal's bahas apa sih rame banget. Sam masih mencoba bernyanyi dengan tangan memetik gitar. Lagu dari blackout adalah andalannya. Bahkan jika di dengarkan baik-baik, suara Sam cukup manis dan tidak begitu vals.
Berkali-kali kontak Ando memanggil. Sam tidak berniat mengangkatnya.
Barulah pop up foto dimana ada banyak remaja seusianya sedang duduk-duduk di teras rumah Dika membuat atensinya on untuk membukanya.
Sam mengernyit saat teman-temannya ikut ada di sana. Sedangkan remaja yang lain tidak begitu ia kenali. Hanya beberapa saja dan itu adalah tetangga Dika.
Satu pesan suara dari Dika ia putar.
"Anak-anak mau gabung buat sunmori sama anak remaja komplek aku. Cuma kamu doang yang nggak respon! Besok jam 6 kita udah start. Aku cuma kasih info aja, nih. Bukan ngajak elu. Takutnya elu ngambek jika sampai aku nggak bilang."
Sam terbelalak. Ia melihat jam dinding bulat di ruang tamu. Sudah pukul 22.00 WIB.
"Njirr! Kenapa nggak dari tadi, sih!"
*
Sam datang saat beberapa motor sudah berada di depan rumah Dika. Kurang lebih ada sembilan motor di sana. Sedang mengepung motor matic berwarna putih.
"Nah ini dia, nih. Pakarnya mesin motor! Semalam kemana? Tumben nggak ngumpul di tempat Dika?" sapa seorang remaja, tetangga Dika yang Sam kenali.
"Akhirnya siuman juga kamu," cibir Dika dengan gayanya.
Sam tersenyum sambil mematikan mesin motornya. Ia melepas helm full face dan menyisir rambutnya dengan jari tangan." Di rumah aja, lagi nggak enak badan."
"Payah-payah," timpal Royan sambil bersedekap.
"Lah, trus." Remaja tadi memindai penampilan Sam. Ada sepatu sport dengan celana jeans sobek-sobek di lututnya. Kaos putih yang terlihat di balik sweater hitam juga Sling bag sedang membentang di depan tubuh Sam. Penampilan ini, bisa di bilang ikut sunmori, bukan?
"Ini udah enakan apa gimana, nih?"
"Udah enakkan. Makanya boleh gabung, kan?" tanyanya sambil mencari-cari seseorang.
Yang di cari ternyata baru muncul dari balik pagar rumahnya. Pasmina hitam dengan sweater abu tua dan kulot denim yang membalut kaki. Berlari dengan membawa kunci T di tangan lalu menyerahkan pada remaja yang tengah bersibuk pada motor.
Setelah Sam ikut mengerumuni ternyata ada motor yang sedang trouble.
"Coba biar, Sam yang periksa!"
Teman Dika berambut sedikit gondrong menepuk lengan Sam. Akhirnya Sam memeriksa motor dan beberapa kali mencobanya.
"Musti di bawa ke bengkel ini. Kalau di sini nggak ada alatnya," terang Sam memindai beberapa remaja. Menjawab apa yang ia ketahui.
"Yyyah, nggak bisa ikut dong, Nad," keluh Via dan Nada hanya menggeleng dan menggigit bibir bawahnya.
"Gabung sama yang lain gimana?"
"Iya, tuh. Sayang banget kalau nggak jadi ikut."
"Via sama Ando, gimana? Trus Nada ikut Sam. Kebetulan yang motornya spek long ride kan," usul Dika sekaligus meminta persetujuan.
Nada dan Via saling sikut. Tengah beradu pendapat.
Dalam hati Sam bersorak. Apalagi matanya sempat bertemu dengan mata Nada. Rona wajah Nada yang memerah begitu menghibur Sam kali ini.
Akhirnya, sesuai dengan usulan Dika, Nada ikut membonceng Sam dan Via bersama Ando.
Biasanya ribut kecil menjadi awal percakapan antara Sam dan Nada. Namun tidak untuk kali ini. Nada sedang dilema sejak mendekati motor Sam
Nada sibuk mengendalikan debaran jantungnya sedangkan Sam terlihat lega dan banyak menerbitkan senyuman. Beruntung sekali, senyumnya berada di balik helm full face. Jika tidak, pasti itu akan membuat Nada tidak nyaman.
"Bapak, Nada pamit, ya," teriak Nada melambai pada sosok yang di panggil bapak.
"Hati-hati, ya, Nduk!" Hardi berjalan mendekat dan berhenti di pagar rumahnya.
Sam membuka visor helmnya dan mengangguk untuk menjaga kesopanan pada orang yang lebih tua. Terlebih, orang tua itu adalah orang yang pernah ia kenali sebelumnya. Hanya saja Hardi tidak mengenalinya karena tertutup helm.
Iring-iringan motor mulai berjalan. Sam dan Nada berada di paling belakang rombongan.
Selama beberapa meter motor melaju hanya saling diam. Sam menggunakan lampu merah untuk membuka suara.
"Na, kamu tau nggak tujuannya ini mau kemana?" tanya Sam sambil menoleh ke belakang.
Nada menjauhkan tubuhnya saat Sam menoleh. "Sesuai rencana semalam, kita mau ke Tawangmangu, Mas. Emang kamu nggak tahu?"
Mata sayu dengan bulu mata lentik itu menjadi fokus mata Sam. "Nggak. Semalam aku udah tidur. Dan baru tahu infonya pas kebangun tengah malam aja," ucap Sam memberi alasan. Padahal tadi pagi, ia sudah sempat berbalas pesan dengan Ando.
"Oh, jadi nggak terencana, nih?' tanya Nada sedikit berteriak menyesuaikan suara bising motor di lampu merah.
"Emmm. Bisa di bilang dadakan. Kamu sih,. nggak wa aku," goda Sam.
Nada menepuk lengan Sam." Udah ijo, Mas!"
Beruntung godaan Sam terpangkas dengan perjalanan panjang selanjutnya. Kurang lebih membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di Tawangmangu.
Apa kata teman-teman nanti saat tau aku jalan sama pacar orang. Tapi ini di luar rencana. Semoga Via dan teman-teman Mas Sam ini bisa bela aku jika Dita marah ke aku.
Ingin sekali Nada menanyakan tentang Dita. Namun, teman-teman Sam yang sering kali muncul tiba-tiba berjalan di samping Sam membuat Nada belum mendapatkan kesempatan itu.
Nada hanya menjadi pendengar yang baik saat pembahasan yang di bahas itu di luar circle-nya. Pembahasan cowok intinya.
"Mesin kamu aman nggak nanti buat nanjak?"
"Aman, lah. Semalam udah di stel sama Dika."
"Bawa alat-alat nggak buat jaga, Yan!"
"Aman."
Kini Sam berganti menyamai laju Dika dengan Akmal di belakang. "Motor, oke!"
Dika dan Akmal serempak mengangkat ibu jari tanda oke pada Sam.
Saat itulah Nada mendapatkan godaan dari Dika untuk berpegangan dengan benar pada Sam.
"Ogah! Takut ada yang marah," jawab Nada sambil melirik tangannya yang sejak tadi berpegangan pada lututnya sendiri. Sengaja backpack ia letakkan di depan tubuhnya. Ia sudah antisipasi jika Sam akan mengerem mendadak seperti di film-film. Apa??? Jangan sampai nih ketos playboy mendapatkan kesempatan.
"Awas jatoh kalau nggak pegangan. Bahaya," timpal Akmal lalu Dika kembali menambah kecepatan.
Nada sendiri bingung antara takut dan enggan. Beberapa kali Nada refleks memegang bahu Sam saat mendapati jalan bergelombang. Jika seperti itu, Sam menutup visornya saat ia tak bisa menahan bibirnya untuk menyeringai. Bisa habis bahunya kena pukul Nada. Di kira ia melakukannya dengan sengaja.
Semakin ke arah timur, hawa sejuk pegunungan mulai terasa. Beruntung Sam menggunakan kaos dan masih di tambah sweater tebal.
Sesekali Sam melihat pada spionnya memantau teman yang lain yang ada di belakang. Juga memantau penumpangnya sendiri.
Jiwa leader dan pemimpinnya masih terbawa di setiap kesempatan. Itulah salah satu dampak positif Sam ikut organisasi.
"Mas. Mbak Dita, marah nggak nanti kalau aku bonceng kamu," tanya Nada saat mendapati jalanan menanjak. Pergerakan motor menjadi pelan-pelan.
Dari balik helmnya Sam tersenyum jahil. "Mungkin iya, mungkin tidak,"
Nada memukul bahu kanannya. "Iiih! Di tanya serius ini,"
Bukannya kesakitan, Sam justru tertawa. "Dita kan nggak ada di sini, jadi ya cuek aja. Have fun ajalah, jangan mikir yang lain."
"Ya kan, akunya yang nggak enak, Mas. Apa aku gantian nebeng Dika aja," usul Nada dan membuat raut wajah Sam jadi gelisah. Niat hati ini menggoda Nada malah jadi serius.
"Nggak usah. Orang tua kamu taunya kan kamu pergi sama aku, di bonceng aku. Jadi sampai pulang nanti kamu sama aku terus."
Nada menyerah dan menyimpan resah sendiri. Walau sejuknya udara pegunungan Lawu mulai bisa ia rasakan.
Sampai di daerah yang di gunakan untuk rest area, Sam pun menepikan motornya seperti yang lain.
Ada tulisan besar dari alumunium, 1800 MDPL Cemara kandang. Di sana banyak pemotor atau yang menggunakan mobil untuk istirahat sejenak. Setelah mengalami sedikit kemacetan saat jalan menanjak tadi.
Sam dan yang lain hanya berjaga-jaga agar mesin tidak ngebul karena di paksa jalan menanjak sepanjang lebih dari 5 km.
"Udah kesini berapa kali?" tanya Sam saat Nada mengambil beberapa gambar seperti yang lain.
"Aku." Nada menunjuk dadanya, "baru sekali ini," lanjutnya.
Sam ikut mengeluarkan ponsel. Ia membidik beberapa objek dan membuat story'. Tidak lupa ia membuat beberapa kontak jadi mode privasi.
Sam mendapat isotonik dari Akmal.
"Thanks, Pak Ustadz," ucap Sam sambil tertawa karena mendapat lirikan sinis dari Akmal yang sedang 6 berlalu pada yang lain.
"Na, bawa minum nggak?" tanya Sam mendekati Nada dan Via yang sedang berselfi.
"Bawa kok, bawa. Kamu mau?" tanya Nada. Saat itu juga ia baru sadar kalau maksud Sam untuk menawarkan minuman.
"Mas ikut Selfi, yuk!" Suara Via membuat Nada terbelalak dan mencubit perut Via hingga mengasuh.
"Kdrt, nih!"
"Habis kamu nyebelin banget," bela Nada.
"Apa si, Na! Orang cuma nawarin. Jarang banget kan kita bisa selfi sama ketos kita "
Sam hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan dua gadis di depannya.
"Nah betul itu kata, Via. Jarang banget bisa footbar sama artisnya Smaba." Sam menjentikkan jarinya di depan muka Nada.
Nada hanya memutar bola matanya. " Narsis!"
"Ngomongin kdrt, sejak dari Solo tadi udah berapa kali aja Nada pukul bahu aku juga," adu Sam pada Via.
Setelahnya Via benar-benar membuat selfi bertiga dengan Nada dan Sam.
"Na. Seriusan kamu baru pertama kali ini ke sini?" tanya Sam pada Nada yang baru saja meneguk minumannya, saat Via sedikit menjauh untuk mengambil spot selfi ya lain.
"Bener. Apa kelihatan tampang aku buat boong?"
Sam menggeleng lalu untuk mengambil posisi jongkok untuk meminum isotonik nya.
Eh, masa sih. Seorang Sam loh, itu, tahu adab juga. Nada membatin.
"Bapak nggak mungkin ijinin aku kelayapan sampai sini, Mas. Tapi karena ini perginya bareng-bareng dan ini acara pemuda baru bapak kasih Ijin."
Sam kembali mengangguk untuk merespon. Pasti bahagia sekali mendapatkan perhatian dari orang tua seperti Nada. Tidak seperti dirinya. Lagi-lagi Sam tersenyum masygul menyadari nasibnya.
..._tbc_...