Sam

Sam
Menunggu itu ...



...***...


Sejak Sam mengantar sampai ke depan pintu kamar kemarin, Nada selalu memikirkan permintaan Sam.


Untuk pertama kalinya Nada tidak menyangkal atau menolak. Entah karena dorongan hati yang mulai terbiasa dengan bujukan Sam atau memang hatinya sudah mulai terbuka untuk menerima lelaki itu.


Notifikasi chat dari Sam pun sering singgah di aplikasi perpesanan nya.


Isinya beragam, hanya pesan ringan berupa sapaan, atau pertanyaan "lagi apa?". Sederhana memang, tapi entah mengapa Nada mulai terbiasa menunggu pesan-pesan itu tanpa sadar. Padahal, ia sendiri jarang sekali membalasnya.


^^^[Nggak ada kerjaan, ya, Mas. Chat terus dari kemarin meski nggak di balas.]^^^


Adalah salah satu jawaban pesan untuk Sam. Meskipun terbesit di dalam hati merasa keterlaluan, Nada tidak mengurungkan juga niatannya demikian.


^^^[Kalau nggak penting mending jangan WA deh. Notifnya bikin berisik!]^^^


Itu balasan pesan untuk hari Senin kemarin.


^^^[Udah makan, udah mandi, ini lagi rebahan seperti biasanya! Harusnya tau dong, ini udah jam berapa, ya itu kebiasaan aku. Jangan ulangi pertanyaan yang sama deh!]^^^


Kali ini adalah balasan pesan untuk Sam kemarin malam. Sungguh, tiada manis-manisnya jawaban Nada untuk Sam di seberang sana. Ketus dan jauh dari kata ramah. Entahlah, jika dengan Sam, Nada tidak bisa bersikap lembut seperti pada anak didiknya.


jika Sam memberinya empat sampai lima pesan, maka hanya sekali atau bahkan tidak ia balas sama sekali.


Namun, resah perlahan menyusup. Hingga malam ini Sam tidak juga memberinya pesan lagi seperti biasanya. Membuat Nada tanpa sadar menunggu pesan dari Sam. Membuatnya tidak juga kunjung memejamkan mata meskipun jarum pendek sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Resah perlahan menyelimuti jiwa Nada. Tanpa sadar ia mencemaskan sekaligus begitu menunggu pesan ringan nan garing dari Sam.


"Kemana sih, dia?"


"Apa sibuk?"


"Sibuk ngapain sih?"


"Bukannya tangan lagi sakit. Harusnya nggak bisa kerja, kan!"


"Kaya'gitu sok sokan ngajak nikah?"


Gerutuan Nada di balik selimut perlahan membawanya dalam kantuk juga. Entah pada detik berapa ia terlelap. Rasa lelah dan dinginnya malam membuai Nada ke alam mimpi yang melenakan. Waktu terus berputar hingga pintu kamarnya di ketuk oleh Marni–ibunya. Barulah Nada membuka mata.


"Mau subuh jam berapa, Na. Ini udah jam lima seperempat!"


Suara Marni membuat Nada membuka mata lebar-lebar dan turun dari kasur. Ia segera wudhu dengan tergesa pada kran air di teras samping rumahnya. Sementara sang ibu yang berada di dapur sudah ngomel-ngomel sahdu sambil tangannya lincah mengolah sarapan di wajan penggorengan.


Suara spatula atau sotil alumunium yang riuh di dapur seharusnya sudah mengusik Nada dari alam mimpi sejak jam empat lalu. Namun, entah mengapa ibu guru dengan wajah manis dan hidung mancung itu baru terusik ketika fajar sudah menunjukkan pesonanya.


Hardi juga sedang menyiram tanaman di sekeliling rumah saat mendengar suara sang istri yang sejak tadi sudah menggerutu di dapur. Sampai akhirnya lelaki paruh baya itu menegur sang istri juga.


"Ono opo sih, Buk. Di rungokne tonggone, lho, gak apik. Ada sih, Bu. Di dengerin tetangga itu lho nggak baik." Hardi masuk lewat pintu samping rumah dan langsung bertemu dengan Marni yang kini sedang membalik bakwan di penggorengan.


"Lha di gugah awit subuh lho, Pak. Gak tangi-tangi. Mengko nek sampe telat sek absen, pora yo ngurangi poin." Di bangunin dari pagi, lho, Pak. Nggak bangun-bangun. Nanti kalau sampai terlambat yang absen, bukannya ngurangin poin.


Meski Marni jelas sekali rasa kesalnya terhadap Nada, namun jelas sekali ada kawatir untuk anak semata wayangnya itu.


"Nada itu belum terikat seperti PNS yang biasanya, Bu. Nggak harus on time ke sekolah."


"Tapi kan kalau tepat waktu, ya, yang menilai guru guru yang lain to Pak." Marni kini mengikuti Hardi yang sudah duduk di tempat biasanya. Tidak jauh dari tempat Marni menggoreng bakwan tadi.


Sedangkan dari dalam kamarnya, Nada tanya tersenyum malu mendengar debat yang sudah lumrah antara bapak dan ibunya. Baginya, itu bukan suatu hal yang memalukan. Melainkan hanya bentuk perhatian dari kedua orang tuanya. Toh, jarak dari rumahnya dengan tetangga masih ada jarak yang cukup untuk meredam suara ibunya.


Tidak menunggu lama, Nada segera meraih handuk yang menggantung di balik pintu kamarnya. Ia segera melewati dapur untuk mencapai kamar mandi.


Sementara Marni dan Hardi sudah membahas hal lain setelah menegur Nada yang di akhiri dengan kata "nggih Bu" agar sang ibu segera berhenti.


Keriuhan pagi berganti dengan riuhnya suasana sejuk dan nyaman di sekolah. Nada tidak terlambat sama sekali, karena ia tidak sarapan terlebih dahulu. Hingga berakhir sang ibu yang memberikan sekotak bekal untuk ia bawa.


"Bunaaaa, salim dulu." Teriakan anak kecil berjilbab yang berlari menghampiri Nada ketika ia baru saja menepikan motornya.


"Selamat pagi, Davinka." Sapa Nada ketika ia menerima uluran tangan kecil salah satu muridnya.


"Buna, benar seminggu lagi kita UTS?"


"Iya, Buna. Aku cuma bentar kok main hapenya. Beda sama Vino. Kata ibunya dia nakal main hape terus."


Era digital memang bagus tapi jangan lupakan dampak buruknya juga.


Nada tersenyum sembari mengusap kepala gadis cilik itu. Baginya mendengarkan keluh kesah anak didiknya adalah rasa perduli yang paling besar yang akan membekas di hati murid-muridnya.


Setelah berpisah, Nada masuk ke ruang guru untuk meletakkan backpack di bangkunya. Lantas ia segera mencari alat kebersihan untuk membantu menyapu halaman sekolah.


Hal sederhana dengan menyapu bersama anak didiknya di sekolah, selalu Nada tanamkan sejak ia bergabung dengan sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu bapak saat kecil dulu. Sehingga tidak ada pembeda antara guru dan murid, semua sama jika dalam hal kebersihan lingkungan sekolah.


...***...


"Gimana, Mas?" Revi menepuk lengan Sam keras-keras setelah mendudukkan diri di samping Sam. Membuat pemilik lengan mengandung dengan mata menyipit. Tanda memang sakit yang di rasa bukan hanya pura-pura.


Sudut bibirnya yang terangkat baru saja berubah masam seketika. Akibat sedikit terkejut dengan kedatangan Revi yang tiba-tiba.


Saat itu juga, Siti yang baru keluar dari dapur memperingatkan Revi. Membuat anak gadisnya memberengut nyalinya.


"Sukurin," gumam Sam sambil mengelus lengannya. Tangannya sudah ia bebaskan dari Sling arm. Sehingga, hari ini tadi ia mencoba berangkat ke bengkel dengan naik motor.


"Awas ya, Mas. Nggak aku kasih tahu lagi tips cari perhatian cewek, loh."


Sam mendengus saat Revi mengingatkan cara anak remaja itu mencari perhatian lawan jenisnya. Karena, ia harus mati-matian untuk tidak mengirim pesan pada Nada. Hal itu begitu amat menyiksanya. Ia lebih baik tidak mendapatkan balasan, daripada dengan sengaja mendiamkan Nada.


Terhitung satu hari satu malam Sam menahan diri untuk tidak menghubungi Nada. Semua itu atas saran dari Revi.


Begitu hari kedua, Sam barulah mendapat hasilnya. Yaitu, dengan Nada yang lebih dulu memberinya pesan.


^^^[Gimana tangan kamu, Mas?]^^^


Hal itulah yang membuat Sam senyum-senyum sendiri merasakan bagaimana bahagianya di kawatirkan oleh pujaan hatinya.


"Rev. Saran dari elu berhasil, loh," mengabaikan merasakan rasa kesalnya, Sam tidak bisa menahan untuk tidak mengungkap hati yang membuncah.


"Eh," Revi menoleh antusias, "saran yang mana , nih?" lanjut Revi karena penasaran.


Akhirnya, Sam merelakan ponselnya menjadi sidak dadakan oleh sepupunya yang terbahak-bahak melihat riwayat room chat miliknya.


Sam hanya menggulum senyum dengan tangannya yang mencoba membungkam mulut Revi yang masih terbahak.


"Demi apa, aku punya sepupu gaje beginian," ejek Revi kali ini ia membungkam sendiri mulutnya. Sedangkan wajah Sam sudah memerah menahan malu.


"Gaje gimana, ini namanya care," terang Sam menyembunyikan rasa malunya. Saat Revi lengah Sam merebut ponsel lantas mengantonginya.


Pembullyan dadakan masih berlanjut hingga Reva dan suaminya datang dari periksa kandungan.


"Gimana, Mbak?" tanya Siti menyambut kedatangan Reva.


"Bagus, Bu. Detak jantungnya udah jelas," terang Ilham berinisiatif menjawab pertanyaan mertuanya.


Reva balas mengangguk membenarkan. Setelahnya ia mengikuti Siti ke ruang tengah. Revi pun turut mengikuti saudara kembarnya. Sedangkan Ilham duduk di bangku yang berbeda di depan Sam. Hanya saja masih terhalang meja panjangnya.


Ruang tamu berukuran 6 x 6 meter itu mendadak hening. Sam memijat pelan lengannya agar kebas sedikit terurai. Sedangkan Ilham menggulir layar dengan wajah serius.


Sam beberapa kali melirik Ilham di depannya. Sementara Ilham lebih nyaman pura-pura tidak tahu saja.


"Aku dengar, kamu kerja part time. Kerja dimana?" tanya Sam setelah beberapa saat hanya diam. Tanpa melihat Ilham.


"Kerja di kedai sea food sekitaran Gladag, Mas."


Sam mengangguk sambil terus mengamati lengannya.


"Sempet daftarin akun gra*, tapi belum di ACC."


Ilham menghela nafas. "Belum lagi, mau ujian, Mas. Yang penting punya pemasukan."


Sam terpaku mendengar penuturan Ilham. Sedikit tersentuh karena anak ingusan yang ia anggap bocah itu nyatanya sudah memiliki beban besar di usianya yang masih belasan tahun.


"Ternyata kedewasaan seseorang bukan hanya dari penampilannya saja. Tapi dari seberapa besar tekanan hidup yang sedang di jalani."